CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
32


__ADS_3

Fatih merebahkan dirinya ke kasurnya yang empuk, seharian ini ia dan Nura telah menghabiskan energinya bersama anak-anak, ia meregangkan tubuhnya, melirik kearah kamar mandi, istrinya sedang mandi di dalam, ia memanyunkan bibirnya, tadi ia bersikeras ingin ikut masuk, namun di dorong tanpa ampun oleh Nura.


Ia mengambil ponsel Nura, membuka galeri, melihat foto yang diabadikan oleh istrinya hari ini, membekap mulutnya sendiri, malu, tidak menyangka jika galeri foto istrinya penuh dengan fotonya sendiri.


Istrinya sangat mencintai dirinya kan?


Fatih tidak bisa untuk tidak senyum-senyum sendiri, ketika pintu terbuka buru-buru ia melemparkan ponsel Nura ke sisi lain kasurnya, berpura-pura tidak melakukan apa-apa.


Nura melirik Fatih, ia memakai jubah mandi berwarna merah pucat, rambutnya terbungkus handuk, wajahnya merona ketika ditatap langsung oleh Fatih, ia berdehem, lalu duduk di depan meja rias, berniat mengeringkan rambutnya.


“Biar aku,” ucap Fatih tiba-tiba, ia berdiri di belakang Nura dengan senyum lebar, dengan hati-hati ia melepas handuk yang membungkus rambut Nura, mengeringkannya.


Nura diam, memejamkan matanya, ia menikmati segala perlakuan lembut yang Fatih lakukan untuknya, rasanya hangat dan nyaman, ia tersenyum.


“Nura apa ini?”


Fatih menyentuh punggung Nura yang sengaja dibuka oleh Fatih, ada sebuah goresan luka di sana, tidak panjang, tapi terlihat cukup dalam dan meninggalkan bekas, ia sebenarnya sudah melihatnya berapa kali, tapi urung menanyakannya, sekarang ia benar-benar penasaran.


Nura menoleh, tangan Fatih berada di atas bekas luka itu, ia menghela napas panjang.


“Aku terluka, dulu.”


Fatih tentu saja tidak bisa menerima jawaban sesingkat itu, ia perlu jawaban sejelas-jelasnya, tangan Nura ditarik, membawanya duduk ke atas kasur.


“Terluka … karena apa?”


Nura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, raut wajahnya terlihat tidak nyaman, Fatih tahu itu, tapi untuk sepasang suami istri, tidak boleh ada rahasia bukan?

__ADS_1


“Apa kau tidak nyaman menceritakannya?”


Nura menatap wajah Fatih yang cemas, ia tersenyum kecil, mengusap lengan Fatih. “Tidak, aku hanya selalu ingin melupakannya.”


Nura bangkit dan mengambil piama di lemari, mengganti pakaiannya di depan Fatih tanpa malu, sedangkan sang suami hanya melongo saja.


“Aku tinggal di pengasingan.” Nura memasang lengan piamanya bergantian, mengancingkan bajunya satu satu. “Suatu hari, bibiku sangat perlu uang untuk bayar hutang.”


Fatih bersandar di kepala ranjang, bersedekap, alisnya bertaut, diam-diam ia merutuki Nura, mengapa istrinya harus bercerita sambil berpakaian? Ia bisa salah fokus.


“Aku dijual satu malam kepada kepala buruh,” lanjut Nura lagi, Fatih langsung menegakkan tubuhnya, kaget.


“Aku melawan, mengambil gunting besar yang biasanya untuk memotong kain, menyerangnya … tapi ia juga menyerangku, jadi hasilnya seperti itu.”


“Apa … apa yang terjadi setelah itu? Apa dia menyentuhmu?” Fatih mendekat, raut wajahnya panik, seolah yang terjadi itu adalah peristiwa semalam, ia memutar tubuh Nura, menatapnya dari depan ke belakang, memastikan istrinya baik-baik saja.


“Tidak apa-apa, sekarang aku baik-baik saja,” kata Nura dengan suara tenang, raut wajahnya tidak terlihat pernah merasakan hal itu sama sekali, ia bercerita seolah hal itu bukan terjadi pada dirinya sendiri, melainkan orang lain.


Fatih menatapnya dengan lekat, lalu menghela napas lega, Nura menyelesaikan berpakaiannya, ia duduk di samping Fatih, memeluknya.


