
Berbeda dengan anak SMA pada umumnya, Erika sama sekali tidak mengenal tentang cinta. Baginya, cinta itu hanya permainan yang akan melukai perasaan lawan jenisnya. Jika ada yang mengatakan cinta kepadanya, maka ia akan sangat membenci dan menganggapnya sebagai pembawa mala petaka dalam hidupnya.
Kata-kata yang paling ia benci adalah sayang. Serasa mau muntah jika mendengarnya. Ia merasa bahwa orang pacaran hanya membuang-buang waktu, tenaga, pikiran serta nafsuh hanya untuk seseorang yang belum tentu menjadi miliknya.
"Hai, Erika. Mau kemana?" sapa Yagami membuat Erika kesal. Dia sudah sembuh dati pukulan bola saat pelajaran olahraga. Dan Erika sama sekali tidak menjenguknya. Ia tidak peduli sebab menurutnya, Yagamilah yang salah, bukan dirinya.
"Ya pulanglah," jawab Erika masih seperti biasa dengan nada juteknya.
"Bisa kita jalan bareng pulang?" pinta Yagami dengan suara lemah.
"Tidak usah!" Erika lagi-lagi mengabaikannya. Padahal, Yagami hanya ingin menemaninya pulang akibat perasaannya masih belum baik ditambah lagi dia demam.
Erika berjalan dengan cepat menyeberangi jalan raya dibawah lampu merah lalu lintas dengan hati-hati. Didengarnya suara bisik-bisik dari orang-orang yang berjalan secara berkelompok dari sekolah yang sama dengannya di samping kiri kanan. Tetapi ia tetap berjalan seperti biasa tanpa memperdulikan sekelilingnya. Ketika ia berbalik, ternyata Yagami masih mengikutinya.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanyanya dengan kesal.
"Siapa juga yang mengikutimu, aku sedang berjalan menuju rumah. Kamu lupa ya, kalau kita tetangga?" balas Yagami berhenti sejenak menatap Erika sambil memainkan ponselnya. Wajah Erika memerah akibat malu terdiam kehabisan kata-kata.
"Oh, iya...aku lupa kalau dia tinggal dekat rumahku, sial," gumam Erika dalam hati membalikkan badan menghindari tatapan Yagami. Wajahnya mulai panas seperti habis terpapar oleh sinar matahari siang hari.
"Kok wajah kamu memerah gitu, lagi sakit, ya?" tanya Yagami dengan santainya.
"Pertanyaannya santai amat, sih. Loh, kok hatiku berdegup kencang, apa-apaan ini.....," gumam Erika sambil mengelus dadanya. Dan ternyata Yagami menyadari tingkah gadis polos dan jutek itu. Sehingga ia tidak sabar untuk menggodanya.
"Dada kamu kenapa? Sakit?" tanyanya menggoda Erika sambil tersenyum.
Gadis jutek itu tambah kesal melihat wajah Yagami yang malah tersenyum padanya. Tanpa berkata sepatah katapun, ia mempercepat langkahnya menaki tangga demi tangga kecil menuju rumahnya. Yagami masih terus mengikutinya sambil nyengir-nyengir sendiri di belakang. Sesekali Erika menoleh ke belakang, dan Yagami masih saja terus memperhatikannya. Membuatnya tambah salah tingkah. Saat ia mempercepat jalannya, Yagami pun demikian.
Sesampainya di depan rumah, ia segera membuka pintu dan menutupnya dengan cepat. Napasnya tidak beraturan, lalu duduk sejenak menarik napas dan menghembuskannya kembali. Karena penasaran, ia bangkit dari duduknya dan membuka tirai jendela. Dan ternyata Yagami masih ada di sana berdiri memandang ke arah rumahhya. Gadis mungil itu segera menutup tirai jendela lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Yagami menuju rumahnya yang hanya selangkah dari rumah Erika.
__ADS_1
"Hahaha, dia sangat lucu dan imut ketika marah," gumam Yagami cengar-cengir sendiri melangkah memasuki rumahnya yang lagi sepi tanpa ada orang di sana. Hanya dia seorang diri di rumah yang luas bertingkat dua. Ia merebahkan tubuh di atas springbed sambil menatap langit-langit rumah.
Ada pesan masuk di ponselnya.
"Apa kamu baik-baik saja? Masih sakit?"
Dibukanya ponsel itu, dan ternyata pesan dari Kayo. Namun, Yagami tidak membalas pesannya.
"Erika, makan malam sudah siap, cepat ke meja makan sebelum makanannya dingin!" Panggil ibu Erika yang masih samar-samar didengar olehnya. Ia hendak tidur tapi suara ibunya tidak berhenti memanggilnya.
"Ya, Bu. Tunggu sebentar," balas Erika segera mengganti pakaiannya lalu menuju ke ruang makan.
"Bu, Ibu kenal dengan tetangga sebelah?" tanya Erika sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Tetangga yang mana? Kenapa tiba-tiba menanyakannya?"
"Tidak apa-apa, Bu. Sekedar bertanya saja. Soalnya, kalau aku perhatikan, dia selalu sendiri," lanjut Erika.
