
Sepulang sekolah, seperti biasa Erika selalu sendiri. Sesampainya di rumah, Mika sudah berdiri menunggunya di depan rumah dengan menyilangkan kedua tangan.
"Mika, kamu sedang apa di sini?" tanya Erika mendekat ke arahnya.
"Aku ingin bicara empat mata denganmu," balas Mika dengan wajah datar tidak seperti biasanya.
"Ada perlu apa?"
"Pura-pura lugu lagi, seakan tidak tahu apa-apa. Kamu ini selalu menganggap semua orang sama. Bahkan aku pun kamu anggap masalah 'kan? Kamu tidak pernah berpikir bahwa sikap kamu itu telah menyakiti banyak orang. Sadar gak sih? Cobalah lihat sekelilingmu dan baca keadaan," jelas Mika mencoba membuka hati sang egois.
"Biarkan saja, yang jelas inilah diriku, yang tidak peduli dengan orang lain di sekitarku," balas Erika masih dengan nada jutek.
"Kamu ini benar-benar egois. Sikap egois itu baik untuk diri kamu sendiri, tapi tidak baik bagi orang lain. Malahan merugikan orang di sekeliling kamu. Sikap baik dan buruk seseorang terhadap kita, itu tergantung bagaimana sikap kita terhadap mereka. Ingat itu baik-baik. Suatu saat nanti kamu akan mengerti tentang apa yang aku sampaikan hari ini. Dan kamu tahu Yagami 'kan? Tetangga sebelah rumahmu. Dia itu anak yang baik dan butuh teman. Dia hanya ingin berteman denganmu..tetapi kamu abaikan."
"Kenapa kamu bawa-bawa nama Yagami."
Tanpa bicara lagi, mika membalikkan badan meninggalkan Erika di teras rumah. Mata Erika mulai panas. Ada sesak yang terasa di dadanya ketika kata-kata Mika barusan muncul di benaknya. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir sedikit demi sedikit membasahi pipi mungil yang putih bersih itu.
"Kenapa semua orang menasehatiku? Seakan-akan merekalah yang paling benar," rintih Erika sembari membalikkan badan menuju kamar dan meluapkannya di sana.
****
Keesokan harinya di sekolah....
"Hai, Yagami, ayo ikut kami ke tempat karaoke," ajak salah satu gadis dari kelas
3-C.
"Maaf, ya. Lain kali saja, soalnya aku sudah punya janji dengan Erika," tolak Yagami menggunakan nama Erika demi menghindari para gadis itu.
__ADS_1
"Haa? Apa katamu? Dengan Erika si perempuan aneh itu, ya? Pokoknya jangan dekat-dekat sama dia deh. Soalnya dia itu si penyendiri yang tidak memiliki teman dan hanya berteman dengan buku-buku di perpustakaan."
"Dasar gadis aneh, hahaha," kata gadis-gadis penggemar Yagami sambil menertawakan Erika yang kebetulan ada di belakang mereka duduk di sebuah batu kecil yang di bawah pohon sekolah.
"Tutup mulut kalian! Dia tidak seperti yang kalian kira," bentak Yagami dengan nada jengkel.
"Aduh, masak sih cowok terganteng di sekolah ini membela si penyendiri yang tidak memiliki teman. Kasihan banget kamu diperalat sama dia."
Kayo yang mendengar ocehan fans Yagami hanya bisa senyum-senyum sendiri di belakang.
"Aku tidak diperalat olehnya, walaupun dia jutek dan penyendiri, tetapi aku lebih menyukai dia tulus dari dalam hatiku daripada mereka yang suka menjelekkan orang lain tanpa melihat sisi lain dari orang tersebut. Dan aku lebih memilihnya dari pada mereka yang hanya pura-pura berteman," jelas Yagami.
Mendengar kata-kata Yagami, mata Kayo membesar. Senyum yang sedari tadi dipancarkannya kini berubah menjadi datar disertai rasa emosi.
"Iih, apa-apaan sih. Ya sudah, ayo kita tinggalkan si cowok ganteng ini dengan gadis kampung dan norak itu. Hahaha," kata para gadis itu yang ternyata menyadari kalau Erika sedang duduk di belakang. Gadis-gadis itu pun berlalu pergi.
