CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
18


__ADS_3

Nura duduk di dekat jendela kamarnya, memandang lurus ke arah taman yang tengah diguyur hujan lebat, tangannya bergerak dengan gesit merajut sebuah syal berwarna jingga kesukaannya.


Yiyi datang membawa secangkir teh hangat dan beberapa biskuit dalam piring, meletakkannya di meja tak jauh dari Nura, memandangi betapa cekatannya Nura merajut syal itu.


“Apa yang laki-laki sukai?” Nura bertanya tiba-tiba saat Yiyi mau beranjak keluar dari kamar Nura.


“Saya tidak tahu banyak,” ucap Yiyi sambil memegang dagunya, berpikir. Usianya baru menginjak tujuh belas tahun, sejak kecil ia telah dilatih menjadi pelayan, tidak sempat berurusan dengan masalah laki-laki dan percintaan.


“Tapi saya sering melihat Nona Muda membeli parfum atau jam tangan untuk kekasihnya," kata Yiyi, dulu ia sering diminta Nala membungkus hadiah-hadiah untuk kekasihnya dalam kotak berhiaskan pita, serta menulis surat cinta untuk Angga.


Semua itu dilakukan oleh Yiyi karena Nala terlalu malas menulis dan menyiapkan kado.


“Itu terlalu mahal,” sahut Nura dengan tangan tak berhenti merajut, jari-jari kurus itu terlihat sangat lihai. Ia tidak punya uang saat ini, semua yang ia beli adalah uang dari Tuan Prabu, ia cukup tahu diri untuk membelanjakan uang 'Ayahnya' kepada sesuatu yang tidak perlu.


“Benar. Lagi pula Tuan Fatih sangat kaya," kata Yiyi lagi, sekali lihat saja semua orang sudah tahu jika Fatih sangat kaya, mobil yang berganti-ganti setiap bertemu, setelan jas mahal, jam tangan impor dan sepatu kulit mengkilat adalah salah satu bukti kekayaan Fatih.


“Mungkin aku akan memberikan ini saja, cuacanya akhir-akhir ini cukup dingin.”


“Benar, Tuan Fatih pasti suka.” Yiyi melihat syal yang belum selesai itu dengan antusias, ia benar-benar kagum dengan keterampilan Nura.


“Baiklah, aku akan menyelesaikannya hari ini.”


“Saya akan membantu membungkusnya dengan kotak kado!” usul Yiyi menarik pita dalam keranjang perlengkapan menjahit Nura, ia tidak bisa menjahit, hanya melihat seseorang menjahit membuatnya teringat bibinya di desa, itu membuatnya sangat senang, hitung-hitung mengobati rasa rindu.


Keadaan hening sejenak, sibuk dengan kegiatan masing-masing, Nura dengan rajutan syalnya dan Yiyi dengan kotak kadonya.


“Nura, apa kau benar-benar menyukai Tuan Fatih?” Yiyi bertanya tiba-tiba ketika merasa tidak ada yang bisa ia lakukan.


Yiyi mengingat acara pertunangan beberapa hari yang lalu, sangat kaget mendengar pengakuan Fatih, antara senang dan tidak percaya.

__ADS_1


Nura masih tetap bergerak merajut syal, “Aku suka dia.”


“Suka? Apa hanya suka?”


“Ya.”


“Tidak cinta?”


Nura diam sesaat, memandang ke luar jendela yang masih hujan, “Cinta juga.”


Yiyi khawatir Nura tidak bisa membedakan antara rasa suka dan cinta. Selama berada di rumah Daniar, Yiyi sudah hafal dan mengerti benar akan sifat Nura, gadis ini tidak pandai mengungkapkan perasaannya, mungkin susah, ia tidak tersenyum saat senang, tidak sedih saat di perlakukan dengan buruk oleh keluarga Daniar, tidak juga meloncat-loncat bahagia setelah kencan dengan Fatih.


Nura hanya diam, tenang dan datar. Hatinya tidak tertebak. Yiyi tidak bisa menyimpulkan Nura memiliki hati yang putih atau lemah dan gampang tertindas, meskipun beberapa kali ia melihat Nura diam saja ketika dibentak Nala atau Nyonya Ajeng, tetapi gadis itu punya cara tersendiri membalasnya, dengan cara yang tidak terpikirkan oleh orang lain.


