CINTA DAN EGOIS

CINTA DAN EGOIS
PART 2


__ADS_3

Erika masih berada di tempat tidur dengan berbalut selimut memikirkan kejadian kemarin saat kembali dari atap. Rasa lembut bibir Yagami masih membekas di ingatan Erika. Ingin sekali rasanya ia memutar waktu agar kejadian itu tidak terulang kembali.


Tiba-tiba, ada panggilan dari ibunya.


"Erika, ada teman kamu di depan. Katanya dia ingin menjemput kamu," terika ibu Erika.


Dengan rasa kesal, Erika melangkahkan kaki menuju ruang tamu. Dan ternyata teman yang dimaksud ibunya adalah Mika, tetangganya.


Mika adalah satu-satunya gadis yang tidak peduli dengan diapa dia bergaul. Dia bergaul dengan laki-laki dan wanita muda bahkan dengan orang dewasa sekalipun. Namun, Erika kadang melihatnya sebagai orang yang salah memilih pergaulan. Ia sering kali menasehatinya, tapi Mika tetap pada pendiriannya. Malahan, Erika yang selalu dianggap aneh.


Erika tidak peduli dengan tanggapan Mika. Baginya, bergaul dengan banyak orang hanya akan menyakitimu. Mereka berpura-pura baik di depan, dan setelah itu mereka akan menusuk dari belakang. Itulah pandangan Erika tentang berteman, apalagi teman laki-laki.


"Hai, Erika. Ada waktu luang sekarang, tidak? Aku ingin mengajakmu pergi karaoke bersama dengan teman sekelas," sapa Mika sambil mengutarakan tujuannnya. Dam hal itu membuat Erika jadi kesal. Sebab, karaoke adalah tempat yang paling dibencinya. Menurut pandangannya, karaoke akan menghabiskan suara tanpa tujuan dan keuntungan darinya. Terlalu lama di dalam hanya akan membuat suaramu serak.


"Aku lagi sibuk, kamu pergi saja," balas Erika dengan singkat.


"Aku tidak mau menasehati Mika sekarang, nanti dia malah marah padaku," pikir Erika sembari mengernyitkan dahi dengan salah satu alis terangkat.


"Yah, sayang sekali. Padahal ketua OSIS yang memintaku untuk menjemput kamu. Ya sudah, aku pergi dulu," balas Mika pamitan sambil berjalan keluar teras rumah dan menaiki jok motornya lalu melaju kencang menuju tempat karaoke.


"Lagi-lagi si ketua OSIS itu ingin mengganggu kedamaianku. Dia sudah mulai bergerak diluar dugaanku," pikir Erika sambil menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam kamarnya membaca buku lalu main game dan menonton anime kesukaannya. Baginya, menonton anime adalah salah satu dunianya yang paling indah. Ia tidak peduli berapa banyak waktu yang digunakan untuk menontonnya, sebab anime lebih banyak memberi pelajaran hidup dibandingkan pergi jalan bersama teman.


Keesokan harinya.....


"Erika, ayo berangkat ke sekolah bersama-sama. Aku dan teman-teman akan menunggumu di depan toko buku di seberang jalan," ajak Mika melambaikan tangan ke Erika.


"Tidak, kamu duluan saja! Soalnya aku tidak akan lewat di jalan itu," balas Erika seperti biasa dengan nada jutek dan wajah datarnya tanpa senyuman di sana.


Erika selalu heran melihat mereka yang selalu pergi berkelompok. Pergi belanja satu buku saja selalu ramai. Padahal dalam pandangan Erika, melakukan semua hal dengan sendiri akan berjalan lancar tanpa hambatan apapun. Dengan berkelompok hanya akan membuang-buang waktu. Yang jelas sendiri lebih menyenangkan bagi si gadis bertubuh mungil itu.


Setibanya di sekolah....


"Erika, kamu bisa bergabung sebagai anggota geng aku. Sekarang ini jumlah kelompok kami baru empat orang dan aku butuh satu orang lagi," ajak salah satu gadis ketua geng di kelasnya. Erika hanya diam menatap gadis yang bernama Kayo rambut pirang, dengan kulit putih mulus, tinggi 170 cm. Ia juga salah satu gadis idaman cowok di sekolah.

