CINTA DAN EGOIS

CINTA DAN EGOIS
PART 3


__ADS_3

"Erika, ayo temani aku ke sebuah pesta ulang," ajak Mika yang tiba-tiba mendatangi rumah Erika sudah rapi dengan gaun warna merah dipadukan dengan rok hitam serta rambut disanggul jepit maroon.


Tanpa Mika sadari kalau Erika sangat membenci pesta. Baginya, di sanalah tempat berkumpulnya berbagai macam karakter yang tidak disukainya. Mereka berlomba-lomba untuk mengenakan pakaian terbaiknya. Katanya, seseorang tidak akan dianggap ke pesta jika tidak memakai baju ala pesta seperti kebaya, dress, dan lainnya. Begitu pun dengan tas dan sepatu, harus selaras dengan baju dan celana. Dan Erika sangat membenci aturan seperti itu. Harus ini dan itu, adalah hal yang merepotkan baginya. Ia juga tidak terlalu suka berdandan. Apakah sebuah pesta tidak akan berlangsung jika seseorang hanya memakai baju kaos dan sepatu santai? Tidak, bukan? Yang penting hadir. Itulah pandangan Erika tentang pesta.


"Tidak deh, aku gak suka acara begituan," balas Erika dengan jutek.


"Erika, ayo dong! Apa susahnya, sih? Tinggal temani aku,'kan, ke sana," bujuk Mika.


"Banyak orang di sana gak? Terutama laki-laki," tanya Erika membuat Mika terkekeh.


"Ya ampun, Erika,,,namanya juga pesta, ya jelaslah bnyak orang di sana dari berbagai kalangan. Kamu ini gimana, sih. Aneh banget," jelas Mika.


"Kalau begitu, maaf karena aku tidak bisa menemanimu!" balas Erika dengan tegas.


"Kenapa?"


"Aku hanya akan menemanimu jika di pesta itu tidak ada laki-laki dan di sana tidak banyak orang," balas Erika lagi dengan tetap pada pendirian konyolnya.


"Ah, sudahlah. Aku pergi sendiri saja. Susah bicara denganmu, dasar aneh," cetus Mika.


Erika sudah biasa dipanggil aneh di mana-mana. Baginya, itu hal yang biasa.


*****


Pada jam istrahat makan siang di sekolah, seperti biasa sang egois Erika menuju atap sekolah. Berharap di sana tidak ada lagi si pengganggu. Walaupun si ketua OSIS sudah memperkenalkan diri, tapi Erika sudah lupa namanya. Soalnya ia susah mengingat nama, hanya mengenal wajah. Dan baginya mengingat setiap nama hanya akan membuat memori kepala penuh.


"Kenapa kamu makan siang sendiri di sini? Tidak ikut makan dengan teman-teman kamu?" tanya Yagami yang tiba-tiba saja muncul.


"Aku tidak punya teman."


"Haa? Yang benar saja...kita kan teman."


"Kamu siapa? Beraninya bicara begitu padaku."


"Aku Yagami dari kelas 2-A. Kamu pasti lupa namaku, 'kan, Erika-chan. Aku tahu, kamu tipe orang seperti itu, kamu melupakan namaku, tapi masih ingat dengan wajahku yang tampan ini," balas Yagami sambil mengedipkan mata ke arah Erika. Tapi si egois itu hanya memasang wajah datar dan cueknya.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa tahu namaku?"


"Aku sudah memperhatikanmu sejak masuk sekolah, tapi kamu sama sekali tidak memperhatikanku. Bahkan sekarang aku tingal di dekat rumahmu. Kamu sadis banget sih, masak tetangga sendiri tidak kenal. Aku pindah ke sana seminggu yang lalu," lanjut pemuda dengan hidung runcing dan wajah bersih itu. Badannya agak berisi dan tinggi sembari tersenyum.


"Maaf kalau begitu. Sebab, aku tidak peduli dengan siapapun di sekitarku, dan lebih suka menyendiri dibanding bersama orang lain. Ya sudah, aku mau kembali ke kelas," balas Erika sambil mengipas-ngipas roknya dengan tangan kiri. Lalu memutar badan menuju pintu atap sekolah tanpa memperdulikan Yagami yang masih ingin berbicara padanya. Ia tidak peduli seberapa kali pun orang berbicara dan mendekatinya. Tekadnya tetap bulat tidak akan terpengaruh dengan kata-kata dan sikap lembut mereka yang berpura-pura baik. Peduli dengan orang lain hanya akan menyakitimu. Itu adalah paham yang ia tamakan dalam hidupnya. Sesuai dengan kata-kata anime yang pernah di nontonya.


"Dia sangat menarik," gumam Yagami tersenyum.


Erika sangat menbenci laki-laki, baginya mereka hanya akan memanfaatkan kebaikan wanita lalu meninggalkannya setelah mendapat wanita lain. Bagi laki-laki, wanita hanya permainan dan tempat persinggahan saja ketika ia lelah dan lagi jomblo. Bagi Erika, laki-laki tidak memiliki perasaan sama sekali. Sudah punya pacar atau istri, masih saja menggoda dan chat-chatan sama gadis lain.


Hari-hari dilalui Erika tanpa teman kecuali ibunya. Ia mulai tidak percaya dengan laki-laki semenjak ayahnya meninggalkan ibunya demi wanita lain. Ia tidak bisa menahan tangis saat ibunya berusaha menahan ayahnya di depan rumah ketika hendak meninggalkan rumah dengan wanita pilihannya. Saat itu, Erika merasa kalau keluarganya baik-baik saja, tanpa ia sadari tenyata ayahnya mengkhianati ketulusan cintanya bersama ibunya. Lelaki itu meninggalkan mereka tanpa rasa tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. Bahkan pergi tanpa merasa bersalah sedikit pun. Hati Erika miris setiap mengingat kejadian itu.


