
“Dia adalah Bibi Mira, pelayan keluargaku sejak dulu.” Fatih memperkenalkan seorang wanita bertubuh gemuk dan memilik wajah yang bulat, wanita itu tersenyum menatap Nura, ia menundukkan sedikit kepalanya.
Hari ini adalah hari ketiga pernikahannya dengan Fatih, semua kembali beraktivitas seperti biasa, penghuni rumah kembali berdatangan, tidak banyak, hanya ada Panan Zoe, Malik, Paula dan dua orang pelayan.
“Salam ... Nyonya Muda,” ucap Bibi Mira, Nura menggelengkan kepalanya.
“Panggil Nura saja bibi.”
Bibi Mira mendongak, melirik Fatih yang terlihat biasa saja, lalu ia tersenyum dan mengangguk.
“Dia adalah suami bibi, Paman Tio,” lanjut Fatih menunjuk seorang laki-laki berwajah jenaka yang baru datang dari halaman belakang.
“Halo Nura!”
“Halo paman,” balas Nura singkat, dari pintu depan muncul Paula dan Malik sepertinya mereka habis joging.
“Hai, pengantin baru!” Paula merangkul Fatih dengan tubuh basah karena keringat.
“Menjauh dariku wanita bau!” Fatih bergidik, cepat-cepat ia menjauh dari Paula.
Paula hanya tertawa, duduk di meja makan dan meminum air putih, bibi Mira dengan gesit membagikan roti bakar ke masing-masing piring.
Paman Zoe datang setelahnya, memakai setelan jas kantor sama seperti Fatih, ikut duduk di sebelah Paula. Nura memandangi mereka satu persatu, bahkan Bibi Mira dan Paman Tio duduk bersama satu meja, Fatih sepertinya tidak membedakan antara pelayan dan majikan, semuanya sama.
“Tunggu apa lagi, cepat makan!” Paula berseru, menyiram rotinya dengan tetesan madu, Malik seperti biasa tidak banyak bicara, duduk diam dan memakan rotinya, sedangkan Fatih terlibat pembicaraan serius bersama Paman Zoe.
Bibi Mira mengambilkan lebih banyak roti dan selai coklat untuk Nura, “Makan yang banyak sayang.”
Nura memandangi roti bakar yang menumpuk lebih banyak dari pada yang lain, ia tersenyum.
Bibi Mira duduk di kursinya, melirik Nura yang terlihat antusias memakan roti bakarnya, ia ikut tersenyum.
Nura tidak seperti yang ia bayangkan, dia sempat khawatir jika Nura adalah gadis mata duitan yang sengaja menempeli Fatih, menikah atas dasar harta, tanpa cinta.
Tapi sekarang ia berubah pikiran, pertama kali melihat mata Nura, ia melihat mata itu sangat murni.
Satu persatu telah menyelesaikan makanannya, termasuk Fatih yang kini merapikan isi tasnya.
__ADS_1
“Aku ... pergi ... ke kantor dulu ....” Fatih entah kenapa merasa gugup ketika berbicara di depan orang lain, ia melirik bibi Mira dan Paula yang masih duduk di meja makan.
“Oke, hati-hati,” sahut Nura tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan yang berada di depannya, Fatih tertawa samar, mengelus kepala Nura sebentar dan berlalu pergi.
“Well, aku juga akan pergi. Ada janji dengan sahabatku.” Paula menandaskan minumannya, lalu berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Yang tersisa sekarang hanya Nura dan Bibi Mira, Nura masih mengunyah rotinya dengan pelan, menghayati setiap rasa manis yang masuk ke mulutnya, sedangkan Bibi Mira tengah sibuk mencuci piring.
Rumah Fatih terbilang luas, terdiri dari tiga lantai, lantai pertama terdapat ruang tamu, ruang makan, dapur dan lainnya, sedangkan di lantai dua terdapat ruang keluarga dan bilik-bilik kamar. Di lantai tiga adalah ruang kerja Fatih dan beberapa ruangan yang belum Nura ketahui.
Suasana rumah menjadi sunyi, hanya suara radio samar-samar dari teras depan yang dinyalakan oleh Paman Tio selebihnya sunyi dan sepi.
