CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
33


__ADS_3

Usai momen menyedihkan yang terjadi malam tadi, Nura berusaha bersikap sewajarnya, ia menyiapkan sarapan bersama Bibi Mira di dapur, memasak nasi putih dan tumisan sayur. Fatih, sang suami tercinta sudah siap sedia di meja makan sambil bermain game, sedangkan Paman Zoe sedang menemani Paula jogging keliling kompleks.


“Sayang, ayo hari ini kita adopsi kucing!” Fatih berkata tiba-tiba tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya, sesekali terdengar suara desisan dari mulutnya karena ia kalah bermain game.


Nura meliriknya lalu mendengus, sedangkan Bibi Mira hanya terkekeh, memaklumi kebiasaan Fatih.


“Sayang!” Fatih berkata lagi. Bibirnya maju beberapa senti, ia melirik Nura yang masih sibuk menghadap kompor, sambil memasukkan beberapa bumbu bersama Bibi Mira, ia meletakkan ponselnya dengan bosan.


“Nura,” ucap Fatih lagi, merebahkan kepalanya di meja, merasa istirnya sendiri mengabaikannya, hatinya menjadi sedikit sedih.


Nura menoleh dan tersenyum. “Oke, kita adopsi kucing setelah ini.”


Fatih langsung bangkit, tersenyum memamerkan giginya. “Nah gitu dong!”


Bibi Mira menggeleng, wanita itu tahu, walau pun Fatih mengatakan seolah ia meminta saran pada Nura namun sebenarnya perintahnya itu mutlak, tidak bisa diganggu gugat, Fatih adalah tipikal orang jahil dan keras kepala, sekali ia berkata A maka harus menjadi A.


Fatih mengulum senyum puas, Nura mendekat kearahnya sambil membawa sepiring nasi putih yang mengepul kehadapan Fatih, laki-laki itu langsung menyambutnya antusias. Inilah yang Nura suka dari semua sifat Fatih, laki-laki ini selalu antusias dengan apa pun yang dibuat Nura, walaupun itu hanya nasi goreng hambar, Fatih tetap antusias.


“Kenapa tiba-tiba mau adopsi kucing?”


Paula datang dari pintu, rambutnya digelung tinggi, kaos tipisnya itu basah oleh keringat, ia memakai celana kaos ketat, entah apa yang ingin ia pamerkan, tetapi menurut Fatih, bibinya itu terlalu gendut dan tidak tahu malu untuk usianya.


“Suka-suka aku dong!” Fatih menyahut sambil menyuap nasinya, Nura hanya memperhatikan interaksi mereka sambil makan dalam diam, malas ikut campur, omongan mereka sama sekali tidak penting.


Paula mencibir, ia mengambil air putih dan meminumnya langsung tanpa sisa, setelah itu ia bersandar di kursi dengan lega.


Fatih menatapnya dengan kening berkerut jijik, seandainya yang di depannya ini bukan bibinya, ia sudah mengusirnya, sayang sekali Paula bukan orang yang mudah tersinggung, walau Fatih mengirim berbagai kode agar bibinya kembali ke tempat asalnya, namun Paula bergeming, entah mengerti atau pura-pura tidak mengerti, yang jelas Paula masih tinggal sesuka hati dan tidak berniat pergi.


“Sayang, ayo cepat,” lanjut Fatih, ia sudah menghabiskan makanannya dengan cepat sedangkan Nura masih tersisa setengah, gadis itu mendengus, merasa suaminya terlalu mengganggu. “Sebentar.”

__ADS_1


Paula melotot kearah Fatih dengan mulut menggembung penuh roti, matanya yang besar itu semakin besar.


“Telan dulu baru ngomong!” Fatih tidak tahan jika terlalu lama berada di ruangan yang sama dengan Paula, rasanya wanita itu selalu mempunyai cara membuatnya kesal, ia berniat mengambil ponselnya lagi, namun segera ditahan Nura.


“Jangan main ponsel, aku sita.”


Fatih langsung membeku, Paula diseberangnya tertawa terbahak-bahak. “Heh, rasakan itu!”


Paula puas, akhirnya Fatih terkena ganjarannya juga, laki-laki itu pencandu gadget, sebelum menikah dengan Nura, ia akan memegang ponsel seharian, entah untuk main game, nonton bola, atau sekedar bermain sosial media, sisanya ia akan menelpon Nura sepanjang waktu meski Nura tidak menjawab panggilan, pokoknya ponsel itu selalu di genggamannya 24 jam.


Dan sekarang Nura adalah pawangnya, Fatih tidak bisa berkutik.


“Tapi sayang … bagaimana kalau Paman Zoe menelepon? Kamu tahu … mungkin penting ….”


“Huh, hari ini aja hari minggu!” Paula menyela dengan seringai jahil, ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini, melihat ekspresi wajah Fatih yang mirip kucing disiram air membuatnya merasa sangat senang.


