
Nura tidak pernah berada di dalam situasi seperti ini sebelumnya, tidak pernah berani memimpikannya, suasana hangat dan penuh canda tawa anak kecil, merengek berebut perhatiannya, pipinya terasa kebas karena tidak bisa menahan senyuman di wajahnya secara terus menerus, ia senang, tidak, ia bahagia, sangat bahagia.
Rasanya seperti kehidupannya yang berubah dalam sekejap, seperti kehidupan dalam buku dongeng yang pernah ia baca, hal-hal yang terasa mimpi menjadi kenyataan satu demi satu, menikah dengan Fatih, tinggal di rumah yang nyaman selain rumah keluarga Daniar, memiliki orang-orang yang peduli dengannya seperti Paula dan Bibi Mira, untuk pertama kalinya ia merasa punya keluarga.
Nura menoleh di halaman Fatih tak kalah hebohnya, suaminya itu memang seperti anak-anak, bermain bola dengan enerjik, tidak mau mengalah, membuat isi halaman ribut berebut bola.
“Nura, bantu aku memotong buah yuk!” Dalisa tiba-tiba berada di belakang Nura, menariknya bangkit berdiri dengan semangat, anak-anak hanya mengerang tidak rela melepas kepergian Nura.
Dalisa membawa Nura ke dapur, di atas meja tampak beberapa buah semangka, mangga dan jeruk. Dalisa dengan gesit mengambil piring dan pisau menyerahkannya pada Nura.
“Hei, kita belum berkenalan secara resmi, aku Dalisa.”
Nura menatap senyum lebar Dalisa yang secerah matahari, ia tersenyum. “Aku … um … Nura,” ucap Nura dengan kikuk, orang di depannya ini seperti memiliki tabung energi yang tiada habis-habisnya, dia tidak bisa diam, tubuhnya bergerak-gerak ke sana kemari, seperti kelinci.
“kau sangat muda,” lanjut Dalisa lagi sambil merapat kearah Nura, tangannya dengan gesit mengiris semangka kecil-kecil. “Kenapa menikah dengan Fatih? Dia itu otaknya masih TK.”
Nura tertawa kecil, memang benar kelakuan Fatih sangat kekanakan, tapi disandingkan dengan anak TK, bukankah itu sangat lucu?
“Kau kenal Fatih sejak lama?” Nura balik bertanya, ia merasa santai, rasanya seperti berbicara dengan Yiyi, ah, mengingat Yiyi, bagaimana kabarnya saat ini? Semoga ia diperlakukan dengan baik di rumah Daniar.
“Yah … tidak lama, kami bertemu di kegiatan sukarelawan beberapa kali, dia tidak melakukan apa-apa selain bermain dengan anak-anak,” sahut Dalisa lagi dengan mulut pedasnya, ia tahu jika di depannya ini adalah istri Fatih, tapi mengeluarkan sedikit uneg-uneg kelakuan suami Nura yang kekanakan itu membuatnya merasa beban melihat wajah Fatih berkurang sedikit.
Nura tersenyum, Dalisa adalah tipe orang yang bicara banyak dan terlalu jujur, sepertinya berteman dengan wanita yang satu ini menyenangkan.
__ADS_1
“Daripada itu, siapa laki-laki seram yang bersama kalian? Dia menatapku sejak datang, itu membuatku merinding.” Dalisa merangkul Nura, sok akrab, tapi Nura merasa tidak apa-apa dengan tingkah Dalisa, ia membiarkannya saja.
“Seram?” Nura mengerutkan keningnya, namun kemudian dia tertawa lagi. “Maksudmu Darsa? Dia memang seperti itu.”
“Dia bilang aku cantik, tapi aku merasa dia sedang menghinaku.” Dalisa terus berceloteh, bibirnya mencebik, alisnya bertaut tidak senang, tangannya bergerak-gerak mengiris semangka, Nura ikut mengupas mangga dan memotongnya kecil-kecil, membaginya ke beberapa piring.
“Bagaimana bisa aku cantik? Aku belum luluran hari ini,” keluh Dalisa memamerkan lengannya yang mulus itu, Nura memandang dengan kening berkerut, sekali lihat saja Dalisa sudah masuk dalam kategori cantik, kulitnya putih mulus, badannya berisi dan rambutnya cantik, apa yang salah?
“Kamu memang cantik, kok.”
Nura tidak habis pikir, apa ini salah satu persoalan yang dimiliki perempuan? Apa ia harus mengkhawatirkan hal-hal seperti itu?
