
Malam harinya usai melaksanakan sholat isya, Alzan membaca Al-Qur'an disamping sang istri. Di setiap sujudnya ia meminta Allah akan segera menyembuhkan Olin.
Usai membaca Al-Qur'an Alzan kembali meletakkan nya keatas meja nakas, ia menatap wajah sang istri sembari tersenyum.
"Dek, bangun !! Apa kamu tidak mau menyiapkan pakaian suami mu ini ?" Kata Alzan dengan suara serak.
"Kamu udah jadi istri aku, aku janji akan menjaga kamu dengan baik, menyayangi kamu dengan segenap jiwa dan raga"
Dengan penuh ketulusan Alzan mengatakan semua itu, andai saja Olin mendengar semuanya, ia akan menjadi wanita paling bahagia.
Jam terus berputar, dan malam semakin larut. Mata Alzan sudah mulai mengantuk. Ia akhirnya membaringkan tubuhnya di atas kasur matras yang di sediakan oleh Aaron.
Tepat pukul 02 dini hari, Olin membuka matanya dengan perlahan. Ia mengerjap beberapa kali karena silau dengan sinar lampu.
"Aku dimana ? Kenapa rasanya tubuhku sakit sekali" batin Olin.
Ia menolehkan kepalanya, lalu melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenali. Disana Alzan sedang terbaring dengan mata terpejam.
Olin heran kenapa Alzan berada didalam kamar nya, lalu dimana papa dan mamanya ? Kenapa mereka tidak ada disini .
Banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Olin. Apalagi saat melihat sosok Alzan tidur dengan tenang didalam kamar miliknya.
"Emmmmmm" Olin mencoba membuka suara, tapi masih terasa kaku.
"Pa--pa" ucap Olin terbata-bata.
Samar-samar Alzan mendengar suara seseorang, ia membuka matanya walau masih terasa sangat berat. Alzan menoleh kekiri dan kekanan, kemudian terkejut saat melihat Olin sudah membuka matanya.
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya kamu sadar dek" ucap Alzan begitu bahagia, ia langsung berdiri dan mendekati ranjang Olin.
"Ken-apa Ustadz ada disini ?" Tanya Olin masih kebingungan.
"Aku kan suami kamu"
"Hah.." Mata Olin membulat dengan sempurna. Perasaan ia belum menikah lalu bagaimana Alzan bisa mengatakan kalau dia suaminya Olin.
"Jangan bercanda Ustadz, saya belum menikah" ujar Olin.
Alzan mengangkat tangan Olin dengan pelan, lalu memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Ini tanda kalau kita sudah menikah, dan masih banyak lagi bukti" jelas Alzan.
"Tapi bagaimana bisa ?"
"Ya bisa lah"
Alzan terkekeh lucu melihat ekspresi Olin, sampai akhirnya ia baru ingat kalau harus memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Olin.
"Sebentar saya panggil dokter dulu" kata Alzan
Olin hanya menjawab dengan anggukan, karena ia masih fokus menatap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Ia mengelus cincin itu yang menurutnya sangat indah.
__ADS_1
Hingga tak berapa lama dokter masuk bersama Alzan.
"Selamat malam saudari Caroline, apa yang anda rasakan sekarang ?" Tanya dokter tersebut.
"Kepalaku sakit, dan kakiku susah untuk di gerakkan" jawab Olin.
"Apa nona ingat apa yang sudah terjadi ?"
"Iya aku ingat, waktu itu aku sedang menolong seekor anak kucing, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak tubuhku"
Dokter itu mengangguk kepalanya, itu berarti Olin tak mengalami hilang ingatan atau sering di sebut amnesia.
"Saya akan memeriksa kaki nona dulu" ucap dokter itu lagi.
"Silahkan dok !"
Setelah mendapat persetujuan dokter itu langsung memeriksa kedua kaki Olin.
"Apa yang terjadi dengan kaki saya dok ? Kenapa tidak bisa di gerakkan" tanya Olin dengan nada khawatir.
"Kaki nona mengalami kelumpuhan untuk sementara, nanti jika nona rajin terapi insya Allah akan cepat sembuh"
Mendengar hal itu air mata Olin langsung menetes, kenapa dia harus mengalami kelumpuhan.
Jika seperti ini, bagaimana dia akan melanjutkan sekolahnya ?, Bagaimana ia menjalani hari-harinya.
