CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
41 (END)


__ADS_3

Nura melangkah memasuki ruang kerja Fatih, di sana tidak ada siapa-siapa, ia keluar dan menemukan Paman Zoe yang ingin masuk mengantar berkas, kening pria itu berkerut.


“Loh, bukannya Fatih ingin menjemputmu?” Tanyanya sambil meletakkan berkas di atas meja, Nura berdiri dengan bingung. “Kau tidak memeriksa ponselmu?”


Nura menggeleng, ia terlalu sibuk memberi Angga pelajaran sampai-sampai melupakan ponslenya, tangannya bergerak mengambil ponselnya dalam tas, ia membelalakkan matanya, di sana tertera sepuluh panggilan tidak terjawab dari Fatih.


“Aku tidak mendengarnya, sepertinya kami terselisih ….” Nura berkata dengan canggung, Paman Zoe hanya terkekeh pelan, ia melirik jam dinding, sebentar lagi jam makan siang akan segera tiba.


“Kau tunggulah di sini, aku akan memberitahu Fatih menyuruh ia kembali.” Paman Zoe berbalik hendak keluar, namun ia menoleh kearah Nura.”Hati-hati.”


Nura mengerutkan keningnya bingung, namun ia tidak ambil pusing, ia mendudukkan dirinya di kurisi kerja Fatih dan memutarnya menghadap kaca di belakangnnya, menatap pemandangan kota dari atas gedung, ia berdecak kagum. Seumur hidup pemandangan terbaik yang di dapatinya adalah ini, jika dulu, sejauh mata Nura memandang hanya kumpulan pabrik dengan cerobong asap yang membuat sakit mata, belum lagi banyaknya mesin jahit dan benang kusut yang bergelimpangan di ruang kerja.


Tiba-tiba ia merindukan kegiatan jahit menjahit, mungkin ia bisa meminta Fatih membelikannya mesin jahit nanti saat Fatih datang.


Pintu diketuk pelan, Nura diam pada posisinya, mungkin itu Fatih pikirnya.


Suara ketukan sepatu masuk dengan pelan, Nura mengerutkan keningnya. Jika Fatih yang masuk ia tidak akan mengetuk pintu, jia Paman Zoe pasti akan bersuara dulu.


Nura diam tak bergerak, posisinya saat ini membelakangi pintu, ia tenggelam dalam kursi kerja Fatih. Suara ketukan itu berhenti, Nura mencium aroma parfum menyengat yang sangat ia kenal.


Orang yang datang ini adalah Hana.


“Fatih sayang, aku membawakanmu makan siang.”


Hana bersenandung, ia sengaja datang menemui Fatih, dengan membawa makanan favorit Fatih, ia berdandan secantik mungkin saat ini, pakaiannya sedikit terbuka, menampakkan belahan dadanya dan kaki jenjangnya, Hana yakin, biar Fatih sangat mencintai Nura, ia tidak akan bisa menahan godaan dengan kemolekkan tubuhnya.


Ia berniat menggoda Fatih. Namun, ketika kursi itu berbalik ia justru mendapati wajah datar Nura, gadis itu bersedekap sambil bersandar di kursinya, ia mendengus.


“Apa yang kau lakukan di sini?!” Hana tidak dapat menahan rasa kagetnya, ia meletakkan kotak makannya ke meja. Wajahnya merah padam karena malu bercampur kesal.


“Menunggu suamiku, apa lagi?” Nura menyahut dengan ketus, wajahnya tetap tenang seperti biasa. “Seharusnya aku yang bertanya, mau apa kau kemari? Menggoda suami orang?”


Hana merasakan wajahnya ditampar secara ilusi, perkataan Nura menusuk jantungnya, ia mengerutkan keningnya dan memandang Nura tidak suka. “Memang, apa kau takut aku merebut suamimu?”


Nura memejamkan matanya sejenak, Hana benar-benar orang yang gigih dan tidak tahu malu, ia bangkit berdiri dan menatap tajam Hana.

__ADS_1


“Aku tidak takut, karena Fatih hanya mencintaiku. Justru aku yang khawatir denganmu.”


Hana terkekeh dan memandang Nura dengan pandangan merendahkan, ia bersedekap.


“Kau seorang model, apa tidak takut skandal merebut suami orang akan tersebar dan menghancurkan karirmu?”


Hana diam mematung, ia tidak pernah berpikir tentang skandal dan karirnya selama ini, ia hanya melakukan semuanya sekehendaknya, ia tidak peduli diluar, ia dihujat atau dimaki.


“Kau mengancamku?”


Nura tersenyum kecil, ia mengangguk pelan. “Benar aku sedang mengancammu.”


Hana mendecih, rasanya emosinya meledak seketika mendengar kata-kata yang keluar dari bibir kecil Nura, ia melayangkan tangannya, hendak menampar Nura.


