CINTA DAN EGOIS

CINTA DAN EGOIS
PART 27


__ADS_3

Di kantor Grup A milik keluarga Yagami yang diwariskan kepada pria berkulit putih mulus itu, Erika tengah sibuk mengerjakan tugas tentang hasil rapat pada acara tahun baru 2020. Yagami tiba-tiba mendekat ke arah Erika.


"Bisa minta ponsel kamu sejenak?" Kata Yagami mengulutkan tangan.


"Untuk apa?" Balas Erika menoleh ke arahnya dengan kedua tangan diatas keyboard komputer di depannya.


"Sudah kasih saja."


"Tidak mau, kasih tahu dulu untuk apa," cetus Erika.


Yagami tanpa bicara lagi mengambil ponsel Erika yang terletak di samping komputer di depan mejanya.


"Hey, jangan mengambil ponsel orang lain tanpa ijin."


"Sudah diam saja. Selesaikan tugas kamu," balas Yagami menekan tombol buka layar ponsel Erika tapi terkunci.


"Kata sandinya apa?"


"Biar aku saja yang buka," balas Erika berdiri mendekat ke arah Yagami.


"Tidak usah, kamu sebutkan saja sandinya dan tetap di meja kerjamu."


"Tapi itu privasi."


"Sudah, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan diantara kita."


"Gimana nih, sandinya 'kan nama dia, duh bisa memalukan sekali kalau dia tahu," gumam Erika panik.


"Apa sandinya, lama sekali."


"Itu, anu...sandinya sangat rahasia," balas Erika menggigit jarinya.


"Kalau kamu tidak mau menyebutnya, aku akan menghukum kamu sampai pagi. Aku hitung sampai tiga...satu...dua...ti..."


"Yagami," teriak Erika.


"Sandinya..."


"Yagami," balas Erika blushing segera membalikkan badan.


Yagami merasa bahagia akibat kata sandinya adalah namanya. Ia pun kembali ke meja kerjanya sembari membuka satu persatu pesan salam yang Yagami kirim sebelum ia ke Amerika. Dicocokkanya inbox pesan yang ada di ponsel Erika dengan pesan yang ada di ponsel yang ia temukan di ruang rahasia Tn. Nathan. Ia pun teesenyum bahagia.


"Ternyata semuanya memang benar adanya. Aku dan Erika pernah menjalin hubungan. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi," gumam Yagami memandangi gadis idamannya yang sedang serius mengetik di meja kerjanya.


"Tunggu dulu, berarti Kayo sudah tahu kalau kami pernah menjalin hubungan tapi dia menutupi semua ini dariku?" Tanya Yagami dalam hati.


"Pak boss, tugas yang anda berikan telah selesai," kata Erika mendekat ke meja Yagami. Yagami pun terkekeh lalu berdiri mencubit hidungnya.


"Sudah kubilang, santai saja kalau lagi berdua denganku. Panggil nama saja, dasar bawel."


"Iya, lepaskan tangan kamu. Aku susah bernapas," cetus Erika menggembungkan kedua pipi.


Yagami malah menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Erika lalu beraksi seperti memberi napas buatan. Erika segera mendorongnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan kali ini?"


"Memberi kamu napas buatan."


"Haa? Kamu sudah gila, ya. Memangna aku habis tenggelam?" ketus Erika lagi.


"Lah, tadi katanya susah bernapas. Ya sudah aku beri napas," balas Yagami mengedipkan mata.


"Huh, dasar iblis mesum," cetus Erika memalingkan wajah akibat memerah. Yagami segera mendekat ke arahnya lalu memeluknya dari belakang sambil meletakkan dagu di pundak Erika.


"Makasih, Erika," kata Yagami di pundak Erika hingga napasnya sangat jelas di telinganya.


"Untuk apa berterima kasih?"


"Untuk semua hal yang kamu lakukan."


"Ini 'kan memang tugasku sebagai sekertaris."


Yagami hanya diam sejenak.


"Makasih karena telah setia menungguku walau sudah bertahun-tahun lamanya," gumam Yagami memutar kepala Erika ke arahnya sembari menyelipkan bibirnya di bibir Erika dengan kedua mata tertutup.


Hati keduanya semakin berdegup kencang. Saat tangan Yagami mulai menyelip kemana-mana, ada suara seseorang sedang mengetuk pintu hingga membuat mereka berhenti di tengah jalan.


"Siapa di sana, masuk!" Teriak Yagami sembari melepaskan pelukannya kepada Erika.


"Ini aku."


"Ah, Om? Apa yang membuat Om datang kemari?"


"Sudah, apa yang kamu pikirkan tidak seperti itu adanya. Biarkan Om Nathan menjelaskan semuanya padamu. Tenang saja, aku ada di sini untukmu," kata Yagami membujuk Erika yang masih gemetar lalu ia mengangguk dirangkul Yagami ke sofa.


"Bagaimana kabar kamu, Erika," tanya Tn. Nathan.


Erika hanya menundukkan kepala dan diam.


"Ayah minta maaf, demi Yagami aku rela meninggalkan kalian karena tidak punya pilihan lain," jelas Tn. Nathan membuat Erika mengangkat kepalanya lalu kembali menatap Yagami yang hanya mengangguk. Lalu Tn. Nathan menjelaskan semuanya. Erika masih ragu. Namun, demi Yagami hatinya mulai luluh kali ini.


