CINTA DAN EGOIS

CINTA DAN EGOIS
PART 36


__ADS_3

Tanpa terasa usia kehamilan Erika memasuki 3 bulan. Kali ini, ia selalu ingin makan. Kadang tengah malam ia lapar. Yagami sebagai calon ayah yang baik selalu bangun menemani kekasihnya.


"Kamu ingin aku membeli sebuah kulkas khusus dikamar kita?" Tanya Yagami menopang dagu memperhatikan Erika sedang melahap makanan di depannya.


"Untuk apa?" Balasnya tanpa melihat ke arah Yagami, ia sibuk mengunyah makanan.


"Biar kamu tidak capek bolak-balik ke dapur. Di sana sisa isi makanan dan buah," kata Yagami dalam balutan baju tidur warna biru muda. Erika langsung senang dengan mata berbinar-binar menatap suaminya.


"Wuaaah, itu ide bagus hubby, love you," balas Erika memonyongkan bibir ke arah Yagami.


"Tapi sebagai gantinya, kamu tidak boleh keluar rumah kecuali penting."


"Baiklah, tenang saja. Aku orangnya lebih suka di rumah kok," balas Erika masih makan.


"Good. Dan satu lagi...."


"Apa lagi, syaratnya kok banyak sekali, humph," balas Erika dengan manja.


"Jatahku harus ada tiap malam, jadi kamu harus siap-siap menungguku pulang dari kantor," kata Yagami menatap lekat istrinya dengan senyum mematikan.


"Dasar iblis mesum, iih," cetus Erika dengan wajah merona menghabiskan makananya.


Yagami menggendong istrinya kembali ke dalam kamar. Itu adalah salah satu cara untuk memanjakannya.


"Aku bisa jalan sendiri, kok."


"Tidak apa-apa, aku masih bisa menggendong kamu," balas Yagami meletakkan Erika secara perlahan di kasur. Lalu mengambil selimut dan memeluknya.


"Sudah, ayo tidur. Besok aku harus ke kantor karena ada kerjasama dengan grup F yang sekarang pewarisnya adalah Kise Rintaro.


"Ya udah, good night hubby."


"Good night too my litle cute, muaach," balas Yagami mengecup kepala istrinya dari belakang hingga mereka terlelap tidur.


Saat pagi tiba, Naila hendak membangunkan mereka untuk sarapan pagi. Ketika membuka kamar, ia melihat keduanya masih terlelap tidur sambil berpelukan. Naila hanya tersenyum bahagia melihat mereka. Sementara Kayo pun baru bangun dan melihat kamar mereka terbuka. ia melangkahkan kakinya ke sana.


"Ada apa, Tante?" Tanya Kayo mengucek matanya.


"Sssth, jangan ribut. Mereka lagi nyenyak tidur," balas Naila meletakkan jari telunjuk di mulutnya tanda diam jangan berisik. Mata Kayo memandangin mereka dengan mata sayup. Ia diam sejenak masih dengan hati perih. Kemudian berbalik meninggalkan kamar kakaknya.


"Tante, aku duluan," kata Kayo.


"Baik, Nak."


Mata Erika terbuka secara perlahan.


"Ibu?"


"Saya disini ingin membangunkan kalian sarapan. Tapi saya lihat kalian terlalu nyenyak tidur, jadinya tidak enak untuk membangunkan kalian."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu. Yagami juga akan masuk kantor hari ini. Katanya ada kerjasama dengan perusahaan Kise," kata Erika lalu berbalik menatap suaminya yang masih tidur.


"Kalau gitu cepat bangunkan Yagami. Kami tunggu di meja makan," balas Naila lalu meninggalkan kamar mereka sambil tersenyum.


"Hubby, bangun. Ini sudah jam 7. Katanya ada meeting ini hari," kata Erika berbisik di telinga Yagami. Yagami meraih kepalanya lalu mengecup pipi wanita yang dicintainya itu.


