CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
38


__ADS_3

“Jadi, kau menerima taruhannya?” Suara Dalisa menggema di sebuah kafe, ia menghentak meja dengan kasar, terlalu kaget dan tidak percaya dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Nura, hentakannya itu membuat cangkir-cangkir berderak, dan sendok berjatuhan ke lantai. Para pengunjung kafe langsung memusatkan perhatian kearah mereka dengan kening berkerut.


“Maaf, aku lagi emosi!” Dalisa mendengus, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kursi, wajahnya merah padam.


“Apa … kau .…” Dalisa kehilangan kata-katanya, mulutnya terbuka dan kaku ketika memandang Nura, ia meletakkan tangannya kembali dan mendesah lelah.


“Aku tidak menjawab apa pun, dia langsung pergi.” Nura berkata dengan tenang, ia terlihat tidak terganggu dengan erangan frustasi Dalisa, bibirnya menyesap kopi yang mereka pesan dengan pelan.


“Siapa tadi namanya? Ana? Lana?” Dalisa bertanya dengan heboh, ia menggeledah tasnya mengambil ponsel, mengetik dengan buru-buru di sana.


“Hana, katanya model.”


Kening Dalisa berkerut, matanya memicing dengan serius, menatap layar telepon lalu mengusap wajahnya. ”Ya ampun, dia cantik sekali.”


Nura menganggukan kepalanya dengan santai, ia akui memang Hana memiliki wajah yang cantik jelita, tubuhnya tinggi dan ramping, hanya saja sifatnya yang kelewat angkuh itu membuat Nura malas menatap wajahnya lama-lama.


“Lalu apa rencanamu?” Dalisa mengoceh tiada henti, ia khawatir dengan Nura, gadis itu kelewat santai menghadapi calon pelakor yang sudah mengibarkan bendera perang padanya.


Nura meletakkan cangkir kopi, ia tersenyum pada Dalisa. “Aku tidak tahu, karena itu aku mencarimu.”


Dalisa menopang daguna, menatap foto-foto Hana di ponselnya, lalu mendengus kesal.


“Fatih, bagaimana?”


“Aku tidak cerita,” sahut Nura singkat.


Dalisa berdehem, ia tahu Fatih, laki-laki kekanakan itu tidak akan mudah berpaling dari sesuatu hal, tapi mengingat mantannya ini adalah seorang model, bukan tidak mungkin Fatih akan tergoda untuk kembali


padanya. Ia mendongak, menatap Nura dari atas sampai ke bawah, gadis di depannya ini terlalu sederhana, Dalisa yakin jika Nura bahkan tidak memoles bedak di wajahnya pergi kesini.


“Kalau begitu, ayo kita belanja!” Dalisa bangkit berdiri, ia tidak bisa membiarkan Nura tetap berpenampilan membosankan seperti ini, ia

__ADS_1


menarik Nura bersamanya, sedangkan gadis itu hanya balas memandangnya dengan terheran-heran.


“Belanja? Belanja untuk apa?” Tanya Nura polos, Dalisa berdecak dan memutar bola matanya.


“Kalau kamu ingin Fatih tetap di sampingmu, maka ikuti saja aku hari ini. Oke?”


Nura mengangguk kaku. “Oke.”


Mendengar jawaban Nura, Dalisa tersenyum puas. Lihat saja, Fatih akan berterima kasih kepadanya setelah ini, ia tidak sabar menanti-nantikan itu. Nura akan diubahnya menjadi angsa yang cantik.


Mereka berdua berjalan menuju pusat perbelanjaan, Dalisa dengan semangat menyeret Nura ke sana dan kemari, mengunjungi satu toko ke toko lainnya.


“Hei, ayo coba ini!” Dalisa membawa sebuah baju berwarna merah muda, ia melemparkannya ke arah Nura bersamaan dengan sebuah celana jeans biru. Nura menyambutnya dengan kikuk, ia mundur ke belakang dan tak sengaja menabrak seseorang.


“BRAK!” Seorang laki-laki mengaduh, ia jatuh terduduk dengan kantung belanjaannya yang tercecer.


“Ah, maaf!” Nura berdiri tegak dan membantu laki-laki yang terjatuh itu untuk berdiri. Dalisa dengan sigap memungut belanjaan yang jatuh, satu-satu dan memasukkannya kembali.


Laki-laki itu mengambil kantung belanjaannya dari Dalisa, ia tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Nura. “Namaku, Angga.”


