CINTA DAN EGOIS

CINTA DAN EGOIS
PART 10


__ADS_3

Ketika Erika lagi asyik membaca buku di kelas, tiba-tiba Kise mendekat ke arahnya dan menyentuh bahunya.


PLAKK.


Spontan tangan Erika menepisnya.


"Aku tidak suka disentuh, apalagi jika disentuh oleh lelaki. Jauh-jauh dariku," teriak Erika memejamkan mata. Saat ia membuka mata, ia baru sadar, yangditepisnya dengan keras tadi adalah anak pindahan itu. Hidungnya mengeluarkan darah. Dengan terdiam kaget menatap Erika. Ia pun langsung di bawah di ruang kesehatan.


"Sepertinya cewek tadi mengalami luka akibat laki-laki," gumam Kise. "Aah, kenapa juga aku memikirkannya, dekat juga, tidak."


Sementara itu, para gadis fans Kise mendekat ke arah Erika.


"Hei, cewek aneh dan penyendiri. Kenapa kamu memukul wajah Kise? Apa salah dia ke kamu?" bentak pada gadis di kelas menyilangkan kedua tangan di depan meja Erika.


"Salah dia sendir yang telah menyentuh bahuku," balas Erika dengan wajah jutek.


"Apa? Hanya karena dia menyentuh bahumu sampai kamu tega memukulnya? Sok suci banget, sih, kamu. Munafik," kata gadis itu sambil menghina Erika.


"Terus, apa masalah kalian? Memangnya dia itu, siapa kalian? Pacar? Saudara? Bukan, 'kan?" balas Erika membuat gigi para gadis itu geregetan seakan siap untuk menerkannya.


"Minta maaf sama dia..!!!" bentak gadis di kelas lagi. Dan minta maaf adalah hal yang paling dibenci oleh Erika, sebab baginya bisa menjatuhkan harga dirinya.


"Tidak mau, lagian bukan aku yang salah, tapi dia. Erika bangkit dari duduknya sambil menatap mereka satu persatu. Mereka pun satu persatu mundur dari kerumunan meja Erika akibat Kise berjalan ke arah Erika. Ia masih memakai tissue untuk berjaga-jaga jika berdarah lagi.


"Dia benar. Akulah yang salah. Jadi aku yang harusnya minta maaf karena telah lancang menyentuh bahunya. Erika, maafkan aku," kata Kise membungkukkan badan ke arah Erika.


Erika hanya diam sejenak. Lalu...


"Iya, makasih."


"Ciih."


Suara kesal para gadis di kelas masih terdengar. Erika tidak peduli dan memalingkan wajah ke arah jendela. Matanya menangkap sosok Yagami sambil melebarkan senyuman. Tapi Senyuman itu seketika redup saat matanya tertuju pada Kayo yang sedang menggandeng tangan Yagami menuju pintu luar dan masuk mobil bersama.


"Aku tidak peduli dengan apa yang aku lihat, tapi kenapa hatiku terasa sesak dan sakit tiap kali melihat mereka bersama? Walaupun aku tahu kalau Yagami hanya menganggapnya teman masa kecil. Tapi Kayo mencintainya....aaarght, ada apa denganku," gumam Erika *** rambutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Kise.


"Aku tidak apa-apa," balas Erika berlari menuju toilet.


"Hei, tunggu..!" panggil Kise.


"Sudah Kise, tidak ada gunanya biara sama dia. Gadis egois seperti dia tidak pantas menjadi teman," kata salah seorang gadis di kelas.


Kise hanya diam menatap ke arah pintu.


"Sepertinya aku mulai mengerti situasinya," gumam Kise.


"Kalian salah, jangan berpikir buruk tentang Erika. Kalian belum mengenal dia," kata Mika.


"Oh kamu sudah mulai berteman dengannya, baguslah, gadis kuper seperti kalian berdua tidak pantas berteman dengan Kise Ryouta yang super cakep," hina para gadis di kelas sambil tertawa.


"Diam, hanya aku yang bisa menentukan dengan siapa aku bergaul, bukan kalian," balas Kise membuat para gadis itu bungkam.


***


Di dalam mobil Kayo meletakkan kepalanya di bahu Yagami. Tapi Yagami mendorongnya.


"Bisa geser ke samping? Mobil ini luas kok. Jadi tidak usah dempetan."


Supir tersenyum menatap dari kaca spion.

__ADS_1


"Ih kenapa sih, kamu. Hanya bersandar doang kok," cetus Kayo dengan wajah masam.


"Jangan cari alasan. Ada Sofa mobil yang lebih empuk daripada aku."


"Tapi kan...."


"Sudah, aku tidak mau ribut denganmu."


"Pasti gara-gara si penyendiri itu lagi, 'kan?"


"Kenapa bawa-bawa nama dia?"


"Karena kamu menjauhiku sejak ada dia."


