
Mereka benar-benar pergi malam itu juga dari kediaman Daniar, Nura merasa beban berat di hatinya telah terangkat, ia merasa lega, ketika mereka sampai di rumah Fatih waktu sudah menunjukkan dini hari.
Fatih masih dengan setelan jas mahalnya, beberapa kali ia terlihat menguap berjalan di samping Nura.
“Aku tidak tahu kalau menikah akan selelah ini,” ucap Fatih, melepas sepatunya, ia berjalan gontai. Mereka masuk ke kamar Fatih, untungnya Paula sudah membersihkan kamarnya kemarin sore.
“Aku mau mandi,” ucap Nura, Fatih menyerahkan handuk baru dari lemari padanya.
“Kamar mandinya disana,” katanya, wajahnya benar-benar lesu.
Nura segera mandi, ia tidak ingin Fatih terlalu lama menunggu, dengan cepat ia membilas tubuhnya, ketika keluar, ia melihat Fatih sudah mandi dan berganti pakaian, laki-laki itu meringkuk di atas ranjang.
Fatih tertidur.
Nura mengeringkan rambutnya, melirik jam dinding, pukul empat pagi, wajarlah Fatih sangat lelah. Nura mengelus wajah suaminya, Fatih bergerak, membuka sebelah matanya.
“Tidurlah, dua jam lagi pagi,” katanya sambil menarik Nura ke pelukannya.
Nura juga merasa lelah, dia tidak biasa dipeluk orang lain kecuali ibunya, tetapi pelukan Fatih sangat hangat, tak butuh waktu lama Nura jatuh tertidur.
***
Cahaya matahari menembus celah-celah tirai jendela, Nura mengerjap, merasakan hembusan napas Fatih di lehernya, laki-laki itu memeluknya erat seperti guling.
Nura melirik jam dinding, merasa kaget saat menyadari sudah pukul sembilan pagi, ini adalah rekor bangun paling siang selama ia hidup, ia merasa tidurnya adalah tidur yang paling nyenyak.
Dengan hati-hati ia menyingkirkan tangan Fatih dari tubuhnya, laki-laki itu tidak terganggu, tetap tidur dengan nyenyak.
Nura merasa perutnya kelaparan, ia bergegas mandi dan berpakaian, lalu melangkahkan kakinya ke dapur. Tidak ada siapa pun disana, rumah besar Fatih terlihat sepi dan sunyi, bahkan Malik yang mengantar mereka pulang dini hari tadi tidak menampakkan batang hidungnya.
“Apa yang Fatih suka?” Nura bertanya pada dirinya sendiri, ia selalu melihat Fatih makan disampingnya, tetapi ia tidak melihat Fatih suka atau tidak suka pada makanan tertentu, laki-laki itu makan apa saja.
Nura menyimpulkan Fatih akan makan apa saja, ia bergerak membuka kulkas, mengambil beberapa butir telur dan tomat.
Nura tidak pandai memasak, ia tidak pernah punya waktu dan hanya makan ala kadarnya, di rumah Daniar, ia kadang-kadang membantu Yiyi memasak.
Ia memasak nasi goreng telur berdasarkan resep ingatannya, ketika sudah matang, Fatih turun dari kamar sambil menguap lebar.
“Apa yang kau masak? Aku lapar,” ucap Fatih sambil duduk di meja makan, menopang dagunya. Matanya masih sayu, terlihat sekali ketika bangun dari tidurnya, Fatih langsung turun ke dapur.
__ADS_1
“Aku memasak nasi goreng telur,” sahut Nura, tangannya bergerak menyerahkan sepiring nasi goreng di hadapan Fatih, beserta sendok dan garpu.
“Wah, ini makanan pertama kita!” Fatih, seperti biasa selalu antusias dalam hal kecil, senyumnya pagi ini sangat lebar.
“Kau mengingatnya?” Nura bertanya, sedikit kaget ternyata Fatih mengingat pertemuan pertama mereka.
“Aku selalu ingat tentang kamu,” ucap Fatih lagi, mereka duduk berhadapan di meja makan.
Fatih memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya, ia mengunyahnya dan terdiam cukup lama.
“Apa tidak enak?” Nura bertanya, ini adalah masakan perdananya untuk Fatih.
“Ini enak,” sahut Fatih sambil menyeruput tehnya.
