CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
9


__ADS_3

“Namanya Nura, dia dilahirkan tanpa ikatan pernikahan Tuan Prabu dengan seorang pembantu bernama Ratna, selama ini tinggal di pengasingan bersama ibu dan sang bibi. Lima tahun yang lalu ibunya meninggal karena sakit keras”


Malik membaca laporan yang ia dapat di hadapan Fatih dan Paman Zoe, ini bukan sekali tapi sudah dua kali ia membacanya, mulutnya berkedut jengkel


“Apa kau benar-benar ingin menikahinya?”


Fatih memasang jam di tangan kirinya, tersenyum


“Bukankah kami harus saling mengenal dulu?” Fatih balik bertanya


Paman Zoe memijit pelipisnya pusing, tidak mengerti jalan pikiran Fatih


“Dia bahkan tidak diperlakukan dengan layak oleh Keluarga Daniar”


Fatih mengingat-ingat pertemuannya dengan Nura kemarin malam, gadis itu sangat rapuh


“Itu bukan urusan kita”


“Paman tenang saja, aku tahu apa yang harus kulakukan”


Gadis itu harus diselamatkan


“Bos, jangan bilang karena kasihan?”


Malik tiba-tiba berkata dengan datar, berusaha berpikir logis setelah pertemuan mereka di gazebo, dari segi mana pun Nura memang terlihat seperti orang yang selalu ditindas


Fatih menyemprotkan parfum dan berhenti, memegang dagunya berpikir


“Kasihan ya, mungkin juga” Sahutnya ringan sambil tersenyum lebar


Ia bolak balik melihat dirinya di cermin


“Kamu mau ke mana?”


Hari ini adalah hari minggu, sepulang dari acara makan malam bersama Tuan Daniar, Paman Zoe memutuskan menginap di rumah Fatih, ia masih memakai piama tidur dan Malik di hadapannya juga masih mengenakan baju kaos santai dan celana pendek ketika menemukan Fatih sudah berpakaian lengkap di depan cermin


“Kencan!” Sahutnya riang


“Ini masih jam sembilan pagi bos”


“Maka dari itu aku harus bergegas”


Kemarin ia lupa meminta nomor ponsel Nura, untungnya ia sempat berjanjian dengan gadis itu untuk bertemu di salah satu taman dekat kompleks Latusa dengan alasan bahwa ia menyampaikan pesan dari Tuan Fatih


Fatih tertawa, ia sendiri adalah Tuan Fatih

__ADS_1


Ia berjalan riang menuju bagasi, memilih sebuah sepeda motor matic biasa berwarna merah, memakai helm dan melaju ke arah kompleks Latusa


Paman Zoe dan Malik saling pandang dari jendela lantai atas


“Biarkan saja”


Paman Zoe membaca dengan serius laporan mengenai Nura yang diambilnya dari tangan Malik, ia dapat merasakan berapa banyak penderitaan yang Nura lalui karena keluarga Daniar, gadis ini pasti telah memupuk dendam, ia khawatir jika Fatih hanya berniat bermain-main dengan Nura, gadis ini akan melakukan sesuatu hal yang buruk kepada Fatih di kemudian hari


*


Fatih sampai di taman dengan motornya yang ia bawa secepat mungkin, Nura telah menunggunya di bangku bawah pohon, gadis itu memakai celana hitam, dan sweter biru sederhana, rambutnya diikat ke atas


“Alfandinata, ada apa?”


Nura buka suara dengan kaku, Fatih duduk di sampingnya melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, tepat jam sepuluh pagi


“Aku belum punya nomor ponselmu, berapa?” Tak menjawab pertanyaan Nura, Fatih malah mengeluarkan ponsel di depan Nura, gadis itu terdiam menatap ponsel itu


“Aku... tidak punya ponsel”


Nura berkata jujur, gaji sebagai buruh di pabrik garmen sangat kecil, hanya cukup untuk beberapa kali makan, terkadang bibinya mengambilnya, hingga ia tidak pernah punya tabungan sedikit pun


Fatih tersenyum, dengan keadaan Nura, ia sudah menduganya


“Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan dan beli ponsel!”