Yiyi kerap kali melihat dan memergoki Nura diam-diam menaruh sesuatu di makanan Nyonya Ajeng atau Nala, entah bubuk cabai, lada, menabur sebotol garam atau obat pencuci perut.


Hal-hal kecil yang remeh tapi berdampak besar.


“Baik karena dia membelikan makanan?”


Tanpa pikir panjang Nura menyahut, “Ya.” Makanan yang dikirim dan dibelikan oleh Fatih selalu terasa enak dan lezat.


Yiyi sudah menebak jawaban itu, cinta Nura pada Fatih masihlah sebatas makanan, ia takut di kemudian hari mungkin Fatih akan bosan dan membuang Nura begitu saja.


Bagaimana pun juga Fatih masih sangat muda, terlalu muda malah, sudah menanggung beban perusahaan di punggungnya, begitu juga dengan Nura, gadis ini juga masih terlalu muda. Yiyi khawatir pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari tidak akan berlangsung lama.


“Apa Nura tahu cinta itu apa?”


“Cinta?”

__ADS_1


“Iya,” sahut Yiyi memastikan. Nura hampir selesai merajut, ia melirik cangkir teh yang belum di sentuhnya.


“Cinta itu suka,” sahutnya santai tanpa beban. Yiyi menghela napas panjang, ia duduk di hadapan Nura, memegang kedua tangan gadis itu.


“Cinta itu adalah perasaan saling memiliki, seperti Tuan Fatih adalah milik Nura, dan Nura adalah milik Tuan Fatih,” jelas Yiyi sok bijak, ia sering mendengar kata-kata itu beberapa kali di acara televisi yang ditonton para pelayan di ruang belakang setiap malam.


“Memiliki?” Nura terlihat bingung, dia milik Fatih dan Fatih milik dia?


Nura seperti kertas putih yang belum dicoret tinta, polos dan bersih soal cinta.


“Apakah itu seperti aku memiliki ibu?”


“Um, ya kira-kira seperti itu.”


“Kalau begitu berarti aku cinta Fatih,” kata Nura sambil menyeruput tehnya, Yiyi terlihat berpikir keras, tapi kemudian ia mengangguk membenarkan.


“Apa Fatih mencintai aku?”


“Saya pikir iya,” jawab Yiyi sambil tersenyum, siapa yang tidak berpikir Fatih tidak jatuh cinta? Laki-laki itu selalu mengirimi makanan, membelikan ponsel dan sweter, mengajak kencan romantis di pantai, kurang apa lagi?


“Kenapa tidak menelepon Tuan Fatih saja? Lagi pula ini sudah jam istirahat makan siang.” Yiyi menunjuk jam dinding ke angka satu, Nura menggeleng pelan.


“Tidak bisa, aku tidak ingin mengganggunya, kemarin dia bilang cukup sibuk dan lelah, jadi biarkan dia istirahat dan makan dengan baik.”


“Baik, itu terserah Nura.”


Pernikahan Nura dan Fatih tinggal menghitung hari, mereka tidak terlalu sibuk, semua sudah di persiapkan oleh Nyonya Ajeng dan penyelenggara pernikahan ternama di kota ini, mereka hanya perlu memilih baju pengantin di butik beberapa hari ke depan.


“Saya harap setelah menikah nanti, Nura harus bahagia,” ucap Yiyi tulus, ia sudah mendengar cerita kehidupan Nura saat menemani Nura yang dulu tidur di gudang, ia menangis sesegukan dan matanya bengkak berhari-hari, ia tahu Nura hanya pura-pura terlihat kuat, menutupinya dengan wajah datar itu, sebenarnya Nura sangat rapuh, seperti gelas kaca tipis yang terletak di ujung meja, sewaktu-waktu bisa jatuh dan pecah.

__ADS_1


“Tenang saja,” sahut Nura sambil merentangkan syal jingga yang telah jadi dengan sempurna, Yiyi berdecak kagum.


“Aku akan bahagia,” lanjutnya, mencoba memakai syal itu ke lehernya, “Dan terus bahagia.”


__ADS_2