CINTA DAN EGOIS

CINTA DAN EGOIS
PART 40


__ADS_3

Di tengah kesibukannya, Kise mondar-mandir di dalam ruang kerjanya sebab ia tidak tenang sudah tiga hari lamanya ia tidak mendapat kabar dari wanita yang kini mulai mengisi hatinya walau secara tidak sadar ia telah jatuh cinta kepada wanita yang sedikit keras kepala itu.


Mereka sudah berulang kali melakukan kontak fisik, tapi nyatanya Kayo masih saja menolak dan tidak mengakui keberadaan Kise, sebab di matanya, Kise hanya menjadikannya sebagai pelampiasan atas sakit hati yang ia rasakan akibat wanita yang dicintainya tidak membalas perasaannya walau sedikit dan malah mengandung anak dari lelaki lain yang merupakan teman bisnisnya yaitu Yagami.


Karena terlalu khawatir ia pun menuju apartemen Kayo. Berulang kali ia pencet bel yang ada di sana, tapi tidak digubris oleh wanita pemilik apartemen tersebut. Hingga ada tetangga yang keluar dari kamar sebelahnya.


"Pak, apa anda tahu ke mana penghuni kamar ini?" Tanya Kise dengan serius dan lembut kepada bapak yang berusia sekitar 30 tahunan.


"Iya, sejak tiga hari yang lalu dia tidak pernah keluar kamar. Lampunya juga selalu menyala," balas pria itu.


Firasat Kise semakin tidak enak. Tapi bagaimana caranya ia bisa masuk ke apartmen Kayo.


"Apa saya bisa minto tolong untuk menggunakan balkon bapak?" Tanya Kise.


Pria setengah baya di depannya menaikkan alis.


"Untuk apa?"


"Saya harus segera masuk kedalam apartmen teman saya."


Pria bertubuh gempal itu terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya ia membuka pintu lebih lebar untuk membiarkan Kise masuk.


"Oh bisa, silakan lewat sini," balas pria itu mempersilakan Kise masuk ke dalam kamarnya. Lalu Kise menuju balkon dan melompati balkom itu dengan jarak satu meter ke balkom Kayo. Untung saja pintu balkon Kayo tidak terkunci.


Kise masuk dan mendapati apartmen Kayo lumayan berantakan.


"Kayo.."


Erangan halus terdengar dari kamar. Kise masuk ke dalam dan melihat Kayo terbaring lemah di atas ranjang. Di sampingnya terdapat bungkusan roti yang sudah tinggal setengah dan sebotol mineral.


"Papa.."


Kise mendekat. Sontak mata Kayo terbuka pelan karena ia menghirup aroma laki-laki yang ia kenal.


"Kau..laki laki brengsek."


Kise mengusap anak rambut Kayo yang berantakan.


"Begitu bencikah kamu sampai dalam keadaan lemah pun masih ada tenaga untuk mengumpat padaku," bisik Kise.


Suhu tubuh wanita ini sangat panas, pikir Kise.


"Beginilah jika kamu memutuskan untuk hidup sendiri," tukas Kise. Kayo menyingkirkan tangan laki-laki itu dari kepalanya.


"Pergi, aku tidak mau melihatmu."

__ADS_1


Kise menangkap tangan Kayo dan mengunci pandangan matanya. Mata itu begitu terluka.


"Aku tidak mau mencintai siapapun lagi untuk sekarang. Aku ingin hidup sesuai keinginanku sendiri. Sekali saja."


"Kayo.."


"Begitu sulitkah bagimu mengabulkan keinginan kecilku?"


Kise terdiam. Pegangan tangannya pada wanita itu terlepas.


"Kamu sudah mengambil segalanya dariku walaupun aku tidak menginginkannya. Tapi aku tidak marah sedikitpun.." lirih Kayo.


"Bisakah..kau menuruti kata-kataku?"


Kise menunduk dalam.


"Kayo, paling tidak kamu harus sehat jika ingin hidup jauh dariku."


Kise segera membawa Kayo keluar dari apartemen dan membawa gadis itu ke rumahnya.


"Halo..Renna sensei, bisakah anda kesini sekarang juga? Ini darurat," kata Kise di dalam telpon.


"Oh Kise kun. Tentu, saya akan segera ke sana," balas dokter perempuan yang seumuran dengan Kise dari seberang telepon. Kise kembali mendekati Kayo yang masih memejamkan mata di ranjangnya.


"Kenapa tidak menghubungi aku. Apa segitu bencinya dirimu padaku?" Kata Kise pelan di telinga Kayo yang tak sadarkan diri sambil mengecup puncak kepala wanita bersurai coklat itu.


Tidak lama kemudian, dokter pribadi Kise tiba di sana. Ia pun memeriksa kondisi Kayo.


"Bagaimana keadaannya?"


Renna Fujikawa meletakkan stetoskopnya.


