
Setelah berciuman dengan Yagami, Erika merona meletakkan kedua tangan di pipi. Sementara Yagami pulang ke rumahnya istrahat.
"Fufufu," goda Mika memonyongkan bibir, yang ternyata memperhatikan mereka dari balik jendela. Erika masih senyum-senyum sendiri.
"Cieeee, ada yang lagi kasmaran yang kedua kalinya, nih. Sudah, ngaku saja."
"Iih, tidaklah. Kamu lupa, ya, dengan apa yang aku katakan tempo hari."
"Tentang harga diri perempuan? Mana mungkin aku lupa. Tapi hal itu tidak berlaku di jaman sekarang. Coba kamu lirik negara Jepang, yang pertama mengungkapkan perasaan mereka di sana adalah cewek. Masak kamu tidak berani."
"Woiii, kita adalah bangsa indonesia, bukan penduduk jepang. Jangan bawa-bawa peraturan jepang ke negara kita. Bisa hancur negara kita."
"Yang jelas peraturannya baik. Kan patut dicontoh. Semasih hal itu baik dan tidak merusak negara lain. Lagian, masak mengungkapkan perasaan ke cowok saja sampai merusak negara? Yang benar saja, kamu. Hahaha, dasar aneh. Makin hari makin aneh aja."
"Iya, kamu menang. Tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Sudah, aku mau mandi dulu. Terus, untuk apa kamu ke rumahku?"
"Hehe, seperti biasa bertamu."
Ring..ring..ring..ada panggilan masuk dari Yagami.
"Eh, baru juga pisah sudah telpon saja dia, ehm. Lagian tetangga, kenapa repot telpon? Samperin aja." kata Mika.
Erika mengangkat telpon dari Yagami. Seketika ia panik mendengar suaranya yang kedengaran lemah.
Erika: Halo..Yagami?
Yagami: E..ri..ka..to..long, tuut
Erika berlari ke rumah Yagami. Diikuti Mika.
"Ada apa? Yagami kenapa?"
Erika tidak menjawab dan hanya terus berlari ke rumah Yagami. Di sana, ia mendapati Yagami sudah tergeletak di lantai. Erika langsung memeluknya sambil meletakkan kepala Yagami di pangkuannya.
"Yagami..bangun..!! panggil Erika.
"Ya ampun, badannya sangat panas," kata Mika.
"Mika, tolong panggil ibuku."
"Baiklah."
Tidak lama kemudian, ibu Erika datang.
"Bu, Yagami tidak sadarkan diri," kata Erika dengan mata berbinar. Airmatanya menetes.
"Dia kenapa?" tanya ibu Erika lalu meletkkan telunjuk di hidung Yagami mengetes napasnya. Lalu menyentuh keningnya.
"Tenang saja, dia hanya demam," kata ibu Erika.
"Jadi kita harus gimana, Bu?" tanya Erika khawatir.
"Kita bawa saja dia ke rumah. Kita bertiga bisa kok, gendong dia ke sana."
"Baik."
Mereka memapah Yagami ke dalam rumah Erika. Kemudian meletakkan tubuh Yagami di atas tempat tidur Erika.
"Kamu kompres dia, biar ibu masakkan bubur untuknya, lalu Mika segera beli obat penurun panas di apotik sebelah jalan." kata ibu Erika.
__ADS_1
"Jangan lupa juga, lap badannya," sambung Mika menggoda Erika.
"Iih kamu, sana cepat beli obat."
"Benar kata Mika. Kamu harus lap keringat yang ada di badannya," tambah ibu Erika membuat Mika terkekeh.
Setelah ibunya dan Mika keluar kamar, Erika dengan terpaksa melap tubuh Yagami sambil memperhatikan tubuh indah itu. Wajahnya lagi-lagi merona. Tapi tangannya berhenti saat melihat luka bekas jahitan di sana.
"Kok ada bekas jahitan di tubuhnya?" gumam Erika.
"Erikaa.." panggil Yagami tidak sadar.
"Ya, ada apa?" balas Erika merangkul tangan Yagami dengan Erat. Lalu Mika masuk.
"Ciee, baru juga ditinggal sebentar sudah mesra saja. Sudah, jadian saja sana, sebelum diambil orang lain," kata Mika meletakkan obat di meja samping tempat tidur.
"Mika, berhenti bercanda, Yagami lagi sakit."
"Iya, ya...aku tahu kalau suamimu itu sakit. Moga cepat sembuh, ya, hihi."
"Mikaaaaa.....aarght."
"Buburnya sudah siap, apa Yagami sudah bangun?" kata ibu Erika membawa semangkuk bubur dengan segelas air putih.
"Iya tadi dia sadar."
"Coba kasih bangun sebentar, kasih makan bubur lalu minum obat." kata ibu Erika.
"Baik, Bu."
"Yagami, bisa bangun sebentar?" Erika membangunkan Yagami tapi dia masih tetap tidak bangun lagi. Dia tidak sadarkan diri lagi.
