
21 Tahun yang lalu di Universitas Tokyo.
Seorang gadis remaja berusia 18 tahun dengan rambut sebahu berponi hitam lurus sedang berjalan dengan seorang pemuda tampan mata bello. Mereka adalah pasangan terpopuler di kampus sebagai mahasiswa yang cerdas serta cantik dan tampan di Universitas Ekonomi jurusan manajemen.
Mereka adalah Nathan dan Naila yang sedang berkencan selama masuk di kampus.
"Hei, lihat. Pasangan itu lewat lagi. Kyaaa mereka sangat serasi. Cowoknya ganteng amat, ceweknya juga cantik sekali lagi," kata salah seorang gadis di kampus kepada teman-temannya.
Di mana pun mereka lewat, semua mata tertuju padanya.
Hingga pada suatu hari ada mahasiswi baru di kampus yang diidolakan oleh semua para cowok, namanya Misca dengan rambut panjang lurus sampai pinggang berponi ditambah badannya yang langsing serta tinggi putih nan seksi.
Saat Naila dan Nathan berjalan di koridor kampus, Misca terjatuh ke lantai akibat ditabrak oleh Nathan.
Brukh...
"Aauuh," rintih Misca sudah tergeletak di lantai.
"Maaf, aku tidak sengaja," kata Nathan jongkok melihat Misca.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Nathan. Mata Misca melebar menatap cowok tampan di depannya. Naila pun ikut jongkok.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Iya, hanya terkilir," balas Misca.
Nathan segera menggendongnya ke ruang kesehatan. Diikuti Naila. Misca tersenyum bahagia memandangi wajah Nathan sepanjang jalan ke ruang kesehatan. Naila memperhatikan sikapnya. Ada perasaan tidak tenang dalam diri Naila.
"Dia sangat ganteng, aku ingin cowok ini jadi milikku apapun yang terjadi," gumam Misca masih menatap dalam Yagami yang tengah mengompres kakinya.
"Apa sudah tidak sakit lagi?" Tanya Nathan. Misca tersenyum.
"Iya, berkat kamu sakitnya sudah berkurang. Makasih, ya," balas Misca tanpa memperhatikan kehadiran Naila di samping mereka sebab ia hanya terfokus kepada ketampana Nathan.
"Syukurlah, kalau begitu, kami pamit dulu," kata Nathan berpamitan merangkul tangan Naila.
"Tunggu dulu, kita belum kenalan. Aku Misca dari fakultas kedokteran tahun pertama. Kalian siapa?" Kata Misca memperkenalkan diri.
"Aku Nathan....dan ini kekasihku namanya Naila," balas Nathan memperkenalkan diri dan pacarnya.
"Halo, salam kenal," sapa Naila yang akhirnya bicara sambil tersenyum dan dibalas oleh Misca dengan senyum sinis.
"Ternyata dia sudah nemiliki pacar," gumam Misca tersenyum tipis memperhatikan kemesraan Nathan dan Naila yang sedang bergandengan tangan keluar ruang kesehatan.
Hari-hari pun berlalu, Misca selalu berusaha mendekati Nathan di kampus.
"Nathan, ada yang mencarimu. Jangan bilang kamu berani selingkuh di belakang Naila. Awas saja kamu. Cewek itu cantik sekali lagi," kata salah salah satu teman kelas Nathan.
"Apa sih, ya tidaklah. Hatiku hanya buat Naila," balas Nathan serius.
"Yah, 'kan hanya bercanda, Nathan. Siapa tahu saja benar. Ingat tidak ada yang tahu masa depan seperti apa. Jadi berhati-hatilah. Jika iman kamu tidak kuat, kamu bisa tergoda oleh cewek cantik kapan pun. Apalagi seperti dia," kata teman Nathan itu lagi sambil menunjuk ke arah pintu di mana Misca berada. Semua mata tertuju padanya. Naila yang melihat hal itu merasa cemburu.
"Naila, gimana pendapat kamu? Apa aku temui dia?" Tanya Nathan meminta pendapat kepada kekasihnya yang terlihat murung. Lalu kembali menatap Nathan.
"Iya, siapa tahu penting," balas Naila.