Nura tersenyum dan balas mengulurkan tangannya. “Aku Nura dan ini Dalisa.”


Dalisa hanya tersenyum, matanya memandang dari atas sampai ke bawah, Angga memiliki tinggi yang hampir sama dengan Fatih, wajahnya tampan dan punggungnya tegap, ia seperti dilapisi emas, semua pakaiaan yang ia pakai, dari ujung kaki sampai ujung kepala, semuanya merek terkenal.


Nura merasa perkenalan mereka sudah cukup, tidak ingin bicara banyak, ia hendak berbalik ketika tangan Angga menyentuh lengannya.


“Tunggu,” ucap Angga dengan wajah memerah, matanya bergerak kesana kemari. “Bolehkah aku minta nomor ponselmu?”


“Untuk apa?” Nura mengerutkan keningnya, di depan wajahnya Angga menyerahkan ponsel hitam dengan senyum kecil.


“Ah, mungkin kita bisa berteman.” Angga berkata dengan canggung.

__ADS_1


Nura terdiam sebentar, lalu mengangguk. Ia mengambil ponsel Angga dan menuliskan nomornya. “Ini.”


Angga tersenyum, dengan wajah cerah ia melambaikan tangannya dan pergi menjauh.


Dalisa memasang wajah sejelek-jeleknya ketika Nura berbalik dan menatapnya, ia membuka mulutnya dan mulai mengoceh. “Teman? Teman macam apa itu? Alasan klasik! Dia tidak bisa dipercaya! Dari baunya saja aku sudah tahu, banyak parfum dibajunya, dia itu playboy sejati. Nura! Jangan percaya dia, sini ponselmu biar aku hapus kontaknya!”


Nura terkekeh pelan, ia menjauhkan tasnya dari Dalisa, teman barunya ini tidak hanya mulutnya saja yang tidak bisa menutup, tangannya juga selalu bergerak semaunya, persis dengan Fatih.


“Nura, kau tidak berniat menjalin pertemanan dengan orang seperti itu ‘kan?” Tanya Dalisa dengan mata penuh selidik.


“Tenang saja,” sahut Nura sambil berjalan, ia melirik wajah Dalisa yang masam. “Aku memberinya nomor Fatih.”


Wajah Dalisa langsung cerah, ia langsung merangkul Nura dan tertawa. “Wow, kau pintar juga! Aku hampir saja jantungan tadi!”


Mereka terus berbelanja sesuai arahan Dalisa, setelah puas mengelilingi mal, Dalisa menyeret Nura menuju salon.


“Ayo, kita memanjakan diri.” Nura tidak sempat berkata apa-apa, Dalisa yang kelebihan energi itu sudah menyeretnya masuk ke salon, mendudukkannya di depan cermin dan mengoceh bersama karyawan salon.


Nura melirik Dalisa, ia tersenyum. Ini pertama kalinya ia berjalan bersama seorang teman, ternyata itu tidak buruk juga, justru sangat


menyenangkan.


Dari kejauhan seseorang menatap Nura dan Dalisa, ia menekan ponselnya dan menghela napas panjang. Orang itu telah menguntit mereka sejak dari kafe dan mengumpulkan banyak foto dari berbagai sudut. Bibirnya menyeringai lebar ketika melihat foto Nura yang tangannya di genggam seorang laki-laki. Dengan cepat ia menyentuh tombol kirim dengan kontak bernama Fatih.


Di tempat lain, Fatih sedang memeriksa beberapa dokumen, ia memijit kepalanya yang mulai pening, melihat huruf dan angka saling berdempetan di kertas itu membuatnya mual, ia menatap jam dinding dan mengeluh, karena belum saatnya pulang.


Padahal ia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu Nura, tapi Paman Zoe menumpuk banyak dokumen di mejanya dan mengancamnya akan menelepon Nura karena ia malas-malasan.


Ponselnya yang ada di atas meja kecil berbunyi, buru-buru Fatih bangkit dan mengambilnya, wajahnya menjadi cerah karena ia pikir itu adalah pesan dari Nura, ia duduk kembali di kursi dan mengambil kopi yang sudah dingin itu di mejanya.


Suasana tiba-tiba hening.

__ADS_1


“Apa-apaan ini?” Fatih mendengus, wajahnya langsung berubah menjadi muram, cangkir kopi di tangannya terlempar ke dinding, suasana hatinya menjadi buruk dalam sekejap. Ia kesal, sangat kesal.


__ADS_2