
“Apa?!” Nala dan Nyonya Ajeng kompak berteriak kaget.
“Ayah jangan bercanda, Tuan Fatih ada di sana!”
Nala menunjuk Paman Zoe yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Nala dia bukan Tuan Fatih, dia sekretaris Zoe, orang ini adalah Tuan Fatih.” Tuan Prabu menjelaskan dengan wajah merah malu.
“Bagaimana mungkin!? Kau, kau yang hadir di pertunangan kemarin!” Nala tidak terima, jelas-jelas pria tua ini yang hadir waktu itu, kenapa bisa dia buka Tuan Fatih.
“Kalian menipu putriku!?” Nada suara Nyonya Ajeng penuh amarah, wajahnya merah, tidak terima perlakuan Fatih pada putrinya.
Merasa jengah, Paman Zoe mendekat ke arah Nala dan buka suara, “Seingatku aku belum sempat berbicara waktu itu, seorang gadis gila menyiram air ke wajahku dan menghancurkan pestanya sendiri."
“Kamu, siapa kamu!”
“Aku adalah sekretaris Tuan Fatih,” sahut Paman Zoe dengan tenang, mengambil jus di atas meja dan menggoyangkan gelasnya.
Fatih menambahkan lebih lanjut. “Aku sangat menyesal untuk itu, aku memiliki sedikit kendala sehingga terlambat datang, tetapi yang ku dapat justru sekretarisku di siram air dan di permalukan."
Itu adalah kebohongan, Fatih hanya berniat bermain-main saat itu, tetapi Fatih senang berucap seperti itu melihat wajah Nala dan Nyonya Ajeng berubah menjadi pucat, dengan tangan gemetar, menggigil penuh amarah.
“Itu tidak benar! Kalian menipuku!” bantah Nala dengan keras, ia tidak bisa membiarkan Nura mendapatkan laki-laki ini, dia terlalu tampan dan gagah, bagaimana bisa orang rendahan seperti dia mendapatkan keberuntungan itu.
“Anggaplah aku menipu kalian, terus mau apa?” tantang Fatih, ia masih memeluk Nura erat, bibirnya menyeringai.
Tuan Prabu tidak bisa berbuat apa-apa, Kekuasaan Fatih dan bisnisnya sangat terikat dan berhubungan. Ia tidak bisa membiarkan bisnisnya dalam bahaya.
“Bagaimana bisa, gadis rendahan itu menikah denganmu! Dia tidak pantas!”
“Sayangnya aku yang menentukan pantas atau tidak pantasnya siapa yang akan kunikahi.” Sahut Fati dengan tenang.
“Cukup!” Tuan Prabu sudah tidak tahan lagi dengan sikap Nala dan Nyonya Ajeng, perdebatan ini tidak akan ada habisnya dan justru semakin merugikannya.
“Saya minta maaf atas sikap kurang ajar keluarga Daniar, mari kita lanjutkan acara pertunangan ini dengan kepala dingin,” ujarnya dengan suara merendah, menatap Nura yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun, berharap gadis itu dapat membantunya keluar dalam situasi yang tidak menguntungkan ini.
__ADS_1
“Ayah!”
“Hentikan itu Nala!”
“Fatih.. Aku lapar.” Nura tiba-tiba berucap, mendongak menatap wajah Fatih, orang-orang dalam ruangan itu terdiam seketika, antara kaget dan tidak percaya.
Gadis ini, dalam keadaan seperti ini, bisa-bisanya memikirkan makanan?
“Baik. Ayo kita ambil beberapa makanan dan duduk.”
Fatih tertawa, merasakan moodnya membaik mendengar rengekan Nura, ia merangkul gadis itu dan membawanya menjauh menuju meja penuh makanan.
Diam-diam Tuan Prabu menghela napas lega, dilihat dari segi mana pun Tuan Fatih telah benar-benar jatuh cinta dengan Nura. Laki-laki itu tidak punya alasan membatalkan pertunangan. Acara hari ini pasti akan berjalan lancar.
Sedangkan di sisi lain, Nala menelan semua kekesalannya dan rasa iri yang di telan bulat-bulat. Seharusnya ia yang ada di posisi itu, dia cantik dan tubuhnya seksi, mengapa harus Nura yang kurus dan pendek itu!?