"Begini saja, kamu coba kompres terus saja sampai panasnya turun baru makan bubur. Buburnya ibu taruh di kulkas, nanti sisa dipanaskan," kata ibu Erika keluar dari kamar.
"Kalau gitu, aku juga pamit dulu, soalnya sudah larut." Mika pamit lalu pulang.
Di tengah jalan, ia bertemu dengan Kise.
"Loh, Mika? Darimana malam-malam begini?"
"Aku habis dari rumah Erika."
"Erika? Dia kenapa?"
"Dia baik-baik saja. Dia merawat Yagamiyang sedang sakit sekarang."
"Haa? Kok bisa Yagami di sana?"
"Kan mereka tetanggaan. Sudah aku mau pulang, sudah malam."
"Ternyata mereka tetangga dekat. Pantasan saja, tapi kenapa Erika tidak pernah cerita," gumam Kise.
Sementara itu, Erika terus mengompres kepala hingga tubuh Yagami hingga ia terlelap tidur sambil memegang handuk lain yang digunakan untuk mengompres Yagami.
Keesokan harinya, Yagami sadar dan bangun dari tidurnya. Ia mendapati Erika sedang tidur di sampingnya. Dengan wajah tersenyum memandangi wajah cantik Erika.
"Jadi dia merawatku semalaman hingga tertidur? Kamu sungguh gadis baik," gumam Yagami mengangkat tubuh Erika ke atas tempat tidur, lalu mengecup kening hingga ke bibir gadis mungil itu.
"Kamu sudah sadar, Nak?" sapa ibu Erika yang tiba-tiba masuk kamar membawa makanan dan minuman.
__ADS_1
"Iya tante, maaf merepotkan."
"Tidak usah sungkan, mari makan, Nak." Ibu Erika meletakkan makanan di meja.
"Makasih."
"Anak ini masih belum bangun?"
"Ah, biarkan saja tante, dia kecapean mengurus saya semalam."
"Ya sudah, habiskan makanannya, ibu turun dulu." balas Ibu Erika sambil berbalik meninggalkan Yagami dan Erika di kamar.
Setelah makan, Yagami kembali ke rumahnya. Ketika bangun, Erika panik dan segera berlari ke rumah Yagami.
"Yagami, apa kamu ada di dalam?" teriak Erika dari balik pintu. Yagami yang baru selesai mandi segera membuka pintu.
"Aaaaah..." teriak Erika.
"Kenapa teriak, nanti didengar tetangga."
"Kamu, pakai baju dulu."
"Hm," gumam Yagami menarik Erika ke dalam rumah. Erika menutup mata dengan telapak tangan malu melihat Yagami yang masih memakai handuk.
"Kenapa malu?" tanya Yagami melepaskan tangan Erika di dekat sofa. Hingga terlihat jelas wajah malu dan merona akibat memanas oleh Yagami.
"A-apa yang kamu lakukan, cepat pakai baju sana.." ketus Erika memalingkan wajah.
"Kalau aku tidak mau, gimana?" balas Yagami memutar wajah Erika ke arahnya. Hingga mereka saling menatap membuat jantung mereka semakin berdegup kencang. Tanpa sadar, kedua bibir mereka menyatu sambil berpelukan. Yagami mulai merebahkan tubuh Erika di sofa dengan tangan mulai meluncur kemana-mana, terutama memanjat ke gunung kembar. Mata Erika melotot.
"Mmmhh."
Tiba-tiba, ada panggilan masuk di ponsel Yagami. Membuat tangan Yagami berhenti di puncak gunung kembar. Dan berlari mengangkat telpon.
Erika menutup wajahnya malu dengan hati berbunga-bunga.
"Cih, siapa sih pagi-pagi begini menelpon. Mengganggu saja," cetus Yagami sebab gagal turun ke hutan rimba setelah berada dipuncak si gunung kembar.
Lalu matanya melebar melihat nomor telpon dari ayah Kayo.
"Halo."
"Aku dengar kamu ikut main bola basket."
"Iya, Om."
"Kamu kenapa tidak mendengarkan kata-kataku, tubuhmu sangat lemah, jika sampai kamu melakukan gerakan berat lagi, maka kamu bisa meninggal ditempat,..mengerti."
"Iya, Om. Aku janji, ini yang terakhir kalinya."
"Oke, hari ini kamu harus ke rumah. Kita akan melakukan pemeriksaan atas tubuh kamu, ingat..!!"
"Baik, Om. Makasih banyak." balas Yagami menutup telpon. Lalu berbalik menatap Erika.
"Makasih ya, sudah merawatku tadi malam."
Erika hanya mengangguk malu sembari tersenyum. Yagami mendekat ke arahnya lalu mengecup keningnya.
"Lain kali kita lanjut yang tertunda hari ini, ya. Persiapkan dirimu," kata Yagami membelai rambut Erika sembari tersenyum. Membuat wajah Erika memerah bagai isi semangka.
__ADS_1
jangan lupa mampir di novel SOUL EXCHANGE ya. tentang pertukaran jiwa teman masa kecil yang akhirnya saling jatuh cinta.
makasih 😘😘