“Hanya saja terlalu hambar, kau tidak menambahkan garam?”
Nura menyendok nasi goreng di hadapannya dan mengunyahnya pelan, merasakannya dengan hati-hati.
“Aku tambahkan, mungkin terlalu sedikit.”
“Jangan sedih, aku tetap memakannya, kok.”
Memandangi pantulan wajahnya di kaca jendela, tetap datar seperti biasa.
Fatih menyadari diamnya Nura, ia tertawa pelan.
“Jangan dipikirkan, apa kau tidak mau memakannya? Berikan saja padaku aku masih lapar.” Fatih mengulurkan tangannya, hendak mengambil piring Nura, namun gadis itu malah bergeser dan menyerahkan kerupuk ke tangannya.
Ini makanannya, bagaimana mungkin diambil? Dia bahkan baru makan satu sendok, Fatih sudah makan satu piring.
Fatih tertawa, ia tidak benar-benar berniat mengambil piring itu, hanya menggoda istrinya saja.
“Ke mana semua orang?” Nura bertanya ketika sudah menghabiskan nasinya, Fatih mengambil piring Nura dan piringnya, membawanya ke wastafel untuk dicuci.
“Mereka aku suruh libur satu hari,” sahut Fatih, Nura memperhatikan bagaimana cekatannya Fatih mencuci piring.
“Kenapa?”
“Aku ingin berdua denganmu, apa lagi?”
__ADS_1
Nura tidak menjawab, matanya sibuk menjelajah isi rumah Fatih.
“Ayo ikut aku,” ucap Fatih, membawa Nura ke teras belakang, hangatnya udara pagi langsung dirasakan Nura.
Mereka berjalan, di halaman belakang ada sebuah kolam kecil, Nura pikir itu adalah kolam ikan, tapi ia salah, itu kolam kura-kura.
“Mereka adalah peliharaanku,” kata Fatih memamerkan kura-kura seukuran telapak tangannya, di dalam kolam masih terdapat tiga ekor kura-kura yang serupa, bergerak-gerak di pinggiran daun teratai.
Nura ikut duduk di samping Fatih, menjulurkan tangannya menyentuh kepalanya, kura-kura itu tersentak dan memasukkan kepalanya ke tempurungnya.
Fatih tertawa, “Dia memang pemalu.”
“Apa kau memberinya nama?”
“Tidak,” sahut Fatih sambil meletakan kura-kura kembali ke dalam air.
“Aku memberi mereka nomor.” Fatih menunjuk kura-kura yang ukurannya paling kecil, “ini nomor satu, yang ini nomor dua, nomor tiga dan yang kau sentuh tadi nomor empat, mereka kuberi nomor sesuai urutan jalan mereka.”
Nura mengulurkan tangannya ke dalam air, kura-kura yang paling kecil mendekat dan menyentuhnya.
“Si nomor satu menyukaimu.”
Nura merasa Fatih seperti anak kecil yang sedang memamerkan mainannya, mulutnya tidak berhenti berceloteh tentang kura-kura peliharaannya, dari pakan, asal usul kura-kura sampai rencananya membuat kolam lebih besar yang ditentang Paman Zoe.
Nura hanya menyahut beberapa kata, Fatih akan membalasnya seratus kata, Nura tersenyum, tinggal bersama Fatih tidaklah buruk, ia tidak akan merasakan kesepian.
“Oh, kau tersenyum! Apa kau sangat suka si nomor satu?”
Tidak, Fatih. Aku suka kau.
Fatih kembali bercerita bagaimana ia menemukan si nomor satu waktu kecil, sesekali ia terkekeh mengingat masa lalu.
“Akhirnya aku membawanya pulang.” Fatih mengakhiri ceritanya begitu merasakan Nura tidak meresponsnya.
“Nura ada ap ....” perkataan Fatih terpotong ketika bibir Nura menyentuh pipinya, Nura bangkir berdiri dan meninggalkan Fatih dengan cepat.
Fatih terpana, menyentuh pipinya lalu tersenyum.
“Aku tidak tahu kalau istriku sangat pemalu.” Ia menyusul Nura dan memeluknya dari samping, menghirup aroma sampo gadisnya dalam-dalam. Tubuh Nura yang mungil sangat pas dipeluk olehnya, gadis itu tidak menolak, ia justru balas memeluk Fatih erat.
__ADS_1