Dalisa memanyunkan bibirnya, tidak puas dengan tanggapan Nura, ia kembali merapat.
Nura hanya mengiyakan saja, Dalisa masih bersemangat menjabarkan keinginannya makan di beberapa restoran tertentu, beberapa wanita pengurus panti asuhan datang membantu mereka, membuat pekerjaan mereka selesai dengan cepat.
“Ayo kita bawa ke depan.” Dalisa mengakhiri irisan semangkanya, Nura mengangguk pelan, membawa piring bersama Dalisa, di teras Fatih dan Darsa duduk melingkar bersama anak-anak, bercerita dengan heboh.
“Buah segar dataang!” Dalisa berseru riang, meletakkannya di hadapan anak-anak, Nura di belakang Dalisa, duduk di samping Fatih dan meletakkan sepiring irisan mangga.
“Makannya pelan-pelan ya, jangan berebut.” Fatih mengingatkan, tapi ia sendiri yang mengambil lebih cepat dari orang lain, Nura terkekeh, ia ikut membantu anak-anak mengambil mangganya masing-masing, anak-anak yang tadinya riuh kini menjadi tenang.
Darsa adalah pihak yang tetap tidak tenang, sesekali ia melirik Nura dan Fatih, merasa iri dengan kemesraan mereka, lalu melirik Dalisa yang duduk tak jauh darinya, merasa jantungnya berdebar-debar.
__ADS_1
Sepertinya ia jatuh cinta pada pandangan pertama, wanita dengan rambut ikal itu berhasil menjerat hatinya, ia akhinya mengerti betapa konyolnya keputusan Fatih pada awal-awal mengatakan ia akan menikahi Nura, ternyata seperti ini rasanya, hanya melihat Dalisa sebentar saja rasanya tidak puas, ia ingin melihat Dalisa berada di sekitarnya, ia ingin bersama dengan Dalisa.
jatuh cinta ternyata memiliki efek sehebat ini.
Fatih memperhatikan Darsa yang menatap Dalisa, ia hanya tertawa dan berbisik ke Nura, rasanya menyenangkan melihat sahabat kentalnya itu menjadi orang yang mendadak linglung karena soerang perempuan.
“Kakak-kakak!”
Seorang anak dengan wajah oriental mendekat dengan penasaran, rambutnya diikat tinggi dengan ikat rambut plastik warna-warni, tersenyum memamerkan giginya. “Kakak, kakak, pacaran ya?”
Fatih di samping Nura mendengus, sedangkan Nura tertawa, ia mengelus punggung anak itu, “Kakak dengan kakak ini sudah menikah,” katanya sambil menunjuk dirinya sendiri dengan Fatih bergantian.
Anak itu matanya membola, mulutnya terbuka lebar, menatap Nura dan Fatih bergantian, seolah memproses perkataan Nura, anak lain datang lagi mendekat dengan antusias, memeluk Nura dari samping. “Kakak, apa disini ada dede bayinya?”
Fatih tersedak mangga, cepat-cepat ia mengambil air putih, anak-anak tertawa, Nura ikut tersenyum, mengelus kepala anak yang memeluknya, dalam hatinya ia berpikir, kalau ia dan Fatih punya anak akan seperti apa? Apa akan semenyenangkan ini? Ia tidak tahu banyak tentang anak-anak, itu sudah jelas mengingat di lingkungan seperti apa ia dibesarkan, tapi setelah beberapa jam berada di sekeliling anak-anak ini, membuatnya merasa ini adalah hal yang ia inginkan.
Pipi Nura bersemu, melirik Fatih yang bersenda gurau dengan anak-anak, ia mengulum senyum.
Jika dulu, ia hanya pasrah saja dengan hidupnya, maka kali ini, hidup bersama Fatih sekarang menjadi tujuan hidupnya, ia harus bahagia bersama Fatih sampai akhir hayat, tidak ada yang boleh mengganggu rumah tangga mereka, Nura tidak akan membiarkan itu terjadi, meski itu keluarga Alfandinata atau keluarga Daniar.
Karena Fatih adalah suaminya, miliknya.
“Nura, apa yang kau pikirkan?” Fatih mendekat, mengusap kepala Nura pelan, ia sedikit khawatir dengan Nura yang tiba-tiba terdiam.
__ADS_1
Nura menoleh tersenyum dengan lembut, ia menggenggam tangan Fatih. “Tidak ada, aku hanya sangat bahagia hari ini.”