"Kenapa Ayah menjelaskannya padaku bukan ke ibu?" Tanya Erika masih kesal.


"Aku takut ibumu tidak akan memaafkanku lagi. Sebab, dia sudah terlanjur membenciku."


"Iya, karena Ayah mengambil keputusan tanpa menjelaskannya terlebih dahulu kepada ibu. Ayah tetap salah. Tapi, makasih telah menjaga Yagami."


"Iya, di situlah letak kesalahanku. Aku stress dan akhirnya tidur dengan ibu Kayo sewaktu usia kamu masih 2 minggu dalam kandungan Naila. Aku sangat menyesal," rintih Tn. Nathan dengan penyesalan.


"Itulah lekaki, memalukan hal seenaknya. Pada akhirnya menyesal. Tapi apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah lagi," balas Erika tambah kesal.


"Maafkan ayah, sobt," balas Tn. Nathan menahan tangis penyesalannya.


"Dan Ayah melakukan han yang sama lagi terhadapku yaitu menjodohkan Yagami dengan Kayo saat dia lupa tentangku."


"Jadi Ayah harus bagaimana agar kalian dapat memaafkanku?" Tanya Tn. Nathan menatap putri sulungnya.

__ADS_1


"Temui ibuku dan jelaskan semua penyesalan Ayah padanya."


"Tapi aku ragu," kata Tn. Nathan menundukkan kepala.


"Sebagai lelaki, berani berbuat ya harus berani bertanggung jawab pula. Apapun resikonya," tambah Yagami.


"Baiklah, tapi bagaimana denganmu?" Tanya Tn. Nathan kepada Yagami.


"Tenang saja, serahkan semuanya padaku," balas Yagami.


Tn. Nathan segera keluar ruangan dengan perasaan khawatir dan was-was memikirkan cara untuk bertemu istri pertamanya yang belum resmi cerai.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya di jalan.


"Yagami, apa aku harus membantu mereka?" Tanya Kayo menatap Yagami.


"Tidak perlu, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau kita ikut campur, malah memberi beban buat mereka," balas Yagami menyentuh pipi gadis mungil itu dengan ibu jari menyeka bulir air mata yang mulai keluar satu persatu dari pinggir matanya.


"Hm, tapi aku tidak bisa bayangkan apa yang dirasakan ibu dan ayahku saat itu. Aku merasa menjadi anak yang tidak berguna," ucap Erika lalu Yagami meraih kepalanya ke dadanya hingga wajahnya menempel di sana. Hidungnya pun mencium bau wangi Yagami dan merasakan detak jantung pria tampan elegan itu yang semakin berdegup kencang.


"Ssst, jangan berbicara seperti itu. Semua yang mereka alami ada alasannya tersendiri. Kamu tidak usah memikirkan mereka. Pikirkan saja aku," balas Yagami diikuti dengan menggoda Erika.


"Iih, dasar," balas Erika mencubit perut Yagami.


"Aauh, sakit. Tapi bisa kamu ulangi lagi?" Tanyanya mengedipkan mata memegang perut yang telah dicubit Erika.


"Oh ya, sini...hahah," balas Erika menggelitik perit Yagami hingga ia membaringkan badan di sofa akibat terlalu geli.


"Ahahaha, hentikan," katanya. Kemudian menarik tangan Erika dan merangkulnya ke dalam pelukannya.


"Aku janji tidak akan meninggalkanmu seperti ayahmu," bisik Yagami di telinga Erikan hingga ia merona.


Erika hanya tersenyum dalam pelukan Yagami dengan tubuh Erika menindihnya dari atas.


"Kita lihat saja nanti, soalnya kita tidak tahu masa depan seperti apa. Banyak kok, lelaki yang berjanji seperti itu kepada wanita. Tapi akhirnya mereka mengingkari janjinya sendiri akibat mudah goyah oleh wanita lain," balas Erika.


"Itu artinya laki-laki itu belum siap untuk berkomitmen. Sebab, ia tidak percaya diri dan hatinya masih belum siap untuk satu wanita. Makanya ia mudah goyah."


"Makanya aku benci laki-laki seperti itu. Bagiku, mereka pecundang."


"Yayaa..tapi percaya sama aku saja, oke? Jangan samakan aku dengan mereka," balas Yagami mengelus kepala Erika.


"Iya, aku janji."


Mereka saling menatap, lalu bermesraan di atas sofa ruang Yagami dengan kedua pipi mereka merona.


"Hei, perhatikan tanganmu. Jangan sembarang sentuh!" Kata Erika kepada Yagami dengan tangan mulai jalan kemana-mana.


"Emang tidak boleh?" Tanya Yagami mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Erika menjulurkan pedang dari mulutnya ke dalam sela-sela bibir tipis gadis berkulit mulus itu yang matanya mulai melotot memberontah ingin melepakan diri dari pelukan sang pemangsa yang semakin mengeratkan tangannya di tubuh Erika. Hingga ia menyerah saja menerima serangan dari berbagai pedang dari pria tinggi dengan dua pedang itu, yaitu pedang atas dan pedang bawah sampai habis tertebas.



jangan lupa singgah di novel SOUL EXCHANGE

__ADS_1


makasih 😘😘


__ADS_2