CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
30


__ADS_3

“Fatih!”


“Fatih!”


Fatih terduduk, tersentak bangun, ia mendapati wajah istrinya berada di depan wajahnya.


“Nura, ada apa? Bukankah hari ini minggu? Biarkan aku tidur lima menit lagi.” Fatih bergumam, menarik selimut, kembali memejamkan matanya. Namun sedetik kemudian ia merasakan tepukan pelan di pundaknya.


“Fatih, bangun. Ada yang datang.” Nura kembali mengelus pelan kepala Fatih, ia merasakan suaminya itu menggeliat di balik selimut, sebelah matanya terbuka. “Siapa yang datang di subuh begini?”


Nura mengerjap, tersenyum kecil, ia mencubiti pipi Fatih, membuka matanya dengan paksa. “Lihat sudah jam sepuluh.”


Fatih mengerang, menggerutu pelan, ia bangkit dari ranjangnya dengan malas, Nura bergerak merapikan rambut Fatih dengan penuh kasih, suara pintu terbuka pelan.


“Astaga, kau jadi semakin manja ketika sudah menikah,” cibir seseorang di ambang pintu, Fatih membuka matanya, melotot dengan ganas.


“Darsa sial! Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamarku dan Nura!” Fatih melempar bantal kearah sahabatnya yang tengah berdiri dan bersedekap, Darsa terkekeh, ia tersenyum mengejek.


“Aku sudah menunggu satu jam dibawah.” Darsa mengeluh dengan wajah memelas pura-pura, ia tidak bohong, kemarin Fatih menghubunginya mengatakan jika ia ingin ikut Darsa ke kegiatan sukarelawan membantu anak-anak di panti asuhan, tapi nyatanya ketika ia datang berkunjung, Fatih malah masih molor di ranjangnya.


Mengesalkan sekali punya sahabat sekanak-kanakan Fatih.


Fatih bangkit dan mengambil handuk sambil menuju kamar mandi dengan mulut dipenuhi sumpah serapah.


Nura haya menatap interaksi keduanya tanpa berkata apa-apa, membuka lemari pakaian dan menyiapkan keperluan Fatih, ia melihat Darsa berdecak lalu kembali turun ke ruang tamu, duduk dengan santai sambil menonton tv, sepertinya rumah Fatih benar-benar dianggap rumah kedua Darsa.

__ADS_1


Fatih keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian dengan rambut basah yang menetes, ia melihat Nura menyisir rambut di depan cermin, mendekat dengan mata berbinar.


Nura mendongak, menatap sang suami, tersenyum lagi, ia bangkit dari kursinya, membiarkan Fatih duduk di tempatnya, ia dengan cepat mengambil sisir dan pengering rambut.


Fatih diam menatap setiap gerakan Nura, gadisi itu tidak terburu-buru, tidak juga lambat, setiap gerakannya membuat hati Fatih menghangat, rasanya menyenangkan ketika dirinya dirawat seperti ia dirawat ibunya.


“Nura, apa aku benar-benar manja?” Fatih bertanya tiba-tiba, mendongak. Nura terkekeh pelan. “Yah … kamu memang manja.”


"Tapi aku, dua puluh enam tahun."


Nura tersenyum sambil menyisir rambut Fatih, ia tidak masalah dengan sikap Fatih yang kekanak-kanakan, baginya selama Fatih bersamanya, menerima dirinya apa adanya, itu sudah cukup.


Fatih memanyunkan bibirnya, kadang kejujuran istrinya itu membuatnya tidak senang, apa salahnya jika ia manja ke istri sendiri? Mengesalkan sekali. Darsa itu, bilang saja jika dia iri.


Dua puluh menit kemudian Darsa melihat pasangan itu turun, Fatih dengan wajah songong luar biasa, seolah mengejeknya, sedangkan Nura dengan wajah datar seperti biasa.


Fatih mendengus, ia menepuk bahu Darsa. “Kamu datangnya kepagian, sih!”


Darsa berdecak, percuma berdebat dengan Fatih, ia selalu menjadi pihak yang salah, tak mau berdebat lebih lama, membawa pasangan itu ke mobilnya, tak lama kemudian mereka berangkat.


Nura duduk di kursi belakang, ia diam saja memperhatikan Fatih dan Darsa terlibat percakapan seru, sesekali dua laki-laki itu tertawa terbahak-bahak, Nura tersenyum, ia tidak pernah dekat dengan siapa pun sebelumnya, tidak punya hubungan pertemanan seperti Fatih dan Darsa, ia iri, ingin punya teman dekat juga.


