
Mendengar suara teriakan Tn. Nathan dari balik pintu rumah sakit, dokter Jino yang berada di depan pintu pasien lain yang tengah mengobrol dengan keluarga pasien. segera bergegas ke ruang di nama Yagami di rawat. Sesampainya di sana, ia langsung memeriksa detak jantung dan tubuh Yagami.
"Syukurlah, tubuhnya akan baik-baik saja. Hanya saja, dia akan mengalami sedikit kaku pada bagian tubuh, butuh satu sampai tiga hari untuk meregangkan otot-ototnya," kata dokter Jino kepada Tn. Nathan. Yagami hanya diam berbaring di tempat tidur.
"Apa kamu merasakan sakit di bagian tubuhmu?" tanya Tn. Nathan meraih tangan Yagami dan mengelusnya. Pria berambut hitam itu hanya menggeleng.
"Kamu masih ingat saya, 'kan?" tanyanya lagi.
Dan lagi-lagi, Yagami hanya mengangguk.
"Dokter, dia kenapa tidak bicara?" tanya Tn. Nathan menoleh ke arah dokter Jino.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi dia akan bicara, hanya butuh waktu. Jangan dipaksakan, dia baru bangun dari koma," balas Tn. Nathan tersenyum lalu menatap Yagami.
"Kok, aku bisa berada di rumah sakit? Tadi kata dokter aku koma?" tanya Yagami yang akhirnya bertanya sambil berusaha duduk dibantu Tn. Nathan.
"Iya, kamu koma lagi selama 2 tahun sejak umur kamu 15 tahun. Dan sekarang, umur kamu sudah 17 tahun," balas Tn. Nathan.
Yagami hanya termenung sejenak, ia merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Tapi ia tidak bisa mengingatnya dengan baik.
***
Empat Tahun kemudian, Yagami lulus dari Universitas Harvard. Di sana ia mengambil jurusan Ekonomi. Saat wisuda, ia hanya ditemani oleh Tn. Nathan, sebab Misca menemani Kayo wisuda di Universitas Colombia.
Sementara hal yang sama terjadi dengan Erika. Ia pun sudah lulus dari Universitas Tokyo dengan jurusan yang sama.
Erika ditemani ibunya akhirnya kembali ke Kobe melanjutkan kehidupan mereka masing-masing.
"Bu, minggu depan, aku akan mencoba memasukkan surat lamaran ke sebuah perusahaan," kata Erika kepada ibunya sambil merapikan tanaman di luar pekarangan rumah bersama ibunya.
"Lah, 'kan baru saja tiba dari Tokyo, Nak. Istrahat saja dulu beberapa bulan," balas Naila sambil memangkas tanaman hias hingga berbentuk pagar warna hijau dengan kaos tangan warna pink rambut diikat.
"Tidak apa-apa, Bu. Kata orang-orang, lebih cepat lebih baik."
"Terserah kamu saja, asal jangan terlalu capek."
"Tenang saja, Bu. Aku 'kan sudah dewasa, hehe," balas Erika nyengir ke arah ibunya. Naila hanya tersenyum melihat putri semata wayangnya sudah tumbuh besar.
"Ngomong-ngomong, si Yagami itu belum memberi kamu kabar?" tanya Naila.
Seketika, tangan Erika berhenti bergerak.
"Sudah, Bu. Tidak usah dibahas lagi," balas Erika dengan wajah murung. Ia pun segera kembali ke dalam kamarnya mengambil ponsel dan membuka chatnya dengan Yagami empat setengah tahun yang lalu. Ia mendesah lalu menutup ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja samping tempat tidurnya.
Di dalam hatinya, Yagami masih tetap nomor satu tiada duanya. Walaupun, ia tidak tahu kalau yang selalu bersamanya selama ini adalah tubuh palsu Yagami. Tapi, kali ini ia ingin melupakan Yagami.
__ADS_1
"Mungkin, saatnya aku harus melepaskannya," gumamnya lalu membuka dompet dengan foto Yagami terpasang di sana. Dielusnya foto yang tersenyum itu dengan jari telunjuk yang diambil saat membersihkan di rumah Yagami. Rumah itu selalu dibersihkan Erika tiap hari.
"Aku harus semangat," katanya pada diri sendiri lalu beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.
Ting....
Ada sebuah chat yang masuk dari Kise.
Kise : aku dengar kamu sudah di Kobe. ketemuan, yuk..
Beberapa saat kemudian, Erika selesai mandi dan membaca pesan itu.
Erika: iya, kali ini mau ajak aku kemana lagi?
