
"Ayah di mana? Kenapa tiba-tiba nelpon?"
"Saya ada di dekat gerbang sekolah kamu, nak."
"Ok, ayah. Kayo akan segera ke sana." Balas Kayo sambil mematikan ponselnya.
"Yagami, aku duluan ya."
"Ok."
Kayo berjalan menuju gerbang sekolah disusul oleh Yagami dan Erika.
"Pulang juga, yuk!" ajak Yagami kepada Erika.
Dari jarak 2 meter, Erika melihat Kayo sedang berbicara dengan seseorang. Tetapi mereka berhadapan, jadinya hanya tubuh Kayo yang terlihat dari belakang. Dan ketika Erika dan Yagami hendak menyeberangi jalan, orang yang diajak Kayo bicara, memanggil namanya. Sehingga ia menghentikan langkahnya. Sebab, suara itu tidak asing baginya.
"Erika?" Panggil orang itu dengan nada seakan bertanya. Erika membalikkan badan dan sangat terkejut saat matanya menangkap sosok orang yang telah meninggalkannya dengan ibunya demi perempuan lain. Ia hanya diam menatap orang itu dengan wajah masam. Kayo memperhatikan wajah mereka secara bergantian.
"A-ayah?" mata Erika melotot hampir tidak berkedip memangangi pria itu. Hatinya sangat perih hingga air matanya seakan berusaha mendobrak hendak keluar. Tapi ia tahan demi harga dirinya. Pria itu tersenyum kepada Erika.
"Gimana kabar kamu? Sehat? Yagami kenal dengan Erika? Ayah sangat merindukanmu, nak," katanya lagi tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun.
"Halo, om. Iya kami saling kenal," balas Yagami dengan tersenyum.
"Ada apa ini ayah? Kalian saling kenal?" tanya Kayo dengan nada penasaran.
"Nanti ayah jelaskan di rumah."
"Aku benci padamu!" kata Erika membuat pria itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Wajahnya menyiratkan kesedihan.
Tanpa sepatah kata lagi, Erika segera berlari menyeberangi jalan tanpa melihat ke belakang.
"Erika, tunggu!" panggil Yagami dari belakang.
Yagami segera berlari mengejar Erika dan menangkap tangannya hingga menarik gadis malang itu kedalam pelukannya. Tangan Yagami mengelus kepala Erika sehingga ia merasa nyaman dan hangat di sana. Yagami adalah satu-satunya lelaki selain ayahnha yanh berhasil memeluknya. Anehnya lagi, ia tidak memberonta untuk melepaskan diri dari pelukan itu.
Kayo memperhatikan mereka dibalik kaca spion mobil ayahnya.
"Apa-apaan sih, mereka," ketusnya.
"Menangislah jika engkau ingin menangis. Aku akan melindungimu dari pandangan orang lain. Dengan menangis, maka hatimu akan menjadi tenang dan lega. Dan dengan menagis, beban yang kamu rasakan akan berkurang," kata Yagami dengan suara pelan dan lembut memeluk erat gadis bersurai hitam itu. Napasnya terdengar jelas di telinga Erika. Lalu Erika segera menempelkan wajahnya di dada Yagami dengan niat bersembunyi dari pandangan orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka. Tanpa terasa, air matanya mengalir dengan deras. Yagami semakin memeluknya hingga bajunya seragamnya basah akibat air mata Erika.
"Kamu tahu, 'kan, dia ayahku. Pria yang telah meninggalkanku dengan ibuku. Dia jahat sekali, Yagami. Wuaaaaa,...aku benci padanya. Dia bahkan tidak merasa bersalah. Dia bahkan bilang rindu, tapi kenapa tidak pernah menjenguk aku dengan ibu. Dia berbohong,'kan? Pengkhianat...wuaaaa," rintih Erika dengan isak tangisnya.
"Iya, aku tahu...kamu yang sabar, ya. Aku akan selalu ada buat kamu," kata Yagami. Sehingga Erika segera melepaskan diri dari pelukannya. Ia membalikkan badan menyeka sisa air mata di wajah halusnya.
"Makasih, ya. Aku sudah baikan sekarang. Ayo kita pulang!" ajak Erika menatap Yagami mengganti tangisannya dengan senyuman. Pupil mata Yagami membesar melihat senyuman di wajah cute itu. Lalu ia mencubit pipi mulus gadis di depannya dengan kedua tangan.