"Baiklah," balas Nathan menuju pintu disoraki oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Uhuuuuuiiiii, gebetan barukah?" Teriak mereka tanpa memperdulikan perasaan Naila yang memandangi mereka bicara di pintu.
"Ada apa?" Tanya Nathan kepada Misca.
"Ada waktu sepulang kuliah tidak?"
"Ada, memangnya kenapa?"
"Aku mau mengajak kamu makan karena telah menolongku kemarin," balas Misca basa-basi.
"Kemarin, oh kamu yang terkilir itu ya," kata Nathan sebab ia sangat mudah melupakan wajah seseorang yang menurutnya tidak penting baginya. Seberapa kali pun ia bertemu orang tersebut. Yang ada dalam pikirannya hanya Naila seorang.
"Iya, sudah ingat?" Tanya Misca senang. Nathan hanya mengangguk.
"Ya sudah, aku tunggu di depan gerbang setelah kelas selesai," kata Misca melambaikan tangan meninggalkan Nathan yang berbalik ke kelas.
"Hei, kalian bicara apa saja? Kok lama sekali? Ciieeeee," goda salah satu teman kelas.
"Biasa saja," balas Nathan cuek seperti anaknya Erika menuju kursi Naila yang sedang pura-pura tidak terjadi apa-apa. Jelas di wajahnya kalau ia sedang cemburu.
"Sepertinya dia menyukaimu," kata seorang lagi.
"Ah, tidak mungkinlah. Lagian aku sudah memiliki gadis yang tidak ada duanya di mana pun," balas Nathan mencubit kedua pipi Naila yang sedang ketus.
"Benar kata Anton. Cewek tadi menyukaimu. Jelas sekali dari cara dia menatapmu dan tersenyum kepadamu," tambah Naila menggembungkan pipi.
"Kamu cemburu ya? Oh senangnya aku," balas Nathan memeluk Naila.
"Ya jelas, wanita mana yang tidak cemburu jika kekasihnya bicara dengan lembut dengan wanita lain," cetus Naila memalingkan wajah dari Nathan.
"Sudah, berapa pun wanita yang mendatangiku, kamu tetap yang nomor satu dan tidak akan ada yang namanya nomor da dan seterusnya. Yakinlah padaku, sebab jika kamu ragu, itu akan membuatku tidak optimis," balas Nathan memeluk Naila tanpa sadar kalau mereka lagi di kelas.
"Sebenarnya, dia mengajakku makan setelah kelas berakhir. Kamu temani aku, ya?" Kata Nathan kepada Naila.
"Dia 'kan hanya mengajakmu."
"Jadi kamu mau aku hanya berduaan dengannya?" Tanya Nathan serius menyelipkan rambut Naila di belakang telinga.
"Tidak," cetus Naila menatap Nathan.
"Makasih," balas Nathan diikuti senyuman hangat kepada kekasihnya.
Setelah kelas berakhir, Misca sudah menunggu di depan gerbang kampus dengan bahagia. Jelas terpancar dari wajahnya. Tapi raut bahagia itu berubah saat matanya menangkap Nathan sedang berjalan ke arahnya menggandeng tangan Naila.
"Hai, Nathan," sapa Misca pura-pura tersenyum.
"Maaf ya, soalnya aku membawa Naila bersamaku agar orang-orang di sekitar tidak salah paham dengan kita.
"Iya tidak apa-apa," balas Misca mengarahkan pandangannya ke Naila sambil tersenyum paksa.
"Dia perhatian sekali dengan pacarnya dan menjaga perasaan wanita ini, andai aku bisa bersamanya, pasti aku akan dijaga seperti dia," gumam Naila.
Mereka pun berangkat ke restoran dekat kampus memesan ramen kesukaan Naila. Saat mereka sedang makan, Misca mengepalkan tangan melihat kemesraan Nathan dan Naila yang saling menyuapi. Apalagi saat Nathan melap sisa makanan yang tumpah di baju Naila serta tinggal di bibirnya.
"Kamu pelan-pelan makannya. Nanti tersedak," kata Nathan sambil melap bibir Naila dengan tissu. Misca pura-pura tersenyum menatap mereka.
"Laki-laki ini harus jadi milikku. Dia tidak pantas berada di samping wanita bodoh ini," ketus Misca dalam hati.
