
Entah karena kebetulan atau disengaja, Nura kembali bertemu dengan Angga.
Nura membawa kucing yang ia adopsi ke dokter hewan, berniat memeriksa kaki kucing itu, ia melihat Angga tengah tersenyum dengan menawan sambil menenteng seekor kelinci putih yang kakinya terbalut perban tebal.
“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi,” sapa Angga, ia membungkuk dan memperhatikan kucing yang ada dalam gendongan Nura, ia tertawa kecil.
“Kau terlihat lebih cantik,” lanjut Angga lagi, ia melambaikan tangannya menyuruh Nura duduk di dekatnya.
Nura diam, ia duduk dengan tenang di samping Angga, laki-laki itu terus berbicara, Nura tidak meresponnya sedikitpun, ia justru sibuk membelai si putih di pangkuannya.
Angga merasakan mulutnya yang berbusa karena mengoceh tapi tidak mendapat tanggapan, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Gadis di sampingnya ini benar-benar mengabaikannya. Angga diam-diam merutuk dalam hati, ia merasa kesal sekaligus marah, seumur-umur ia tidak pernah merasa diabaikan.
Ia adalah playboy nomor satu.
Nura bergerak mendengar nomor antriannya di panggil, ia tidak melirik Angga sedikitpun, ia tetap memasang wajah datar dan bersikap acuh. Kakinya melangkah masuk ke ruangan Dokter hewan, ia menghabiskan beberapa menit untuk berkonsultasi dengan dokter, hingga akhirnya ia lega kondisi si putih membaik, ia keluar sambil menggenggam beberapa resep obat di kantung plastik.
Begitu Nura keluar, wajah Angga menyapanya dengan senyuman lebar. “Apa kau sudah selesai? Kebetulan aku ingin makan siang di sekitar sini, mau ikut?”
Nura tertegun, orang di depannya ini benar-benar muka tebal, seandainya yang mengajaknya itu Fatih, maka ia tidak akan berpikir dua kali untuk pergi, tapi laki-laki di depannya ini sangat menyebalkan, tampaknya pengabaian Nura tidak memiliki dampak padanya, buktinya laki-laki itu masih bisa memasang senyum lebar tanpa dosa.
“Aku tidak bisa,” sahut Nura singkat, Angga mendengus, ia menggamit tangan Nura dan menyeretnya.
“Ayolah, makanan di sini sangat enak dan murah, sayang sekali jika aku makan seorang diri.” Angga terus mengoceh, Nura mulai merasa risih, ia menarik tangannya dan menatap Angga tajam.
“Jangan seenaknya.”
__ADS_1
Angga menoleh, ia tertawa, mukanya benar-benar tebal seperti badak. “Hei, aku Cuma mengajakmu makan.”
Nura mendengus, ia memasukkan kucingnya ke wadah yang ia bawa, ia mengambil ponselnya dan berniat minta jemput oleh Fatih. Angga berdecak, mereka saat ini ada di koridor rumah sakit hewan, suasananya terbilang cukup sepi, ia merebut ponsel Nura dan mematikan panggilannya.
“Apa yang kau lakukan?” Nura menatap Angga, ia mengarahkan tangannya untuk merebut ponsel Nura, namun laki-laki itu malah mengangkatnya tinggi-tinggi. “Ikut aku makan lalu aku berikan ponselmu, oke?”
Nura melihat wajah Angga, laki-laki itu tersenyum kecil, ia pemaksa seperti Fatih, namun ia lebih kasar. Nura tahu tidak ada ketulusan sama sekali di wajah laki-laki itu.
“Ayo,” ucap Angga sambil menarik tangan Nura yang terulur ke arahnya, ia membawa Nura berjalan keluar dari rumah sakit hewan.
Mereka sampai di parkir mobil, ketika Angga akan membuka pintu, Nura menendang kakinya dengan keras.
“Akh, apa yang kau lakukan?” Angga meringis, ia membungkuk memegangi kakinya yang berdenyut, Nura memakai sepatu kets berwarna biru, tendangannya mengenai tulang keringnya.
Nura menutup pintu mobil yang tadi dibuka Angga, ia meletakkan kucingnya di tanah dan menarik kerah baju Angga hingga laki-laki itu terbentur kap mobil.
Angga untuk pertama kalinya merasa gemetar ketakutan karena seorang gadis, ia menelan ludahnya kasar.
