CINTA DAN EGOIS

CINTA DAN EGOIS
PART 29


__ADS_3

Setelah mendapat telpon dari Tn. Nathan, Yagami dan Erika segera ke rumah Naila. Sesampainya di sana, Tn. Nathan masih berdiri di depan pintu karena dikunci oleh istri pertamanya dari dalam rumah.


"Naila, maafkan aku. Ini semua salahku karena tidak jujur padamu saat itu. Ijinkan aku bicara padamu, kumohon! Kali ini saja," rintih Tn. Nathan dari luar rumah.


"Pergi kau, pebohong, pengkhianat....pergiiii..!!!" Teriak Naila dari dalam rumah. Erika mendekat ke arah pintu.


"Bu, ini aku, bisa buka pintunya?"


Naila tertegun mendengar suara putrinya dan bergegas membuka pintu dengan pikiran negatif takut anaknya diapa-apai sama suaminya.


Kreeekk..suara pintu dibuka


Naila segera memeluk putrinya.


"Kamu tidak apa-apa, 'kan?"


"Iya, Bu. Aku baik-baik saja. Ini semua berkat Yagami," balas Naila menyeka sisa air mata di wajah ibunya habis menangis. Dalam hatinya Tn. Nathan tidak tergantikan. Hanya saja, rasa benci itu sudah memenuhi hatinya hingga perasaan tulus kepadanya sudah tertutupi oleh kebencian itu.


Naila menatap Yagami dengan mengerutkan kening disertai tatapan tajam.


"Awas kalau kamu sampai membuat putriku sedih lagi!"


"Saya janji tidak akan seperti itu, Bu," balas Yagami dengan sopan membungkuk ke arah Naila.


"Janji-janji, jangan pernah berjanji. Sebab janji pria mudah dikatakan tapi menepatinya sangat sulit dilakukan oleh mereka dan sulit dipercaya. Dan dia juga pernah berjanji tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi. Bahwa kami akan saling jujur dan percaya apapun itu, tapi buktinya dia selingkuh dan meninggalkan kami berdua. Bukankah itu jahat, pecundang?" Ketus Naila menunjuk ke arah Tn. Nathan yang masih terpaku berdiri di tempat dengan lingangan air mata.


"Kamu bisa memakiku sampai kamu puas. Tapi aku mohon dengarkan penjelasanku dulu, Naila," rintih Tn. Nathan. Lalu Yagami mendekat menepuk pundaknya.


"Dan kamu tahu, wanita yang kamu pilih itu adalah wanita yang menyukaimu saat kita masih kuliah dulu. Kamu sudah berjanji tidak akan tergoda olehnya, tapi apa...kamu mengingkarinya. Pergi kamu, jangan muncul dinhadapan kami lagi, aaargth," bentak Naila hendak memukul Tn. Nathan tapi dihentikan oleh Erika.


"Kenapa kamu menahanku, Erika. Kamu ingin membela pria tidak bertanggung jawab ini?" Bentak Naila kepada Erika yang ikut menangis.


"Bu, dengarkan penjelasan ayah dulu. Mungkin saat itu dia tidak punya pilihan lain dan tiba-tiba wanita itu muncul," kata Erika memeluk ibunya berusaha menenangkan hatinya.


Tn. Nathan tercengang. Tidak percaya dengan kenyataan tantang istri keduanya yang ternyata adalah gadis yang membuat Naila cemburu saat masih kuliah. Ia tambah sakit hati dan merasa bersalah terhadap Naila.


"Seperti dugaanku. Ada yang tidak beres dengan tante Misca," gumam Yagami merangkul Tn. Nathan yang tidak berhenti menangis menyesali perbuatannya.


"Sudah, kita masuk saja dulu. Setelah tenang, kalian bisa bicara perlahan," kata Erika lalu menuntun ibunya ke dalam sofa dan mendudukkannya di sofa diikuti Yagami menuntun Tn. Nathan.


"Kalau gitu, kami pamit dulu keluar rumah. Kalian bisa bicara berdua," kata Erika lagi keluar rumah menuju rumah Yagami di samping rumahnya. Ia masih memiliki kunci dari Yagami.

__ADS_1


"Ingin masuk?" Tanya Erika. Yagami hanya mengangguk mengikuti kekasihnya.


"Sudah lama aku tidak ke sini. Ini rumah kamu, dulu kamu di sini sendirian," kata Erika masuk ke dalam rumah menuju jendela membuka tirai di sana hingga cahaya siang masuk menyinari seluruh ruangan. Yagami merangkulnya dari belakang meletakkan wajah di pundak Erika.


"Kamu juga, jangan meninggalkaku," kata Yagami. Erika Mengelus kepalanya.


"Aku tidak bisa berjanji."


"Apa? Jangan bilang kamu tidak serius padaku?" Tanya Yagami mengangkat kepalanya.


"Bukan begitu, tapi berjanji itu tidak baik. Sebab kadang apa yang kita rencanakan tidak berjalan seperti apa adanya. Aku tidak butuh sebuah janji tapi butuh kepastian dalam bentuk tindakan nyata yaitu komitmen," balas Erika. Yagami meraih dagunya mengecup bibir tipisnya dari belakang disinari matahari siang.


