
Nura tengah menjahit sweternya yang koyak karena di tarik Nala ketika bertemu, gadis itu benar-benar mempunyai tabiat buruk
Nala dan Nyonya Ajeng benar-benar berniat membuatnya menderita, ia dilarang memasuki dapur, sehingga tidak dapat mencuri beberapa roti lapis untuk mengganjal perutnya, Yiyi tidak dapat banyak membantu, ia dijejali banyak pekerjaan oleh Nyonya Ajeng
Ia belum makan dari kemarin, ngomong-ngomong
Keluarga Daniar sepertinya sangat suka mengurangi jatah makan seseorang
Ponsel pemberian Fatih berdering, dengan gugup Nura mengangkatnya
“Alfandinata, ada apa?” Sapaan kaku Nura dibalas tawa oleh Fatih
“Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kamu lakukan” Ucapnya tanpa basa basi, Nura melirik tumpukan jarum dan benang di wadah yang ia bawa dari tempat pengasingan
“Aku sedang memperbaiki sweterku”
“Oh? Ada apa dengan swetermu?”
“Lengannya koyak, Nala menariknya ketika kami bertemu di taman” Jawab Nura jujur, kemarin Nura berniat berjalan-jalan di taman keluarga Daniar menikmati sejuknya udara pagi, tanpa sengaja ia bertemu Nala yang sedang joging di sana, tanpa di duga-duga gadis itu menarik sweternya dari belakang hingga robek
Nala bahkan tertawa setelah itu
“Dia selalu seperti itu?”
“Ya, dia lebih tua dariku lima tahun, tapi yang kulihat dia tidak lebih dari gadis lima belas tahun”
Fatih di seberang telepon tertawa, Nura membayangkan jika Fatih tertawa di hadapannya
“Abaikan saja dia, swetermu tidak usah diperbaiki, aku akan membelikan yang baru nanti”
Fatih duduk di belakang layar komputernya telah membuka salah satu toko pakaian online
“Warna apa yang kamu suka?”
Nura tidak lagi merasa canggung ketika Fatih menanyakan apa yang ia butuhkah, dia masih menganggap jika Fatih adalah Alfandinata, sang keponakan Tuan Fatih
Toh, itu semua itu memang akan menjadi miliknya ketika dia sudah menikah dengan Tuan Fatih
“Jingga, aku suka warna jingga”
Nura suka melihat matahari terbenam, warna jingga akan muncul di langit, mengganti siang dengan malam, sebuah senja
Fatih diam sesaat, memilihkan sweter berwarna jingga cantik
Nura memegang perutnya yang berbunyi, ia kelaparan lagi
“Aku.. belum makan” Adu Nura pelan, mendengarnya Fatih langsung muram
“Kapan terakhir kali kamu makan?”
“Kemarin, sebelum bertemu dengan Nala di taman”
__ADS_1
Nura mendengar suara benda kaca pecah, ia menjadi sedikit khawatir
Sedangkan di seberang telepon, wajah Fatih benar-benar gelap, cangkir kopinya ia lempar ke dinding
“Ada apa?”
“Aku akan mengirimkan makanan untukmu malam ini, apa yang kamu inginkan?”
Nura tahu Fatih adalah orang baik
“Aku ingin nasi, nasi yang banyak”
Nura hanya ingin nasi putih dengan asap yang mengepul
Fatih tertawa lagi
“Apa kamu punya seorang pelayan yang dapat dipercaya?”
Fatih ingin mengantar langsung makanan dan sweter itu tetapi ia tidak mungkin bertemu Keluarga Daniar, selain mereka tidak mengenal sosok Fatih, ia juga tidak ingin menimbulkan masalah bagi Paman Zoe, jadi satu-satunya cara adalah mengirim barang itu kepada pelayan keluarga Daniar yang bisa dipercaya untuk Nura
“Ada, Yiyi, tapi dia hanya bebas saat malam”
“Itu bagus, malam nanti suruh dia pergi diam-diam ke taman kompleks Latusa”
“Oke, akan segera kuberitahu ketika dia kemari”
Bertahanlah sebentar
“Karena aku anak haram?” Nura menyahut cepat, tanpa berpikir, Fatih terbatuk mendengarnya
“Kamu selalu mengatakan hal itu, apa hatimu tidak sakit?”
