CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
28


__ADS_3

Sesuai undangan yang diberikan oleh Nyonya Lasmi, Fatih dan Nura tengah bersiap menuju perjamuan makan malam di kediaman utama Alfandinata, Fatih memakai setelan jas abu-abu sederhana, rambutnya sengaja tidak ia sisir.


“Aku tidak ingin tampil untuk menyenangkan mereka,” gumam Fatih ketika melihat tangan Nura bergerak ke kepalanya sambil membawa sisir.


“Kenapa? Dia keluargamu.” Nura meletakkan sisir kembali ke tempatnya, Fatih hanya mendengus, lalu memanyunkan bibirnya.


Sebenarnya ia tidak ingin datang, sangat malas, tapi mendengar ceramah Paula yang tiada henti membuatnya mau tak mau datang dengan alasan memperkenalkan Nura sebagai istrinya.


“Kita datang, pamer muka sebentar lalu pulang.” Fatih bangkit dari ranjang, mengambil jam tangannya dari tangan Nura, wajahnya masam.


“Apa kita tidak makan?” Tanya Nura dengan polos, tangannya memperbaiki kerah baju Fatih.


Mereka saling bertatapan sebentar, kemudian Fatih menghela napas panjang dan tersenyum tipis, “Oke, kita akan makan juga.”


Nura mengangguk, mereka berjalan keluar kamar beriringan, sampai di bawah terlihat Paula yang duduk sendirian di sofa panjang sambil menonton televisi, di depannya berserakan aneka camilan.


Paula mendongak ketika merasakan kehadiran pasangan baru itu, niatnya ingin menggoda Fatih, tapi mulutnya disumpal roti dari Fatih yang entah dari mana didapatnya.


“Bocah!” Paula tersedak, buru-buru menyeruput kopi instannya.


Fatih sang pelaku hanya tertawa, lalu merangkul Nura keluar, mereka telah siap berangkat menuju kediaman utama Alfandinata.


***


Nala tidak menyangka dirinya berada di pesta perjamuan makan malam kalangan elit, matanya berbinar cerah, pagi tadi ia mendapat undangan pesta dari Nyonya Lasmi sebagai perwakilan keluarga Daniar, mereka ingin memperkenalkan Nura sebagai istri Fatih.


Nala bersorak, ia sengaja memakai gaun terbaiknya malam ini, sengaja ia berpisah dengan ibunya, karena ia berniat mencari jodoh laki-laki kaya.


Matanya bergerak mencari-cari sosok yang sesuai kriterianya, harus kaya dan lebih tampan dari Fatih, harus ia dapatkan sebagai kekasih.


Nala duduk dengan anggun, memperhatikan ke segala penjuru, sejauh ini pengamatannya hanya menangkap bapak-bapak tua gendut dan ibu-ibu sosialita, sosok idamannya belum muncul.


“Kau tahu tidak? Katanya yang dinikahi tuan muda itu adalah anak haram.” Suara wanita bergaun hijau lumut memecah konsentrasi Nala, ia menoleh dan menemukan empat wanita sosialita tengah bergosip ria sambil memegang sepiring kue.


“Wah kupikir itu cuma gosip.” Wanita gemuk bergaun pastel menyahut, bibirnya yang dioles lipstik merah itu terlihat berminyak.

__ADS_1


“Aduh jeng, kayak gak tau aja, paling-paling dia sudah isi,” sahut wanita lain yang bertubuh lebih pendek, ia terlihat lebih muda daripada yang lain.


“Hah, namanya juga laki-laki kaya, asal ada uang apa pun bisalah.”


“Ck ... ck .. tak kusangka serendah itu istrinya, wanita murahan.”


Gosip itu semakin berlanjut dan semakin memanas, semakin banyak orang-orang yang ikut nimbrung karena penasaran, mengabaikan fakta bahwa mereka saat ini berada di kediaman Alfandinata.


Nala tersenyum, menyandarkan tubuhnya disandarkan kursi, tanpa campur tangan dirinya, saudara tirinya itu sudah dicap buruk oleh mereka, dia tidak sia-sia datang ke tempat ini.


Para penggosip itu tiba-tiba hening, mata mereka tertuju pada pasangan yang baru saja mereka gosipkan, terlihat Fatih berjalan santai sambil menggandeng tangan Nura.