Fatih menghela napas berat, ia tidak akan bisa menolak Nura, bersandar dikursinya dengan lemas, mengabaikan ejekan Paula di depannya.


Nura mengusap kepala suaminya dengan lembut, menenagkan hatinya. “Ayo kita bersiap,” ucapnya dengan suara lembut.


Mereka berdua lalu bangkit, Fatih terlebih dahulu ke kamarnya dan bersiap dengan semangat, Nura menata piring sebentar bebricara beberapa patah kata dengan Paula dan Bibi Mira lalu ia ikut bersiap ke kamarnya dan Fatih.


Tidak sampai lima belas menit, pasangan itu turun, Nura membawa tas kecil yang tersampir dibahunya memakai sepatu kets putih, sedangkan Fatih memakai baju kaos santai dan celana pendek.


“Ini tidak jauh,” kata Fatih ia membawa istrinya ke garasi dan membawa keluar vespanya, menmasangkan helm ke kepala Nura dengan lembut.


“Toko hewan itu milik temanku,” sambung Fatih lagi, ia naik ke vespa, diikuti oleh Nura, vespa biru itu melaju membelah jalan raya, Nura di belakang Fatih memegang pinggang suaminya, ia memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang berhembus di wajahnya, sinar matahari belumlah terik, terasa hangat di kulitnya, mungkin karena hari ini adalah hari minggu, suasana jalanan tidaklah ramai, sebagian orang memilih bersepeda, berolahraga di taman-taman terdekat, atau sekedar piknik bersama keluarga.


Fatih melirik Nura melalui kaca spion, ia menghela napas lega, tadi ia sempat khawatir setelah kejadian malam tadi, ia bahkan sudah memeras otaknya untuk menyiapkan berbagai cara agar Nura tidak terlalu memikirkan masa lalunya itu, melihat Nura yang tampak baik-baik saja saat ini, hanya bisa membuatnya tenang sementara, ia masih cemas jika Nura seperti malam tadi.

__ADS_1


Vespa berhenti disebuah toko hewan kecil di pinggiran kota, Nura membulatkan matanya, ketika mereka masuk langsung disambut oleh beberapa kucing yang mengeong.


“Hei, kau datang kawan!” Seorang laki-laki berambut pirang dan berkulit coklat muncul dari balik pintu sambil membawa sekarung makanan kucing ditangannya, wajahnya terlihat jenaka, sebuah celemek bermotif bunga-bunga terlihat tidak cocok dengan tubuh berototnya.


“Yup! Aku mau minta kucing!” Fatih menjawab asal, ia langsung menangkap seekor kucing berbulu jingga di dekat kakinya, “Nura kenalkan dia Rudi, papanya kucing-kucing.”


Rudi terbiasa dengan tingkah kekanakan Fatih, ia terkekeh, meletakkan karung ke lantai, membukanya dan mulai membagi-bagikannya ke wadah makan, para kucing langsung menyerbu.


“Halo, aku Nura.”


“Rudi,” sahut Rudi singkat, ia masih sibuk memasukkan makanan ke wadah, “Pilih saja yang kalian suka.”


Fatih mengerang, kucing di pelukannya meronta-ronta dan mencakar wajahnya, ia mendesis. “Kucing bar-bar!”


Rudi tertawa, ia melirik kucing yang melompat menjauhi Fatih. “Yang itu memang agak nakal sih.”


Fatih mendengus, mengusap pipinya, ia masih mengunci pandangan pada kucing jingga itu, sejak pertam kali ia melihatnya ia sudah jatuh cinta pada buntalan bulu gendut itu. “Nura, ayo adopsi yang oren ini!”


Fatih melihat Nura sedang berjongkok di depan kandang, menatap dengan raut wajah serius, karena penasaran Fatih mendekat dan ikut berjongkok, di dalam sana, seekor kucing berbulu putih tengah meringkuk, kaki belakangnya terlihat dibalut perban.


“Ah, dia kecelakaan, kakinya terpaksa kami amputasi.” Rudi tanpa ditanya menjelaskan, ia masih sibuk membagi-bagi makanan ke para kucing.


Nura membuka kandangnya dan mengambilnya dengan hati-hati, menggendongnya dengan marta berbinar cerah. “Aku mau dia Fatih.”


Fatih tertegun, ia menatap Rudi meminta penjelasan, laki-laki pirang itu terkekeh. “Kau yakin? Dia memang sudah sehat, tapi masih harus di periksa secara rutin.”


“Tentu, aku yakin.” Nura mengelus pelan kepala kucing itu, matanya melembut, Fatih tentu saja akan mengabulkan permintaan Nura, ia mengangguk.


“Oke, kita adopsi ini dan itu!” Tangannya dengan antusias menunjuk kucing yang tadi menggores pipinya, Nura tertawa kecil, ia rasa tidak buruk juga memiliki dua kucing.

__ADS_1


__ADS_2