Nura tertegun, menyentuh dadanya, ia tidak merasakan rasa sakit itu disana
“Tidak”
“Mereka memperlakukan kamu seenaknya, hidupmu pasti berat”
Fatih melengkungkan bibirnya sambil menatap laporan yang dibacakan Malik sebelumnya, disana tertulis data lengkap apa dan dimana Nura hidup, semuanya tidak terlihat baik-baik saja
“Aku tidak merasakannya”
“Apa?”
“Rasa sakit itu, aku tidak tahu”
Nura benar-benar tidak merasakan emosinya, saat keluarga Daniar mengata-ngatai dirinya sebagai anak haram
Ia hanya diam saja, seolah kata-kata itu bukan ditujukan untuknya
Mereka terdiam cukup lama, Nura melirik langit yang telah berubah menjadi senja, berjalan keluar gudang menatap langit
__ADS_1
“Tidak apa-apa” Fatih berucap kemudian “Kamu akan baik-baik saja, bertahanlah sebentar untukku”
Nura tidak mengerti mengapa Fatih menyuruhnya bertahan untuknya, tapi dia mengiyakan saja
Yiyi datang sambil membawa tumpukan selimut, pelayan itu sudah memaksa Nura bercerita di malam setelah Nura bertemu dengan Fatih, jadi secara keseluruhan, Yiyi mengetahui semuanya
“Bagaimana kalau kita bertemu?”
Nura mengajukan usul atas suruhan Yiyi tanpa suara
“Oh! Ya! Tentu, apa kamu bisa menemuiku di taman?” Fatih menyahut dengan gugup, ada sedikit rasa antusias yang ditahan-tahan
“Bisa. Aku bisa”
“Bagus, satu jam lagi aku akan pergi” Nura menganggukkan kepalanya walau Fatih tidak dapat melihat, lalu menutup panggilan itu
Yiyi duduk di dekatnya dengan mata berbinar
"Ayo kita bersiap” ujarnya antusias
Nura tidak tahu apa yang harus dipersiapkan selain mandi, ia tidak memiliki ide apa pun, keluarga Daniar tidak mengizinkan Nura memakai pakaian yang ada di kamar terdahulu, kecuali di waktu tertentu
Ia hanya memakai pakaian lamanya, ditambah sweter yang baru ia perbaiki
Yiyi menyisir rambutnya, pelayan itu sangat setia, tidak mengeluh dan meninggalkan Nura sama sekali
Satu jam berikutnya mereka telah menyelinap dari halaman belakang ke taman kompleks Latusa, Nura duduk di bangku bawah pohon, sedangkan Yiyi berdiri tak jauh darinya dan masih dengan seragam pelayan
Tak sampai sepuluh menit mereka menunggu, sebuah mobil mewah berwarna hitam menepi, sosok laki-laki tinggi keluar dari pintu depan dan dengan cepat membukakan pintu belakang
Yiyi bersorak, ketika melihat Fatih membawa dua kantung makanan di tangannya
“Sudah lama?” Fatih menyapa dengan senyum lebar, Nura menggeleng
Fatih duduk di samping Nura, pertama-tama ia memasangkan sweter jingga yang baru dibelinya kepada gadis itu
“Bagus” Katanya singkat, Yiyi hampir berteriak girang, namun Malik segera menyeret Yiyi pergi dari hadapan Nura dan Fatih
“Terima kasih” Ucap Nura tulus, memandangi sweter jingga itu
Aku suka
Fatih membuka kotak makanan yang dipesannya, ada lima menu yang berbeda dan dari restoran yang berbeda
“Aku tidak tahu apa yang kamu suka, jadi aku beli yang ada nasinya”
“Aku makan apa pun” Kata Nura tanpa malu, Fatih tertawa kecil, menyerahkan sendok pada gadis itu, dan mengambil sendok untuk dirinya sendiri, ia sengaja belum makan malam
Gadis itu makan dengan lahap, diikuti Fatih di sampingnya, mereka makan di bawah pohon tanpa suara
Yiyi duduk di dalam mobil bersama Malik melihat interaksi mereka berdua dari kejauhan
__ADS_1
"Tuan Fatih akan memperlakukan Nura sebaik itu kan?" gumam Yiyi pelan, ada gurat kesedihan di wajahnya, Malik hanya berdehem tak mengatakan apa-apa