"Nah, gitu dong. Kamu lebih anggun bila tersenyum dan aku selalu menyukainya," kata Yagami dengan mata sayupnya memandangi wajah Erika. Lagi-lagi dia membuat hati gadis egois itu berdegup kencang dengan wajah merona. Sementara Yagami tersenyum.
__ADS_1
"Aku harap, hanya aku yang bisa melihat senyuman manismu itu," goda Yagami.
"Apa-apaan, sih. Emang kamu siapa aku? Pacar juga bukan," balas Erika dengan sifat tsunderenya tetap tidak mengakui perasaannya.
"Calon pacar sekaligus calon pendamping hidup," goda Yagami lagi sembari mengedipkan mata. Alis sebelah kirinya tetangkat.
Erika terkejut lalu memutar badan tanpa mengeluarkan sepatah kata dan berjalan meninggalkan Yagami. Yang terlintas dalam benaknya saat Yagami menyebutkan pendamping hidup adalah ketakutannya akan hal yang sama dengan peristiwa yang telah menimpa ibunya, ujung-ujungnya berimbas kepada anaknya yaitu dirinya.
"Hei, tunggu. Aku janji tidak akan sama seperti ayahmu," kata Yagami yang menyadari apa yang ada di pikiran gadis egois itu. Sehingga Erika menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Yagami.
"Apa kamu ini seorang alien? Kenapa kamu bisa tahu isi pikiranku?" Tanya Erika menyilangkan kedua tangan di dadanya. Yagami terkekeh.
"Hahaha, alien? Iya, aku alien si pencuri hatimu kelak," balas Yagami dengan kata-kata yang lagi-lagi menggoda Erika.
Erika sadar bahwa Yagami sedang menggodanya. Sifatnya kembali kembali lagi. Ia segera sadar bahwa apa yang telah dilakukannya telah melampui batas dan tidak wajar dengan berbicara dan menangis di dekapan laki-laki seperti Yagami. Lelaki pengganggu yang selalu mengikutinya. Ia segera berbalik dan mempercepat langkah meninggalkan Yagami menuju rumahnya.
"Erika, tunggu. Maafkan aku jika salah," kata Yagami, tapi Erika sama sekali tidak membalas kata-katanya dan terus berjalan.
"Sifatnya pasti kumat lagi," gumam Yagami membiarkan gadis yang dicintainya itu terus berjalan meninggalkan dirinya di belakang.
Sesampainya di depan rumah masing-masing, Yagami menatap sejenak pujaan hatinya hingga masuk ke dalam rumah. Ia mendesah lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya yang sepi.
"Apa yang harus kulakukan untuk membuatnya percaya dan menerimaku?"
Sementara Erika langsung menuju kamar pribadinya. Ia sangat syok dengan apa yang telah dilihatnya seharian dan hendak berusaha memberitahu ibunya bahwa ia telah bertemu ayahnya. Namun. ia tetap menjaga perasaan ibunya agar tidak sakit hati lagi. Walaupun ia sangat merasa bersalah terhadap ibunya. Tetapi di sisi lain, ia merasa benar sebab melindunginya dari ingatan masa lalu tentang pria yang telah menyakiti dan menelantarkannya.
"Masih pantaskah aku memanggilnya ayah kepada pria yang telah menelantarkan istri dan anaknya demi wanita lain? Aku sangat membencinya." Rintih batin Erika. Ia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan terlelap dalam balutan baju seragam sekolah sampai pagi.
"Ayah, kenapa ayah bisa mengenal Erika? Dia juga memanggil dengan sebutan ayah...apa jangan-jangan....ayah, dia itu....," tanya kayo dengan penasaran sekaligus jengkel. Ayahnya hanya mengangguk pelan.
"Iya, dia juga putri kandung ayah dari ibu yang berbeda."
"Apa? Jadi ayah selingkuh? Aku tidak akan terima dia sebagai saudaraku!" bentak Kayo dengan nada jengkel.
"Bukan, tapi aku yang selingkuh dengan ibumu. Dia merayuku dan mengajakku minum hingga kamu dihamilkan," jelas ayah Kayo menundukkan kepala.
"Tau ah...aku capek. Mau ke kamar dulu."
Kayo sangat kesal mengetahui kebenaran itu. Ditambah lagi, Yagami teman masa kecilnya dekat dengan Erika saudara tirinya.
***
"Ah, aku lupa meminta nomor ponsel Erika. Hehe, untung saja aku dapat fotonya dari Mika," gumam Yagami sembari menatap foto Erika di ponselnya dengan senyum dan blushing. Di foto itu Erika sedang duduk di dalam kelas memandang keluar jendela sambil menopang dagu.
