
"Sepertinya Erika belum ke atap," gumam Yagami membuka pintu atap sekolah lalu menutupnya kembali dan menuju pojok bersandar di sana.
Udara di luar sekolah sangat cerah dan sejuk disertai angin yang bertiup dengan kencang. Erika membuka pintu atap sekolah. Di sana sudah ada Kayo. Erika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan akibat tidak bisa menahan hembusan angin yang meniup wajah mulusnya sampai di mata. Seketika roknya terangkat tertiup angin. Ia segera membalikkan badan ke arah dinding tembok hendak menghindari tiupan angin. Dan ia terkejut sebab di sana ada Yagami yang sedang menatapnya dengan wajah memerah dan segera berpura-pura memalingkan wajah dan pandangan ke arah lain. Karena panik dan malu, Erika segera berlari ke arahnya sembari mengayunkan telapak tangannya ke pipi Yagami.
PLAK!!!
"Dasar cowok mesum!" ketus Erika menampar wajah Yagami dengan tangan kiri memegang rok takut terangkat lagi.
"Aaauuh, sakit! Kenapa kamu menamparku?" rintih Yagami mengelus pipinya bekas tamparan Erika.
"Pura-pura tidak tahu lagi....kamu telah melihatku saat rok aku tertiup angin barusan," cetus Erika. Wajahnya mulai panas dan merona disertai rasa jengkel. Tetapi cowok itu malah tersenyum membalas tatapannya.
"Tadi itu, 'kan...bukan salahku. Tetapi salah angin," balas Yagami sembari mengalihkan pandangan ke arah lain dengan lirikan mata. Telapak tangannya masih mengelus wajah bekas tamparan Erika.
"Salah angin, katamu? Tapi kamu melihatnya, itu salahmu," teriak Erika mengelak.
"Sumpah deh, aku benar-benar tidak sengaja. Emangnya aku kasih kemanakan mataku? Bukankah tujuan mata untuk melihat? Lagi pula, kata kebanyakan orang, kalau melihat sesuatu yang indah tanpa disengaja...itu adalah berkah. Sama seperti yang aku alami hari ini, hahahaha, maaf deh," goda Yagami sambil terkekeh dengan sesekali melirik ke arah Erika yang lagi kesal.
"Aaarrrgght, kamu....." Erika tidak bisa membalas kata-kata Yagami lagi. Ia hanya semakin jengkel dan hendak memukulnya dengan kedua tangan. Tapi Yagami menahannya dengan kedua tangan pula.
"Berhenti...!! Aku 'kan sudah minta maaf," kata Yagami menatap wajah kesal Erika dengan senyum. Hati Erika berdegup kencang. Ia merasa bahwa cowok di depannya sedang mempermainkannya.
Ketika Yagami dan Erika sedang bertengkar, Kayo hanya diam di tempat menatap mereka dengan menyilangkan kedua tangan. Lalu, tiba-tiba pergi melewati mereka menuju pintu tanpa mengeluarkan sepatah kata. Erika baru sadar kalau tujuannya ke atap untuk memenuhi permintaan Kayo. Tetapi ia melupakannya gara-gara bertengkar dengan Yagami.
"Tu, 'kan Kayo jadi pergi. Kamu juga sih. Kenapa mengikutiku ke sini?"
"Aku disalahkan lagi. Ampun deh, aku mengalah. Sebenarnya aku dari tadi sini sebelum kalian datang," desah Yagami menatap gadis cute yang sedang ngambek di depannya.
"Tau, ah."
"Memangnya dia mau bicara apa sama kamu?"
"Mau tahu aja, aku saja belum tahu," balas Erika membalikkan badan membelakangi Yagami memandang ke arah luar dari atap.
"Haa? Kamu gila ya, mengikuti panggilan orang tanpa tahu maksud dan tujuannya. Apalagi di atap sekolah pada jam pulang sekolah. Bagaimana kalau kamu diapa-apai di sini, tidak ada yang bisa menolongmu. Aku ke sini karena khawatir terhadapmu," kata Yagami sambil memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana sambil memandangi gadis polos itu dari belakang yang surai hitamnya menari-nari tertiup angin. Sehingga aroma sampo yang digunakan tercium oleh hidungnya.