"Aku gak mau dok, aku gak mau" Olin berteriak, memberontak tak terima dengan kondisinya sekarang.
Dengan sigap Alzan mendekat, lalu memeluk tubuh Olin.
"Tapi tetap saja aku tidak mau lumpuh Ustadz, bagaimana aku sekolah kalau begini"
Alzan tak menjawab apa-apa, ia hanya terus memeluk untuk menenangkan sang istri.
Setelah Olin sudah lebih tenang, Alzan melepaskan pelukannya. Ia berjalan mendekati dokter.
"Selain lumpuh apalagi yang istri saya alami dok ?" Tanya Alzan.
"Tidak ada Mas. Kondisinya yang lain baik-baik saja, luka-lukanya sudah membaik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan"
"Syukurlah kalau begitu, kemungkinan berapa lama istri saya akan mengalami kelumpuhan seperti ini ?"
"Tidak akan lama, kalau istri nya rutin menjalani terapi, insya Allah akan cepat bisa jalan"
"Terima kasih kalau begitu dok"
"Sama-sama, saya tinggal dulu. Nanti kalau ada apa-apa langsung panggil saya di ruangan"
"Baik dok"
Setelah dokter pergi, Alzan kembali mendekati sang istri. Ia menggenggam tangan Olin.
__ADS_1
"Dengar kan kata dokter tadi, kamu akan sembuh jika rutin terapi" ujar Alzan lembut.
"Kita beneran sudah menikah Ustadz ?" Olin tak menanggapi ucapan Alzan, ia justru masih menanyakan status mereka. Rasanya seperti mimpi mendengar ucapan Alzan.
"Astaghfirullah sayang, bentar aku ambil ponsel dulu, disana ada foto dan videonya saat akad nikah".
Alzan meraih ponselnya di atas meja nakas, lalu segera membuka galeri untuk menunjukan foto dan video kepada Olin.
"Nih Adek lihat sendiri ! Biar Adek legah" kata Alzan menyerahkan ponselnya.
Olin menerima ponsel mewah itu, lalu melihat foto dan video saat Alzan mengucapkan ijab kabul. Disana ada sang Papa yang menikahkan nya dengan Alzan.
Tak terasa air mata Olin kembali menetes.
"Kok nangis lagi dek ? Ada apa ?" Tanya Alzan sambil menghapus air mata Olin yang menetes di pipinya.
"Aku sedih Ustadz, kenapa Ustadz mau menikahi saya yang banyak kekurangan seperti ini, apalagi sekarang saya lumpuh"
"Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah !"
Tutur kata Alzan yang begitu lembut membuat perasaan Olin sangat nyaman. Hanya saja ia masih malu untuk mengungkapkan kenyamanan yang ia rasa.
Tapi satu yang menjadi pertanyaan nya sekarang, bagaimana ia bisa menikah dengan Alzan, bukankah kedua orang tuanya tidak merestui ?.
"Hem, Ustadz" panggil Olin.
"Iya" jawab Alzan lembut.
"Apa Ustadz mencintai saya ?"
Alzan tersenyum "saya tidak tahu bagaimana rasa cinta itu, tapi setiap mendengar nama mu, jantung saya berdebar"
Mendengar itu Olin tersipu malu, ia memalingkan wajahnya supaya Alzan tak melihat wajahnya yang berubah merah.
"Jangan panggil Ustadz ya !! Masa sama suami manggilnya begitu"
"Terus apa ?"
"Ya apa aja, asal jangan Ustadz. Sayang juga boleh hehe"
"Bagaimana kalau Mas Alzan saja ?" Tanya Olin.
"Hemmm, boleh deh. Terdengar indah juga panggilan itu"
Olin membalas senyuman Alzan, ia jadi lupa apa yang barusan terjadi padanya.
"Mas mau sholat tahajud dulu, kamu kalau masih ngantuk tidur lagi aja !" Pinta Alzan.
"Aku nungguin mas sholat, soalnya belum ngantuk"
"Oh ya sudah kalau begitu"
__ADS_1
Selama Alzan sholat, mata Olin tak bisa berpaling, ia masih saja tak menyangka jika Alzan sudah menjadi imamnya.
"Entah kebaikan apa yang aku lakukan dulu, sehingga Allah memberikan aku jodoh laki-laki Soleh" batin Olin terharu.