
Nura saat ini sedang bersantai di teras rumahnya bersama dua kucing yang baru mereka adopsi, yang putih tengah tertidur di pangkuan Nura, sedangkan yang oren tengah berlari-lari mengelilingi halaman.
Fatih telah pergi bersama paman Zoe satu jam yang lalu ke kantor, sedangkan Paula ia pergi kumpul-kumpul bersama teman-temannya, Bibi Mira baru saja minta izin pergi ke pasar membeli sayur-sayuran.
Jadi sekarang Nura hanya ditemani oleh kucing-kucing lucu ini.
Nura mengambil cangkir teh yang ia letakkan di atas meja, belum sempat ia menyesapnya, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah mereka.
Alis Nura bertaut, mobil itu berwarna sangat mencolok, merah terang, ia hapal betul siapa pemilik mobil ini, membuat moodnya memburuk dengan cepat, siapa lagi kalau bukan Nala.
Seandainya saja jika dirinya tidak berada di teras, Nura tidak akan membuka pintunya, ia terlalu malas berhadapan dengan saudara tirinya itu.
Nala turun dari mobil dengan anggun, senyum menghiasi bibir tebalnya itu, ia menenteng tas di tangan kanannya, memakai sepatu berhak tinggi sehingga setiap langkah ia berjalan terdengar bunyi ketukan-ketukan di lantai.
Nura mendengus, ternyata Nala tidak datang sendiri, dibelakangnya Nyonya Ajeng berjalan dengan sama angkuhnya.
“Halo, adikku tersayang.” Nala berucap dengan suara dibuat-buat ketika kakinya menyentuh teras, ia menatap Nura yang duduk di kursi dengan pakaian rumah seadanya dan memangku kucing yang sebelah kaki belakangnya diamputasi, membuat alisnya berkerut jijik.
Nura mau tidak mau menyambut tamu yang tidak diharapkan itu, hatinya terasa bergejolak melihat tatapan mata Nala yang merendahkannya dan kucingnya, ia meletakkan kucing putih itu dengan hati-hati ke bantalan empuk kursi.
“Mau apa kemari?” Nura bertanya tanpa basa-basi, memasang wajah datar andalannya, menurutnya itu adalah senjata andalan menghadapi tingkah Nala dan Nyonya Ajeng.
“Dasar tidak sopan, tentu saja kami ingin tahu kabarmu!” Nyonya Ajeng berkata dengan nada tinggi, ia mengibaskan kipasnya ke wajahnya, matanya bergerak ke sana kemari, menilai-nilai berapa harga semua perabot yang ada di teras itu, ketika ia tahu perabot itu harganya standar saja ia mendecih.
Nala masuk ke dalam rumah tanpa permisi, mendudukkan dirinya di atas sofa empuk ruang tamu.
“Buatkan aku jus dong!”
__ADS_1
Nura mengatupkan kedua bibirnya, baru beberapa detik mereka menginjak rumah Fatih sudah membuat Nura kesal, Nala bertingkah seolah rumah Fatih adalah rumahnya sendiri.
Nyonya Ajeng tidak duduk, ia masih mengobservasi perabotan dan lukisan yang terpajang di sudut ruangan, Nura berdecak ibu dan anak ini benar-benar banyak gaya.
“Nura, kau tuli? Buatkan aku jus!” Nala membentak ia menghentakkan kakinya ke lantai, Nura memutar bola matanya dan berbalik, lagi-lagi ia malas menanggapi perkataan Nala.
Ia melangkah ke dapur, mengambil buah-buahan segar di kulkas dan memotongnya perlahan, Nyonya Ajeng melangkah mendekatinya dengan mata penuh selidik.
“Apa yang diberikannya padamu?”
Nura yang sedang memasukkan potongan buah ke blender menoleh dan mengerutkan kening bingung, tidak mengerti.
“Maaf?”
“Apa yang diberika Fatih setelah kalian menikah? Emas? Berlian? Atau tanah?” Nyonya Ajeng bertanya dengan suara angkuh, ia duduk di kursi meja makan, mendecih ketika melihat meja itu adalah meja standar yang banyak di pakai orang-orang, wanita itu membandingkan dengan meja makan di rumahnya yang mewah. “Seleranya sangat rendahan.”