Dalam dua puluh tahun hidupnya, Nura belum pernah bermimpi dan menginjakkan kaki di Mall, matanya tak lepas memandang satu persatu benda yang mereka lalui


“Ayo ke sana”


Fatih menyeret Nura ke salah satu stan ponsel bermerek, ia berbicara basa-basi dengan pegawai, dan memilihkan sebuah ponsel berwarna biru kepada Nura


“Ini terlalu mahal” Kata Nura membolak-balik ponsel dan menatap kertas pembayaran, Fatih merangkul bahunya, menariknya mendekat


Nura tidak merasa risih atas perlakuan Fatih, ia membiarkan saja, padahal dulu di pabrik ia akan menendang siapa pun yang berani menyentuhnya


“Tidak masalah, kau adalah calon istri Tuan Fatih”


“Apa Tuan Fatih tidak marah kau menghabiskan uang untukku?” Nura bertanya lagi, melihat Fatih memainkan ponsel barunya


“Tentu saja tidak, siapa yang berani marah padaku” Fatih berkata sambil cemberut, matanya masih fokus ke ponsel baru Nura


Mengapa aku harus marah kepada diriku sendiri?


“Ini adalah nomor ponselku”

__ADS_1


Fatih memperlihatkan layar pada Nura “Jika kau ingin meneleponku, cukup tekan angka satu” Ia mencontohkan cara membuat panggilan di ponsel, Nura memperhatikan dengan seksama, ponsel Fatih berdering dan Nura tidak menyangka jika ponselnya dan ponsel Fatih sama, dari merek hingga warna, laki-laki itu bahkan memasang gantungan lucu berbentuk boneka panda sama dengan miliknya


“Jika terjadi sesuatu, atau mereka tidak memperlakukanmu dengan baik, telepon aku”


Nura menatap ponsel biru yang berada di tangannya, seumur hidupnya ia tidak pernah diperlakukan sebaik ini oleh orang yang baru dikenalnya


“Alfandinata, terima kasih kau orang yang sangat baik”


Nura berkata dengan tulus, ia percaya jika laki-laki ini adalah orang baik dan dapat ia percaya


Fatih tersenyum senang, gadis itu masih mendongak karena Fatih lebih tinggi daripada Nura, saling tatap beberapa saat, mereka berdiri di tengah keramaian di pusat perbelanjaan, dengan jarak yang begitu dekat Fatih menahan diri untuk tidak menyentuh pinggang Nura


“Aku lapar”


Nura berkata tanpa sungkan, perutnya berbunyi, Fatih tertawa mendengarnya, ia mengusap kepala Nura pelan, aroma vanila yang ia suka memasuki indra penciumannya


“Ayo kita makan ayam”


“Oke” Nura mengikuti Fatih ke arah restoran cepat saji, tidak lagi bersikap canggung, ia sepenuhnya percaya pada Fatih


Mereka menghabiskan sepanjang hari minggu itu dengan berputar-putar di pusat perbelanjaan, dari yang Nura tahu, Fatih menjadi sangat suka memeluknya


“Apa kau senang?”


Fatih bertanya ketika mereka tiba di depan gerbang rumah keluarga Daniar, suasana senja membuat pipi Nura terlihat merona cantik


“Aku senang”


Nura menyahut cepat, matanya berbinar senang di balik wajahnya yang tanpa ekspresi itu, Fatih balas tersenyum


Gadis ini sangat unik


“Kita akan pergi lagi dilain waktu”


“Sungguh? Apa tidak apa-apa? Maksudku Tuan Fatih tidak melarang?”


Kenapa aku harus melarang diriku untuk bertemu denganmu


Fatih melengkungkan bibirnya, tidak suka


“Aku akan menikahi Tuan Fatih” Jelas Nura, ia sedikit khawatir akan menimbulkan masalah di kemudian hari


“Tenang saja”


Karena aku akan menikahimu!

__ADS_1


Nura mengangguk cepat, tidak Ingin berpikir terlalu keras, ia percaya jika laki-laki ini tidak akan mengecewakannya


__ADS_2