CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
21


__ADS_3

Nala sebenarnya adalah wanita yang ambisius, pantang menyerah sebelum keinginannya tercapai, namun sejak kedatangan Nura ke rumah Daniar, ia berubah menjadi orang yang dipenuhi rasa iri dan dengki, hatinya merasa panas ketika melihat Nura memiliki hal yang tidak ia miliki, dalam hatinya ia sudah bertekad tidak akan membiarkan Nura mendapatkan kebahagiaan sebelum dirinya.


Dia harus menjadi yang nomor satu, dia adalah satu-satunya putri sah keluarga Daniar.


Nala diam-diam mengikuti Nyonya Ajeng ke penyelenggara pernikahan, ia tahu ibunya tidak secara sukarela mengurus pernikahan ini, hanya karena paksaan ayahnya dan demi martabat keluarga Daniar.


“Saya ingin mengetahui paket pernikahan atas nama Nura Daniar.” Nala melepas penutup mulutnya, ketika melihat ibunya pergi, langsung saja ia masuk dan bertanya kepada karyawan.


Karyawan itu awalnya bingung, namun ketika melihat Nala menyodorkan beberapa lembar uang, ia paham.


“Mari ikuti saya.”


Karyawan itu membawa Nala duduk di sebuah meja bundar di pojok ruangan, ia mengambil buku berisi gambar-gambar pernikahan.


“Nyonya Ajeng memesan paket premium,” ucap karyawan itu, menunjuk sebuah gambar pernikahan dengan dekorasi mewah, Nala tercengang, itu adalah paket pernikahan paling mewah dan paling mahal.


Ia sangat iri, seharusnya ia yang menikah!


“Ini adalah pernikahan super mewah kelas atas, makanan yang disajikan ada lebih dari seratus jenis dan dipersiapkan oleh koki terbaik kami, bunga-bunga kami pastikan adalah bunga segar yang dipetik dari perkebunan, begitu juga dengan dekorasi dan penataan cahaya, kami akan melakukan yang terbaik.”


Karyawan itu menjelaskan dengan cermat, Nala hanya mendengarnya dengan hati dongkol.


“Berapa biayanya?”


“Biaya paket ini sekitar ...”


“Dia tidak akan mampu membayarnya.” Nala memotong langsung, menyodorkan setumpuk uang dari dalam tas merah miliknya.


“Saya ingin kamu bekerja sama.”


“Apa yang bisa saya lakukan?” Karyawan itu mengambil uang tanpa ragu, paham niat terselubung Nala.


“Tukarkan paket premium ini ke paket paling rendah,” kata Nala menunjuk gambar pernikahan sederhana, ia sudah bertekad akan menghancurkan pernikahan Nura, walaupun harus mencoreng nama keluarganya sendiri. Nala sudah gelap mata.

__ADS_1


Karyawan itu sebenarnya keberatan, ini adalah paket mahal, banyak untungnya bagi perusahaan, tetapi ia mendapat uang yang sangat banyak dari wanita ini, maka ia akan melakukannya.


“Akan saya lakukan,” ucap karyawan itu tanpa banyak berpikir, Nala tersenyum dengan puas, ia melenggang keluar dengan perasaan senang.


Lihat saja Nura, sebentar lagi akan kubuat malu kau di hadapan banyak orang.


Di tempat lain, Nura sedang bersama Paula di butik milik Erya. Mereka tengah fiting baju pengantin. Fatih sebenarnya sangat ingin ikut tetapi banyak hal yang harus ia kerjakan di perusahaan membuatnya tidak bisa bergerak ke mana-mana.


Paula masih ingat pagi tadi Fatih merengek seperti anak kecil, untung saja ditahan Paman Zoe, jika tidak laki-laki itu akan tetap ngotot datang.


“Apa ini terlihat bagus?” Paula menunjuk sebuah gaun berwarna merah muda, berkerah rendah dan berpayet manik-manik putih, rok satin mengembang dan dilapisi kain organza tipis.


“Ini adalah gaun yang baru saja dirancang desainer kami.” Erya ikut nimbrung di samping Paula, ia selalu antusias jika berhubungan dengan Nura. Gadis ini punya daya tarik sendiri meski tidak banyak bicara.


Nura menyentuh gaun itu, sangat halus dan indah.