"Ih, apa-apaan, sih, kamu. Kayo 'kan satu sekolah dengan kita. Tidak mungkinlah dia macam-macam," balas Erika dengan wajah sinis. Tetapi, yang membuatnya semakin jengkel saat cowok itu selalu tersenyum walaupun sedang dimarahi membuat hatinya lagi-lagi berdegup semakin kencang. "Aaaarrght, aku tidak tahu perasaan apa yang telah merasukiku ketika sedang bersama dia," gerutu Erika dalam hati.
__ADS_1
"Ayo pulang! Hari sudah mulai gelap," ajak Yagami. Walaupun dalam keadaan jengkel, Erika tetap mengikuti ajakan cowok itu. Dan mereka berboncengan pulang. Di tengah jalan, Yagami tiba-tiba menarik tangan Erika ke arah pinggangnya membuat gadis jutek itu heran dan melongo.
"Ada apa?" tanyanya
"Pegangan yang erat, kita akan mengikuti jejak Valentino Rossi, hahaha," Teriak Yagami sambil tertawa. Sementara Erika belum mengerti apa yang dia dimaksud.
"Haa?"
" Aku akan membalap."
"Heiii, hati-hati," teriak Erika dari belakang dengan kedua tangan berpegang erat di pinggang Yagami. Keduanya pun melaju di atas motor membelah jalanan pulang dengan suasana hati yang berbunga-bunga.
Sempainya di rumah...
TOKK..TOKK..TOKK
"Ibu..buka pintunya. aku sudah pulang."
"Kayaknya ibu kamu lagi tidak ada di rumah, lihat lampunya mati."
"Eh, benar..ibuku lagi ada reuni dengan teman-temannya. Tapi aku lupa membawa kunci cadangan," kata Erika dengan ekspresi khawatir.
"Gimana kalau kamu ke rumahku saja, ehm, sambil menunggu ibu kamu pulang."
"Tapi aku belum pernah ke rumah cowok sebelumnya."
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan melakukan hal aneh padamu, kita kan tetangga. Daripada di luar malam-malam begini, lebih tidak aman lagi, 'kan?"
"Ya...sudah deh."
Mereka berjalan ke rumah Yagami.
"Yuk, masuk! Anggap saja rumah sendiri. Duduklah di tempat yang kamu suka."
"Makasih." kata Erika lalu menuju sofa duduk.
"Aku ambilkan minuman dulu."
__ADS_1
Yagami menuju dapur dan mengambil sebotol jus di sana dan membawanya ke ruang tamu dengan dua gelas.
"Ini, minum."
"Keluarga kamu di mana?"
"Mereka sedang di luar negeri dengan bisnis mereka." jawab Yagami dengan napas berat bersandar di sofa.
"Oh gitu. Jadi kamu tinggal sendiri?"
"Hmm, udah ya, jangan dibahas lagi."
Setelah beberapa menit tidak bicara, Yagami menoleh ke arah Erika dan gadis itu malah tertidur akibat capek. Yagami tersenyum lalu dengan pelan menggendongnya ke tempat tidur. Ia meletakkan tubuh Erika di springbed lalu membelai rambut sembari mengecup keningnya menuju bibir. Untung saja si gadis jutek itu tidak bangun.
"Apa yang aku lakukan," gumam Yagami lalu menuju kamar mandi membersihkan badan.
Setelah mandi, ia tidur di samping Erika.
"AAAAAAAH....a..aa..aapa yang kamu lakukan?" teriak Erika segera mundur ke tepi tempat tidur.
"Ada apa sih, baru jam 12 malam sudah ribut, aku hanya tidur."
"Aku mau pulang...astaga..ponselku. aku lupa memberitahu ibu. Aah malah lobet.."
"Ibumu belum pulang, lihat saja lampu rumah kamu masih gelap."
"Mungkin ibuku sudah tidur."
Erika segera turun dari tempat tidur namun, kakinya tersangkut di dalam selimut..jadinya dia tejatuh. Yagami yang hendak menangkap menolongnya malahan ikut terjatuh dan **** Erika dari atas. Mereka saling menatap. Tanpa sadar, wajah mereka berdekatan...sampai bibir mereka menyatu dengan mata tertutup.
Saat tangan Yagami mulai bergerak ke segala arah, Erika menghentikannya.
"Hentikan!! Aku mau pulang." Kata Erika menepis tangan Yagami. dab berlari keluar kamar tidur.
Yagami *** kepala.
"Aah, sial.."
__ADS_1