“Bibi sudah berapa lama bekerja di sini?” Nura buka suara saat ia telah menghabiskan semua makanannya.
Bibi Mira tersenyum, tangannya bergerak meletakkan piring di rak.
“Bibi sudah bekerja sejak Tuan Herry masih muda.” Bibi Mira duduk di depan Nura, melipat serbet yang berserakan.
“Dia sangat mirip dengan Fatih, wajahnya dan sifat kekanakannya, memang buah tidak jauh jatuh dari pohonnya.”
“Ibu Fatih seperti apa dia?”
“Mereka tidak direstui keluarga Alfandinata?”
“Ya, karena wanita itu hanya orang biasa, sayang.” Bibi Mira memegang tangan Nura, “Jangan gentar terhadap mereka, mereka tidak bisa berbuat banyak selain menggertak.”
Nura mengangguk, ia paham. Di mana-mana permasalahan orang kaya memang seperti ini, selalu berhubungan dengan status keluarga, harta dan jabatan, hidup mereka benar-benar rumit.
“Lihat siapa yang sekarang bertingkah seperti majikan.” Nyonya Lasmi tiba-tiba masuk ke ruang makan, Bibi Mira buru-buru bangkit berdiri dan menunduk, Nura hanya menoleh sekilas.
“Tidak menyapa bibimu? Di mana sopan santunmu?” Nyonya Lasmi melepas topi bulu dari kepalanya, Nura menatapnya heran, ini masih pagi tetapi wanita itu sudah berdandan sangat rapi.
“Halo.” Nura menyapa singkat, tidak berdiri dari kursinya.
Nyonya Lasmi berdecih, merasa kesal dengan Nura, ia meletakkan tas mahalnya di atas meja dan membukanya.
“Ini adalah undangan perjamuan makan malam Alfandinata.” Ia melempar sebuah undangan berwarna emas di hadapan Nura, gadis itu hanya diam saja.
__ADS_1
“Katakan pada Fatih kalian harus datang atau nenek akan murka!” Nyonya Lasmi terlalu malas menjelaskan pada Nura, lagi pula gadis itu hanya gadis rendahan yang memiliki keberuntungan berlebih.
“Ya,” sahut Nura tak peduli.
Nyonya Lasmi mendengus, merasa provokasinya tidak berhasil memanas-manasi Nura, ia menatap Bibi Mira yang masih berdiri dengan kepala tertunduk.
“Lain kali jika aku datang kemari bersikap sesuai kastamu,” ujarnya sinis, Bibi Mira segera bergumam meminta maaf.
“Maafkan saya, Nyonya!”
Nura menjatuhkan sendok ke lantai menimbulkan bunyi berdenting.
“Etika makan yang sangat buruk,” komentar Nyonya Lasmi, ia teringat acara makan malam dengan keluarga Daniar, rasa kesalnya semakin menjadi-jadi.
“Ya ... memangnya kamu siapa?” Nura berkata tiba-tiba, menatap Nyonya Lasmi lekat-lekat.
Wanita itu tertawa hambar, “Kau tidak tahu aku siapa? Aku ini ....”
“Di rumah ini,” potong Nura dingin.
“Apa?”
“Kau bukan siapa-siapa di rumah ini, hanya tamu.”
Nyonya Lasmi melotot, tubuhnya bergetar karena marah.
“Beraninya kau!”
“Karena kau tamu tidak ada hak mengatur bibi dan juga aku. Sekarang tolong pergi.” Nura berkata pelan, terlalu malas meladeni kata-kata wanita ini, Nyonya Lasmi diam mematung tak sanggup berkata-kata.
“Pintunya ada di sana.”
“Kita lihat seberapa lama wajah sombongmu itu bertahan!” Nyonya Lasmi menghentakkan kakinya ke lantai dan pergi dengan marah.
Bibi Mira menatap Nura dengan pandangan takjub, ia tidak menduga Nura mampu membuat Nyonya Lasmi pergi dengan cepat dengan wajah merah malu.
Gadis ini sangat tidak terduga.
__ADS_1
ketika Nyonya Lasmi masuk dia pikir Nura akan menangis ketakutan, tapi nyatanya tidak, gadis itu tetap tenang dan sebagai tambahan mulutnya sangat tajam.
Fatih benar-benar beruntung.