"Iya makasih my litle cute. Mana ciuman selamat pagi buatku?" Kata Yagami menatap Erika sambil duduk mendekatkan wajah. Erika merona lalu mengecup kening Yagami.


"Good morning, my handsome hubby," ucap Erika membuat pupil mata Yagami membesar disertai senyum bahagia.


Mereka pun turun ke ruang makan untuk menyantap sarapan. Di sana sudah tersedia susu hangat putih serta roti bakar dengan slei coklat kesukaan Erika. Ditambah lagi dengan telur rebus semakin memperlengkap sarapan pagi saat itu. Kemesraan mereka lagi-lagi membuat Kayo merasa sakit hati. Walau ia telah merelakan Yagami buat Erika yang tengah mengandung seorang bayi, tetap saja ia merasa sesak tiap kali menyaksikan mereka bermesraan di hadapannya. Ia sudah melakukan berbagai cara agar hatinya bisa melepaskan Yagami seutuhnya. Namun, tetap saja tidak bisa. Bagiamana bisa terlupakan jika orang yang dicintai selalu disaksikan tiap saat. Apalagi tinggal serumah dengannya. Ia pun memutuskan untuk keluar rumah beberapa saat.


"Ayah dan semuanya. Mungkin mulai besok aku akan tinggal di luar untuk sementara waktu. Aku akan menyewa sebuah apartemen," kata Kayo berusaha tersenyum hingga semua mata tertuju padanya. Erika mulai murung akibat merasa tidak enak.


"Loh, Nak. Ada apa? Apa rumah kami tidak menyenangkan buatmu?" Tanya Naila.


"Bukan begitu, Tante. Aku hanya ingin menenangkan diri sejenak. Jika sudah merasa baikan, aku janji akan segera pulang," balas Kayo.


"Kenapa kamu ingin tinggal di luar? Bahaya seorang wanita tinggal sendiri," tambah Yagami.


"Iya, Nak. Kamu jangan pergi ya," kata Tn. Nathan.


"Kamu bisa tetap tinggal di sini, kok. Kami 'kan tinggal di sebelah. Hanya hari ini saja kami di sini. Apa ada yang mengganggum?" kata Erika khawatir.


"Tidak ada, kalian pasti mengerti perasaanku, pertunanganku yang baru saja dibatalkan, lalu ibuku masuk rumah sakit jiwa karena skandalnya," jelas Kayo berusaha menutupi rasa sedihnya. Semua yang ada di meja itu menghentikan aktivitasnya menatap Kayo dengan lekat.


"Maafkan kami, Nak...sungguh tidak ada maksud..."


Erika semakin bersalah. Ia baru sadar jika selama ini tidak mempertimbangkan perasaan Kayo dan bermesraan di mana-mana dengan Yagami. Ia pun merasa egois dan meneteskan air mata.


"Kamu bisa tinggal di rumah lama kita, di sana lebih aman daripada di luar," kata Tn. Nathan.


"Tidak usah, Ayah. Aku ingin tinggal di tempat yang berbeda dimana tidak mengingatkanku tentang masa lalu," balas Kayo.


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Nanti ayah akan mengirim pengawal buat menjaga kamu. Ingat untuk mengabari kami apapun yang terjadi," tambah Tn. Nathan tersenyum kepada putri keduanya.


"Terima kasih, Ayah."


Erika tidak tahan lagi hingga segera berdiri kembali ke kamar diikuti oleh Yagami.


"Aku susul Erika dulu. Kalian lanjulah sarapan," kata Yagami.


"Kamu kenapa? Apa tubuhmu baik-baik saja?" Tanya Yagami sesampainya di kamar.


Erika hanya menggeleng. Air matanya terus mengalir.


"Lalu kenapa kamu menangis?" Tanya Yagami lagi menyeka sisa air mata di pipi Erika dengan jari telunjuk.


