
Sepulang dari rumah sakit, Nathan memeluk istrinya dengan erat. Sambil bernapas berat.
"Naila, aku minta maaf membuatmu menunggu lama."
"Tidak apa-apa, suamiku. Yuk, kita makan!!!"
"Kamu belum makan? Kenapa harus menungguku? Kamu lagi hamil. Lain kali jangan menungguku. Makan saja apa yang kamu inginkan, oke?" kata Nathan kepada istrinya.
"Iya, tapi sekarang kan kamu sudah pulang. Jadi makannya bareng, ya," balas Naila tersenyum kepada suaminya.
"Gimana keadaan mereka?"
"Mereka baik-baik saja."
"Syukurlah," balas Naila sambil mempersiapkan makan malam dengan menyuguhkannnya kepada Nathan.
Tn. Nathan hanya tersenyum miris menatap istrinya. Ia merasa tidak sanggup meninggalkan istrinya yang sangat baik lagi mengandung anaknya itu.
"Maafkan aku, Naila. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk kakakku. Aku tidak punya pilihan lain. Tapi aku akan berjanji untuk selalu menjaga kalian dari jauh. Walau nantinya kamu dan anak kita akan membenciku," gumam Nathan dalam hati.
"Kok kamu bingung..ayo dicicipi makanannya."
"Ah, iya. Makasih istriku."
Tn. Nathan makan sembari memikirkan berbagai hal. Terutama membohongi istrinya akan kejadian yang menimpa kakaknya karena takut Naila syok selagi hamil.
Selesai makan, ia memanjakan istrinya, membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Suamiku, sepertinya kamu sedang memikirkan banyak hal. Apa ada masalah? Cerita denganku, siapa tahu aku bisa beri solusi," kata Naila menatap suaminya yang sedang mengerutkan dahi.
"Tidak apa-apa, honey. Ini mungkin karena kerjaan di kantor belum selesai. Sudah larut, ayo tidur....!" kata Tn. Nathan kepada Naila sambil menarik selimut menutupi badannya.
***
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia masih saja koma. Tapi sepertinya makanan yang dimasukkan melalui infus sangat berfungi. Lihat, tubuh mungilnya mulai ada perubahan," balas Suster asal jepang itu yang bernama Midori dengan rambut pendek seleher. Tn. Nathan membalas senyumannya.
"Makasih banyak, Midori. Moga keluarga kamu tidak cemas."
"Tidak masalah, lagian, aku tidak memiliki keluarga," balas Midori menatap wajah mungil Yagami yang menginjak usia 1 tahun sambil mengelus pipi halus itu.
"Maaf, aku tidak tahu."
"Tidak masalah, lagian aku memiliki keluarga sekarang yaitu tuan Nathan dan si mungil ini, hehe."
Melihat senyuman yang dipancarkan Midori dan perhatiannya kepada Yagami kecil, hati Tn. Nathan luluh. Ia pun membalas senyuman Midori. Dokter pun tiba di ruangan itu.
__ADS_1
"Tn. Nathan, ada yang harus saya sampaikan pada anda, bisa ikut ke ruangan saya?" tanya Dokter Jino menghampiri Tn. Nathan. Dokter itu adalah dokter pribadi keluarga Yagami.
Tn. Nathan mengikuti dokter Jino dari belakang.
"Ada apa, Dok?" tanya Nathan.
"Begini Tn. Nathan. Tidak baik bagi bayi koma tinggal di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama. Saya sarankan bapak bawa pulang bayi ini ke rumah orang tuanya. Di sana lebih aman."
"Tapi, siapa yang akan merawatnya di sana?"
"Kemarin saya sudah membicarakannya kepada pihak rumah sakit, bahwa kami akan selalu pantau bayi ini. Dan satu lagi, kami juga sudah memilih suster yang cocok untuk merawatg bayi anda. Dia adalah suster Misca. Selama ini dia sudah merawat banyak pasien yang koma hingga sembuh. Jadi kami percaya padanya."
"Baiklah." Dengan senang hati Nathan menerima tawaran dari pihak rumah sakit.
Satu bulan berlalu, Nathan selalu telat pulang ke rumah bahkan biasa tidak pulang sama sekali akibat merawat Yagami kecil yang masih koma.
"Sayang, kamu dimana? Kenapa belum pulang?" ada pesan singkat yang masuk di ponsel Tn. Nathan saat ia sedang mandi, tapi yang membaca pesan itu adalah suster Misca. Ia menghapus pesan itu membuat Naila khawatir.
Setelah mandi, Misca menggoda Tn. Nathan dengan langsung memeluk dan merapatkan bibirnya di bibir milik Tn. Nathan. Pria berambut coklat kehitaman itu sempat mendorongnya. Tapi suster Misca tetap melancarkan serangannya hingga berhasil. Tn. Nathan segera membalas ciuman wanita itu sambil menggendongnya ke tempat tidur. Dalam sekejab ia pun berhasil melahap suster itu sampai pagi.
