CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
37


__ADS_3

“Bibi, Fatih bilang dia akan pulang untuk makan siang,” ucap Nura sambil mendekat kearah bibi Mira yang tengah memotong buah nanas, gadis itu melirik jam dinding yang menggantung di atas pintu, masih pukul sepuluh pagi, ia lalu membantu wanita itu memasukkan nanas ke dalam wadah plastik, rencananya akan dibuat es buah khusus pesanan dari Paula.


“Wah, bagus. Bibi akan membantumu memasak untuk Fatih,” sahut Bibi Mira dengan antusias, ia menutup wadah plastik tersebut dan membungkusnya dengan lastik bening.


Bibi Mira dengan semangat membawa Nura ke dapur, ia membuka kulkas yang terisi penuh itu, ada daging dan ayam, sayur-sayuran hijau beserta tahu dan tempe.


“Apa masakan kesukaan Fatih?” Nura bertanya ketika melihat Bibi Mira yang berpikir keras di depan pintu kulkas yang terbuka lebar, wanita itu menghela napas panjang.


“Itu masalahnya, Fatih itu memakan segalanya.”


Nura mengangguk membenarkan, selama ini Fatih memang tidak pilih-pilih, ia akan makan apa pun yang tersedia di meja, tidak pernah protes sedikit pun, walau yang dimasak ala kadarnya pun ia tetap memakannya.


Mereka berdua diam, memikirkan makanan apa yang akan dibuat untuk Fatih, Nura tiba-tiba teringat momen ia makan di pantai bersama Fatih, laki-laki itu bahkan memesan makanan tanpa melihat menu, bagaimana ia bisa menebak apa yang disukai suaminya itu?


Mungkin ia harus menanyakan hal ini nanti setelah Fatih pulang.


“Istri macam apa yang tidak tahu masakan kesukaan suaminya?”


Nura menoleh, melihat seorang wanita dengan pakaian pendek masuk ke dapurnya, aroma parfumnya merebak ke seluruh ruangan, kukunya yang panjang dan berwarna merah itu mengetuk-ngetuk meja, lalu  meletakkan tasnya dan bersedekap dan menatap Nura angkuh.


“Siapa kau? Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang seenaknya masuk.” Nura berkata dengan kening berkerut, dari raut wajahnya jelas ia tidak menyukai kehadiran wanita ini.


Sudah masuk sembarangan, tidak pakai salam pula.


Wanita itu menatap Nura dari atas ke bawah, lalu menatap dirinya sendiri, seolah sedang membandingkan.


“Namaku Hana, mantannya Fatih,” katanya dengan penuh percaya diri, senyum tipis menghiasi bibir tipisnya.


Bibi Mira yang sedang mengeluarkan sayuran di kulkas melongo, seumur-umur baru kali ini ia melihat seseorang yang datang ke rumah mantannya yang sudah menikah dengan muka setebal badak, ia hanya mengelus dada, memaklumi kelakuan anak-anak jaman sekarang.


Raut wajah Nura kembali seperti biasa, datar, bedanya sekarang jantungnya berdebar dan di dalam hatinya saat ini sedang panas serasa terbakar api yang menyala-nyala.

__ADS_1


Wanita di depannya ini, benar-benar mengajak perang secara terbuka.


“Oh, Cuma mantan, toh.”


Hana menyeringai, mengabaikan ucapan Nura, ia mengibaskan rambut panjangnya yang bergelombang itu. “Awalnya aku kaget mendengar pernikahan Fatih, tapi setelah melihat kamu ….” Hana menghentikan ucapannya,


matanya menilik penampilan Nura, gadis kurus itu hanya memakai baju rumahan yang sederhana, rambut pendeknya diikat, wajahnya polos tanpa make up, bahkan saat ini ia tidak memakai sandal.


“Kamu tidak ada apa-apanya.” Hana tertawa merendahkan.


Nura bersedekap, ia tidak tahu jika Fatih mempunyai masa lalu dengan wanita sombong di depannya ini, Fatih tidak pernah bercerita dan Nura juga tidak pernah menyinggung masa lalu Fatih. Dan sekarang wanita sombong


ini terlihat sangat jelas sedang merendahkannya.


Nura kesal sekali.