"Dia terkena demam tinggi dan belum makan apa-apa hingga membuat tubuhnya sangat lemah. Disamping itu kelihatannya dia mengalami stres berat. "


Kise terdiam.


"Apa dia harus diinfus?"


"Benar, aku akan siapkan sebentar lagi. Ngomong ngomong apa dia kekasihmu?"


Kise tersenyum namun senyum itu segera memudar.


"Itu rahasia. Apakah ada makanan tertentu yang bisa kupersiapkan. Mengingat keadaannya sangat lemah, dia tidak mungkin bisa mengkonsumsi sembarang makanan." kata Kise.


Renna tersenyum.

__ADS_1


"Tentu, berikan dia makanan lunak terlebih dahulu."


"Aku tinggal sebentar," pamit Kise.


"Bibi. Bisa tolong buatkan bubur yang paling enak untuk temanku? Jika sudah selesai tolong antar ke kamar," kata Kise segera menelpon pelayan rumahnya.


"Baik Tuan," balas pelayan itu.


Telepon ditutup. Pelayan wanita yang berusia kira-kira setengah abad itu segera menuju dapur untuk menemui juru masak.


"Pasti nona itu sangat spesial untuk tuan muda, sebab ini kedua kalinya tuan membawanya kerumah dan memperlakukannya dengan sangat baik," gumam kepala pemimpin para pelayan itu.


Keesokan harinya, demam Kayo sudah turun, badannya serasa ringan. Ia bangkit dari tidurnya.


"Tempat ini tidak asing lagi bagiku," gumamnya dalam hati sambil menaikkan rambut di atas daun telinga. Lalu matanya menangkap Kise sedang tertidur pulas di sofa samping tempat tidur masih dalam balutan kemeja putih kancing terbuka sampai dada posisi tengadah salah satu tangan diatas dahi dan kaki satunya ia naikkan di pinggir sofa.


"Kise?" Tanyanya dalam hati. Ia pun turun dari tempat tidur secara perlahan menuju ruang tengah.


"Nona sudah bangun?" Sapa bibi pelayan rumah tersenyum, Kayo pun membalas senyuman tulus itu.


"Kok aku bisa berada di sini, apa yang telah terjadi?" Tanya Kayo. Pelayan itu hanya tersenyum lalu menjawab pertanyaan Kayo.


"Kemarin tuan membawa Nona ke rumah sambil menggendong tubuh Nona yang tak sadarkan diri. Tuan sangat panik, sebab tubuh Nona sangat panas. Tuan pun memanggil dokter pribadi ke rumah. Demi menjaga Nona, tuan tidak tidur semalaman. Tadi pagi baru beliau tidur setelah mengecek tubuh Nona sudah baik-baik saja," jelas bibi di rumah itu. Kayo pun mulai luluh.


"Ternyata begitu, dia menyelamatkan aku," gumam Kayo menundukkan kepala.


"Walaupun tuan terlihat keras dan kadang terlihat sangat bahagia, tapi sebenarnya beliau kesepian. Kedua orang tuanya telah meninggal beberapa tahun yang lalu tepat saat dia di wisuda dari universitas. Saya harap, Nona baik-baik padanya," jelas bibi itu. Mata Kayo terlihat sayup.


"Ya sudah, Bi. Aku ke atas dulu untuk membangunkannya," kata Kayo membalikkan badan kembali ke kamar di mana Kise tidur.


Dibukanya kamar secara perlahan lalu melangkahkan kaki ke arah Kise. Kayo tidak tega membangunkannya sebab ia terlihat nyenyak tidur. Ditambah lagi tidurnya hanya sedikit akibat menjaganya semalaman. Kayo pun hanya menatapnya lama. Ketika ia hendak membalikkan badan dalam kemeja putih milik Kise, tangan Kise segera meraih dan menariknya hingga ia terjatuh di atas tubuh Kise.


"Ka...kamu, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Kayo mulai memberontah lagi. Kise memeluknya erat.


"Biarkan begini sebentar saja," kata Kise. Kayo hanya diam sejenak.


"Walau pun dia sangat menyebalkan dan brengsek, tapi kadang terasa hangat seperti ini," gumam Kayo dalam hati membiarkan Kise mengeratkan pelukannya. Tanpa sadar mereka malah tertidur pulas kembali.


Saat sarapan pagi sudah siap, bibi pun ke atas hendak memanggil mereka ke ruang makan. Bibi pun tersenyum saat mendapati mereka terlelap tidur sambil berpelukan di atas sofa.


"Aneh, ada tempat tidur malah pilih sofa untuk tidur bersama. Apa tuan tidak pegal, ya?" Gumam bibi dalam hati.


"Sepertinya ini momen yang sangat langka, aku abadikan deh," kata bibi tersenyum lebar sambil mengambil gambar keduanya. "Mereka terlihat serasi dan manis," tambah bibi lagi lalu segera keluar kamar tidak tega membangunkan mereka.


Makasih udah baca 😘

__ADS_1



__ADS_2