
Bunyi kaca pecah dan barang berjatuhan bersahutan dari kamar di sebuah rumah mewah kawasan kompleks elit Latusa, seorang wanita paruh baya tengah menggedor-gedor pintu kamar yang tertutup rapat, hiasan matanya telah luntur oleh air mata, rambutnya yang tadi tertata rapi kini terurai berantakan.
“Nak..dengarkan ibu, dia adalah orang baik dan kaya, sangat kaya malah, mengapa kamu menolaknya?” Sang ibu bertanya dengan suara serak, bingung dengan kelakuan anaknya sendiri, sebelum acara pertunangan ini berlangsung, putrinya, Nala telah setuju bahkan tidak terlalu peduli, lantas mengapa ketika acara berlangsung Nala berubah pikiran?
Nyonya Ajeng berusaha menahan amarahnya, cukup sudah ia menanggung malu atas perbuatan putrinya di pesta pertunangan tadi, Nala bahkan tidak mendengarkan ‘Calon tunangannya’ itu berucap sepatah kata pun, Nala mengamuk, menyiram laki-laki itu dengan air, menghancurkan makanan, membalik meja dan kursi seperti orang gila
Hening beberapa saat hingga Nyonya Ajeng memberanikan diri membuka pintu dengan kunci cadangan yang dibawakan salah satu pelayannya, susah payah ia menahan emosinya agar tidak berteriak, namun semuanya sia-sia, ia berteriak ketakutan ketika melihat putri satu-satunya keluarga Daniar itu tengah mengemas pakaiannya ke dalam koper besar.
“Nak!”
Tangan Nala di tarik hingga pakaian di koper itu jatuh berhamburan di lantai, pecahan kaca berhamburan di mana-mana, hingga membuat ia enggan mengambil pakaian itu, koper itu di hempasnya ke dinding.
“Ibu sungguh tega, menjodohkanku dengan pria tua!” Nala meninggikan suaranya, matanya menyala penuh emosi, menyentak tangan yang di pegang ibunya kasar
“Aku bahkan baru lulus kuliah! Banyak hal yang ingin aku lakukan! Mengapa ibu begitu tega!”
“Nala dengarkan ibu dulu”
“Sekaya apa pun pria tua itu aku tidak mau!” Nala mengambil dompetnya di atas kasur “ Lebih baik aku mati daripada menikahi pria tua itu!”
Nala kecewa, sejak awal ia tidak terlalu peduli dengan pertunangan ini, ia berpikir calon tunangannya seorang pengusaha kaya dan tampan seperti tokoh utama di novel romansa yang ia baca, bukan seorang tua bangka yang rambutnya sudah beruban, lebih baik ia bersama kekasihnya, Angga, walaupun belum bekerja tetapi kekasihnya adalah calon pemimpin perusahaan milik orang tuanya
“NALA!” Suara sang ayah, Tuan Prabu, muncul dengan wajah merah padam, ia mendekat dan menampar putrinya hingga terjatuh ke lantai
“Kau sadar apa yang telah kau lakukan! Perbuatanmu membuat malu keluarga Daniar!”
Nala jatuh terduduk, tangannya tergores pecahan kaca dan berdarah, ia meringis tertahan, matanya menatap ayahnya dengan sengit, Nyonya Ajeng langsung merangkul putrinya
“Lalu kenapa!? Pukul! Pukul saja aku!”
“NALA!!”
Tuan Prabu menahan tangannya di udara, mengusap wajahnya, dan duduk di atas ranjang, ia menghela napas putus asa
“Aku telah berjanji dengan Tuan Fatih untuk menikahkan putriku, tidak mungkin aku mengingkarinya!”
Nala adalah putri tunggal di keluarga Daniar, Tuan Prabu adalah pemilik perusahaan properti ‘Daniar grup’ yang cukup sukses, untuk memperluas bisnisnya Tuan Prabu kerap mendapat bantuan dana dari Tuan Fatih, pemilik Axa grup, yang memilik banyak cabang bisnis dimana-mana
Tuan Prabu berjanji akan menjodohkan putrinya dengan Tuan Fatih, dengan maksud dapat memperluas bisnisnya, laki-laki itu tidaklah tua, usianya baru memasuki kepala tiga, namun wajahnya memang terkesan boros dan penampilannya terkesan kaku dan kuno, selebihnya dia adalah orang kaya yang ramah dan ringan tangan
“Sekarang kita harus bagaimana? Tuan Fatih pasti marah besar! “
Laki-laki kaya itu basah kuyup di siram air, pestanya hancur, di permalukan di depan ratusan tamu penting yang hadir, walaupun Tuan Prabu meminta maaf berulang kali sampai bersujud-sujud, wajah laki-laki itu gelap, terlihat marah sekali
“kau harus minta maaf kepada Tuan Fatih! Pernikahan kalian akan dipercepat!”
