
Sesampinya di depan rumah, Erika langsung turun dari motor Kise.
"Bisa tidak, besok aku jemput kamu lagi?" tanya Kise.
"Iya, makasih," balas Erika berusaha melebarkan senyuman ke arah cowok tampan itu. Sebab, gadis plin plan itu tidak ingin Kise melihat wajah sedihnya.
"Aku pulang dulu, ya. Sudah larut," kata Kise menaiki motornya sambil melambaikan tangan, begitu pun dengan Erika.
Saat gadia itu membalikkan badan hendak masuk dalam rumah..tiba-tiba...Yagami muncul dan memanggil namanya.
"Erika."
Erika pun menoleh ke arah pagar rumah.
"Ya, ada apa?" balas Erika berpura-pura tegar. Namun, Yagami terlihat serius.
"Besok pagi, aku yang akan jemput kamu," kata Yagami. Namun, Kayo tiba-tiba muncul dari belakang melambaikan tangan. Pertanda agar Erika menolak ajakan Yagami.
"Maaf, tapi aku sudah janji dengan Kise. Besok dia akan menjemputku." Tolak Erika membuat mata Yagami melebar dengan ekspresi sedih lalu menundukkan kepala.
"Oh begitu, ya sudah."
Tanpa melihat Erika lagi, Yagami segera membalikkan badan menuju rumahnya. Kayo mengacungkan jempol ke arah Erika dengan satu kedipan. Dia tersenyum bahagia. Erika segera berlari ke kamar dan merebahkan badan di spingbed. Hatinya lagi-lagi sangat sedih menolak ajakan Yagami. Hingga ia kasihan padanya.
"Aaaarrgth." Erika *** kepalanya merasa ada yang aneh pada dirinya. Perasaannya sangat kuat terhadap Yagami. Padahal ia sudah bertekad pada pendirian, tidak boleh tertarik sama laki-laki. Tapi kenyataannya, hati dan perasaan tidak sejalan dengan kata-kata yang keluar dari mulut. Lidah bisa menolak, tapi hati menerima.
****
Keesokan harinya, pertandingan bola basket babak final antar kelas segera di mulai. Seluruh murid-murid dan para guru berkumpul di lapangan untuk menyaksikan jalannya pertandingan. Erika segera berlari ke lapangan dan duduk di kursi cadangan. Kise menghampiri sambil nyengir.
"Aku sangat senang kamu mau menjadi managerku. Aku semangat hari ini, makasih, ya," katanya sambil tersenyum lalu dibalas dengan Erika.
"Iya, sama-sama. Aku harap tim kelas kita menang olehmu."
Lalu telapak tangan Kise dan Erika bertemu melakukan toss. Kise segera berlari ke lapangan. Dari kejauhan,Yagami memperhatikan mereka dengan kesal. Lagi-lagi Kayo mengacungkan jempol terhadap Erika. Rupanya, dia sangat senang ketika Eriam dekat dengan Kise.
Pertandingan semakin sengit. Tim kelas Erika meminta time out. Para pemain sangat kehausan dan berkeringat. Para manager membagikan handuk kecil kepada pemain beserta minuman. Terakhir, Erika memberikan handuk kepada Kise. Tapi dia bertingkah aneh lagi.
"Aku ingin kamu ngelap keringatku," kata Kise dengan wajah manja menatap wajah Erika hingga ia terkejut.
"What? Aku ngelap keringatmu?" kata Erika terkejut. Kise mendekatkan wajahnya ke arah Erika.
"Iya, itu salah satu tugas manager pribadi. Jangan bilang kamh tidak tahu." kata Kise menatap Erika.
Tanpa basa-basi dengan wajah merona, Erika melap keringat Kise. Dia terus memandangi wajah gadis mungil itu. Tapi ia pura-pura tidak melihatnya. Ketika sampai pada bagian pipi Erika lap, tiba-tiba dia mencium tangan Erika. Karena terkejut, gadis tsundere itu mendaratkan kepalan tangannya di kepala Kise.
"Buuukh..jangan melakukan hal seenaknya."
__ADS_1
"Aauuh, sakit...!!" rintih Kise lalu terkekeh.