Yagami hanya diam tidak ingin berdebat dengan Kayo yang tiada habisnya.


"Iih menyebalkan," cetus Kayo.


"Kita sudah sampai," kata Supir.


Yagami turun dari mobil disambut ibu dan ayah Kayo.


"Kalian sudah tiba, ayo masuk..!" ajak ibu Kayo yang bernama Diany.


"Makasih," balas Yagami. Kayo menyalami ayah dan ibunya.


"Gimana kabar kamu di rumah baru? Apa baik-baik saja?" tanya Diany.


"Iya, baik."


"Yagami, ikut aku sebentar ke ruang baca," ajak ayah Kayo sekaligus ayah Erika yang bernama tuan David.


David dan Yagami menuju ruang baca. Pria dengan umur 40 tahun itu sedang membuka ruang rahasia yang di dalamnya berbagai macam alat medis.


"Apa tubuhmu baik-baik saja? Apa sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan baru kamu sekarang?"


"Iya, Om. Hanya saja, kadang kalau malam saya merasa sesak napas."


"Mm, berarti kita masih perlu menyuntikkan vitamin kekebalan tubuh. Gimana, kamu senang berteman dengan Erika?"


"Iya, senang sekali. Hanya saja, ia agak cuek dan sulit percaya dengan laki-laki. Sepertinya ia membenci ayahnya."


"Wajah kalau dia membenciku. Makanya aku kirim kamu untuk melunakkan hatinya, merubah pikirannya. Aku mohon jaga dia. Kamu harus berhasil merubah sikapnya," kata tuan David dengan wajah sedihnya.


"Tenang saja, Om. Aku akan menjaganya dengan baik."


"Tapi ingat, kamu jangan jatuh cinta padanya. Karena kelak akan melukai hatinya."


"Baik."


"Aku sudah terlanjur cinta padanya. Maaf, Om. Kali ini, aku ingin melanggar aturanmu dan menikmati hidup sekali saja dengannya," gumam Yagami.


Tidak lama kemudian, Yagami dan David keluar dari ruang baca.


"Makan malam sudah siap, ayo makan bersama..," ajak Diany tersenyum.


"Ini sudah larut, aku harus segera pulang," kata Yagami.


"Nanti ada supir yang akan mengantar kamu pulang. Makanlah dulu..!" balas David.


"Kayo mana?" Tanya David.

__ADS_1


"Dia dari tadi dia sudah makan duluan, katanya ada tugas sekolah," sambung Diany.


"Gitu, sayang sekali tidak bisa makan bersama."


Setelah makan, Yagami diantar David keluar gerbang rumah.


"Ini kartu kredit buat kamu."


"Tapi yang dulu masih ada, Om."


"Tidak apa-apa. Jika Erika butuh bantuan, kamu bisa membelikannya sesuatu dengan ibunya. Aku tidak bisa langsung ke sana. Pasti mereka membenciku," kata tuan David menyodorkan kartu kredit kepada Yagami.


"Ya, sudah...aku ambil." kata Yagami lalu masuk ke dalam mobil.


***


"Kok dia belum pulang, apa jangan-jangan dia bermalam di hotel dengan Kayo?


Jangan-jangan mereka melakukan ini itu," pikir Erika merasa tidak tenang.


Tidak lama kemudian, ia meliha Yagami diantar oleh mobil yang sama yang dinaikinya bersama Kayo tadi siang. Dari balik tirai jendela kamarnya, ia memperhatikan Yagami sampai masuk rumah dan menyalakan lampu.


"Dia pulang sangat larut," gumam Erika.


Ping...ada chat masuk di ponsel Erika.


Yagami : sudah tidur?


Erika : belum. kamu?


Yagami : belum juga. mau kerumahku? 😉


Erika : untuk apa? 😐😐


Yagami : ya sekedar ngobrol..seharian kita tidak bertemu. kangen 😁😁


Erika : bukannya kamu lagi sama kayo? 😏


Yagami : kamu melihat kami?


Erika : iya 😗😗 kalian kemana sampai larut baru pulang?


Yagami : kamu cemburu? 😁


Erika : tidak 😕


Yagami : tega 😑😑


Erika : 😏😏😏


Yagami : selamat tidur 😘😘


Erika : Iya 😇😇


"Aaarrght...ada apa denganku..kenapa bisa berbunga-bunga begini chatan sama si pengganggu?" gumam Erika.


"Haa...gimana caranya aku menyembunyikan perasaanku di depan ayah Erika? Aku hanya bagaikan pengawal buatnya," kata Yagami dalam hati sambil membuang napas.


*makasih sudah baca novel yang amburadul ink. jangan lupa mampir di novel SOUL EXCHANGE tentang pertukaran jiwa teman masa kecil yang tiba-tiba jadi saudara tiri.


love u all 😘😘*

__ADS_1


__ADS_2