Melihat Hana yang datang dengan segala keangkuhannya, Nura tidak bisa bersikap abai seperti yang biasa ia lakukan pada Nala dan Nyonya Ajeng, ia tidak bisa diam saja, tangannya bergerak mengambil serbet, mengelap


“Memang, aku tidak ada apa-apanya,” sahut Nura dengan tenang, ia mendekat dan mengambil rambut Hana, memainkannya dengan pelan. “Tapi yang dinikahi itu aku. Bukan kamu ‘kan?”


“Wow,” ucap Bibi Mira, wanita itu langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia yang sedari tadi hanya menjadi penonton hanya menganga melihat itu, tidak menduga dengan perkataan Nura yang terkesan berani,


ia meracik sayur mayur dengan gerakan sepelan mungkin tanpa suara, suasana dapur terasa dingin karena mereka berdua.


Hana tertawa dengan kaku, matanya melotot, jelas sekali ia tidak terima dengan perkataan Nura, buru-buru menepis tangan Nura dari rambutnya. “Apa kau tidak punya cermin? Lihat penampilanmu saja tidak sebanding denganku, udik!”


Hana mengelilingi Nura, ia mendecih ketika tahu istrinya Fatih tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya, mungkin Fatih sedang kena rabun atau ia sedang melakukan taruhan dengan gengnya hingga mau menikahi Nura.


“Apa kau yakin Fatih menikahimu karena cinta? aku sih, tidak!”


Bibi Mira menatap Nura dan Hana secara bergantian dengan harap-harap cemas, Nura untuk sesaat tidak menjawab perkataan Hana, gadis itu terdiam lama.

__ADS_1


“Kau saja tidak tahu makanan kesukaan Fatih,” lanjut Hana sambil duduk di kursi, ia tersenyum penuh kemenangan, rasanya seperti menuang bensin di api kecil, siap meledak kapan saja. Ia menunggu Nura marah dan


bersikap buruk padanya agar ia bisa mendapatkan simpati Fatih.


“Dengar ya, Fatih itu suka yang pedas, ayam balado misalnya, aku sering memasak untuknya di apartemenku dulu, berduaan dengan Fatih.” Hana benar-benar menunjukkan keangkuhan yang luar biasa.


Hana menyeringai, mulutnya terus menerus mengatakan ucapan untuk memanas-manasi Nura, bibirnya yang merah itu tidak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata racun yang membuat telinga Nura penging.


“Sudah?” Nura bertanya setelah sekian lama diam, ia meletakkan tangannya ke meja, memandang sinis Hana.


“Kau pikir sedang ada dimana? Ini rumahku dan Fatih, aku istri sahnya,” lanjut Nura sambil menarik rambut Hana, ia geram. Seumur-umur ia tidak pernah berurusan dengan perempuan bermulut besar macam Hana, ia tidak


tahu harus bersikap seperti apa, hanya mengikuti kata hatinya, yang jelas ia panas dan marah.


“Sembarangan sekali, masih ingat-ingat Fatih, yang becermin itu harusnya kamu!”


Hana mengaduh, menarik rambutnya ia berdiri dan menatap Nura dengan sengit.


“Apa? Aku? Kau tidak lihat betapa jeleknya dirimu?!”


“Aku jelek?” Nura ikut meninggikan suaranya, ia cukup sadar diri dengan tubuhnya, tapi ia tidak sejelek itu, tentu saja ia tidak terima. Mereka berdua saling berhadapan dan bersedekap. “Kalau kau cantik kenapa Fatih menikahi aku, bukan kamu?”


Hana menganga, ia tergagap, wajahnya merah padam, kakinya yang memakai sepatu hak tinggi itu menghentak ke lantai, ia sangat kesal sampai-sampai rasanya ingin menjambak-jambak rambut Nura dengan brutal, tapi ia


urung, ia tidak boleh bertingkah bar-bar karena itu akan merendahkan dirinya sendiri.


“Kau … kau ….” Ia tidak bisa berkata-kata, serasa tersangkut di tenggorokannya, kemarahannya ia telan bulat-bulat, seharusnya tidak seperti ini reaksi Nura, semuanya di luar perkiraannya.


Hana terdiam, ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya, wanita itu bersedekap dan mendongak dengan angkuh.


"Bagaimana  kalau kita taruhan? Untuk membuktikan siapa yang paling dicintai oleh Fatih?"

__ADS_1


__ADS_2