
Cinta memang tak bisa di paksakan, seperti yang saat ini Yuna alami, ia tak bisa memaksa Alzan untuk mencintainya seperti yang ia harapkan.
Menyakitkan memang. Tapi itulah kenyataannya, laki-laki itu baru saja datang untuk membatalkan prihal perjodohan yang di buat kedua orang tua mereka.
Malu bercampur sakit itu yang saat ini Yuna rasakan, sebagai seorang wanita ia berhak marah, tapi bingung pada siapa.
Tok-Tok-Tok.
Suara ketokan pintu membuat Yuna menghapus air matanya, ia berdiri lalu berjalan untuk membuka pintu.
"Umi" ucapnya saat melihat Umi Fadilah berdiri di hadapannya.
"Boleh Umi masuk ?" tanya Umi Fadilah.
"Tentu Umi, silahkan !!"
Umi Fadilah masuk duluan, di ikuti Yuna yang menutup pintu kamar dahulu. Kedua nya duduk di atas ranjang. Sesekali terdengar helaan napas panjang dari Umi.
"Ada apa Umi ?" tanya Yuna.
"Maafkan Umi dan Abi sayang !!, kami tau kalau kamu terluka"
"Tidak usah minta maaf Mi, mungkin ini adalah takdir hidup Yuna"
Umi memegang tangan Yuna dengan erat, memberikan kekuatan pada putri semata wayangnya itu.
"Seandainya Abi tidak memaksa perjodohan ini, kamu pasti tidak akan terluka"
"Sudah Umi, jangan menyalahkan Abi atau siapapun"
Umi menatap wajah anaknya dengan seksama. Ia tahu betul kalau Yuna habis menangis. Mata yang sedikit bengkak dan berwarna merah sudah cukup menjelaskan semuanya.
"Ini menjadi pelajaran buat kami sebagai orang tua kamu, lain kali kami tidak akan menjodohkan kamu lagi nak." Ujar Umi Fadilah penuh penyesalan.
Yuna tak menjawab, dulu saat mendengar ia akan di jodohkan dengan Alzan rasanya begitu bahagia. Sudah lama Yuna menaruh rasa pada Alzan.
Menjadi istri Alzan tentu idaman para wanita, laki-laki itu seperti tak ada kekurangan. Tampan, mapan dan Soleh. Tapi takdir berkata lain ia dan Alzan tidak berjodoh.
...----------------...
Sementara itu Olin masih saja duduk di tempatnya semula. Menunggu Alzan yang tak kunjung datang.
"Bukankah ini tempat favorit nya ?, kenapa dia tidak datang kesini hari ini ?" gumamnya sambil bertanya.
"Apa Ustadz sibuk ya hari ini ?"
Olin menatap langit yang berubah menjadi gelap, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja.
Ia berjalan sambil menunggu taksi lewat, dan tak sengaja ia melihat seekor anak kucing yang berada di tengah jalan. Karena merasa kasihan Olin ingin menolongnya. Ia berlari mendekati anak kucing itu.
__ADS_1
"Pus, kamu kenapa sendiri di sini" ucapnya pada anak kucing yang sekarang sudah ia gendong.
Bagai mengerti apa yang Olin katakan, anak kucing itu mengeluarkan suara, membuat Olin begitu gemas dan ingin memilikinya.
"Yuk ke pinggir sana, biar kamu aman" ucap Olin, ia berdiri dan berjalan kembali ketempatnya semula.
Karena keasikan bicara pada anak kucing itu Olin tak melihat sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi, hingga tubuhnya tertabrak begitu keras.
"Ya Allah" gumam Olin saat merasakan tubuhnya terpental begitu keras.
Darah bercucuran di kepalanya, sementara kucing yang Olin tolong tadi juga ikut tertabrak. Semua orang sudah berkumpul untuk menolong Olin yang saat ini sudah tak sadarkan diri.
Sementara beberapa orang lainnya mengejar mobil yang menabrak Olin.
"Bawa kerumah sakit ! panggil ambulance !" ucap salah satu ibu-ibu disana.
Seseorang langsung menghubungi ambulance untuk membawa Olin kerumah sakit terdekat. Wanita itu butuh pertolongan segera karena kalau tidak mungkin nyawanya akan melayang.
