CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
35


__ADS_3

“Dia baik-baik saja,” ucap seorang Dokter dengan name tag ‘Darsa’ di baju khas dokternya itu, laki-laki itu tersenyum ramah, memamerkan giginya yang rapi, ia duduk kembali ke mejanya dan menuliskan beberapa resep obat untuk wanita yang bangkit dari ranjang pesakitan dibantu dengan seorang perawat perempuan.


Ruangan itu cukup luas, berbau khas obat-obatan, ada sebuah ranjang pasien di ujung lengkap dengan tiang infus dan meja kerja diarah yang berlawanan, sebuah lemari kaca berisi peralatan medis dan obat terpajang rapi, meja berisi beberapa berkas rekam medis ditata sedemikian rupa, di pinggir jendela berjejer pot kecil berisi kaktus.


“Benarkah? Syukurlah, aku sangat khawatir tadi.” Wanita yang lebih tua menghela napas lega, ia mengambil tasnya dan duduk di hadapan Darsa, wanita yang baru bangkit tadi dengan senyum malu-malu mendekat dan duduk di samping ibunya.


“Yah, saya pikir putri anda memiliki perut yang kuat,” lanjut Darsa lagi sambil tertawa kecil, tangannya dengan cepat menyerahkan resep obat dengan tulisan cacing andalannya itu, Nala menyambut kertas itu dengan cengiran lebar.


“Jika ada keluhan, anda bisa datang lagi.”


“Terima kasih dokter,” ucap Nala dengan manis, ia meyisipkan rambutnya ke belakang telinganya, bersikap seolah gadis SMA yang pemalu, Nyonya Ajeng disampingnya hanya terkekeh, tersenyum dibalik kipas bulunya.


Ibu dan anak itu keluar dari ruangan Darsa dengan perasaan lega, mereka tadi benar-benar panik dan tidak sempat berpikir apa-apa, langsung saja ke rumah sakit untuk memeriksa, untungnya kekhawatiran mereka tidak terjadi.


laki-laki itu mendesah lega, rasanya beban yang bertumpuk diatas kepalanya menjadi menghilang seketika, perawat yang tadi membantunya keluar tanpa suara meninggalkan ia yang bersandar di kursinya.


Ia melirik beberapa lembar kertas yang di tindih tangannya, melihat setiap huruf yang tertulis di sana, terlihat jelas, Nala Daniar.


Daniar.


“Jadi wanita ini.” Darsa menopang dagunya dan menatap kertas yang dipegangnya, ia mendengus. “Saudara tiri Nura.”


Darsa menyeringai, seperti mendapat mangsa baru. Ia dengan hati-hati melipat kertas itu dan memasukkannya ke laci di mejanya, memutar balpoin di jari-jemarinya.


Waktu pernikahan Fatih ia tidak memperhatikan wanita ini, tapi setelah dilihat-lihat ia merasa jengkel tanpa alasan ketika melihat wajahnya, entahlah dia tidak tahu.


“Enaknya ngapain ya?” Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di laci, melirik jam dinding dan meregangkan tubuhnya, ternyata sebentar lagi jam makan siang, ia melihat foto seorang gadis di ponselnya, tersenyum sendu.

__ADS_1


“Apa aku temui kamu saja, ya?”


***


“Sial, ibu! Apa kita dikerjai Nura?!” Nala masuk ke mobil dan membanting pintunya dengan keras, ia menghembuskan napas kasar, menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengambil sekaleng cola yang dibelinya dari kantin rumah sakit.


Nyonya Ajeng menyusul duduk di kursi kemudi, ia mendengus mendengar gerutuan putrinya, mana dia tahu jika Nura berani mengerjai mereka? Semenjak menikah dengan Fatih gadis itu benar-benar berani.


Seharusnya ia memberi banyak-banyak pelajaran ketika Nura masih dirumahnya, ia menyesal sekarang. Gadis bodoh itu berani sekali memandangnya dengan rendah.


Benar-benar kacang lupa kulit!


“Dia anak tidak tahu diuntung!” Nyonya Ajeng menimpali di tengah gerutuan putrinya, mobil melaju dengan pelan, Nala di sebelahnya meminum colanya dengan penuh emosi, kedua tangannya mengepal karena marah, semakin hari kebenciannya semakin bertambah kepada Nura, menumpuk dan menggunung di dalam hatinya.