Mereka berkumpul mengelilingi meja yang dipenuhi makanan, Fatih duduk berdampingan dengan Nura, kemudian Paman Zoe dan Malik. Di hadapan mereka Tuan Prabu duduk berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Nyonya Ajeng berusaha tersenyum paksa sedangkan Nala mengatupkan mulutnya rapat-rapat menelan rasa kesal.
Suasana makan siang itu berlangsung canggung.
“Saya senang Tuan Fatih menikmati makanan sederhana kami,” ucap Tuan Prabu dengan suara rendah, berusaha menunjukkan keramahannya yang gagal.
“Makanlah yang banyak,” timpal Fatih, Nura mengangguk pelan.
“Terima kasih Fatih,” sahut Nura kemudian makan dengan lahap. Ia sangat kelaparan.
Nala menatap Nura dengan jijik, piring gadis itu penuh makanan, dan tangannya tak berhenti menyuap ke mulutnya, mengabaikan orang-orang di sekelilingnya.
Menatap piringnya sendiri, hanya ada potongan buah dan sayur serta sedikit daging dalam porsi kecil. Nala sangat menjaga bentuk tubuhnya, seumur hidupnya ia tidak akan makan serakus itu.
Pada akhirnya perempuan bermartabatlah yang akan menang.
“Kami benar-benar minta maaf,” kata Tuan Prabu lagi, merasa tidak nyaman. Ia memberi kode melalui matanya agar putrinya meminta maaf pada Tuan Fatih.
Nala mendengus, merasa harga dirinya telah jatuh, dengan berat hati ia berucap, “Saya dengan sepenuh hati meminta maaf atas kesalahan yang saya lakukan.”
__ADS_1
“Bagus kalau kau mengakui kesalahanmu.” Itu bukan Fatih yang menyahut tetapi Paman Zoe yang menatap Nala sinis. Bagaimanapun dialah korban sebenarnya di acara pertunangan itu.
Nala hanya bisa tersenyum kecut, tangannya terkepal erat di atas pahanya. Nyonya Ajeng hanya diam.
“Mengenai pertunangan hari ini, Tuan Fatih anda akan tetap melanjutkan bukan?”
Fatih menatap Nura sambil tersenyum, gadis itu tak terpengaruh keadaan sekitarnya, terus makan dan makan.
“Tuan Fatih?” ulang Tuan Prabu
“Tentu saja.” Mengambil tangan Nura dan tangannya sendiri memamerkan cincin di jari manis mereka berdua.
“Mulai hari ini aku Fatih Alfandinata dan Nura Daniar resmi bertunangan,” kata Fatih dengan santai, Malik bertepuk tangan seorang diri dengan wajah datar sedangkan Paman Zoe mengelus dada.
Bocah ini kuharap tidak main-main!
Nura tidak mengatakan apa pun, hatinya menghangat, selama dia bersama Fatih, ia merasa nyaman dan terlindungi.
“Syukurlah, “ kata Tuan Prabu dengan wajah sumringah, Nala menggigit pipi dalamnya, matanya merah.
Seharusnya aku yang membuat Nura iri, kenapa kebalikannya? Angga kenapa tidak datang?
Nala telah menghubungi Angga berulang kali, namun kekasihnya tidak mengangkat atau mengiriminya pesan balasan.
“Dan aku ingin kalian tidak membiarkan calon istriku tinggal di gudang.” Fatih menatap tajam Nyonya Ajeng, ia sudah mendengar semua cerita Nura dari gadis itu sendiri atau pun Yiyi.
Mendengar itu Nyonya Ajeng tak bisa berkutik, ia mematung.
“Apa maksud Tuan Fatih? Tentu saja kami tidak melakukan hal tersebut,” sahut Tuan Prabu sambil terkekeh.
“Kupikir istrimu tahu lebih banyak tentang hal itu. Jika dikemudian hari aku mendengar sesuatu seperti ini, aku akan sangat marah.” Fatih berkata dengan dingin, ia tidak pernah main-main dengan ancamannya.
“Tidak apa-apa Fatih. Aku senang hari ini,” kata Nura pelan, ia tahu Fatih sedang marah, jadi ia berusaha membuat laki-laki itu tenang dengan mengelus pundaknya.
“Ya. Aku juga senang,” balas Fatih sambil tersenyum lebar, ekspresinya langsung berubah, bahagia.
__ADS_1
Malik yang sedari tadi diam menatap kedua pasangan itu sambil tersenyum simpul .
Benar-benar pasangan yang menarik.