“Siapa yang menyuruhmu?” Nura bertanya dengan dingin, ia mencengkeram kerah baju Angga dengan erat, laki-laki itu wajahnya sudah pucat seperti kertas.
“Apa yang kau katakan? Aku … aku hanya ingin mengajakmu makan siang.”
Nura mendengus, ia mengencangkan tangannya. Angga buru-buru memegangi tangan Nura dengan panik. “Oke, aku disuruh oleh Hana dan Nala!”
Nura tertegun, ia sudah menduga ini adalah rencana Hana, tapi untuk Nala? Ia benar-benar tidak menduganya sama sekali. Ia melepaskan cengkeramannya, Angga merosot jatuh ke tanah dengan terbatuk-batuk.
__ADS_1
“Mereka ingin aku mendekatimu agar Fatih mengira kau selingkuh.” Angga tanpa ditanya sudah membocorkan beberapa rahasia, wajah Nura menjadi gelap, ia mengepalkan kedua tangannya, lalu menoleh ke arah Angga.
“Apa lagi yang mereka rencanakan?”
Angga tergagap, ia berdiri dan memperbaiki kerah bajunya yang kusut. “Mereka ingin kalian bercerai, Hana mungkin sedang bersama Fatih.”
Mengingat Hana, Nura benar-benar merasakan aliran darahnya naik ke ubun-ubun, ia mengusap wajahnya dan menarik napas panjang. Wanita itu benar-benar mengajaknya berperang.
Nura mengambil kucing beserta ponselnya, ia berbalik meninggalkan Angga yang mematung di depan mobilnya sendiri, laki-laki itu menghela napas lega, ia mengusap-usap dadanya dengan pelan. Tangannya bergerak membuka pintu mobil sebelum seseorang mencegatnya.
Angga mendongak dan mendapati wajah Fatih yang murka. Ia menelan ludah, rasanya baru saja keluar dari lubang buaya kini masuk ke kandang singa, sejak kapan suaminya Nura ada di sini? Apa dia melihat semua perlakuannya pada Nura? Benar-benar gawat. Tamat sudah riwayatnya.
“Berani sekali, memaksa istriku seperti itu, sudah bosan hidup?” Fatih berkata dengan datar, tangannya dengan cepat melayang ke pipi Angga, memukulnya hingga laki-laki itu jatuh terjungkal.
Angga meringis memegangi pipinya, ia benar-benar sial hari ini.
“Aku hanya di suruh! Hana dan Nala yang menyuruh! Aku … Aku tidak akan mendekati Nura lagi!” Angga berkata dengan terbata-bata. Raut wajah Fatih terlihat sangat mengerikan, Fatih menulikan telinganya, ia mengambil kerah baju Angga dan meninjunya lagi, satu kali, dua kali, tiga kali hingga wajah Angga babak belur.
“Kau menyentuh Nura, menjengkelkan sekali.” Fatih mendengus, ia bangkit berdiri dan menyeka tangannya yang terkena noda darah Angga.
Angga buru-buru membungkuk, air matanya berderai, seumur-umur ia tidak pernah dipukuli habis-habisan seperti ini, suami istri ini, mereka adalah pasangan gila.
“Ampun, aku minta ampun, Aku tidak akan melakukannya lagi!” Angga berkata dengan getir, diam-diam dia merutuk dalam hati, ia benar-benar kapok berurusan dengan keluarga Daniar atau Alfandinata lagi, benar-benar mengerikan.
Fatih memegangi tangan kanannya yang terdapat noda darah, ia mendengus. “Apa yang bisa kau jamin? Oh, aku belum cerita ya, beberapa hari yang lalu seorang wanita hampir menjual istriku sebagai wanita penghibur, kini ia tinggal di sel paling menjijikkan di penjara. Lalu calon pembeli istriku saat ini juga tinggal sedang di rumah sakit, umurnya tidak lama lagi. Nah, kau mau kukirim kemana? Rumah sakit jiwa kelihatannya cocok?”
__ADS_1
Angga menelan ludah lagi, itu ancaman. Walau Fatih mengatakannya dengan nada riang dan santai, itu adalah ancaman yang mengerikan, ia menggeleng-geleng dengan cepat. “Aku jamin aku tidak akan melakukannya lagi, jika aku melakukannya kau boleh mengirimku ke sana!”
Fatih tersenyum puas.