“Jangan khawatir, sejak hari itu aku tidak bertemu lagi dengannya.”


Fatih balas memeluk Nura erat, membawa kepala istrinya itu bersandar di bahunya, mengusap pelan rambut halus Nura, mencoba memberikan ketenangan. Walaupun Nura berkata seperti itu, ia tetap memiliki rasa cemas di dasar hatinya, Nura memang mulai berani menceritakan apa masalahnya, tapi tetap saja ia khawatir, ini baru sedikit yang ia ketahui, mungkin ada rahasia lain yang Nura rahasiakan dibelakangnya yang istirnya anggap enteng, tetapi bagaimana kalau itu membuat luka yang dalam dilubuk hati istrinya tanpa disadarinya, membuat mentalnya terganggu, Fatih benar-benar cemas.


“Apa yang dia lakukan padamu?” Fatih bertanya dengan mendesak.


“Aku berhasil kabur dengan cepat, dia tidak sempat melakukan apa-apa.”

__ADS_1


Fatih menghela napas lega, mengelus dadanya, hampir saja ia jantungan mendengar cerita Nura, raut wajahnya masih muram.


“Mandilah,” ucap Nura sambil mendorong Fatih, laki-laki itu mendengus, dengan malas ia mengambil handuk yang tersampir di samping lemari, masuk ke kamar mandi dan menutupnya pelan. Diam-diam ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, mendial nomor Malik.


“Aku punya tugas,” ucap Fatih sambil memutar keran air sedikit demi sedikit, takut Nura mendengarnya.


“Cari Bibi Nura di pengasingan, dapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang apa yang ia lakukan. Setelah itu laporkan padaku,” lanjut Fatih lagi, “Oh, jangan lupa dengan kepala buruh pabrik, cari dia juga.”


Setelah mendengar jawaban Malik, Fatih menutup teleponnya dan tersenyum puas, ia sudah bertekad, sejak ia membawa Nura kepelukannya, siapa pun yang berani menyakiti Nura, baik di masa lalu dan sekarang harus berhadapan dengan dirinya dulu.


“Fatih, jangan mandi lama-lama!” Nura bersuara dari luar, Fatih langsung menutup keran, akhir-akhir ini Nura selalu menegurnya di kamar mandi, katanya ia terlalu lama di dalam sana, buang-buang air.


“Ya, sayang … bilang aja kamu kangen aku!” Fatih mencibir, ia harus sering-sering menggoda istrinya, biar Nura lebih banyak tertawa dan lebih hidup.


Ngomong-ngomong soal hidup, bagaimana kalau ia mengusulkan Nura merawat binatang peliharaan, mungkin kucing? Atau ikan? Atau mengajaknya berkebun bunga di halaman? Berolahraga atau bersepeda misalnya, sepertinya itu semua menarik, gambaran-gambaran kegiatan itu muncul di kepalanya bergantian, laki-laki itu tersenyum, Fatih tidak sabar melakukan kegiatan-kegiatan yang ada dalam khayalannya itu bersama Nura, ia cepat-cepat mandi.


Nura menatap pintu kamar mandi yang tertutup, bunyi air terdengar dari dalam, ua menghela napas dan menyentuh bekas luka dipunggungnya, tangannya bergetar, matanya memerah, ingatan di malam kelam itu tiba-tiba memenuhi kepalanya, ia masih ingat betul berapa banyak makian dan pukulan yang didapatnya, bibirnya gemetar.


Ia ketakutan.


Seperti kilasan film, kejadian malam itu diputar dibenaknya, membuat tubuhnya gemetar hebat.


“Tidak apa-apa,” kata Fatih tiba-tiba memeluk Nura dari belakang, ia memegang tangan Nura, tetesan air dari rambut Fatih jatuh mengenai kepala Nura, laki-laki itu masih mengenakan handuk, memeluk Nura dengan erat.


Nura kaget, ia tidak tahu sejak kapan laki-laki itu keluar dari kamar mandi, terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, ia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.


“Tidak apa-apa, aku bersamamu sekarang,” kata Fatih lagi dengan suara rendah, ia mengecup kepala Nura, kekhawatirannya benar terjadi, Nura pasti trauma dengan apa yang pernah terjadi di masa lalunya.

__ADS_1


Nura melirik Fatih, mereka berdua bertatapan, lalu tersenyum. “Aku akan selalu bersama denganmu.”


__ADS_2