Tuan Prabu hendak beranjak keluar kamar, namun jeritan sang istri menghentikannya, Nala memberontak dan hampir melompat ke jendela kamarnya di lantai lima, untung saja Nyonya Ajeng sigap menangkap tangannya, kemudian memeluknya erat-erat
__ADS_1
Keras kepala! Itulah yang dapat digambarkan dari sosok ayah dan anak ini, masing-masing mempertahankan ego, tidak ada yang mengalah
“Lebih baik aku mati saja!” Nala berucap dengan tangan gemetar, ia ketakutan, namun tetap nekat menyuarakan ancamannya, sebelah kakinya sudah di luar jendela
“Nala, kamu ini benar-benar ..” Mata Tuan Prabu berkilat-kilat marah, menyeret paksa Nala menjauh dari jendela
“Sudah cukup!”
Nyonya Ajeng menghentikan upaya paksa Tuan Prabu, mereka bertiga saling tatap, wajah Nala dan Nyonya Ajeng pucat dan penuh air mata. Ibu dan anak itu berpelukan di bawah kaki Tuan Prabu
Mereka terdiam lama dalam posisi masing-masing, tangisan Nala semakin lama semakin menjadi, sengaja, agar kedua orang tuanya luluh. Nyonya Ajeng diam dan berpikir keras mendapatkan solusi atas permasalahan ini
“Kita tidak punya pilihan lain, janji adalah janji..”
“Aku tidak mau!”
“Kamu satu-satunya harapan Ayah!”
“Nak tenanglah” Nyonya Ajeng mengelus rambut Nala penuh kasih, memandang suaminya dingin “Bukankah kau memiliki satu harapan lagi?”
“Apa yang kau..” belum sempat Tuan Prabu menyelesaikan perkataannya, Nyonya Ajeng memotong perkataannya dengan sengit
“Anak haram itu! Kenapa tidak kita gunakan saja?!”
Tuan Prabu tertegun, tidak menyangka sang istri akan mengungkit luka lama rumah tangga mereka, ia jatuh terduduk dengan pandangan kosong, bayangan seorang wanita lugu tengah menggendong bayi terlintas dalam ingatannya, sudah dua puluh tahun berlalu
“Aku tidak peduli! Cari dan temukan gadis itu buat dia menikahi Tuan Fatih!” Ucap Nyonya Ajeng tegas, ia mendapatkan solusi yang menguntungkan atas permasalahan ini, tidak harus mengorbankan putrinya, tapi orang lain
“Ini satu-satunya cara menyelamatkan kita”
Anak haram yang dimaksud adalah anak hasil perselingkuhan Tuan Prabu dengan pembantunya dua puluh tahun silam, pembantu itu bernama Ratna sedangkan anak itu diberi nama Nura, ketika anak itu dilahirkan ke dunia, mereka di asingkan ke tempat yang jauh dan terpencil, setelah itu Tuan Prabu tidak pernah sedikit pun menemui Ratna, bahkan tidak pernah bertanya seperti apa kabar mereka, benar-benar telah dilupakan
“Aku tidak bisa, itu terlalu..”
“Kalau tidak, kami yang akan pergi!”
Bersamaan dengan ancaman itu, Nyonya Ajeng menarik Nala pergi meninggalkan Tuan Prabu yang terpaku menatap lantai.
*
Suasana pesta pertunangan antara Tuan Fatih dan Nala di lantai satu rumah keluarga Daniar berlangsung kacau, para pelayan meminta maaf berkali-kali kepada para tamu undangan atas perbuatan buruk Nona muda mereka, mereka bergerak dengan cepat membersihkan kekacauan tersebut, satu persatu tamu undangan meninggalkan pesta, sesosok laki-laki dengan sebagian rambut beruban itu duduk, rambutnya yang tadi tertata rapi itu basah sampai ke jas hitam yang kini tengah berusaha dikeringkan oleh pelayan, ia menyeka wajahnya dengan sapu tangan, rautnya terlihat tidak senang sama sekali
“Cukup, aku mau pulang!” Ia berucap dingin, para pelayan keluarga Daniar buru-buru menyerahkan jas hitam tersebut
“Kami minta maaf atas perbuatan Nona muda, Tuan”
Para pelayan membungkuk dalam-dalam, seluruh ruangan hening seketika
__ADS_1
Laki-laki itu tak menyahut, berjalan cepat keluar dari rumah, dalam hati mengutuk perbuatan keluarga Daniar itu berkali-kali, ia melangkah menuju mobilnya yang terparkir di ujung halaman, sopirnya telah siap menunggunya
“Bagaimana pestanya paman?”