Mungkin menyenangkan memiliki teman perempuan yang nyambung ketika bicara, berbagi masalah perempuan, memiliki minat yang sama.


Untuk pertama kalinya, Nura ingin punya teman, gadis itu merasakan dadanya berdebar karena bersemangat, matanya menjadi cerah, mereka sampai di sebuah panti asuhan di kaki bukit, sebuah gerbang bercat kuning cerah dengan gambar matahari menyambut mereka.

__ADS_1


“Selamat datang di panti asuhan Harapan Bunda.” Seorang wanita berambut ikal panjang tersenyum lebar menyambut mereka ketika turun, ia memakai baju kemeja biru pucat dan rok panjang motif sederhana, Darsa yang turun dari mobil mematung dengan pipi memerah.


“Perkenalkan nama saya Dalisa,” ucap wanita itu lagi, ia menyalami Fatih dan Nura dengan semangat, melirik Darsa yang masih mematung, ia terkikik. “Terima kasih sudah mau menjadi sukarelawan sehari di panti asuhan ini.”


“Tidak, kami yang harus berterima kasih sudah diperkenankan ikut kegiatan di panti ini,” ucap Fatih cepat, Dalisa membawa mereka berkeliling panti dengan semangat, ia memperkenalkan seluruh bagian panti asuhan tanpa kecuali, sesekali ia tersipu ketika bertatapan dengan Darsa.


“Tugas kalian tidak berat, hanya menemani mereka bermain, memastikan mereka makan, tidur, dan menggosok gigi.”


Nura memperhatikan kepribadian Dalisa yang hampir mirip dengan Fatih, mereka adalah sosok yang selalu tersenyum lebar dalam situasi apa pun, bedanya Dalisa lebih ekpresif, ia kadang melompat dengan riang, beda dengan Fatih yang manja.


Fatih di samping Nura tak kalah antusias, ia menggenggam Nura dengan mata berbinar-binar, menyeret istrinya ke ruang bermain yang penuh anak-anak.


“Adik-adik perkenalkan, ini kakak-kakak baik yang akan menemani kalian hari ini.” Dalisa berseru, anak-anak kisaran umur lima tahun dengan antusias menoleh dan melihat mereka berempat, Nura merapat ke Fatih, ia tidak terbiasa dengan kehadiran anak kecil, melihat anak-anak yang mendekat kearahnya dan mendekat dengan penasaran membuatnya kikuk dan bingung.


“Halo, aku adalah kak Fatih, ini adalah Kak Nura!” Fatih ikut berseru sambil merangkul Nura, ia tertawa, Nura merasa nyaman tiba-tiba, ia menghela napas, merasa hatinya menghangat.


“Whoaa … kak Nura,” ucap seorang anak perempuan berambut kepang dua memegang tangan Nura dengan mata berbinar polos, ia menarik Nura menuju permainan lego yang berserakan di lantai, bibir kecilnya bergumam-gumam. “Main, ayo main!”


Nura kewalahan, tidak hanya ada satu atau dua anak perempuan yang datang padanya, mereka mendekat dan mengelilingi Nura mengajaknya menyusun lego dan bermain boneka, anak-anak itu sangat ribut, berebut perhatian Nura.


“Adik-adik, satu-satu ya, kita main lego dulu,” ucap Nura dengan suara lembut, sedetik kemudian ia terkaget sendiri, tidak percaya dirinya berkata seperti itu, ia tersenyum kecil.


Fatih terkekeh melihat senyum Nura, ia merencanakan ini agar Nura bisa lebih ekspresif dan terbiasa berinteraksi, agar kepribadian Nura menjadi lebih baik. Ia mengambil bola di lantai dan mulai bermain lempar tangkap dengan anak laki-laki ke halaman panti asuhan, mengabaikan Darsa yang masih mematung menatap Dalisa.


“Anu … Apa ada yang salah di wajahku?" Dalisa bertanya takut-takut, ia berkeringat dingin tiba-tiba, saat bersama Fatih dan Nura ia merasa nyaman-nyaman saja, namun ketika tinggal berdua dengan Darsa ia merasa gugup tanpa alasan.

__ADS_1


“Kamu … cantik,” ucap Darsa sambil tersenyum, Dalisa langsung tertawa.


__ADS_2