"Hahaha, lagian wajah kamu serius sekali ngelap wajahku, membuatku tidak tahan ingin menggodamu."
"Haa? Menggoda? Memangnya kamu pikir aku ini cewek apaan?" bentak Erika.
Kise hanya terkekeh membuat Erika risih dengan tingkah konyolnya. Wajah merona sedari tadi sekejab berubah menjadi suram dan masam.
"Maaf, deh. Aku hanya bercanda, kok. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." balas Kise dengan menunjukkan wajah manjanya lagi.
"Memangnya dia pikir aku ini siapanya? Memang ya, laki-laki bertindak seenaknya tanpa memikirkan perasaan wanita terhadapnya. Arrrght aku semakin jengkel dan benci laki-laki," cetus Erika dalam hati.
"Bercanda? Yang benar saja. Jangan sembarangan menyentuh perempuan. Karena itu akan menyakiti hati mereka," balas Erika dengan lirikan mata dan ekspresi marah.
"Iya, aku ngerti maksud kamu. Tapi, kalau lain kali aku serius, bagaimana?" Kata Kise dengan wajah serius. Tapi Erika mengatakan pada dirinya untuk tidak tergoda. Itu adalah sebuah perangkap agar Erika tergoda olehnya.
"Jangan lakukan itu lagi...!!!"
"Piiiittttt."
Peluit tanda time out berakhir. Para pemain segera kembali ke lapangan. Di sebelah lapangan, Kayo melap keringat Yagami. Dia menatap Erika sejenak dengan senyuman lalu kembali menepuk pundak Yagami. Erika mengalihkan pandangan dengan sebuah kepalan tangan ke arah Kise pertanda memberi semangat. Kise tersenyum sambil mengangguk dan tambah semangat.
Sejenak, mata Erika tertuju pada Yagami hingga mata mereka berpapasan. Tapi Erika segera menundukkan kepala, takut Kayo salah paham lagi. Hati Erika sakit, ingin rasanya ia meluapkan tangisannya, hanya saja ia bendung demi harga diri.
Pertandingan terus berlanjut dan semakin sengit menegangkan. Para penonton bersorak mendukung tim pilihan mereka. Kayo ikut bersorak meneriakkan nama Yagami. Tidak mau kalah, Erika pun menghilangkan ego sejenak dan ikut bersorak meneriakkan nama tim kelasnya. Hingga tanpa sadar nama Kise pun keluar dari mulutnya dengan sendirinya. Setelah mendengar suara Erika, kise berbalik sejenak dan berlari menuju ring lawan. Di menit terakhir, dia memasukkan bola dari tengah lapangan dengan shootnya yang bernilai tiga poin. Tim dari kelas Erika pun memenangkan pertandingan.
"Yeiiii, kita menang, Erika." kata Kise berlari ke arah Erika seraya memeluknya dengan tiba-tiba. Erika segera mendorongnya sebab Yagami memperhatikan mereka.
Lalu Kise menggenggam tangan mungil Erika dengan Erat.
"Ini semua karena kamu. Aku jadi sangat semangat setelah mendengar suaramu bersorak menyebut namaku. Makasih, ya," kata Kise menatap Erika dengan mata sayup. Erika segera melepaskan genggaman tangannya.
"Ya, tidaklah. Itu bukan karenaku. Tapi karena usaha dan kerja keras kalian."
"Usaha dan kerja keras tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dari pihak manapun. Intinya saling berkaitan."
"Iya deh. Aku mengalah."
"Setelah ini, ada yang ingin aku katakan padamu. Tapi...mungkin setelah pulang sekolah. Jadi, tunggu aku, ya. Jangan kemana-mana sampai aku menjemputmu."
Yagami dan Kayo menghampiri mereka mengucapkan selamat. Yagami dan Kise bersalaman dengan genggaman yang sangat erat dengan tatapan seperti singa dan harimau yang akan saling menerkam. Lalu, mereka sama-sama berbalik ke arah Erika.
"Kalian sudah jadian, ya. Wah, kalian sangat serasi." kata Kayo asal bicara dan Erika sangat tahu dengan maksudnya. Dia ingin menjauhkan Yagami dengan Erika, agar Yagami memilihnya.
