
Keesokan harinya, Yagami mengikuti Erika di lorong sekolah menuju kelas. Ia meraih tangan mungil itu dengan genggaman erat. Kayo yang kebetulan memperhatikan mereka dari belakang merasa kesal dengan wajah masam.
"Bisa lepaskan tanganku? Genggamanmu terlalu kuat, tanganku sakit," kata Erika kepada Yagami dengan tujuan agar Kayo tidak salah paham padanya.
"Oh iya. Maaf. Aku hanya ingin minta tolong."
"Minta tolong tentang apa?"
"Kamu bisa jadi manager pribadiku untuk hari ini saja?"
"Haa? Manager? Manager apaan?" tanya Erika kaget.
"Hahaha, jangan memasang wajah kaget begitu, aku hanya ingin kamu jadi manager pribadiku di permainan bola basket nanti sore. Pekerjaannya gampang, kok. Hanya menyiapkan aku air minum dan handuk," kata Yagami menatap Erika sambil tersenyum.
"Oh gitu, baiklah akan aku coba. Tapi...tidak janji, ya."
"Okeeyyyy, makasih, ya." Yagami kegirangan sampai memegang bahu Erika.
"Apa? Yagami, tubuh kamu masih belum pulih dari sakit. Kenapa kamu ikut main? Pokoknya kamu tidak boleh ikut," cetus Kayo yang tiba-tiba muncul dari balik tembok menuju tangga lantai dua sekolah.
Yagami berbalik ke arahnya.
"Tidak apa-apa, aku sudah sehat, kok. Aku hanya ingin menikmati permainan itu sebagai lelaki sekali seumur hidup," kata Yagami tersenyum juga menatap Kayo.
"Kalau begitu, kenapa kamu minta bantuan sama dia? Akulah yang berhak menjadi manegermu, sebab aku lebih tahu banyak tentang kamu daripada dia," balas Kayo menunjuk ke arah Erika.
"Sekali-kali minta bantuan sama Erika. Supaya kamu tidak capek, 'kan? Selama ini, kamu sudah terlalu memaksakan diri untuk membantuku. Makasih, ya. Mungkin ada hal lain yang ingin kamu kerjakan."
Erika berpikir negatif terhadap Yagami, kalau dia hanya meminta bantuannya hanya untuk membuat Kayo istrahat. Lagi-lagi hatinya perih.
"Miris rasanya dijadikan sebagai pelarian," gumamnya dalam hati dengan kepala menunduk.
"Aku tidak pernah merasa capek membantumu, lagian kita dari kecil bersama. Pokoknya aku yang akan membantumu nanti, titik." Kayo bersikeras kepada Yagami.
"Oke, kalau itu mau kamu. Ikut dengan Erika. Kalian berdua menjadi managerku."
"Iya, mungkin Kayo lebih cocok dengan hal itu. Sebab dia lebih tahu tentang kamu," balas Erika pura-pura tersenyum.
"Oh iya. Aku memang lebih pantas. Kmau benar adanya, aku lebih tahu banyak tentang dia," kata Kayo mengepalkan tangannya menatap Erika dengan wajah sinis, pertanda agar Erika menolak ajakan Yagami.
"Sudah, jangan bertengkar lagi..!!" kata Yagami sambil berbalik meninggalkan Erika diikuti oleh Kayo.
Saat melihat mereka berjalan bersama, Erika merasa kalau Yagami juga menyukai Kayo. Hatinya merasa sakit melihat kedekatan mereka. Ia pun berbalik menuju kelas.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Kise sudah menunggunya sembari duduk di kursi Erika.
"Kenapa kamu duduk di kursi aku?"
"Tidak apa-apa, hanya menunggumu."
"Sudah deh, bisa pindah, tidak? Soalnya aku mau duduk," kata Erika dengan sedikit berwajah masam.
"Iya, maaf. Aku bisa minta bantuanmu?"
"Kenapa?"
"Aku mau kamu jadi manager pribadiku nanti sore di pertandingan bola basket antar kelas."
Kata Kise meminta hal yang sama dengan Yagami. Erika belum menjawabnya, soalnya dia masih bingung memilih antara keduanya.
"Nanti aku pikir-pikir dulu."
"Sipp...hehe," balas Kise tersenyum kepadanya.
"Lagian untuk apa mereka masih memintaku menjadi manager pribadinya? Bukankah team bola basket sudah memiliki manager? Dasar mereka...sangat aneh," gumam Erika.
Di jam istrahat, seperti biasa Erika menuju atap sekolah. Kayo mengikutinya dari belakang. Lalu dia berjalan ke arah jaring yang membatasi atap dengan udara luar. Lalu menghela napas panjang. Erika berusaha berdiri di sampingnya dan menyelipkan jemari mungilnya ke dalam jaring itu. Mereka sama-sama memandang ke arah luar.
