CINTA DAN EGOIS

CINTA DAN EGOIS
PART 1


__ADS_3

"Jika aku melupakanmu di masa depan, kamu harus berusaha membuatku mengingatmu kembali, apapun yang terjadi."


Gadis mungil dengan tinggi badan hanya seratus lima puluh delapan sentimeter itu, sedang menuruni anak tangga dari bukit rumah tempat ia tinggal dengan ibunya. Di bawahnya ada halte tempat orang-orang dengan berbagai macam karakter menunggu kendaraan untuk menuju aktivitas masing-masing, terutama anak sekolah. Erika selalu memakai headset demi menghindari suara-suara aneh di dalam bus yang menurutnya mengganggu dan tidak penting untuk didengarkan.


Gadis bersurai hitam itu, selalu memilih kursi di jok belakang. Baginya, tempat itu lebih nyaman tanpa gangguan dari orang-orang yang lalu-lalang secara bergantian melewati setiap kursi untuk menemukan tempat duduk mereka. Tanpa ia sadari, Mika tetangga rumahnya duduk di sampingnya. Ia melambaikan tangan, sepertinya ada yang ingin disampaikan. Tapi, gadis bersurai hitam sebahu dan berponi sejajar alis itu, sudah terlanjur memakai headset dan asyik mendengarkan musik yang terputar di ponsel pribadinya. Ia hanya melambaikan tangan memberi syarat pertanda ia sedang tidak ingin diganggu.


Di rumah maupun di sekolah, gadis putih rambut lurus bernama Erika itu, selalu menyendiri dan asyik dengan dunianya sendiri. Menurutnya, dunia sendiri adalah yang paling nyaman dan damai tanpa gangguan dari apapun. Jika ada yang berusaha tinggal di sana, maka ia akan marah dan mengusirnya.


Ia pun tiba di sekolah bersama Mika. Tapi Mika segera pergi dengan teman barunya dan meninggalkannya di belakang sendiri.


"Mereka hanya melakukan hal yang sia-sia," gumam Erika dalam hati.


Hari itu adalah hari ketujuh sejak memasuki dunia SMA Kaijo. Dan Erika masih betah dengan kesendiriannya tanpa teman.


"Erika, ayo makan siang bersama di kantin!" ajak salah satu teman sekelasnya yang bernama Dira. Dia orang yang periang, ramah, dan selalu dikerumuni banyak teman. Menurut pandangan Erika, sangat membuang-buang waktu berkumpul dengan teman, memhicarakan hal yang tidak penting. Tertawa bersama hanya akan menghabiskan tenaga. Lebih baik diam, dengan begitu maka energi akan tersimpan dengan baik.


"Maaf, aku akan makan sendiri," balas Erika dengan wajah datar menatap Dira.


"Yah, Dira...sudah tau dia nggak bakalan mau, ngapain diajak?" kata salah satu teman Dira.

__ADS_1


"Nggak ada salahnya, 'kan, kita harus peduli dengan teman yang tidak gaul," balas Dira dengan nada mulai memojokkan Erika. Dan jelas kata-kata itu sangat menyinggung perasaan Erika. Tetapi ia telan saja. Baginya, dialah yang paling benar, bukan mereka.


Setelah menghabiskan makan siang, Erika menuju perpustakaan untuk membaca atau sekedar mengasingkan diri dari teman sekelasnya dan merasa nyaman di sana. Ia merasa jauh dari suara-suara berisik yang membicarakan hal yang tidak jelas baginya. Ia pun menuku rak buku, mencari referensi tentang kehidupan menyendiri. Tiba-tiba ia merasa ada yang aneh di bawah kakinya. Rasanya lembek dan hangat. Di sudut rak itu, suasananya agak gelap sebab lampunya sudah tua, sehingga cahayanya mulai remang-remang dan belum juga diganti oleh petugas sekolah. Mata Erika tidak bisa melihat jelas apa yang telah diinjaknya. Ia murai merasa was-was.


