
Nura saat ini tengah menunggu di bawah pohon kompleks Latusa, siang ini Fatih mengajaknya makan di luar, restoran makanan laut katanya, Nura tidak tahu itu makanan seperti apa, tapi ia yakin pasti enak
Ia memakai baju kaos lengan panjang berwarna putih dengan celana biru selutut, memakai sepatu putih, dan rambut yang diikat rapi
Tidak sampai sepuluh menit sebuah motor vespa putih menepi di depannya, Fatih muncul dengan senyum lebar, memakai kemeja putih dan kaos oblong hitam di dalamnya, celana jeans biru dan sepatu putih
Mereka memakai pakaian pasangan dan semua ini adalah ide Fatih
Fatih mendekat ke arah Nura memasangkan helm ke kepala gadis itu dengan hati-hati
“Kita akan pergi ke Pantai”
Nura naik ke vespa, memegang pundak laki-laki itu
“Bukannya ke restoran makanan laut?”
Nura bertanya bingung, Fatih tertawa, memang itulah yang ia janjikan dari awal, gadis ini lebih peduli makanan dibandingkan kencan pertama mereka
“Ya, kita akan ke restoran yang ada di dekat pantai”
Vespa melaju membelah jalan raya yang lenggang, Nura mau tidak mau mengeratkan pegangannya pada kemeja yang dipakai Fatih, tapi karena laju vespa terlalu kencang ia menjadi memeluk Fatih
Fatih senang bukan main, tujuannya memakai vespa memang ini
Cuaca hari ini sangat cerah, tidak ada awan yang menghalangi sinar matahari, langit biru bersih, pohon-pohon kelapa melambai-lambai tertiup angin, jalanan yang sepi dan hanya dilalui mereka
Mereka sampai di restoran makanan laut di dekat pantai, Fatih dengan cepat memesan sebuah gazebo yang mengarah ke pantai dan memesan beberapa makanan yang asing bagi Nura, tidak ketinggalan nasi putih yang banyak
“Suka?” Fatih bertanya sambil tersenyum, angin laut mengibarkan rambut dan kemeja yang dipakainya, ia terlihat seratus kali lebih tampan dari biasanya
“Aku suka, ini manis dan segar”
Nura menjawab sambil mengaduk es kelapa berwarna merah muda, di depanya telah tersaji berbagai olahan makanan laut dengan bau yang sangat menggiurkan, Nura hampir menitikkan air liurnya
“Makanlah yang banyak, setelah itu kita akan jalan-jalan di sekitar sini”
Nura menatap Fatih kemudian melihat deburan ombak menyapu bibir pantai, pasir putih yang halus tengah menunggu dijamah, laut biru yang berkilauan dan beberapa burung camar beterbangan di langit
Ia tidak sabar untuk itu
__ADS_1
Mereka menghabiskan waktu satu jam untuk makan, ketika hari sudah mulai sore. Fatih benar-benar tidak menyangka Nura memiliki perut karet, gadis tanpa ekspresi itu memakan semuanya tanpa ada satu pun yang tersisa
Mereka berjalan berdampingan di atas pasir pantai dengan tangan memegang sepatu masing-masing sesekali deburan ombak menyentuh kaki mereka
“Alfandinata, terima kasih” Nura berucap tulus, Fatih berhenti dan menatapnya sambil tersenyum, gadis ini masih menganggapnya Alfandinata
“Tentu saja kau harus berterima kasih" Ucapnya santai
“Apa kau senang?” Tanyanya lagi
“Ya, aku senang. Sebelumnya aku tidak pernah pergi ke Pantai”
“Kalau begitu teruslah ingat hari ini, suasana ini dan momen ini sebagai kenangan kita di masa depan”
“Akan kuingat kau adalah orang pertama yang baik untukku”
Fatib tertawa, Nura melihat kerang di atas pasir, memungutnya, warnanya putih cantik, ia ingin mengumpulkan lebih banyak lagi untuk Yiyi
“Oh, lihat ini”