"Jadian? Hahaha, makasih, ya. Tapi saat ini kamu belum jadian. Malah mungkin bentar lagi," balas Kise meletakkan tangannya di pundak Erika.
"Kise, jangan asal bicara," kata Erika mulai jengkel.
__ADS_1
"Tapi, tidak apa-apa, 'kan?"
"Selamat buat kalian."
Yagami langsung pergi tanpa melihat ke arah Erika. Kayo tersenyum sinis sambil mengikuti Yagami dari belakang seraya merangkul tangan Yagami. Yagami tidak menolaknya.
"Aku sangat tahu itu. Karena mereka sangat dekat. Tapi kenapa hatiku sakit? Otak dan pikiranku sekarang dipenuhi oleh si pengganggu. Aku tidak tahu cara apa yang dia gunakan untuk memikat hati dan pikiranku. Kadang kesal bila memikirkannya.
"Aku juga mau pulang."
Erika menuju kursi mengambil tasnya. Kise mengikuti dan merangkul tangan kanannya.
"Tunggu dulu..!! Biarkan aku mengantarmu pulang."
Wajah Erika mengeluarkan ekspresi sedih lalu melepaskan genggaman tangan Kise.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," balas Erika meninggalkan kise dengan. Rasanya ia ingin menangis lalu mempercepat langkahnya keluar dari lapangan.
Sesampainya di depan rumah, mata Erika tertuju pada Yagami yang sedang menunggu di teras rumah. Dia menyilangkan kedua tangan di dada. Lalu menatap Erika dengan tatapan yang sangat tajam. Sehingga Erika salah tingkah dibuatnya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Erika. Yagami hanya melihatnya tanpa bicara. Ia pun segeta melewati Yagami membuka pintu. Yagami langsung nyosor masuk lalu duduk di sofa depan TV. Erika menganggapnya tidak sopan lalu mendekat ke arahnya.
"Ka-kamu....!!!"
Sebelum selesai bicara, dia menarik tangan Erika hingga terjatuh di pelukannya dengan pelukan yang sangat erat. Erika berusaha mendorongnya ingin melepaskan diri, tapi pelukannya sangat kuat dan tak mampu dikalahkan.
"Apa benar, kamu sudah jadian dengan Kise?" tanya sambil meletakkan kepala di pundak Erika hingga napasnya terasa berat.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Aku tidak sedang jadian dengan siapapun.."
Tiba-tiba kepala Yagami langsung terangkat, yang tadinya sangat suram seketika berubah menjadi ceriah dengan mata berbinar-binar menatap wajah mungil Erika.
"Yang benar? Syukurlah...tahu tidak, aku sangat cemburu melihat kedekatan kalian. Kalau boleh jujur, aku tidak suka kamu dekat dengannya," kata Yagami dengan wajah serius bercampur wajah manja mamandangi wajah Erika.
"Kamu ini aneh, ah. Kise 'kan teman sekelasku. Tidak mungkin aku menghindarinya."
"Tapi..teta saja, aku tidak mau kamu dekat dengannya. Kamu tidak tahu isi hati lelaki. Jika kamu terlalu baik dan perhatian padanya, maka dia akan menyerangmu tanpa kamu sadarari. Aku tidak mau melihatmu di serang seperti di lapangan tadi. Dia mencium tanganmu, 'kan?"
"Oh sial, ternyata dia melihatnya. Jeli sekali matanya, sehingga dia masih sempat melihat kejadian sepele itu," gumam Erika.
"Itu....kamu pulang sana. Sebentar lagi ibuku pulang kerja."
"Kamu mengusirku?" tanyanya sambil memeluk Erika lagi. Dan mengecup kening lalu sampai merapatkan bibirnya ke bibir tipis Erika hingga lidahnya memainkan lidah Erika.
Erika memukulnya berusaha ingin lepas darinya. Tapi apa daya ia tak mampu melepaskan diri hingga ia menyerah dan terlarut dalam pelukan dan ciuman cowok berambut hitam itu.
Jangan lupa mampir di novel SOUL EXCHANGE tentang pertukaran jiwa teman masa kecil yang akhirnya saling jatuh cinta walau sempat saling melupakan
__ADS_1
thanks...😘😘