“Aku kesal sekali!” Jeritnya frustasi, ia belum sempat mengerjai Nura malah ia sendiri yang dikerjai.


“Kita harus membalasnya dilain waktu!”


Nala menyahut dengan mata berapi-api.


Nala sangat mendendam.


Drtt … Drtt …


“Ponselmu berbunyi,” ucap Nyonya Ajeng melirik Nala.


“Ah, aku malas mengangkatnya!”

__ADS_1


“Lihat, siapa tahu penting!”


Ponsel Nala yang berada di tasnya berbunyi lagi, Nala mengambil ponselnya dengan malas dan menatapnya lama sampai panggilan itu berakhir, ia membuka ponselnya dan melihat panggilan tidak terjawab dari mantan kekasihnya, Angga. Wanita itu berdecak dengan kesal, mau apa lagi kekasih sialannya ini?


“Siapa?”


“Mantan,” sahut Nala dengan ketus, moodnya langsung memburuk begitu teringat Angga.


Angga adalah laki-laki rendahan yang seharusnya ia singkirkan sejak lama, gara-gara laki-laki ini ia kehilangan tambang emas yang berharga. Setelah acara pernikahan Nura beberapa waktu yang lalu, Nala memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Angga.


Laki-laki itu mata duitan, sial sekali ia menyadari terlambat, otaknya terlalu buta an cinta, laki-laki itu bertahan bersama Nala hanya untuk meraup puing-puing rezeki darinya, hubungan mereka tidak pernah berlandaskan cinta sama sekali, hanya Nala yang begitu naif mengatas namakan segalanya dengan nama cinta.


Karena bagi Angga cinta itu tidak ada, cinta itu omong kosong.


Dan Nala pelan tapi pasti mulai memahami maksud dari hubungan mereka selama ini, hatinya beku oleh cinta, ia menutup hatinya rapat-rapat, ia belajar dari pengalaman, menjadi orang yang pandai bertingkah palsu di hadapan orang lain, dalam kepalanya hanya terpikir bagaimana obsesinya mendapatkan Fatih dan menghancurkan saudara tirinya.


Nala sangat terobsesi dengan Fatih.


Ia sadar dirinya lemah, tidak sebanding dengan kekuasaan Fatih, menghancurkan secara langsung tidak akan berhasil. Nala harus pandai mengatur strategi.


“Bu, aku punya ide,” ucap Nala dengan senyum sumringah, tiba-tiba sebersit ide cemerlang muncul diotaknya itu, Nyonya Ajeng melirik putrinya dengan kening berkerut, Nala memamerkan foto Angga di layar ponselnya, laki-laki tinggi dengan wajah rupawan mengenakan baju branded dan kacamata hitam. “Aku punya mantan yang tidak terpakai, bagaimana kalau kita umpankan saja dia ke saudaraku itu? Pasti seru.”


Nyonya Ajeng yang menyetir melirik sekilas dan tertegun, mulutnya terbuka, Nala di sebelahnya menyeringai lebar dengan mata berbinar cerah.


Sejak kapan putrinya menjadi selicik ini? Benar-benar tidak terduga.


Tanpa dijelaskan lebih lanjut pun ia tahu maksud dari perkataan putrinya, sejak dulu ia tidak pernah menyetujui hubungan Nala dengan Angga, ia tahu latar belakang laki-laki itu, semuanya palsu, ia hidup menempel seperti lintah pada orang lain, bersikap seolah ia memiliki segalanya padahal laki-laki itu hanyalah lelaki bayaran, mendengar jika sang putri telah putus ia tentu saja senang, tapi ia tidak pernah berpikir jika putrinya memiliki ide segila ini.

__ADS_1


Membuat Angga menghancurkan rumah tangga Nura dan Fatih, itu bukan urusan sulit bagi Angga, laki-laki itu lihai melakukan hal semacam ini, ide yang sangat bagus, mereka tidka perlu mengotori tangan mereka, cukup menonton dan menunggu hasilnya.


Tanpa kata dua wanita itu tersenyum dan saling pandang penuh arti.


__ADS_2