"Oh, anak muda yang bernama Yagami itu. Iya, dia memang tinggal sendiri. Orang tuanya menjalankan usaha di luar negeri. Memangnya kenapa? Tumben sekali kamu menanyakan soal laki-laki. Atau jangan-jangan, anakku sudah mulai jatuh cinta, ya? Syukurlah kalau begitu, ibu perhatikan dia anak yang baik, kok," balas ibu Erika tersenyum menggoda anak semata wayangnya.
Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah konyol anak gadis satu-satunya itu.
Erika sudah menanamkan dalam dirinya untuk tidak terpengaruh oleh pergaulan bebas. Apalagi memiliki pacar. Kemana-mana hatus bersama, baginya hal itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang kerjaan. Katanya, jika kita memiliki pacar maka kita akan bahagia. Cinta itu indah katanya, tetapi tidak sedikit perempuan yang menangis sebab diputuskan oleh pacar atau ditinggal pergi oleh suaminya. Dari keadaan itu, Erika menyimpulkan, bahwa laki-laki itu semuanya brengsek dan tidak menghargai perempuan. Apalagi sejak ayahnya selingkuh, ia memutuskam untuk tidak berteman dengan laki-laki.
"Hai, Erika, ayo berangkat ke sekolah bersama-sama!" sapa Yagami di depan rumah Erika sambil tersenyum. Mata Erika membesar melihatnya sehingga membuatnya tidak tahan menyaksikan manisnya senyuman si pengganggu. Ia segera membalikkan badan menutup mulutnya dan terus berjalan tanpa memperdulikan laki-laki tampan itu.
"Erika, Erika, Erikaaaaa," panggil Yagami secara terus-menerus membuat Erika tambah merona.
"Berhenti memanggil namaku! Kenapa sih, kamu selalu bicara padaku? Tinggalkan aku sendiri dan ikutlah dengan yang lainnya. Kamu mau 'kan? Seperti mereka berjalan berkelompok, kemana-mana selalu bersama dan bahkan melakukan hal kecil pun selalu bersama. Itu hal yang membosankan," bentak Erika dengan wajah masamnya.
"Itulah arti kebersamaan, aku rasa suatu saat nanti kamu akan mengerti sendiri," balas Yagami sembari berhenti menatap Erika lalu berjalan meninggalkannya menuju sekolah.
__ADS_1
Di sekolah, setiap kali mereka bertatap muka, Yagami tidak seperti biasanya diam. Kali ini, dia bungkam terhadap Erika dan menghindarinya. Erika mulai gelisah, walaupun terkadang ia merasa Yagami sering mengganggunya. Kali ini seakan ada yang hilang dalam dirinya dan merasa bersalah telah membentak si rambut hitam itu. Apalagi melihat Yagami jalan bersama Kayo ke sebuah kafe yang tak jauh dari sekolah.
"Yagami, tunggu aku," teriak Kayo berlari ke arah Yagami sambil merangkul tangannya.
"Kenapa kamu lari-lari begitu, kalau jatuh gimana?"
"Oh kamu perhatian rupanya, yuuk guyss kita ke kafe nongkrong," ajak Kayo kepada teman gengnya sambil berbalik menatap Erika dengan senyum liciknya.
"Tumben kamu tidak pulang bersama si penyendiri itu...'kan sudah aku ingatkan kalau dia itu gadis tidak baik, ya 'kan guys..." kata Kayo. Yagami hanya diam menbuat Kayo tambah kesal.
"Bener, dia gadis sok cool dan penyendiri, kamu saja yang mendekatinya bersama Mika, kalau kami mah, ogahlah, hahahaha," tambah gadis yang fans sama Yagami yang lain.
"Iya, Yagami main bareng kita-kita saja, ya."
"Yagami, bicara dong, masak diam saja, aku dengar kamu pindah rumah, ya? pindah kemana?" tanya Kayo.
Yagami tertegun, dan berpura-pura tidak pindah rumah.
"Aah, aku tidak jadi pindah rumah kok, masih di rumah yang lama. Hanya saja akhir-akhir ini aku menginap di rumah teman."
"Oh..pantesan aja kamu tidak pernah main ke rumah lagi, ayah mencarimu tahu," kata Kayo dengan manja.
"Salam saja buat om," balas Yagami.
"Oh jadi kalian saling kenal? Serasi amat, kenapa tidak jadian?" tanya salah satu gadis yang lain. Mereka duduk di meja pojok dengan santai bersamaan saling berhadapan. Kayo duduk dekat Yagami.
"Ah kalian bisa saja, kami teman masa kecil, kok," balas Kayo mulai salah tingkah.
"Teman masa kecil yang bisa dipupuk, hahaha." kata gadis yang lain.
Sementara Yagami hanya diam menatap ke arah luar memperhatikan Erika yang sedang menyeberang di bawah lampu merah menuju jalan pulang sambil tersenyum.
__ADS_1
Kayo yang melihat ekspresi itu merasa sangat kesal.
"Lagi-lagi perempuan itu yang ada di pikirannya,,,aarght..." ketus Kayo dalam hati sambil menyeruput es teh yang sudah siap di hadapannya.