__ADS_1


Jangankan masuk geng, teman saja Erika tidak percaya. Menurut Erika, kelompok atau geng hanya awalnya saja yang menyenangkan. Pada akhirnya mereka akan bertikai jika pendapatnya tidak sesuai dengan anggota yang lain. Apalagi jika pendapatnya tidak dimasukkan sebagai saran dan tujuan anggotanya. Dan...yang pasti mereka akan bubar. Itulah keyakinan Erika sebagai gadis introvert. Baginya, anak-anak itu hanya melakukan hal yang sia-sia dalam hidupnya dengan berkelompok. Apalagi salah satu dari kelompok itu berperan sebagai ketuanya. Dan Erika paling tidak menyukai yang namanya ketua. Sebab, ketua hanya akan memanfaatkan anggotanya tanpa memikirkan mudarat yang telah ia lakukan kepada mereka. Ia sangat memanfaatkan posisinya.


"Maaf, aku tidak bisa," balas Erika dengan tegas. Gadis itu melebarkan senyum palsunya.


"Aku tidak mau membuang-buang waktu berhargaku hanya dengan berkelompok," gumam Erika sambil bangkit dari duduknya menuju atap sekolah. Di sanalah tempat pengasingan terakhir baginya jika merasa mulai ada yeng mengganggu.


"Melarikan diri lagi?"


Erika tertegun, lalu menolehkan kepala ke arah kiri dan kanan. Tetapi tidak ada satupun orang di sana yang ditangkap matanya. Ia mulai resah, sebab tempat pengasingannya sudah ada pengganggu lagi.


"Aku di atasmu, di atas kepalamu," kata suara itu lagi. Erika mendongakkan kepala, dan benar saja dugaannya, si pengganggu ketua OSIS ada di sana sedang berbaring.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan barusan, melarikan diri?" ketus Erika dengan nada dan suara sinis serta jengkel.


"Suatu saat kamu akan mengerti dengan apa yang aku katakan. Tetapi menurutku, tidak semua hal bisa kamu lakukan dengan sendiri. Ada saatnya nanti kamu akan membutuhkan pertolongan dari orang lain. Karena kita pada dasarnya adalah makhluk sosial. Tetapi, jika kamu tetap pada pendirian kamu, ya, terserah," jelas ketua OSIS dengan santainya berbaring dengan kepala beralaskan kedua tangannya sambil tersenyum menatap langit.


"Dia sok menasehati lagi, aku bosan melihatnya," cetus Erika dalam hati sambil bangkit dari tempat duduknya dengan niat pindah tempat agar tidak berdekatan dengan si pengganggu yang tidak lain adalah Yagami si ketua OSIS.


"Ya, terserah aku, hidupku ya hidupku. Yang bisa menentukan semuanya adalah diriku sendiri," balas Erika dengan tatapan tajam sangat serius. Yagami hanya terseyum. "Lagi-lagi, dia membuang senyumannya dengan orang yang belum dikenalinya. Aku tidak percaya dengan senyuman dari orang yang belum aku kenal. Semuanya palsu. Apalagi jika senyuman itu berasal dari orang terdekat yang mengaku teman, sahabat, dan lain-lain. Senyuman bagaikan buah apel yang busuk sebelah. Depannya saja manis, tapi pas dibalik ternyata ada yang busuk," pikir Erika dengan wajah serius. Yang tiba-tiba dikagetkan oleh Yagami yang sedang tertawa.


"Aku tidak mengerti dengan si pengganggu itu. Kenapa juga dia menertawaiku? Dasar, aneh. Dia bahkan tidak tahu, kalau tertawa berlebihan pada sesuatu yang tidak jelas dapat membuat saraf otak lelah dan mengakibatkan sakit kepala yang berujung pada stress," gumam Erika dengan pandangan konyolnya.


Itulah pandangan Erika. Entahlah, inilah dia dengan segala keyakinannya yang tidak percaya akan semua hal di dunia ini.


Erika menatap wajah Yagami yang masih terkekeh dengan menggelengkan kepala, sesekali melirik ke arah Erika.


"Tahu tidak, kamu itu manusia langka yang aneh, hahaha," kata Yagami lagi.


"Baguslah kalau begitu, itu artinya aku bukan manusia mainstream pada umunya," balas Erika dengan pedenya tidak mau kalah.


"Aku tidak mengerti akan jalan pikirannya," gumam Erika dalam hati. Ia tidak peduli, yang jelas ia melakukan apa yang menurutnya benar. Ia juga tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang di sekeliling tentang dirinya dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu.


"Huahahaha, sudah deh. Aku tidak bisa lagi menahan tawa gara-gara mendengar pendapat kamu," kata Yagami terkekeh sembari memegang perutnya menahan tawa. Wajahnya memerah dan ada sebulir air di ujung kelopak matanya akibat terlalu banyak tertawa. Di mata Erika, yang aneh bukan dirinya, tapi Yagami. Sebab menertawai pendapat dan tingkah laku seseorang tanpa jelas.