Kise : kemanapun yang kamu inginkan 😉
Erika : serius? 😆
Kise : iya 😁
Erika : Aku ingin ke Sannomiya ( pusat perbelanjaan yang selalu ramai dengan fashion terkenal dan menemukan bangunan berlantai dua)
Kise : baiklah. sudah siap
Beberapa menit kemudian, Kise sudah berada di depan rumah menjemput Erika dengan mobil ferrari warna kuning miliknya. Kise membukakan pintu mobil untuk Erika. Mereka pun melaju diatas mobil cantik dengan kilauan kuning memikat mata.
"Aku ingin membeli perlengkapan untuk melamar kerjaan minggu depan," balas Erika dalam balutan baju kaos warna salem dipadukan dengan rok warna navi selutut.
"Melamar kerjaan? Kenapa tidak di perusahaanku? Kamu tidak perlu repot-repot melamar kerjaan," balas Kise memberi masukan kepada Erika.
"Tidak usah, makasih banyak. Tapi, kali ini aku akan berusaha dengan kemampuanku, jika aku tidak diterima, baru deh aku akan minta bantuanmu. Lagian, selama ini kamu selalu membantuku dan menghiburku," balas Erika.
"Ya sudah jika itu mau kamu, jika kamu dalam kesusahan, datang saja padaku. Aku siap kapan pun."
"Duh, kamu memang sahabatku yang paling baik."
"Jadi, kamu hanya menganggapku sebagai sahabat? Padahal aku ingin lebih dari itu," gumam Kise.
Sesampainya di Sannomiya, Erika segera ke toko baju dan sepatu, di sana ia memilih kemeja putih dan rok hitam persiapan wawancara kerjaan. Setelah itu mereka ke toko alat tulis membeli beberapa alat tulis.
"Erika? Jadi kamu sudah kembali?" kata Mika yang kebetulan berada di sana membeli alat tulis langsung berlari memeluk Erika.
"Ya ampun, aku sangat kangen padamu," kata melingkarkan tangan di tubuh Erika.
"Iya, aku pun sama," balas Erika. Kise hanya tersenyum melihat kedua gadis itu di berpelukan di depannya.
__ADS_1
"Kamu datang dengan Kise? Kenapa? Jangam bilang kalian sudah..." bisik Mika. Tapi sebelum menyelesaikan kata-katanya, telapak Erika sudah mendarat di mulutnya.
"Stop, jangan berpikir yang aneh-aneh," balasnya sambil melirik ke arah Kise.
Kise yang menyadari bahwa akan banyak hal yang ingin mereka bicarakan, segera pergi pura-pura ke toilet.
"Aku ke toilet dulu, ya, Erika," kata Kise.
"Iya, hati-hati," balas Erika tersenyum dan diperhatikan oleh Mika.
"Cieee..." godanya.
"Apaan sih, cieee..ciee," cetus Erika.
"Kalian sudah jadian ya?"
"Tidaklah, kami hanya berteman."
"Sudahlah, terima saja dia. Apa sih yang kurang darinya, sudah tajir, cakep, baik pula."
"Tapi..."
"Jangan bilang kamu masih memikirkan si Yagami yang brengsek itu. Ingat, ini sudah hampir 5 tahun dan kamu masih menunggunya? Pilih saja yang lebih nyata yang ada tiap hari bersamamu."
"Tapi cinta tidak dapat diukur dari kebersamaan, berapa lama pun kamu bersama jika ia tidak menyukaimu, maka ia pun tidak bisa dipaksakan," balas Erika dengan serius.
"Menurutku itu hal yang bisa berubah kapan pun."
"Kamu salah, perasaan tidak mudah diubah semudah membalikkan telapak tangan, semakin kamu berusaha melupakannya, semakin kuat ingatan itu. Butuh waktu hingga ia hilang dengan sendirinya."
"Baiklah jika itu mau kamu, tapi kalau dia berani menyakiti kamu lagi, katakan saja padaku."
"Makasih, ya, sudah mengerti tentangku. Kamu dan Kise memang teman terbaik."
****
Sementara Yagami sudah tiba di Bandara Internasional Kansai dengan jaket warna biru dalaman baju kaos putih serta celana hitam dan kacamata hitam ditemani pengawalnya mebawa koper.
Ia berjalan di depan menuju mobil warna hitam yang khusus di pesankan oleh Tn. Nathan yang tiba di Kobe seminggu sebelum Yagami. Sebab, Yagami masih ada beberapa urusan di kampus.
Yagami duduk di kursi tengah sambil memperhatikan kota Kobe di sepanjang perjalanan. Kali ini ada yang beda darinya. Ia memakai anting tindih warna hitam dan gelang warna hitam. Tentu saja lebih membuatnya lebih dewasa dari tubuh palsunya dan lebih cool.
Di tengah jalan, mobil yang ditumpanginya berpapasan dengan mobil ferrari milik Kise dimana Erika berada di dalamnya.
Jangan lupa mampir si novel SOUL EXCHANGE ya 😉
__ADS_1
Penampilan baru Yagami