CINTA DAN EGOIS

CINTA DAN EGOIS
PART 8


__ADS_3

Karena merasa bosan di kelas, seperti biasa Erika menuju atap sekolah. Walaupun tempat itu area terlarang, namun Erika sudah mengantongi ijin dari pihak sekolah selain Yagami. Sesampainya di sana, atap sekolah terbuka.


"Kok terbuka sih, jangan-jangan..."


Ia melangkahkan kaki secara perlahan ke sana. Dan betapa terkejutnya ia mendapati Kayo sedang melingkarkan tangannya di pinggang Yagami. Pupil matanya membesar menatap mereka hingga lama berkedip. Sebab ia tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. Tanpa pikir panjang, ia pun membalikkan badan dan mempercepat langkahnya hendak meninggalkan atap. Namun, Yagami tidak henti-hentinya memanggil namanya sembari mengejar dari belakang.


"Erika, tunggu dulu. Ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku tidak memeluknya, dialah yang tiba-tiba memelukku sesaat sebelum kamu tiba di sana," jelas Yagami dengan serius. Erika hanya menatap dagunya, sebab tidak berani lagi menatap matanya.


"Kenapa kamu menjelaskannya padaku? Sudah jelas, 'kan? Aku melihat kalian berpelukan. Sudahlah, sana temui dia lagi. Aku kabur tadi karena tidak ingin mengganggu kalian," balas Erika pura-pura tegar sembari menyembunyikan rasa sakit hati. Namun wajahnya tidak bisa berbohong.


"Karena aku tidak ingin kamu salah paham. Jujur ya, Aku dan Kayo hanya sebatas teman. Kami tetangga sekaligus teman kecil," Jelas Yagami lagi.


"Jadi, dia teman masa kecil kamu?" tanya Erika terkejut. Ia yakin, bahwa Yagami sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Sebab, ia mengetahui tentang Kayo dan ayahnya.


"Iya, hanya sebatas teman kecil."


"Sudah kuduga, semua laki-laki di dunia ini sama saja. Lepaskan tanganku..!!"


"Tidak akan kulepaskan sebelum kamu percaya padaku," balas Yagami semakin mempererat genggaman tangannya.


Mereka diam sejenak.


"Jadi, Yagami hanya menganggapku teman? Tidak bisa dipercaya, hanya dalam waktu singkat, dia sudah tergoda oleh Erika, cih.." gumam Kayo diam-diam menguping dibalik tangga atas.


Lalu ia berjalan menuruni tangga dan melewati Erika dan Yagami tanpa bicara sepatah kata pun. Erika hanya meliriknya sejenak kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. Yagami menatap Erika sejenak lalu kembali memperhatikan Kayo yang terus berjalan menuruni tangga dari atap.


"Kenapa kamu tidak mengejar dia?"


"Untuk apa? Kami 'kan teman kecil, bisa kontekan tiap saat. Kamu cemburu, 'kan?" kata Yagami.


"Erika menundukkan kepala, seakan tidak percaya dengan apa tang baru saja ia ketahui. Hatinya bagai diiris pisau lalu dicincang tapi tidak bisa menjerit. Apalagi saat ia tahu, bahwa Kayo menyukai Yagami. Ia pun dilema dan hatinya perih saat menyebut nama mereka berdua.


"Oh jadi begitu, kamu lebih memilih aku sekarang, sebab kamu bisa kontekan sama Kayo kapan saja?" hati tsundere itu semakin sakit.


"Kamu ini kenapa, sih? Itu karena aku peduli dan cinta sama kamu. Jadi aku tidak mau kamu terluka. Kamu masih ingat, 'kan, janji kamu. Kalau kamu menunggu waktu yang tepat untuk memberiku jawaban tentang pengakuanku waktu itu?" kata Yagami.

__ADS_1


Sementara Erika hanya syok dan tidak tahu mau berbuat apa. Sebab, ia masih takut mengenal laki-laki lebih dalam lagi. apalagi sampai pacaran.


"Aku belum yakin dengan perasaanku. Aku masih takut."


Lalu, Yagami melepaskan genggaman tangannya. Kemudian berbalik meninggalkan gadis putih itu. Ia pun tersungkur dilantai, air matanya mulai mengalir membasahi pipi imutnya. Pikiran dan hatinya campur aduk, antara tidak percaya dan percaya. Yagami yang mendengar isak tangisnya kembali merangkul dan mengelus kepalanya.


"Maaf, jika aku membuatmu terluka. Sungguh, tidak ada niat sedikit pun di benakku untuk menyakitimu. Aku benar-benar mencintaimu tulus dari dalam hatiku dan akan menunggumu sampai kamu mengatakan hal yang sama denganku. Di saat itu, aku akan berjanji akan selalu menjagamu kapan dan di mana pun berada. Saat ini pun, aku akan berusaha menjagamu. Jika kamu punya masalah, katakan padaku, aku siap membantumu kapan pun," kata-kata Yagami mampu menenangkan hati Erika. Apalagi saat bibir tipis Yagami mulai mengecup keningnya.


Sesaat, air matanya berhenti. Lalu segera membalas pelukan Yagami sambil menempelkan wajahnya di dada cowok berambut hitam lurus dan bola mata hitam


itu, bersamaan dengan cahaya siang yang menembus pentilasi di tangga itu.


Setelah perasaanya lega. Erika mulai bercerita pada Yagami.


"Sepertinya, Kayo membenciku. Mungkin dia masih belum menerima kenyataan kami bersudara."