Pintu mobil terbuka dari dalam, sesosok laki-laki tersenyum lebar ke arahnya, dilehernya terkalung sebuah headset yang terhubung dengan ponsel, memakai baju kaos oblong biru langit dan celana pendek serta sandal, terlihat sangat santai
“Tuan Fatih” laki-laki itu menunduk hormat sebelum masuk mobil, laki-laki yang di dalam mobil buru-buru meletakan tangannya di bibir “Sstt.. jangan keras-keras nanti ada yang dengar!”
“Maafkan saya Tuan!”
Laki-laki dalam mobil itu adalah Tuan Fatih Alfandinata yang sebenarnya, dia masih muda, baru berumur dua puluh enam tahun, selama ini ia selalu bekerja di balik layar, selalu mengandalkan sekretarisnya melakukan pekerjaan di luar kantor, terutama pada saat rapat dan pertemuan-pertemuan penting, sehingga banyak orang menganggap bahwa sekretarisnya adalah dia, pemilik Axa grup
Ia sebenarnya punya alasan mengapa melakukan hal tersebut, ayah dan ibunya meninggal saat ia berumur empat belas tahun, membuat kondisi pemimpin perusahaan dalam keadaan kosong, para saudara ayah dan ibunya saling berebut menempati posisi tersebut, melakukan hal-hal kotor, hanya sekretaris sang ayah yang loyal padanya, menyelamatkannya dari kekacauan keluarga tersebut, membuat dirinya menjadi pewaris sah perusahaan ayahnya, dan untuk sementara perusahaan dipimpin sang sekretaris sampai Tuan mudanya memasuki usia dewasa
Tapi Fatih terlalu nyaman berada di belakang layar, ia selalu berkilah jika sang sekretaris sudah cukup mewakili dirinya, dan acara pertunangan ini sebenarnya adalah hasil dari ide iseng miliknya ketika melihat foto Nala
Sekali lihat saja ia sudah tahu jika wanita dan keluarga itu mata duitan
“Mereka keluarga tidak tahu sopan santun!”
Sekretarisnya, atau biasa di panggil Paman Zoe itu mengeluh, memperbaiki tampilan dirinya dengan kaca, rambutnya yang sebagian beruban itu adalah ulah Fatih, entah apa yang di pikirkan Tuan mudanya itu, membuat dirinya untuk ke sekian kalinya menjadi ‘Tuan Fatih’ di mata umum, bertunangan dengan putri kolega bisnisnya hanya untuk mengetahui reaksi gadis itu
“Sudah kuduga dia akan terkejut dengan penampilan tua paman!” Fatih berseru riang, seolah hal yang baru saja terjadi tadi adalah hal kecil, tertawa dengan sangat kekanakan “Tapi aku tidak menyangka dia seberani itu menolak paman”
“Dia telah mempermalukan Tuan!”
“Akh.. secara teknis dia mempermalukan paman!”
“Tapi saya disana sebagai Tuan Fatih!”
Perdebatan konyol mereka adalah hal yang biasa, Paman Zoe hafal betul sifat dan kelakuan Fatih, Tuannya ini senang bermain-main, iseng dan jahil, belum dewasa sama sekali, tapi ia entah kenapa selalu saja meladeni keinginan Fatih
“Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan setelah ini”
“Mereka pasti tidak akan berani menampilkan muka untuk beberapa saat” Paman Zoe melirik Fatih yang sedang sibuk dengan ponsel, ia sedang bermain game
“Tidak sopan sama sekali bermain ponsel ketika orang tua sedang berbicara!” Fatih dicubit pinggangnya oleh Paman Zoe gemas, membuat laki-laki itu bergerak menghindar
“Ah...Paman! Paman adalah orang tua haahahaha” Fatih tertawa seorang diri, Paman Zoe hanya mengelus dada atas kelakuan Fatih, meski Tuannya itu terkesan mengolok-olok dirinya, tapi Fatih adalah sosok patuh, buktinya sekarang ia telah menyingkirkan ponselnya
“Tuan tidak bisa berlama-lama di belakang layar, Anda harus segera mengumumkan diri sebagai pemimpin Axa Grup”
Ini adalah yang ke sekian kalinya Paman Zoe berkata seperti itu, Fatih hanya diam mendengarkan, raut wajahnya menjadi serius, akhir-akhir ini perusahaan dalam kondisi stabil, namun saudara ibu dan ayahnya berulang kali mulai mencampuri urusan bisnisnya, menunggu kesempatan seperti serigala yang mengintai mangsa
“Aku tahu, akan kupikirkan baik-baik”
Paman Zoe hanya mengangguk, di tengah mobil yang melaju di jalanan yang sunyi, mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing
__ADS_1
*