"Aarght...apa yang telah kulakukan?" rintih Nathan saat bangun pagi tidur di samping suster Misca tanpa busana. Ia pun segera mengenakan pakaiannya bergegas pulang ke rumah. Suster Misca meraih tangannya.
"Mau kemana, Tuan?"
"Aku mau pulang, istriku sedang menungguku, tolong jaga Yagami buatku."
"Tapi, kita sudah..."
Sementara Naila menunggu di rumah sampai matanya bengkak tidak tidur semalaman akibat khawatir.
Setelah itu, Nathan dan Misca sering tidur bersama hingga suster itu hamil.
Waktu pun berlalu, hingga kini usia Erika berumur 6 tahun memasuki sekolah dasar. Mereka bahagia bersama. Sementara anak hasil perselingkuhan Nathan dan suster Misca pun lagi satu bulan berumur 6 tahun yaitu Kayo.
"Naila, kita perlu bicara," kata Nathan mengajak istrinya ke ruang baca agar Erika tidak bangun dari tidurnya capek pulang sekolah.
"Ada apa, suamiku?"
"Kita harus cerai," kata Nathan dengan berat hati tidak sanggup meninggalkan istrinya. Tapi demi janjinya kepada suster Misca. Dan demi keselamatan Yagami.
Naila terkejut tanpa mengeluarkan sepatah kata. Bulir beningnya mulai berlomba keluar.
"Aku minta maaf, Naila. Aku memiliki alasan tersendiri yang tidak bisa aku ungkapkan kepada orang lain termasuk kamu," kata Natham lagi memeluk istrinya.
"Apa salahku?"
"Kamu tidak salah apa-apa, akulah yang salah."
__ADS_1
"Terus, kenapa harus cerai? Bukankah kita bisa membicarakannya bersama?"
"Tapi bukan hal yang bisa didiskusikan."
"Kamu tidak mempercayaiku?" balas Naila terisak.
"Maaf, maafkan aku. Bukannya aku tidak percaya padamu. Aku sangat sayang padamu dan Erika. Hanya saja, ini hal yang tidak bisa aku sampaikan," kata Nathan sambil terisak juga.
"Pokoknya aku tidak mau cerai, kamu jahat," bentak Naila sambil menangis kencang. Hingga Erika terbangun dari tidurnya.
"Mama kenapa menangis?" tanya Erika muncul dari balik pintu ruang baca akibat mereka lupa menutupnya.
Naila berlari memeluk Erika dengan erat.
"Mata mama hanya kelilipan, sayang. Ayo tidur lagi."
"Tidak mau, aku mau sama mama," balas Erika mengucek matanya.
Sementara Nathan merapikan bajunya kedalam koper dengan berat hati.
"Kamu benar-benar akan menelantarkan kami?" tanya Naila kembali masih dengan mata memerah berusaha menahan tangisannya demi Erika. Nathan berjalan keluar rumah dengan linangan air mata juga.
Di luar rumah, suster Misca sedang menunggu.
Naila berlari ke luar rumah mengejar suaminya. Tapi matanya melotot tidak percaya dengan apa yang disaksikan matanya. Pemandangan di mana gadis lain memeluk suaminya sambil tersenyum.
"Mas, jangan tinggalkan kami..!!" teriak Naila.
"Ayah..jangan pergi..!" Erika ikut mengejar ayahnya.
"Kalian tidak lihat, dia suami saya sekarang," balas suster Misca.
Naila bersujud di halaman rumah memohon agar Nathan tidak jadi pergi. Ia menatap suaminya dari bawah dibajiri air mata. Hati Nathan sangat perih melihat anak dan istrinya menangis. Tangan Naila meraih tangan Nathan memohon, tapi ditepis.
"Cukup..! Kami akan pergi.." katanya sambil masuk mobil bersama suster Misca.
Tangisan Naila pun pecah diikuti oleh Erika. Di dalam mobil, Nathan menangis kencang di pelukan Misca.
Mulai saat itu, Erika membenci ayahnya. Dan rasa sakit yang dialami Naila membekas hingga Erika tumbuh dewasa. Ia bekerja dengan giat membesarkan Erika seorang diri dengan menolak uang pemberian Tn. Nathan.
Disisi lain, prediksi dokter terhadap tubuh Yagami salah, Di usia 7 tahun, ia sadar dari koma dan belajar jalan dibantu oleh Misca dan Nathan. Tapi di usia 15 tahun, ia kembali koma selama 2 tahun.
***
"Yagami kemana? kok tidak ada kabarnya?" gumam Erika menatap foto Yagami di liontin yang dihadiahkan Yagami padanya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel SOUL EXCHANGE ya. Novelnya dijamin gokil.
makasih 😘😘