"Mungkin, itu sebabnya dia memelukku tadi. Tapi tenang saja, aku akan berusaha memperbaiki hubungan kalian. Satu lagi, aku ingin jika kamu menatap mataku saat berbicara denganku," kata Yagami menyelipkan jemarinya di sela-sela rambut Erika.


"Iya, makasih banyak."


Lalu, mereka tersenyum bersama dan Erika mulai berani menatap mata Yagamj lagi. Tanpa sadar, bibir mereka menyatu diikuti mata terpejam menikmati kebersamaan mereka.


Pas masuk rumah...


"Cieee...cieeee...yang diantar pulang. Jadi, sudab percaya nih, dengan laki-lak?" goda Mika mengedipkan mata.


"Apaan sih, kamu. Kami 'kan tetangga. Ya wajarlah pulang bersama. Dan kamu ngapain di rumahku?" jelas Erika dengan wajah malu-malu.


"Bertamulah, pake nanya lagi. Aku sudah lama menunggumu. Aku kira sudah lama sampai rumah. Ternyata lagi asyik berduaan dengan ayang bebs. Kalian sudah pacaran, ya?" tanya Mika lagi membuat Erika jengkel.


"Pacaran? Jangan ngaco kamu. Aku masih belum percaya sama yang namanya pacaran."


"Tapi kamu suka 'kan, sama Yagami?"


Pertanyaan itu membuat Erika terdiam sejenak. Sebab, dalam hati tsunderenya, ia tidak bisa menolak perasaannya terhadap si pengganggu. Wajahnya merona.

__ADS_1


"Sudah deeh, tidak usah jelaskan lagi. Dengan melihat wajahmu saja, aku sudah mengerti apa yang tersirat di sana. Kamu harus belajar mempercayai laki-laki. Aku pernah bilang bukan, kalau di dunia ini, tidak semua laki-laki memiliki sifat yang sama. Dan biasanya tergantung lingkungan di mana mereka bergaul. Sebab, lingkungan sangat mempengaruhi pribadi seseorang," kata Mika sok menasehati dengan senyumam sinisnya.


"Sok puitis sekali sih, kamu. Tapi iya, aku akan coba untuk mempercayai mereka. Tapi, kalau pacaran, mungkin aku membutuhkan waktu untuk itu."


"Jadi, kamu tidak kasihan melihat Yagami menunggu?"


"Iih, kamu mulai deh. Dia belum tentu menyukaiku dengan sepenuh hati. Pikiran dan hati manusia bisa berubah tiap saat, bahkan tiap menit. Apalagi pikiran laki-laki yang bisa berubah 3 kali hanya dalam semenit."


"Iya, itu jika kamu memberi tanda dia di awal kalau kamu tidak terlalu menyukainya atau tidak meresponnya dengan baik, jadi dia merubah pikirannya untuk mencari yang lebih jelas."


"Kamu bijak juga."


"Iya dong. Sejak kapan aku tidak bijak? Aku juga akan terus membuatmu percaya denga. laki-laki termasuk pacaran."


"Menurutku, pacaran adalah sebuah jalan pintas yang dipergunakan oleh hampir seluruh manusia di muka bumi ini, terutama bagi anak muda untuk menghalalkan sebuah hubungan sebelum nikah. Katanya, untuk saling mengenal sifat dan pribadi calon pasangan masing-masing. Aah, padahal hanya alasan saja untuk menghalalkan dosa.


Mereka saling berjanji satu sama lain pada saat awal pertemuan. Itu juga adalah sebuah cara yang dilakukan kebanyakan laki-laki untuk memenangkan hati wanita. Para lelaki pandai menipu hati setiap wanita. Namun, dengan mudahnya si wanita cepat percaya dengan kata-kata dan janji mereka. Dan kenyataannya, semua itu hanya janji palsu."


"Berpacaran itu tidak semuanya berakhir dengan buruk. Tergantung cara kamu dan pasangan kamu menjalaninya. Dan satu lagi, kalau kamu pacaran, jangan pake hati, tapi pake otak. Dengan begitu, kamu tidak akan merasa sakit jika dia bukan jodohmu atau berpisah. Sudah aah, bahas begituan. Langsung praktek saja sama si Yagami itu...hahaha."


"Dasar kamu ya..."


"By the way, aku lapar ni, ada makanan


tidak? " kata Mika mengelus perutnya.


"Iya, ada tu di dapur belum di masak. Kalau mau makan, masak sendiri."


"Astaga...Erika. Jadi itu cara kamu memperlakukan tamu? Tega, ya. Jahat sekali," protes Mika dengan wajah masam.


"Sudah, sana masak. Jangan banyak protes, hahaha."


Tanpa pikir panjang, mika berlari ke dapur dan ternyata ibu Erika sudah mempersiapkannya di meja makan sebelum ia berangkat kerja. Erika semakin membenci ayahnya jika melihat keadaan ibunya yang harus mencanri nafkah sendiri dan menyekolahkannya. Sementara ayahnya tidak mengirim uang sepersen pun sejak menikah lagi. Dia sama sekali tidak peduli dengannya dan ibunya. Yang ayahnya pedulikan hanya keluarga barunya. Seolah-olah dia tidak pernah hadir di dalam kehidupan Erika dan ibunya.


"Oh iya, Erika. Kamu sudah dengar kabar tidak, kalau besok ada anak pindahan di kelas kita...cowok loo. Dan tidak kalah tampan dengan Yagami. Namanya Kise Ryouta."

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL TERBARU


SOUL EXCHANGE...TENTANG PERTUKARAN JIWA SAUDARA TIRI. MAKASIH. 😘😘


__ADS_2