Air matanya mengalir seketika. Yagami yang melihat hal itu segera mendekat ke arahnya.
"Hei, kenapa kamu menangis? Sudahlah, jangan tangisi kata-kata mereka yang tidak penting itu. Anggap saja angin lalu," kata Yagami menepuk pundak Erika lalu duduk di sampingnya.
"Sampai sekarang, hanya Yagami dan Mika yang selalu berbicara kepadaku. Inikah rasanya memiliki teman?" gumam Erika dengan perasaan gugup di dekat Yagami.
"Makasih, ya, karena sudah membelaku. Dam maaf soal waktu itu aku membentakmu," kata Erika sambil menyeka air mata di wajahnya.
"Tidak usah pikirkan akan hal itu. Aku akan melakukan apapun untukmu karena aku menyukaimu sejak dulu sampai sekarang. Kamu mau 'kan, jadi pacarku?" kata Yagami yang diakhiri dengan mengungkapkan perasaannya secara spontan. Wajah Erika memerah dan terkejut mendengar kata-kata Yagami. Matanya berkaca-kaca memandang wajah Yagami yang hanya berpura-pura terlihat santai sembari tersenyum menunggu jawaban darinya.
"Baru kali ini aku tidak membenci laki-laki yang dekat denganku," pikirnya dengan gugup serta dadanya berdegup kencang.
"Si peng, aah-maksud aku,Yagami. Maafkan aku. Bukannya aku menolak kamu. Tapi bisa tidak, beri aku waktu untuk berpikir. Soalnya, sampai detik ini pun, aku masih tidak percaya dengan laki-laki. Walau denganmu, kurasa berbeda. Hanya saja, aku masih trauma dengan kejadian yang telah menimpa ibuku," balas Erika menundukkan kepala, terbayang masa lalu ketika ayahnya meninggalkannya dengan ibunya. Ketika matanya hendak menitikkan air mata, Yagami menyentil keningnya.
__ADS_1
PLETAK...
"Auh..sakit!!" rintih Erika sembari mengelus kening yang habis di sentil Yagami. Kedua tangan Yagami merangkul pundak gadis mungil itu dengan senyum menawan yang selalu ia tunjukkan kepadanya. Laku ia memutar badan Erika ke arahnya.
"Iya, aku akan menunggu jawaban darimu. Dan aku akan merubah cara pandang dan cara berpikir kamu bahwa tidak semua laki-laki di dunia ini memiliki sifat yang sama," kata Yagami. Mata Erika lagi-lagi berkaca-kaca sambil tersenyum manis. Yagami membelalak dengan wajah merona serta hati berdegup kencang. Dia segera membalikkan badan *** wajahnya sebab tidak tahan melihat senyuman Erika. Ia berpura-pura batuk agar Erika tidak mencurigainya. Tapi karena penasaran lagi dengan senyum Erika, ia segera membalikkan badan ke arah gadis berponi itu. Kedua tangannya merangkul pundak Erika. Mereka pun saling menatap dengan wajah merona. Wajah Yagami tiba-tiba mendekat ke wajah Erika, hingga hidung kening mereka bersentuhan. Yagami menelan ludah. Hendak menyium bibir Erika.
Tapi, Kayo tiba-tiba muncul...
"Yagami, aku boleh minta tolong tidak? Ada soal matematika tentang pecahan yang tidak aku pahami," kata Kayo pura-pura dengan tujuan mengganggu mereka.
Yagami salah tingkah. Begitu pun dengan Erika.
"Oh, tentu saja, ya 'kan Erika?" tanya Yagami tersenyum ke arah Erika. Erika hanya tersenyum tipis dengan canggung.
"Uuh, hampir saja...dan apa-apaan dengan pemandangan ini?" ketus Kayo dalam hati dengan wajah masam memandang Erika.
"Tapi, maaf deh..besok saja, ya. hari ini aku ada perlu dengan Erika."
Mendengar kata-kata itu, Erika blushing.
Drrttt...drtttt...
"Kayo, ponsel kamu bergetar," tegur Yagami.
"oh iya...halo...ayah..."
Picture ...Yagami dan Erika ......a
__ADS_1