__ADS_1
Setelah selesai makan, mereka pulang ke rumah masing-masing. Di sepanjang jalan, Naila hanya diam akibat cemburu. Nathan memperhatikan gerak-geriknya.
"Naila, mau singgah di apartemenku?" Tanya Nathan.
"Untuk apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan," balas Nathan meraih tangan Naila lalu menggandengnya menuju apartemen. Naila hanya mengikutinya kali ini tanpa bicara sampai di apartemen.
"Kita sudah sampai," kata Nathan sambil meletakkan telapak tangannya di pintu lalu terbuka. Ia menarik Naila ke dalam.
"Kamu kenapa diam saja?" Tanya Nathan kepada Naila yang akhirnya duduk di sofa.
"Mulai sekarang kita saling jujur selamanya. Apapun yang terjadi. Karena tidak jujur adalah awal dari hancurnya sebuah hubungan," kata Naila menatap Nathan yang tengah berdiri di depannya menatapnya dari atas berkacak pinggang jengkel akibat Naila diam sepanjang jalan.
"Jujur tentang apa? Kamu yang harus jujur kalau kamu sedang cemburu."
"Iya, aku cemburu. Siapa yang tidak cemburu pada wanita secantik dia," ketus Naila memalingkan wajah dan pandangan ke arah lain.
"Tatap aku, jangan sekali pun kamu memalingkan pandangan dariku. Aku katakan sekali lagi, kalau aku tidak akan tergoda oleh wanita lain selain kamu," kata Nathan sambil meraih wajah Naila ke arahya.
"Siapa yang tahu dengan hati kamu. Hati lelaki 'kan mudah goyah karena kecantikan seorang wanita," balas Naila melirik ke arah lain.
"Jadi kamu tidak percaya denganku? Saling percaya juga adalah kunci agar hubungan bisa langgeng," kata Nathan mulai jengkel. Naila hanya diam. Akhirnya dia mencium bibir Naila lalu menggendongnya ke dalam kamar pribadinya lalu membuang tubuh Naila ke atas tempat tidurnya kemudian menindihnya dari atas mengunci pergerakan Naila yang akan memberontah.
"Kamu mau apa?" Tanya Naila kaget saat Nathan mulai menyerangnya membuka setiap kancing bajunya lalu leher sampai dada terlihat jelas.
"Menjadikanmu milikku agar kamu percaya padaku," balas Nathan mulai mengecup leher Naila sampai dada hingga tangan yang lain lari kemana-mana melepaskan apa saja yang menghalangi pergerakannya.
"Tunggu dulu, Nathan...hah, ukh.." kata Naila dengan suara mulai tidak karuan akibat Nathan bergerak kemana-mana.
"Hanya dengan cara ini kamu bisa percaya padaku," balas Nathan melepas apa yang ia kenakan.
"Tapi, huh...i..ini..wuaakh.." desah Naila.
"Lihat, kamu sudah mulai basah," balas Nathan mulai meluncurkan serangannya.
"Aaaakhhh...aauh...sakit..." rintih Naila.
"Tahan sebentar lagi akan baik-baik saja, berpegang kepadaku," kata Nathan meraih tangan Naila dan melingkarkannya di belakang leher. Air mata gadis itu mengalir seketika dengan mulut terbuka menahan sakit.
"St..op...sakit sekali...wuuaaahhh," rintih Naila membuat Nathan berhenti sejenak lalu mengelus kepala wanitanya dan memelanka pergerakannya dengan lalu menjulurkan pedang mulutnya ke dalam mulut Erika hingga selesai.
"Sebentar lagi selesai, hah," balas Nathan sambil menyerang hingga serangannya tepat sasaran. Mereka pun menikmati setiap bentuk serangan dengan rangkaian dari berbagai macam tarian hingga selesai acara.
*****
"Yagami...kita hendak kemana?"
"Ke rumah kamu."
"Haa?"
"Ada telpon dari Om Nathan, katanya dia sedang di rumah kamu. Ibumu tidak ingin bicara dengannya."
"Apa? Antar aku ke sana sekarang," kata Erika bergegas ke luar kantor diikuti Yagami.
__ADS_1
*Jangan lupa singgah di novel SOUL EXCHANGE ya
maksih udah baca 😘😘*