Tidak berapa lama mobil Ambulance datang, mereka kembali menolong Olin bersama beberapa perawat yang turun dari mobil ambulance.
"Apa ada keluarganya ?" tanya salah satu perawat
"Tidak ada mas, tapi coba periksa tas nya barang kali ada ponsel atau apa yang bisa di butuhkan untuk menghubungi orang tuanya"
"Oh baiklah, kalau begitu kami permisi"
...----------------...
Tadi saat Hana menghubunginya kalau Olin marah dan kabur, Aaron tidak langsung mencari. Ia pikir Olin butuh waktu untuk sendiri.
"Tenang Mas, mungkin Olin masih di rumah temannya" ucap Sarah
"Aku sudah menghubungi kedua temannya sayang, tapi katanya Olin tidak ada"
"Apa jangan-jangan Olin menemui calon suaminya ?" tebak Sarah membuat Aaron langsung menatapnya dengan tajam.
"Tapi gak mungkin, apalagi kata Olin kalau laki-laki itu seorang Ustadz"
"Ya bisa jadi dia cuman ngaku-ngaku Mas, jaman sekarang kan semua orang akan melakukan apa saja untuk menipu. Apalagi Olin anak orang kaya"
Aaron langsung terdiam, ucapan Sarah ada benarnya juga. Mungkin saja laki-laki yang Olin kenalkan adalah laki-laki jahat. Begitu pikir Aaron.
"Sebentar aku hubungi Hana lagi"
Walau kesal tapi Sarah tetap menganggukan kepalanya, ia sebenarnya marah jika Aaron masih hubungan sama Hana walau hanya sebatas telepon. Sarah takut suaminya itu akan kembali pada Hana.
"Olin belum pulang juga ?" pekik Hana di seberang sana saat Aaron menghubungi.
"Iya, apa dia menemui calon suaminya ?"
__ADS_1
"Gak mungkin, Olin tidak akan melakukan itu"
"Kamu kenal dengan calon suaminya Olin ?"
"Iya namanya Ustadz Alzan, anaknya Kyai Ghofar. Coba kamu datangi di pesantren siapa tau Ustadz Alzan tau keberadaan Olin"
"Dimana alamatnya ?" tanya Aaron lagi.
Hana langsung menyebutkan alamat pesantren Kyai Ghofar, setelah itu sambungan telepon langsung terputus.
"Aku ikut" ucap Sarah saat suaminya berpamitan hendak ke pesantren.
Aaron mengangguk, keduanya langsung keluar rumah menuju mobil. Tapi saat membuka pintu mobil ponsel Aaron berbunyi. Dengan cepat Aaron melihat siapa yang menelpon.
"Siapa mas ?" tanya Sarah.
"Gak tau nomor baru soalnya" balas Aaron, bahkan ia memperlihatkan layar ponsel kearah Sarah.
"Angkat saja mas ! siapa tau itu Olin"
"Iya sayang"
Aaron langsung menggeser menu hijau di layar ponselnya, lalu menempelkan benda persegi itu ke daun telinga.
"Apa benar ini orang tua dari Zoe Caroline Fransiska ?" begitu kata orang di seberang sana.
"Iya betul saya papanya, ada apa memangnya ?" tanya Aaron dengan perasaan panik.
"Saya mau mengabarkan kalau putri anda mengalami tabrak lari, dan sekarang kondisinya kritis. mohon untuk segera datang kerumah sakit"
Duaar..
Bagai tersambar petir, Aaron langsung lemas seketika. Tubuhnya langsung terhuyung kebelakang, untung saja Sarah bisa menahan.
"Ada apa mas ?" tanya Sarah.
"Olin"
"Iya Olin kenapa ?"
"Dia kecelakaan"
Sementara seseorang yang berbicara di sambungan telepon tak Aaron pedulikan lagi, ia hanya fokus mendengarkan alamat rumah sakit tempat Olin di larikan.
"Aku saja yang nyetir mas" ucap Sarah pada sang suami.
"Iya sayang, mas minta tolong ya !" balas Aaron, tubuhnya benar-benar lemah sekarang.
"Sayang anak Papa, semoga kamu baik-baik saja nak !!" batin Aaron.
__ADS_1