Erika sangat paham dengan kata-kata itu. Entah mengapa, ia merasa sakit hati dan sesak mendengarnya. Kata-kata itu seakan memintanya untuk menjauhi Yagami. Ia pun menundukkan kepala, lalu berpura-pura tidak ada yang terjadi dengan Yagami.
"Kamu tenang saja, aku dan Yagami tidak akan melalukan hal yang melukaimu. Dan aku tidak sedang menjauhkanmu dengannya. Juga, tidak pernah mendekatinya. Dia saja yang selalu mendekatiku," kata Erika masih menyimpan rasa khawatir.
"Iya, aku tahu akan hal itu. Tapi tidak mungkin, semasih kamu memberikan kesempatan padanya untuk dekat denganmu. Aku mohon padamu, jauhi Yagami..!!" kata Kayo lagi. Hati Erika merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Hatinya merasa berat dan bingung dengan perasaannya.
"Baiklah, aku janji."
Wajah Kayo berubah drastis..menjadi ceria.
"Okey..aku duluan, ya. Pegang kata-katamu."
Erika membiarkan Kayo pergi begitu saja. Ia tidak ingin dianggap pengganggu. Dengan kepala menunduk, sembari memegang dada, ia menghembuskan napas agar perasaan sesaknya berkurang. Ia pun memutuskan untuk menerima tawaran Kise. Lalu bergegas kembali ke kelas menemuinya.
"Kise," panggilnya.
Kise berbalik ke arahnya saat sedang berbicara dengan seorang gadis. cowok tinggi itu pun berjalan ke arahnya dan melihatnya dari atas karena tingginya.
"Iya, ada apa, Erika-chan," balasnya mendekatkan wajah ke arah Erika.
__ADS_1
Erika mendorongnya.
"Ka-kamu jangan terlalu dekat..!! Aku sudah putuskan untuk menjadi managermu di pertandingan bola basket sebentar sore."
"Serius? Beneran, ya."
Wajah Kise serius memandangi Erika. Seakan tidak percaya Erika si gadis jutek menerima tawarannya. Padahal, ia hanya terpaksa demi menghindari sesak yang dialami akibat Kayo dan Yagami.
Erika menganggukkan kepala.
"Yes...yes...yess...horeeeii, makasih, ya."
Dengan spontan, Kise memeluk Erika, membuat gadis fans Kise geram menyaksikannya.
"Ciih,.." geram fans Kise.
****
Tanpa terasa, sore pun tiba. Seluruh tim dari masing-masing kelas sudah berkumpul di lapangan. Pantulan bola berserakan di mana-mana akibat latihan para pemain. Tempat duduk untuk para penonton pun sudah penuh.
Yagami mendekati Erika saat berada di samping Kise. Dia menunjukkan ekspresi kesal lalu menarik tangan Erika.
"Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu sudah setuju untuk menjadi managerku?" tanyanya dengan kesal.
"A-aku...."
Kise merangkul pundak Erika dari belakang. Sembari mengedipkan mata ke Yagami.
"Dia managerku hari ini. Maaf, ya. Cari manager lain saja."
Yagami segera melepaskan tangan Kise dari pundak Erika. Sehingga Erika tidak tahu harus berbuat apa di situasi seperti itu.
"Jadi, begitu, ya. Kamu mengingkari janjimu. Aku kecewa sama kamu." Kata Yagami membuat hati Erika sesak. Yagami pun kembali ke timnya.
"Di sana, sudah ada Erika yang akan menjadi managermu," teriak Erika membuat Yagami menghentikan langkahnya dan berbalik sejenak menatap Erika. Di sana sudah ada Kayo mengacungkan jempol ke arah Erika di sebelah lapangan. Yagami melihatnya sebentar.
Pertandingan pun berlangsung selama beberapa jam. Tim Kise dari kelas 2-B dan Tim Yagami dari kelas 2-A , berhasil lolos ke babak final.
"Karena hari sudah mulai larut, maka pertandingan babak final ditunda dan akan dilaksanakan keesokan harinya. Kise mengantar Erika pulang ke rumah. Yagami mengikuti dari belakang dengan Kayo dalam mobilnya. Erika memalingkan wajah ke arah depan berusaha menghindari tatapan mereka. Hatinya lagi-lagi sakit bagai ditusuk duri.
"Cowok itu sepertinya cocok buat Erika," kata Kayo memanasi hati Yagami. Hingga ia makin kesal.
maksih udah baca, jang lupa mampir di novel dengan judul SOUL EXCHANGE, tentang pertukaran jiwa saudara tiri yang sebenarnya adalah teman masa kecil yang saling jatuh cinta. 😘😘😘
__ADS_1