
Dalam kantor, setelah Erika tersandung dan berakhir dengan kedua bibir bersentuhan, gadis itu segera bangkit dari tubuh Yagami.
"Maaf, terima kasih telah menolongku," kata Erika menundukkan kepala dengan wajah merona.
"Tidak apa-apa. Apa ada bagian tubuh kamu yang sakit?" Tanya Yagami ikut berdiri.
"Ti-tidak ada," balas Erika membalikkan badan menuju meja kerjanya begitu pun dengan Yagami.
"Kenapa hatiku berdegup kencang? Jangan-jangan aku sudah tertarik padanya. Jangan sampai terjadi, sadar Erika, dia sudah memiliki tunangan. Dan kissing barusan tidak berarti apa-apa baginya, sebab di Amerika, kissing sudah dianggap biasa saja," gumam Erika menepuk pipinya.
"Ada apa dengan pipimu?" tanya Yagami semakin membuat Erika salah tingkah dan berdegup kencang.
"Hehe, tidak apa-apa, hanya bekas gigitan nyamuk tadi," balasnya berbohong dengan senyum terpaksa.
"Kamu harus siap-siap, sebab minggu depan kita akan ke gunung Rokko.
"Baik, boss," balas Erika.
Brukh
"Auuh sakit, kenapa memukul kepalaku?" rintih Erika menatap Yagami yang habis memukulnya.
"Tidak usah formal kalau lagi berdua denganku. Santai saja, panggil dengan nama, coba biasakan panggil namaku," balas Yagami mencubit pipi Erika dengan kedua tangan. Erika mencoba melepaskan tangan Yagami tapi malah jatuh ke dalam pelukannya. Bersamaan dengan itu, Kayo tiba-tiba muncul di depan pintu dengan wajah geram langsung mendekati Erika melepaskannya dari pelukan Yagami lalu menampar wajahnya.
"Dasar jalang, kurang ajar, beraninya kamu menggoda tunangan orang, mati saja sana," bentak Kayo mulai mengangkat tangannya lagi hendak memukul ulang Erika tapi tangan Yagami segera menghentikannya.
"Cukup, kamu salah paham," kata Yagami dengan wajah kesal merasa sakit hati Erika dipukul.
"Salah paham? Dia jelas-jelas memeluk kamu dengan sengaja," balas Kayo lagi dengan nada suara tambah tinggi.
"Kubilang cukup!" bentak Yagami.
"Kamu membentakku demi pelakor ini? Hiks..," balas Kayo mulai pura-pura menangis. Yagami memeluknya.
"Sudah, tadi itu hanya kecelakaan," kata Yagami mengelus kepala Kayo.
Hati Erika sangat perih menyaksikan mereka berpelukan di depannya. Apalagi saat melihat Kayo tersenyum sinis kepadanya dalam pelukan Yagami. Sambil mengelus bekas tamparan Kayo dipipinya, Erika segera keluar kantor menuju toilet.
"Kenapa hatiku sakit melihat mereka? Mereka 'kan tunangan, tidak ada hubunganya denganku. Lagian, bos Yagami menganggap semua yang terjadi hari ini hanya kecelakaan, aku benci laki-laki. Mereka seenaknya melakukan hal yang mereka inginkan tanpa memikirkan perasaan wanita. Aku benci mereka, wuuuu...wuuuhh," rintih Erika di dalam toilet.
"Aah, aku bikin apa sih, aku harus menganggap semua ini sebagai kecelakaan juga. Aku harus semangat kerja demi ibuku, semangat Erika," kata Erika kepada dirinya sendiri bangkit dari duduknya di toilet menuju depan cermin washtafel. Kemudian ia kembali ke dalam ruang kerjanya dan duduk di depan laptop menyelesaikan tugasnya sebagai sekertaris tanpa peduli dengan Yagami dan Kayo yang sedang bermesraan. Tapi Yagami selalu menolak bila diajak Kayo bercumbu atau hanya sekedar pelukan.
"Hentikan, ini di kantor," kata Yagami mendorong wajah Kayo yang hendak merapatkan bibirnya di wajah Yagami.
"Kamu bilang di kantor? Tapi di rumah pun kamu tidak pernah mau menyentuhku, kenapa? Aku 'kan tunanganmu dan akan menjadi ibu dari anak-anakmu kelak. Bahkan bukan hanya kissing lagi, tapi melebihi dari itu," bentak Kayo lagi meraih kera baju Yagami.
"Aku bilang ini kantor dan kami tengah bekerja. Jika ingin berdebat, nanti di rumah," balas Yagami dengan tatapan tajam mematikan membuat Kayo gemetaran lalu segera berjalan meninggalkan Yagami melewati Erika dengan aura kejahatan.
__ADS_1
"Awas kamu, jangan pernah mencoba menggoda tunanganku lagi, huh," kata Kayo laku keluar ruangan menutup pintu dengan keras.
BAMM
Yagami mendekat ke arah Erika.
"Maafkan dia ya, soal tadi, apa wajahmu masih sakit?" tanya Yagami. Erika hanya diam.
"Pura-pura lagi, ya sakitlah, dasar," cetus Erika dalam hati.
"Bawa es batu dan handuk kecil ke ruangan saya!" perintah Yagami lewat telpon.
Tidak lama kemudian, salah satu staf kantor mebawakan pesanan presdir Yagami.
"Erika, kemari sejenak. Duduk di sofa!" katanya. Erika hanya bingung.
"Untuk apa? Kerjaanku belum selesai," balasnya dengan judes.
"Aku bilang kemari!" Yagami mengulang kata-katanya dengan tegas sehingga Erika hanya menuruti kemauannya.
"Baring di situ!" pinta Yagami lagi.