"AAAAAAH, SAKIT!" teriak orang yang ternyata ada di bawah kaki Erika. Ia menginjak pahanya. Erika hanya kaget sebentar dan tidak peduli dia sakit atau tidak. Ia merasa tidak bersalah. Menurutnya, yang salah orang itu. Siapa suruh tidur di sembarang tempat. Erika juga tidak minta maaf, sebab ia tidak mau kehilangan harga diri walaupun sebenarnya telah melakukan kesalahan.


"Woiii, kaki kamu. Tolong pindahkan, sakit!" teriak orang itu lagi yang ternyata adalah seorang laki-laki.


Erika tidak mempedulikan orang itu. Ia malah menginjaknya lagi sebagai tumpuan untuk mengambil buku yang tidak bisa diraihnya.


"Kamu siapa?" tanya pemuda itu.


Erika hanya melihatnya sekali lalu berbalik meninggalkannya menuju atap sekolah. Sebab ia merasa ada pengganggu di perpustakaan. Di atap sekolah, Erika merasa nyaman dan damai. Hanya angin dan sinar matahari yang menemani. Ia juga sangat menyukai biru langit. Dengan memandangnya hatinya merasa tenang dan damai.


"Ngapain dia tersenyum? Kenal juga tidak, merepotkan sekali," gumam Erika dalam hati sembari menatap lelaki itu dengan wajah masam dan mengerutkan dahi.


"Ternyata kamu di sini, guru kelas memintaku untuk mencarimu. Dia khawatir terjadi sesuatu padamu. Ini sudah satu jam pelajaran berlangsung, tetapi kamu belum juga kembali ke kelas," kata pemuda berambut coklat lurus itu dengan warna kulit lebih putih dari Erika. Mata Erika terbelalak akibat terkejut.


Erika ketiduran akibat terbawa suasana sejuk dan damai di atap tanpa menyadari kalau ia lagi di sekolah. Mata bulatnya menatap pemuda di depannya dengan wajah kusam baru bangun. Tanpa senyum dan merasa bahwa laki-laki itu sangat bodoh mengikuti perintah dari guru tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Padahal ini demi kebaikannya.

__ADS_1


"Tidak ada untungnya baginya mencariku, dia bukan siapa-siapa aku dan begitupun sebaliknya, aku bukan siapa-siapa dia," pikir Erika lalu bangun bergegas hendak menuju kelas.


"Hei, kenapa kamu mengikutiku?"


"Aku tidak mengikutimu, ini satu-satunya lorong dari atap menuju kelas. Lagipula, kelas kita 'kan searah," katanya sembari menyunggingkan senyuman ke arah Erika. Sehingga Erika menganggapnya orang gila yang tersenyum tanpa sebab.


"Aku ketua OSIS di sekolah," lanjutnya.


"Ketua OSIS?" tanya Erika kaget. Soalnya ia tidak pernah melihat pemuda itu di sekolah sebelumnya. Sebab, ia tidak peduli dengan teman sekelasnya, apalagi dengan teman luar. Yang ia peduli hanya dirinya sendiri.


"Iya, jangan kaget begitu dong, aku yakin kamu tidak mengenaliku. Karena kamu sibuk dengan duniamu sendiri. Kenalkan, aku Yagami Light dari kelas 2-A," katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Namun, Erika mengabaikannya dan hanya menatap wajah dan tanganya secara bergantian dengan wajah masam tanpa ekspresi.


"Ada yang salah dengan duniaku?" tanya Erika. Dan kenapa juga dia memperkenalkan diri? gumam Erika sambil mengarahkan pandangan ke arah lain.


"Tidak ada sih, hanya saja kamu harus mencoba untuk berteman dengan yang lain. Kalau ada masalah, kamu bisa mendiskusikannya denganku atau teman lain," saran Yagami yang seolah-olah di mata Erika, dia sedang menasehatinya.


"Tidak perlu, aku bisa melakukan semua hal dengan sendiri," balas Erika sambil memutar badan melangkah hendak meninggalkan Yagami. Akan tetapi kakinya tersandung hampir tersungkur ke tanah. Untung tangan Yagami segera meraihnya. Namun mereka malah jatuh bersama sehingga mebuat Erika menindih Yagami. Bibir mereka pun bersentuhan dengan mata melotot.


PLAKKK

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan!" kata Erika menampar Yagami.



__ADS_2