Nura berdehem, memasukkan beberapa sendok gula, Nyonya Ajeng masih menatapnya dengan senyum mengejek. “Dia tidak memberimu apa-apa?”
Nala datang sambil bersiul, hatinya bersemangat mendengar perkataan ibunya, melihat Nura yang engan menjawab semakin memantapkan hatinya, jika Fatih tidak memberinya apa-apa, maka berarti Nura akan dibuang sebentar lagi kan? Ia sudah menduga itu, tidak mungkin laki-laki seperti Fatih akan tahan dengan gadis udik macam Nura. Sepertinya ia tidak perlu repot-repot menyusun cara agar mereka cepat berpisah, nyatanya laki-laki itu sudah mulai bosan dengan sendirinya.
“Serius? Hah, sudah kuduga!”
Nura menghela napas panjang, memang pada kenyataannya Fatih tidak memberikan apa-apa padanya, bukan berarti laki-laki itu pelit, namun Nura yang menolaknya terlebih dahulu sebelum laki-laki itu sempat membelikannya macam-macam, Nura yakin jika ia tidak menolak kamarnya akan dipenuhi kotak-kotak hadiah berisi barang tidak penting.
Jus sudah berada di dua gelas panjang, Nura menyerahkannya kepada ibu dan anak itu, suara kucing mengeong datang mendekat, Nura melihat si putih datang dengan langkah tertatih, buru-buru ia menggendong kucing itu.
“Jangan-jangan dia hanya memberimu kucing cacat itu?”
__ADS_1
Nala tertawa mengejek, ia meminum jus itu, baru satu tegukan ia terbatuk-batuk. “Apa-apaan jus ini? Rasanya sangat pahit!”
Nyonya Ajeng yang ikut menyesapnya langsung meludahkannya ke lantai, ia buru-buru mengambil tisu diatas meja menyeka mulutnya.
“Kau meracuni kami ya?!”
Nura menatap mereka dengan wajah datar, mengangkat seringai tipis di bibirnya, sebelah tangannya mengelus kucing putih dalam dekapannya.
“Wah, maaf.” Nura melirik kotak susu yang ada di atas meja. “Sepertinya aku salah memasukkan susu, seharusnya itu sudah dibuang satu bulan yang lalu.”
Nala melotot tidak percaya, wajahnya pucat pasi, seumur hidupnya baru kali ini ia meminum susu yang kadaluarsa, perutnya pasti akan sakit setelah ini, tidak! Ia pasti diare!
Nyonya Ajeng menggeram tidak percaya, ia menunjuk Nura dengan marah, apa lagi melihat wajah datar Nura membuat emosinya melonjak, hampir saja ia mengeluarkan amarahnya namun harus ia tahan ketika Nala memegangi perutnya.
“Ibu, antar aku ke rumah sakit segera!” Nala berkata dengan panik khawatir dengan perutnya, Nura mendengus samar, ia tahu dampaknya tidak akan seburuk itu, hanya saja yang namanya orang kaya, tentu perutnya sensitif terhadap hal-hal seperti ini.
“Ayo sayang!” Nyonya Ajeng tidak kalah paniknya ia membantu putrinya berdiri, melirik Nura dengan mata penuh kebencian. “Kau keterlaluan! Awas saja aku akan buat perhitungan!”
Nura mendengarnya hanya mencibir pelan. Nyonya Ajeng buru-buru memapah Nala keluar dari rumah dengan langkah terburu-buru, mereka berpapasan dengan Bibi Mira yang baru saja kembali dari pasar.
“Nura, apa yang terjadi?”
Nura duduk di kursi meja makan tersenyum kecil, ia melirik kotak susu yang ada di atas meja.
“Aku hanya bilang mereka minum susu yang harus dibuang, Bi. Aku tidak bilang itu kadaluarsa.” Nura berkata jujur, sebulan yang lalu Fatih merajuk pada Paula gara-gara wanita itu salah membelikan susu, yang wanita itu beli adalah susu kedelai, akibatnya menganggur tidak terpakai, Fatih sudah berkali-kali ingin menghibahkan susu itu ke Malik.
Bibi Mira tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ada-ada saja.”