"Dia kenapa sih? Menjengkelkan, mentang-mentang dia bos," cetus Erika menggembungkan pipi.
Lalu setelah Erika berbaring, Yagami menempelkan es batu yang telah dibungkus handuk ke pipi mungil yang telah ditampar itu.
"Tahan, sebentar lagi juga membaik, kok," kata Yagami terus mengompres pipi gadis cute itu.
"Makasih, tapi apa kamu tidak khawatir Kayo tiba-tiba muncul lagi dan menamparku gara-gara tunangannya perhatian sama gadis lain?" tanya Erika.
"Tenang saja, aku tidak akan membiarkan hal itu terulang lagi," balas Yagami semakin membuat hati Erika berdegup kencang.
"Kenapa aku merasa bahwa gadis ini sangat spesial hingga membuatku tidak bisa memalingkan pandangan darinya. Padahal, kami belum lama bertemu," gumam Yagami terus menempelkan handuk itu di wajah cute Erika. Tapi si gadis itu lagi-lagi tertidur. Yagami menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya lalu menelan ludah. Tiba-tiba ada panggilan dari Tn. Nathan.
"Halo, Om. Ada apa tiba-tiba menelpon?" Tanya Yagami menuju jendela menghadap keluar.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu tentang masa lalumu. Aku tidak yakin bila kamu akan menerima pesannya, tapi aku harus menyampaikan ini padamu sebelum terlambat, kamu ada waktu luang minggu depan?" Balas Tn. Nathan.
"Minggu depan aku ada survei lapangan ke gunung Rokka bersama rekan bisnis. Memangnya tidak bisa disampaikan lewat telpon saja?"
"Tidak bisa, soalnya ini sangat penting," balas Tn. Nathan.
"Baiklah, akan aku usahakan sepulang dari sana keesokan harinya."
"Baiklah, aku tunggu di ruang baca di rumah," balas Tn. Nathan mematikan ponselnya.
"Ada hal apa, ya. Sepertinya sangat rahasia," pikir Yagami.
__ADS_1
"Erika, bangun! Saatnya makan siang," kata Yagami membangunkan Erika. Tapi si gadis itu tidak bergeming.
"Sepertinya tidurnya nyenyak sekali," kata Yagami dengan suara pelan lalu kembali menelan ludah memperhatikan bibir tipis Erikan dari atas. Tanpa sadar lagi, ia mengecup bibir tipis itu lalu bergegas keluar kantor.
"Ada apa denganku?" Tanyanya kepada diri sendiri memasuki lifh pribadinya hendak ke restoran.
Wajah Erika di kantor sangat merona. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan disertai hati berdegup kencang.
"Wuuaaahhh, bos kenapa mengecup aku lagi? Aah sudahlah, mungkin itu hanya kebiasaan mereka di saat di Amerika suka mengecup para gadis yang sedang tidur. Haha," ucap Erika kepada dirinya sendiri segera bangun dari sofa saat pintu kantor terbuka. Yagami masuk membawa sebungkus makanan.
"Makanlah, kamu tadi kelihatannya nyenyak sekali tidur, jadi aku tidak enak membangunkanmu, ehm," ucap Yagami meletakkan sekotak makanan di atas meja depan sofa di mana Erika duduk.
"Makasih."
"Tadi ayah kamu menelpon saat kamu tidur. Dia ingin bertemu denganku minggu depan, dan aku sudah berjanji padanya sehabis kita dari survei, kami akan bertemu di rumah."
"Kenapa kamu mengatakan itu padaku?" tanya Erika sambil mengunyah pizza.
"Aku ingin kamu menemaniku," balas Yagami menyandarkan punggungnya di sofa dengan kedua tangan membentang di atas pinggir sofa menoleh ke arah Erika dengan tatapan serius.
"Kamu gila, ya. Di sana 'kan rumah tunanganmu. Aku tidak mau cari gara-gara dengannya," balas Erika dengan lantang.
"Tenang saja, ada aku."
"Itu tidak menjamin, tadi juga kamu ada, tapi dia berhasil menamparku. Dan satu lagi, aku tidak mau bertemu dengan ayahku, aku masih marah padanya," balas Erika lagi.
"Kali ini tidak kubiarkan dia melukaimu lagi. Dan ada satu hal lagi, apa kamu tidak ingin mengetahui alasan ayahmu meninggalkan kalian?" tanya Yagami membuat Erika berhenti mengunyah menatap Yagami.
"Tapi...."
"Jangan takut! Sudah kubilang, kamu bersamaku. Tidak akan ada yang berani melukaimu lagi," kata Yagami menyakinkan Si egois itu dengan membalas tatapannya.
"Tidak, aku belum siap. Lain kali saja."
"Baiklah jika itu maumu, cup," balas Yagami mengecup pipi Erika.
"Iihh, stop. Jangan menciumku sembarangan. Aku tidak mau bermasalah dengan tunanganmu yang gila itu," ketus Erika langsung berdiri mengepalkan kedua tangan geram di depan Yagami yang hanya santai.
"Tenang saja, dia tidak akan tahu," balas Yagami mengedipkan mata ke arah Erika membuat gadis itu semakin geram.
"Aarrght, tahu ah, susah bicara denganmu," ketus Erika berbalik hendak meninggalkan Yagami, tapi Yagami segera berdiri meraihnya dan kembali merapatkan bibirnya di bibir tipis gadis egois itu. Erika hanya menyerah saja kali ini menikmati setiap kecupan dari pria tampan berambut hitam itu yang memulai aksinya dengan lidah menggunakan gaya ular berenang di lautan mulut Erika.
jangan lupa mampir di novel
SOUL EXCHANGE ya 😉
__ADS_1