Nala ikut menoleh, sedikit terkejut mendapati perubahan Nura, biasanya ia hanya melihat wajah pucat dan tidak bersemangat milik Nura, tapi sekarang ia melihat wajah gadis itu bersinar cerah dan berseri-seri, gadis itu memakai gaun abu-abu yang senada dengan Fatih, sederhana, tidak terlihat mewah tapi tidak juga terlihat murah.


Bagaimana bisa itik jelek itu berubah menjadi angsa dalam satu minggu!? pengaruh Fatih benar-benar kuat.


“Wah, kau datang.” Nyonya Lasmi menyambut dengan senyum tipis. Fatih hanya berdehem pelan, matanya menyapu segala penjuru undangan yang hadir, mereka semua adalah kalangan elit di kota ini.


Momen ini seperti dua sisi mata pisau, Fatih bisa diuntungkan tapi ia juga bisa dirugikan, Fatih menarik napas panjang, ia harus berhati-hati dengan tingkahnya.


“Yah, sebenarnya aku malas,” sahut Fatih acuh, Nura melirik suaminya itu, memberi isyarat agar dia bersikap sopan.


Nyonya Lasmi masih mempertahankan wajah dan senyum palsunya, mengangguk, “Silahkan, dia ada diruangannya.”


“Oke, terima kasih.”


Fatih dan Nura masuk ke dalam, melewati lorong panjang hingga mereka sampai disebuah pintu paling ujung. Fatih mengetuk pintu tiga kali, kemudian terdengar suara serak dari dalam menyahut, “Masuk.”


Fatih masuk ke ruangan itu diikuti Nura, di atas ranjang putih, seorang wanita tua berambut putih tengah bersandar dengan batal menumpuk dibelakangnya.


Nura memejamkan matanya sebentar, sungguh ironis, diluar sana pesta diadakan dengan meriah, sedangkan disini, wanita itu hanya sendirian.


"Apa kabar, Nenek." Fatih menyapa dengan nada datar, mereka duduk di kursi dekat ranjang.


Wanita itu tersenyum kecil, tangannya yang keriput itu terpasang infus, dengan gerakan lemah, tangannya berupaya menggapai Fatih.

__ADS_1


"Kamu datang," ucapnya dengan nada bergetar, air matanya menetes perlahan, Fatih membantu menyekanya dengan punggung tangannya.


"Ya, aku datang." Fatih memegang tangan sang nenek, menggenggamnya.


"Kamu tahu nenek sangat rindu," ucap wanita itu lagi, bertahun-tahun lamanya ia terbaring di ranjang, selama itu pula ia tidak melihat Fatih.


"Hm." Fatih tak menunjukkan raut wajah senang, sejak mereka masuk Fatih menjadi irit bicara.


Nura duduk di samping Fatih, ia lebih memilih diam, tak mau juga ikut campur dengan masalah yang tidak ia ketahui, biarlah keberadaannya dianggap tidak ada sementara.


"Kau semakin besar, kau makan dengan


baik kan?" Wajah Fatih diusap pelan dengan penuh kasih, Fatih lagi-lagi tak banyak merespons, kali ini hanya mengangguk.


"Kau mirip ayahmu."


"Ya."


Fatih menegakkan tubuhnya, membuat wanita tua itu bersandar kembali ke bantalnya, ia melirik Nura sekilas, lalu terdiam.


"Dia adalah Nura Daniar, istriku." Fatih menarik Nura mendekat kearahnya, memamerkan seberapa dekat mereka.


"Halo, Nenek." Nura menyapa singkat, ia sendiri bingung harus bersikap seperti apa,


dia bukan orang yang bisa bermanis muka, selain itu ia tidak pernah berinteraksi dengan seorang nenek, ia hanya menirukan sikap Fatih.


Wanita itu menatap Nura lamat-lamat, seolah menilai Nura, raut wajahnya menjadi tidak senang, ia terbatuk sebentar.


Nura terbiasa ditatap seperti itu, ia hapal betul jika wanita tua di hadapannya ini pasti tengah merendahkannya.


"Aku sudah mendengar banyak tentangmu." Wanita itu buka suara dengan pelan, tapi tatapannya tajam menusuk.


Nura diam, balas menatap, tak gentar sama sekali.


"Ceraikan dia," ucapnya tiba-tiba, Nura merasakan bahu Fatih menegang.

__ADS_1


"Apa?" Fatih hampir bangkit berdiri, namun ditahan Nura segera.


"Ceraikan dia, Fatih!"


__ADS_2