"Iya, kamu ada benarnya juga. Apapun yang terjadi di masa depan, kita harus saling membantu. Kamu bisa rekam aku sekarang?" Tanya Yagami melepaskan Erika lalu duduk di sofa.


"Kenapa?"


"Sebab, aku bisa saja melupakanmi untuk kedua kalinya. Dan saat itu, aku ingin kamu mengejarku dan menunjukkan bukti vidio itu," balas Yagami dengan tatapan serius.


"Apa maksud dari perkataanmu itu? Kamu akan melupakanku lagi?"


"Bisa jadi. Beberapa hari yang lalu, aku menyelidiki tentang kondisiku setelah koma dan melupakan semua yang terjadi dari kehidupanku sebelumnya. Aku takut melupakanmu lagi dan kamu tersakiti, maafkan aku jika itu terjadi lagi!"


"Sudahlah, jangan sedih begitu, aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi," kata Erika meraih kepala Yagami ke dalam pelukannya sambil berdiri. Hingga wajah Yagami menempel di dadanya.


Brukh..


"Dasar pria mesum..huhh.." kata Erika memukul kepala Yagami.


"Namanya juga pria. Bukan pria namanya kalau tidak mesum, hehe," balas Yagami mengelus kepalanya bekas pukulan kekasihnya lalu menarik tangannya hingga tubuhnya jatuh kedalam pelukannya.


"Yang penting, aku hanya mesum buat kamu saja," kata Yagami merangkul dengan lembut wanita yang ia sayangi.


"Huu, gombal. Siapa tahu jika kamu di luar sana. Kita 'kan tidak selamanya bersama," balas Erika sambil mencubit pipi Yagami.


"Jadi kamu tidak percaya padaku?"


"Percaya sih, hanya saja kamu belum putus tunangan dengan Kayo."


"Aku 'kan sudah bilang, jangan pikirkan itu, dasar bawel.." kata Yagami mencubit hidung Erika dan merapatkan bibirnya sekali lagi.


"Kamu selalu mengambil kesempatan dalam keadaan apapun, dasar."

__ADS_1


"Haha, maaf gadis cuteku.." balas Yagami lagi menggelitik pinggang Erika.


"Buahaha...stop...geli tahu.."


Sementara di rumah Erika, Tn. Nathan masih berusaha membujuk Naila setelah berusaha menjelaskan kejadian di masa lalu.


"Tapi kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? Jika saja dari awal kamu jujur padaku, aku mungkin bisa membantu, tapi sekarang tidak ada gunanya lagi. Lagian kamu lebih memilih pergi bersamanya lalu meninggalkan aku dan Erika. Itu salah kamu," kata Naila masih jengkel.


"Iya, aku mengaku salah. Tapi saat itu aku tidak punya pilihan lain. Pikiranku kacau saat kedua orang tua Yagami beserta kakaknya meninggal. Lalu Misca muncul di rumah sakit di mana Yagami kecil di rawat."


"Tapi kamu tidak percaya padaku, makanya kamu menyembunyikan semuanya dan menanggungnya sendirian."


"Aku takut membuatmu banyak pikiran karena telah mengandung Erika."


Mata Naila melotot mendengar kata-kata Nathan yang ingin menjaganya.


"Tapi semuanya sudah terjadi. Kita bisa apa sekarang?" ketus Naila.


"Kumohon, beri aku kesempatan. Aku akan menceraikan Misca dan kembali padamu. Lagian kita belum bercerai dan aku masih berstatus suamimu. Dan sampai sekarang, di hatiku hanya ada kamu," kata Nathan meraih tangan Naila.


"Kamu selalu berbicara seakan-akan semuanya serbah mudah dilakukan."


"Iya aku tahu, aku akan berusaha sebisa mungkin."


"Terserah kamu," cetus Naila memalingkan wajah dengan wajah mulai merona. Nathan akhirnya bisa tersenyum bahagia.


"Sepertinya mereka sudah berbaikan," kata Erika memperhatikan kedua orang tuanya dari balik jendela rumah Yagami masih dalam pelukan Yagami di atas Sofa.


"Iya, syukurlah," kata Yagami dengan tangan mulai jalan kemana-mana lagi.


"Hei, hentikan. Jendela terbuka, nanti kita bisa ketahuan," kata Erika menangkap tangan Yagami yang mulai berlari kemana-mana di area tubuhnya.


"Jadi, kalau jendela ditutup, bisa?" balasnya sambil menatap Erika seperti kucing imut yang sedang manja kepada tuannya.


"Tidak boleh."


"Tenang saja, jendela itu anti tembus pandang di siang hari,"balas Yagami tersenyum menatap wajah cute Erika dari bawah sebab gadis itu berbaring diatas tubuhnya.


"Hufh..."


"I Love You, Erika," bisik Yagami di telinga Erika hingga gadis itu dijinakkan olehnya.

__ADS_1



*Ja*ngan lupa singgah di novel SOUL EXCHANGE ya. maksih 😘😘😘


__ADS_2