Sehari sebelumnya...
"Mika, aku boleh minta tolong tidak?" sapa Yagami di depan lorong kelas Erika dan Mika. Saat itu Mika sedang ingin ke toilet.
"Yagami? Ngapain kamu di depan kelas kami?"
__ADS_1
"Sssttt, jangan ribut, aku hanya ingin minta kamu fotokan Erika sebentar, lalu kirim ke aku ya."
"Ha? Hohoho, jadi kamu stalking dia ya? Ehm...."
"Hehe, begitulah. Jadi, tolong ya. Aku tidak mau mengganggu dia sekarang."
"Siap, boss...ngomong-ngomong, aku kebelet nih, nomor ponsel kamu berapa?"
"Ini, aku sudah tulis di kertas selembar." Yagami menyodorkan sebuah kertas bertuliskan nomor ponselnya.
"Oke, nanti aku kirimkan ya."
"Makasih."
"Hehe, aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya," gumam Yagami masih dengan wajah blushingnya.
****
Pagi-pagi, suara ibu Erika memenuhi seisi rumah memanggil namanya.
"Erika, Erika...Erikaa. Bangun, Nak. Ada teman kamu di depan sedang menunggu dari tadi."
"Iya, Bu. Bentar lagi aku bangun. Sepeluh menit lagi," balas Erika kembali menarik selimut menutupi tubuhnya, lalu bangun kembali dan segera menuju kamar mandi.
Setelah berganti pakaian, ia lalu menuju meja makan dan mengambil sehelai roti tawar dengan selai coklat diatasnya sambil menggigitnya keluar rumah. Di depan, Yagami sedang menunggu dan bersandar di motor besarnya warna merah sambil menyilangkan kedua tangan tangan. Erika seperti biasa menatapnya dengan wajah datar.
"Ngapain kamu di depan rumahku?" tannyanya dengan jutek.
"Jemput kamu."
"Ha? Jemput aku? Untuk apa? Aku bisa jalan sendiri ke sekolah."
"Astaga, banyak nanya lagi. Cepat naik! Kalau jalan kaki kita akan terlambat," balas Yagami mengedipkan mata ke arah jok motornya pertanda meminta Erika untuk segera naik. Karena waktu sisa lima belas menit lagi jam masuk sekolah, tanpa pikir panjang lagi, Erika segera naik ke jok motor Yagami. Pikir-pikir hemat tenaga jalan ke sekolah.
"Sesampainya di sekolah, semua mata tertuju pada mereka. Erika segera turun dari jok motor lalu menuju ruang kelas. Dan ternyata di sana sudah ada Kayo dengan tubuh ramping dan rambut hitam kecoklatan dibiarkan terurai. Jemarinya bergantian bergerak memainkan ponselnya. Erika langsung menuju tempat duduk tanpa memperdulikannya. Kayo menuju ke arah Erika yang baru saja meletakkan buku di laci dan tas dengan wajah masam.
"Hei, Erika, sepulang sekolah sebentar, aku ingin bicara empat mata dengannmu, bisa 'kan?" kata Kayo menyilangkan kedua tangan di depan meja Erika.
Erika menatapnya jengkel. "Kenapa? Ada yang penting? Aku tidak mau membuang-buang waktuku hanya dengan hal yang tidak jelas," balas Erika sambil menyiapkan peralatan tulis untuk mata pelajaran pertama.
"Ini sangat penting, sepulang sekolah pokoknya tunggu aku di atap sekolah. Jangan khawatir, aku juga sudah meminta ijin kepada pihak sekolah. Ini tentang Yagami."
Erika mulai merasa ada yang tidak beres. Bagi Erika, kata-kata Kayo barusan bagaikan pernyataan perang baginya. Tetapi ia sudah siap dengan segala cara untuk menghadapinya.
Di toilet wanita...
"Hei, kayo, cowok pujaan hati kamu sudah direbut sama si penyendiri tu, masak kamu kalah. Kamu kan cantik," kata gadis-gadis fans Yagami.
"Tenang saja, aku punya rencanaku sendiri."
__ADS_1
"Aku tidak akan kalah dengan gadis kuper itu, apalagi kalau dia sampai mencuri perhatian ayah juga, mampus kau, tch, Yagami hanya milikku," gumam Kayo menatap dirinya di cermin toilet.