"Apa kita tidak merasa egois, hanya memikirkan diri sendiri setiap hari bermesraan di depan Kayo? Aku merasa sangat jahat padanya," kata Erika menatap Yagami yang sedang duduk di pinggir kasur berdampingan dengannya.

__ADS_1


"Sudah, itu bukan salah kita. Tapi salah takdir. Jangan dipikirkan lagi. Jika dia ingin pergi, wajar saja 'kan. Biarkan dia melakukan apa yang menurutnya menyenangkan. Kamu tidak usah banyak pikiran. Serahkan semuanya padaku. Ingat, kamu sedang mengandung anak kita. Aku yakin, ia pun tidak ingin melihatmu seperti ini," jelas Yagami merangkul istrinya kedalam pelukannya sambil mengelus kepala dan menepuk-nepuk belakang wanita dambaan hatinya itu. Hingga wajah Erika menempel di dadanya mencium aroma tubuhnya.


Setelah siap-siap, Yagami berangkat ke kantor dengan jas warna krem dasi biru navi sepatu hitam tentu saja tidak lupa dengan jam tangan hitamnya. Di sana sudah ada Kise menunggu dengan gaya rambut baru yaitu hitam kecoklatan dengan ujung warna putih serta jas warna hitam dalamnya putih dasi hitam.


"Selamat datang di kantor kami, Kise," sapa Yagami.


"Kamu jadi presdir kok telat sekali ke kantor. Jangan bilang pagi-pagi kamu masih minta jatah, hahaha," goda Kise.


"Haha, dasar. Kamu merubah gaya rambut?"


"Iya, ini demi menarik perhatian Kayo, bagus tidak? Apa aku makin ganteng?"


"Huahahha, ada-ada saja. Iya ganteng saja deh."


"Bagaimana kabar Kayo?"


"Dia baik-baik saja, tapi dia akan pindah dari rumah mulai besok," balas Yagami duduk di sofa berhadapan dengan Kise.


"Haa? Kamu mengusirnya?"


"Bukan begitu, tapi katanya dia ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Apa sudah ada perubahan diantara kalian?"


"Belum ada. Dia hanya menganggap bahwa aku menjadikannya sebagai pelampiasan akibat ditolak Erika," balas Kise membuang napas dengan berat.


"Apa? Awas saja kalau kamu masih menginginkan istriku, humph," balas Yagami mengeryitkan dahi menatap Kise.


"Hahaha, memangnya Erika tidak pernah cerita? Aku akan tetap mengejarnya. Lagian kalian belum menikah," canda Kise.


"Coba saja kalau berani. Lebih baik kamu berusaha memenangkan hati Kayo," balas Yagami dengan wajah masam seperti ada aura hitam diatas kepalanya menatap tajam Kise seperti sebuah ancaman.


"Sudah, hanya bercanda. Mari kita mulai bahas tentang kerjasama kita," kata Kise. Walau sebenarnya dalam hatinya yang paling dalam ia masih mencintai Erika. Hanya saja sudah perlahan menghilang sejak bertemu dengan Kayo. Mereka pun mulai mendiskusikan tentang proyek baru yang akan mereka bangun.


"Iya, benar katamu, aku harus memenangkan hati Kayo. Moga dengan begitu, kami bisa melupakan masa lalu bersama," gumam Kise dalam hati.


****


"Halo, Tn. Nathan. Besok aku akan ke Jepang menyaksikan langsung tubuh palsu Yagami yang anda maksud. Kenapa juga baru beritahu aku sekarang," kata dokter Jino dari dalam ponsel.


"Maaf, ini permintaan Yagami sewaktu masih koma."


"Baiklah, tunggu aku di sana."


Makasih udah baca 😘


Gambar pemanis buat KISE X KAYO.


Tunggu kisah mereka selanjutnya.


Akankah mereka mulai saling suka? Atau sebaliknya.

__ADS_1



__ADS_2