__ADS_1


Darah Erika mulai memanas. Ia segera meninggalkan Yagami di atap dan kembali ke kelas akibat kesal. Pikiran hendak menghindari masalah dengan si pengganggu, malah menemukan Mika sedang bersedih di kelas.


"Kenapa kamu sedih begitu?" tanya Erika menepuk pundak Mika.


"Aku tidak diajak oleh teman gengku untuk ikut belanja di Moll akibat uang belanjaku tidak cukup," balas Mika masih dengan rait wajah sedih.


"Tuh, 'kan. Makanya, jangan terlalu percaya dengan yang namanya teman. Apalagi teman geng, baru hal sekecil itu saja mereka sudah meninggalkanmu, bagaimana kalau hal besar?" kata Erika dengan niat menasehati. Tetapi, wajah Mika menunjukkan ekspresi tidak senang.


"Terus aku harus gimana? Ngajak kamu? Kamu saja tidak suka berteman," bentak Mika dengan tatapan sinisnya. Dan itulah hal yang paling dibenci Erika ketika memberi saran kepada orang lain. Bukannya dapat ucapan terimah kasih, malahan dicemoh.


"Saranku, jangan berteman, deh. Mendingan jadi diri sendiri saja. Itu akan lebih menyenangkan, daripada memiliki banyak teman tapi palsu," lanjut Erika.


"Tidak mau, aah. Aku tidak sependapat denganmu. Sebab, bagaimanapun hebatnya diriku, aku masih membutuhkan orang lain untuk menolongku suatu saat nanti. Ingat, kita ini pasti memiliki kekurangan. Dengan berteman, bahkan menikah sekalipun, kita bisa saling berbagi dan melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing," balas Mika.


Di mata Erika,Mika sok menasehati, padahal ia baru saja dimanfaatkan oleh temannya sendiri. Katanya teman, atau sahabat itu saling melengkapi kekurangan, padahal kenyataannya hanya diri sendiri saja yang bisa menyelesaikan semuanya. Katanya teman, ada saat suka maupun duka, tapi itu hanya kata-kata penyemangat agar seseorang memiliki teman. Buktinya saja, banyak yang meninggalkan temannya sendiri saat sedang kesusahan. Bagi Erika, teman pada dunia nyata itu, hanya ada pada saat suka dan akan menghilang saat duka.


"Hahaha, saling melengkapi katamu? Kalau teman menurut kamu seperti itu, terus kenapa mereka tidak melengkapi uang kamu agar bisa ikut belanja dan jalan-jalan dengan mereka?" tanya Erika.


"Itu karena aku memilih teman yang salah. Tidak semua orang di dunia ini memiliki sifat yang sama. Dan aku yakin, di luar sana masih banyak calon sahabat yang lebih baik. Bahkan orang terdekatmu adalah sahabat yang baik. Contoh, ibumu. Dan aku akan berusaha mencari teman yang sesungguhnya. Kamu harus mencoba bergaul dengan orang lain," kata Mika tetap ada pendiriannhya, begitupun dengan Erika.


"Terserah jika itu mau kamu," balas Erika dengan nada jengkel.


"Aku setuju dengan Mika. Dengan berteman, kaku bisa saling berbagi cerita tentang suka dan dukanya hidup," tambah Yagami yang tiba-tiba saja muncul menyilangkan kedua tangan di dada bersandar di pinggir pintu.


"Entah darimana munculnya si pengganggu itu. Aku merasa dia ada di manapun aku berada. Dialah pengganggu sejati. Aku harus mengalahkannya agar dia tidak menggangguku lagi," pikir Erika.


"Terserah kalian, deh. Aku mau pulang."


"Hei, tunggu aku," panggil Yagami.


"Kenapa sih, kamu selalu muncul di manapun aku berada?" bentak Erika dengan kesalnya.


Yagami hanya tersenyum maklum.

__ADS_1


"Mungkin, ini yang selalu orang-orang terdahulu sebut dengan, takdir kita berdua," balas Yagami mengedipkan mata ke arah Erika. Sehingga membuatnya mempercepat langkahnya. Mika dan Yagami saling menatap sejenak lalu berbalik tertawa melihat Erika semakin jauh meninggalkan kelas.


"Tunggu saja, kamu pasti akan kutaklukkan," gumam Yagami dengan senyum liciknya.


__ADS_2