“Ini bagus,” sahut Nura singkat, tetapi matanya melirik ke gaun lain.


“Bagaimana dengan yang ini?” Erya dengan sigap memamerkan beberapa gaun yang terpajang di patung manekin, sebuah gaun berwarna putih anggun dan gaun berwarna biru dengan gaya timur tengah.


“Oh ada!” Erya membawa Nura ke bagian paling dalam butik, disana terdapat ratusan gaun pengantin berbagai warna, dari yang paling meriah hiasannya sampai paling sederhana.


Erya menunjukkan sebuah gaun putih sederhana tanpa hiasan sama sekali. Paula yang datang sambil membawa sepatu hak tinggi berwarna putih mengerutkan keningnya.


“Itu bukan gaun pengantin!” Protes Paula.


“Coba saja dulu!” Erya mendorong Nura ke ruang ganti, menyuruhnya segera menggantinya.


Tidak sampai sepuluh menit Nura keluar, Paula dan Erya sama-sana menggelengkan kepalanya.


“Tidak cocok!” Erya langsung menyerahkan sebuah gaun berwarna putih yang lebar.


“Kau terlalu kurus, tidak cocok dengan gaun sesederhana ini.”

__ADS_1


Nura kembali mengganti gaunnya, Paula melihat-lihat gaun pengantin dan matanya tertuju pada sebuah gaun berwarna putih diselingi bordiran warna jingga.


Warna kesukaan Nura adalah jingga, ia teringat Fatih berteriak sebelum masuk mobil pagi tadi.


Ini akan cocok.


Gaun itu tanpa lengan, berpayet bunga-bunga kecil, roknya memengembang lebar ke bawah, gaun itu tidak terlihat sederhana atau terlalu mewah, tanpa banyak berpikir Ia membawanya ke arah Nura.


“Coba yang ini,” ucap Paula santai, Nura menatap gaun itu sebentar dan tanpa banyak kata ia kembali masuk ke dalam. Tidak lama kemudian Nura keluar, Paula dan Erya menunggu langsung terkesima melihat Nura.


Gadis itu sangat kurus, tetapi gaun ini menutupinya dengan sempurna, Nura tidak terlihat buruk, ia sangat cantik dan cocok memakai gaun itu, membuatnya memancarkan aura dewi musim panas, hangat dan penuh cinta.


“Ini sempurna!” Erya bertepuk tangan girang, ia mengucapkan itu tulus dari hatinya, Paula bersedekap, puas dengan pilihannya.


Nura memutar-mutar tubuhnya di depan cermin, ia menatap dirinya sendiri dengan tidak percaya.


Ini adalah dia?


“Gaun ini sangat pas jika dipadukan dengan buket bunga matahari dan bunga kecil lainnya, ah, jangan lupakan tudung pengantinnya!”


Erya bergegas mencari tudung pengantin dengan warna putih senada. Memakaikannya ke kepala Nura.


“kau benar-benar cantik, Fatih akan sangat senang melihat ini,” ucap Paula, ia mengambil gambar Nura dengan kamera ponselnya langsung mengirimnya kepada Fatih.


“Apa kau suka?” Erya bertanya ketika menyadari Nura tidak berkata sepatah kata pun.


“Aku sangat menyukainya. Hanya saja aku tidak percaya bisa memakainya.” Nura menyingkap tuding pengantin itu, seumur hidupnya ia tidak berani sama sekali memikirkan pernikahan, apa lagi membayangkan dirinya memakai gaun seindah ini, ia di masa lalu, tidak akan mampu.


Tapi sekarang ia berdiri di depan cermin dan memakai gaun seindah ini, rasanya seperti bermimpi di siang bolong. Nura berharap ia tidak akan bangun jika ini mimpi.


Fatih yang baru saja selesai pertemuan, menerima pesan dari Paula, ketika membukanya, ia buru-buru masuk ke kantornya.


“Kenapa buru-buru?” Paman Zoe membawa berkas yang ditinggal Fatih, ia melihat Fatih yang sibuk mencetak foto.

__ADS_1


“Paman lihat?” Fatih memamerkan foto Nura yang barus saja keluar dari mesin cetak, gadis itu memakai gaun pengantin. “Dia adalah calon istriku.”


__ADS_2