Fatih memamerkan sebuah cangkang siput laut yang besar, Nura tertarik mendekat dan ingin menyentuhnya, namun laki-laki itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi
“Aku ingin lihat”
Deburan ombak menghantam tubuh mereka hingga baju yang dikenakan basah oleh air laut, Fatih berlari-lari menghindari Nura sambil tertawa riang, ia sangat senang
“Cobalah ambil”
“Kau terlalu tinggi”
“Memang aku tinggi”
Nura melompat-lompat di depan Fatih, tubuhnya terlalu mungil tidak dapat mencapai tangan itu, Fatih merasa gemas melihat Nura akhirnya menarik pinggangnya mendekat, Nura terpekik kaget dan secara spontan mendorong Fatih, akhirnya mereka jatuh ke atas ombak dengan tubuh basah sempurna
Nura jatuh tertelungkup di samping Fatih, laki-laki itu sepenuhnya berbaring di pasir dengan mata tertutup, ia terkekeh
“Maafkan aku”
Nura mendekat dan membantu Fatih berdiri, laki-laki itu mengibaskan kemejanya yang basah, rambut laki-laki itu disisir dengan jari, Fatih berkali-kali lebih tampan dari laki-laki yang pernah ditemui Nura semasa hidupnya. Nura tersadar, kaos Fatih yang basah itu mencetak jelas bentuk tubuhnya yang seksi
__ADS_1
Selain memiliki wajah yang tampan, kaki yang panjang dia memiliki bentuk tubuh yang menawan, selama ini otot di perut dan di lengan itu benar-benar tersembunyi dengan baik
Fatih memasangkan kemejanya yang basah ke tubuh Nura, gadis itu sedikit bingung namun sedetik kemudian ia sadar, jika perut Fatih terlihat maka dirinya juga
Nura merasa malu tapi tidak tahu harus bereaksi seperti apa
Fatih menggenggam tangannya, membawanya berjalan santai di sepanjang bibir pantai tanpa kata, menikmati langit biru yang perlahan-lahan berubah menjadi jingga, senja
“Ada yang ingin aku katakan padamu”
Fatih menghadap Nura dengan raut wajah serius, Nura diam mendengarkan
“Aku minta maaf dan kau berhak marah, laki-laki yang ada di restoran bersamaku di malam itu bukan Tuan Fatih” Jelasnya dengan gugup, menanti reaksi Nura, namun gadis itu hanya menatapnya datar
“Aku adalah Fatih. Fatih Alfandinata, Alfandinata itu nama keluargaku”
Nura mengingat laki-laki yang ada di restoran dan Fatih
“Aku tidak berniat mempermainkanmu, aku punya alasan tersendiri..”
"Ceritakan saja" Nura berkata dengan tenang, Fatih menghela napas panjang, ia mulai menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya dan alasan mengapa ia menjadi CEO bayangan Axa grup
Nura mendengarkan dengan seksama, ternyata hidup Fatih juga tidak mudah, ada banyak orang yang ingin menjatuhkannya di usianya yang masih sangat muda
“Tidak apa-apa”
Nura memotong perkataan Fatih, ia tidak tahu harus senang atau sedih, Fatih memperlakukannya dengan baik belakangan ini, ia bingung tentang satu hal
"Lalu dengan siapa aku akan menikah? Fatih yang di restoran itu atau yang ada di sini?"
Fatih terus tersenyum, merasa Nura tidak menunjukkan penolakan, ia berlutut di atas pasir
“Tentu saja aku, Jadi Nura, maukah kau menikah denganku?”
Nura menatap Fatih yang berlutut, menyodorkan cangkang kerang yang ternyata adalah kotak berisi cincin perak putih, gadis mana yang bisa menolak Fatih, semua kebaikannya, perlakuan hangat dan tawanya itu, dia benar-benar tidak bisa menolak
Tanpa banyak berpikir, Nura mengangguk dan berkata “Ya aku mau. Ayo kita menikah”
Fatih tidak bisa menahan diri lagi, ia bangkit dan memasang cincin ke jari manis Nura, memeluk erat gadis itu dengan perasaan haru
__ADS_1