Sejak itu, ia menganggap bahwa semua laki-laki memiliki sifat yang sama.


****


Setiap hari sabtu pagi, pelajaran olahraga diadakan bersama dengan seluruh kelas yang ada. Erika mengenakan baju olahraga yang sudah dibagikan semenjak baru pertama kali masuk sekolah. Kemudian menuju lapangan olahraga. Kali ini permainan bola volly. Semua siswa dan siswi berkumpul serta mencari teman kelompok masing-masing. Berbagai suara dan pantulan bola memenuhi seisi lapangan. Erika lebih memilih untuk berlatih di pinggir lapangan dan tidak mau bergabung dengan yang lain. Menurutnya, latihan sendiri lebih leluasa mengeluarkan bakat tanpa aturan dan kritikan dari orang lain.


"Hei, Erika. Kenapa kamu sendirian di situ? Ayo gabung dengan yang lainnya!" ajak Yagami berjalan mendekat ke arah Erika.


"Tidak mau, latihan dengan mereka hanya akan mengurangi otot dan energiku," balasnya denga tatapan sinis dan wajah masamnya.


Tiba-tiba, laki-laki dengan tubuh kekar dan bugar itu merangkul Erika dengan sangat erat dari depan, sehingga menutupi tubuh mungilnya membuatnya tidak bisa melihat ke arah depan. Dan ternyata Yagami melindunginya dari pantulan enam bola volly yang terpukul ke luar lapangan yang tiba-tiba menuju ke arahnya.


"YAGAMIIII," berbagai teriakan dari siswa di lapangan yang melihat kejadian itu. Erika penasaran dengan Yagami. Matanya tiba-tiba tertutup dan terlunglai lemas di pundaknya. Semua siswa berlari ke arahnya. Begitu pun dengan guru olahraga.


"Yagami, bangun," kata salah satu siswa laki-laki yang membantu merangkul Yagami. Ia menepuk-nepuk wajah Yagami lalu menatap Erika dengan datar.


"Pak, dia pingsan," kata siswa berambut agak kuning kecoklatan itu.


"Bawa dia ke ruang kesehatan!" pinta guru olahraga.


"Baik, pak."


Pemuda dengan tubuh ramping dan kulit putih itu membawa Yagami ke ruang kesehatan dibantu siswa lainnya.

__ADS_1


"Hei, si penyendiri, awas saja kalau terjadi apa-apa sama Yagami. Kami tidak akan memaafkanmu," bentak para gadis fans Yagami dilapangan menunjuk ke arah Erika.


"Kenapa juga sih, Yagami menolong cewek kuper itu, menyebalkan sekali," cetis gadis yang lain.


"Kamu harus bertanggung jawab," kata mereka seperti sedang menghakimi Erika. Erika memandangnya dengan wajah datar.


"Kenapa juga aku harus bertanggung jawab? Aku tidak salah. Salahkan dia yang membiarkan tubuhnya kena banyak bola. Lagian bola itu juga dari kalian. Dan aku tidak memintanya untuk melindungiku," balas Erika.


Wajah mereka menunjukkan ekspresi marah dan hendak memukul Erika. Tetapi, salah satu tangan menghentikan mereka. Dan ternyata itu adalah Kayo, si cewek periang yang memiliki banyak teman.


"Kalian jangan main hakim sendiri, biar aku yang tangani masalah ini," hanya dengan sebuah kalimat, para gadis itu meninggalkan Misaki dan Kayo. Rupanya mereka takut dengan Kayo. Sebab, katanya ayah Kayo ahli dalam bidang karate dan dia sudah menguasai jurusnya. Erika pun mengingat kenangan ayahnya yang juga jago karate. Dia sempat mengajarkan berbagai jurus pertahanan diri sebelum pergi meninggalkan Erika dan ibunya.


"Kenapa kamu membelaku?" tanya Erika menatap Kayo. Kayo hanya tersenyum.


"Aku tidak membelamu, tetapi aku membela Yagami. Orang yang aku cintai," balasnya.


"Cinta?" gumam Erika sembari tersenyum. Pikiran konyolnya mulai merasuki. Ia menganggap Kayo telah memilih laki-laki yang salah. Kayo hanya menatap Erika sejenak lalu meninggalkan lapangan bersama dengan yang lainnya. Dan ternyata ia menjenguk Yagami di ruang kesehatan.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kayo meraih tangan Yagami. Tapi Yagami segera menutupi tangannya dengan selimut di sana.


"Iya. Apa dia tidak apa-apa?" tanya Yagami balik.


Kayo memasang wajah geram.


"Siapa? Si gadis penyendiri itu? lagian ngapain juga kamu menolongnya. Rencana kami untuk mengerjainya jadi gagal deh."


"Jadi ini ulah kalian? Aku tidak habis pikir."


"Kenapa? Kami hanya ingin memberi sedikit pelajaran kepada cewek sombong itu," balas Kayo dengan nada keras. Yagami hanya menatapnya datar.


"Erika, itu namanya. Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku mau istrahat," pinta Yagami.


Kayo keluar dengan sangat jengkel.


"Si gadis itu, awas saja kamu...akan kubuat kamu menderita karena berhasil mendapatkan perhatian Yagami...aaarrgght..."

__ADS_1


Sementara dalam ruang kesehatan, Yagami tersenyum lebar dengan wajah merona membayangkan wajah jutek Erika.


"Dia sangat imut ketika marah..mmm.." gumam Yagami.


__ADS_2