“Kau benar-benar kurang ajar!”


Nura menatap tangan yang melayang ke pipinya, belum sempat tangan itu menyentuh pipinya, Hana berhenti. Hana mendongak dan mendapati Fatih berdiri di antara mereka, ia memegang tangan Hana dengan bibir yang terkatup rapat, sorot matanya dingin dan menusuk.


“Fatih, sayang?” Hana berkata dengan suara kecil, tangannya di cengkeram erat oleh Fatih, ia gemetar.


Nura memegang tangan Fatih, matanya balas menatap Hana sengit.


Fatih melepaskan cengkeramannya dengan kasar, ia memegangi pundak Nura dengan lembut, mengelus pelan rambut gadis itu.


“Kau baik-baik saja? Dia tidak melakukan yang aneh-aneh ‘kan?”


“Ya, dia mengancamku.”


Hana menganga, ia tidak menyangka Nura berkata seperti itu, buru-buru ia menyanggahnya. “Aku tidak …”


“Akan merebutmu dariku,” potong Nura dengan cepat, sebelum Hana menyelesaikan kata-katanya, Fatih mendengus dan menatap Hana tajam, sedangkan Hana merasa aliran darahnya terhenti seketika.


“Kudengar kau tidak takut skandal ‘kan? Mari kita lihat besok kau akan menjadi berita utama di semua media.” Fatih berkata dengan santai, ia mengambil tas Nura di ats kursi kerjanya, menggenggam tangan istrinya itu dengan lembut.


Hana tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya mematung menyaksikan kepergian suami istri tersebut. Ketika ponselnya berbunyi barulah ia sadar.

__ADS_1


Hana membuka ponselnya dan jatuh merosot ke lantai, ia baru saja mendengar Fatih berucap tentang ancaman itu, sekarang semuanya langsung terjadi dalam hitungan detik. Di media online namanya tertulis besar-besaran, sebagai Pelakor, rupanya selama ini ia dibuntuti oleh paparazi tanpa ia sadari. Foto ia bersama Nala, bersama Angga dan video dia menggoda Fatih di kantor tersebar di internet, semua orang menghujatnya secara membabi buta.


Model ternama Hana, ternyata berniat menjadi pelakor.


Hana menggoda pemilik Axa grup yang sudah beristri.


Kapan ini semua terjadi? Hana tidak pernah menyadarinya, ponselnya berbunyi lagi, Nala meneleponnya, ia mengangkatnya dengan ragu.


“Hana, bagaimana ini? Aku terseret skandal gara-gara kamu!” Nala di seberang telepon meraung dan menangis, rencana mereka baru berjalan setengah jalan dan hancur berkeping-keping, Nala tidak hanya menerima hujatan, kolega dari perusaan ayahnya menarik investasi mereka dan menghentikan kerja sama dalam sekejap, mereka hampir bangkrut dalam hitungan detik.


Hana menelan ludah, matanya kosong, ia bingung, kesombongannya itu hancur begitu saja.


***


Nura berjalan sambil bergandengan tangan dengan Fatih, mereka saling berpandangan dan tersenyum kecil. Rasanya banyak sekali hal yang terjadi hari ini, tapi semuanya berlalu dengan baik, mereka tetap bersama dan saling percaya.


“Fatih, terima kasih.” Nura memeluk Fatih, laki-laki itu tertegun sejenak lalu balas memeluknya dan mengusap punggungnya, ia menenggelamkan wajanya di leher Nura.


“Aku mencintaimu.” Fatih berucap lembut, tangannya melingkari pinggang Nura, gadis dalam pelukannya itu memeluk lehernya erat, ikut mengangguk-anggukan kepalanya, ia berbisik dengan pelan.


“Aku juga mencintaimu.”


Mereka melepaskan pelukan dan saling tersenyum, Fatih memegang rambut halus Nura, mengusap kepala istrinya itu lagi, matanya menghangat, tidak pernah menyangka ia dapat bertemu dengan Nura untuk menemani hari-hari membosankan dalam hidupnya, gadis di depannya ini banyak merubah hidupnya, ia tidak lagi bekerja di rumah, ia tidak lagi asal-asalan dan memerintahkan Paman Zoe mengerjakan tugasnya, kini ia melakukan semuanya dengan penuh tanggung jawab.


Semua itu karena Nura.


“Tidak Nura,” ucap Fatih sambil membawa tangan Nura ke bibirnya, ia mengecupnya pelan.


“Aku yang berterima kasih padamu.”


END.


###


Terima Kasih untuk siapapun yang telah membaca cerita ini sampai tamat, silahkan tinggalkan kritik dan saran di kolom komentar jika berkenan. Jika suka membaca cerita saya, silahkan kunjungi akun instagram saya untuk info cerita saya yang lain.

__ADS_1


Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.


ig : @Winart12.


__ADS_2