CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
20


__ADS_3

Paula memperhatikan Nura dari atas sampai ke bawah, gadis ini adalah calon istri Fatih? Ia pikir istri Fatih mempunyai tampilan anggun, keras dan kuat. Tapi di depannya ini adalah seorang gadis bertubuh mungil dan berwajah pucat dan terlihat rapuh dan lemah.


Ia mendesak Fatih sepanjang malam untuk bertemu dengan Nura, berbagai alasan ingin ajukan, termasuk mendekatkan diri sebagai seorang bibi, Fatih awalnya keberatan tapi akhirnya luluh juga.


Apa gadis sekecil ini bisa menghadapi tekanan keluarga Alfandinata?


“Aku Paula, bibi Fatih,” ucap Paula sambil mengulurkan tangannya, ia mengerutkan alisnya, sebersit ide muncul di kepalanya.


“Nura.” Sahut Nura singkat membalas uluran tangannya.


“Tidak pakai Daniar?”


“Tidak, Nura saja.”


“Hanya Nura?”


“Ya.”


Paula tersenyum simpul, kemudian ia menarik tangan Nura masuk ke mobilnya.


“Aku ingin lebih dekat denganmu, ayo kita berjalan-jalan sebentar.” Paula sengaja membawa mobilnya sendiri agar lebih leluasa membawa Nura berkeliling.


Gadis itu tidak protes, tidak menunjukkan ekspresi antusias, dia duduk dengan tenang di samping Paula yang menyetir.


“Aku penasaran, apa yang membuat Fatih jatuh hati denganmu.”


“Aku tidak yakin apa itu,” sahut Nura singkat, diam-diam ia mengagumi gaya berpakaian Paula, wanita itu memakai celana biru ketat dipadukan dengan kaos hitam dan kemeja merah, rambutnya yang bergelombang itu diikat tinggi, memamerkan leher jenjangnya, ia terlihat seperti gadis berusia dua puluh tahun daripada wanita berumur tiga puluh.


“Lalu, apa yang membuatmu jatuh cinta pada Fatih? Kau tahu dia agak kekanakan.”


“Dia baik,” sahut Nura sambil mengingat Fatih, sudah berapa hari ia tidak bertemu dan menelepon Fatih, baru tadi pagi ia mendengar suara Fatih.


“Hoo ... baik dari segi apa?”


“Dia banyak membelikanku makanan enak,” ucap Nura dengan wajah datar, Paula mendengarnya tergelak.


“Apa Fatih menyogokmu dengan makanan?”


“Tidak. Tapi dia pandai memilih makanan enak.”


“Kamu lucu sekali Nura.”


“Ke mana kita akan pergi?”

__ADS_1


“Kita akan pergi ke tempat yang Fatih suka, dan juga ....” Paula melirik Nura sambil tersenyum miring, “Aku ingin mengujimu.”


Nura hanya diam menatap Paula, diam-diam wanita itu mengagumi ketenangan Nura, gadis ini terlihat tidak gentar sedikit pun, ia tetap tenang menjawab pertanyaan Paula.


Paula menjadi penasaran dan semakin tidak sabar.


Ia mengemudikan mobilnya sampai ke sebuah arena balap liar. Mobil-mobil mewah dimodifikasi sedemikian rupa berjejer, beberapa wanita berpakaian seksi duduk di atas kap mobil, memamerkan lekuk tubuh dan kaki jenjangnya.


"Fatih suka balapan, biasanya dua atau tiga bulan sekali dia akan ikut berpartisipasi dalam acara ini. Sebagai calon istrinya kamu harus bisa membatasi kebiasaan Fatih, dia sangat boros untuk hal-hal seperti ini." Paula menjelaskan sambil mengelus sebuah mobil balap berwarna abu-abu, mobil itu sangat menawan.


“Hai Aros....” Paula menyapa seorang laki-laki yang datang dengan tubuh kekar dan berambut hitam kemerahan. Aros melihat Paula yang mengelus mobilnya langsung tersenyum dan memeluknya.


“Paula sayang, kapan kau kembali? Aku merindukanmu,” ucapnya dengan suara sensual, Nura di samping Paula hanya menatap datar kemesraan mereka.


“Well, siapa gadis kecil ini?”


Aros hendak memeluk Nura tapi gadis itu menatapnya tajam, membuat Aros mengurungkan niatnya.


“Dia Nura, calon istri Fatih kita,” sahut Paula terkekeh.


“Wow, aku tidak tahu dia akan segera menikah! Kau beruntung girl, dia orang yang baik.”


“Terima kasih. Fatih memang sangat baik.” Nura menyahut kaku, Paula merangkulnya.


“Santailah,” katanya menenangkan, lalu menatap Aros sambil tertawa, "Dia memang seperti itu.”


“Aku akan menonton, pastikan kamu menang di tempat pertama.”


“Tentu sayang.”


Paula membawa Nura menuju mobilnya lalu duduk di atas kap mobil. Nura mengikuti apa yang Paula lakukan tanpa protes.


Mereka memperhatikan mobil-mobil yang melaju dari kejauhan, Nura terkagum, seumur hidup baru kali ini ia menyaksikan acara orang kaya, balapan mobil mewah.


“Ah, aku ingin membeli minuman sebentar,” kata Paula tiba-tiba, tanpa menunggu sahutan Nura, ia meloncat dan berjalan riang meninggalkan Nura.


Gadis itu terdiam, di tengah sorak-sorai para penonton balap liar, duduk seorang diri seperti anak ayam kehilangan induk.


“Hei, siapa gadis kecil ini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.” Seorang laki-laki berpakaian berantakan mendekat, rambutnya berwarna pirang terlihat tidak cocok dengan kulitnya yang kecokelatan.


“Aku juga tidak pernah melihatnya.” Laki-laki bertubuh gempal datang menatap Nura dengan pandangan nakal.


“Kudengar dia adalah calon istri Fatih!” seru seorang laki-laki yang tiba-tiba duduk dan merangkul Nura. Wajahnya tirus dan tubuhnya penuh tato.

__ADS_1


“Jangan menyentuhku.” Nura menepis tangan itu dengan cepat.


“Duh, jangan kasar sayang.”


“Wow, tidak kusangka Fatih mendapatkan gadis cantik ini.”


“Apa yang kamu lihat dari bocah nakal itu? Bagaimana bersama kami saja?”


“Hei ikut kami saja, kami akan memanjakanmu. Apa pun yang kamu inginkan akan kami penuhi.”


Nura diam, membiarkan mereka berceloteh, ia tetap duduk dengan tenang meski dikelilingi tiga orang laki-laki hidung belang. Dalam hati ia mencari-cari keberadaan Paula.


“Hei cantik, jawab dong!” Laki-laki bertubuh gempal mulai tak sabar, menyentuh kaki Nura dengan pelan, melihat wajah gadis itu tetap datar membuatnya semakin berani, tangan itu hendak naik ke atas paha.


“Jangan menyentuhku.” Nura menangkap tangan itu dan dengan cepat memelintirnya.


“Arghh ... sialan ini sakit!”


Melihat temannya di perlakukan seperti itu oleh Nura mereka hendak melepas cengkeraman tangan Nura, namun gadis itu menendang tangan mereka.


“Kurang ajar!”


“Hee ... kuat juga ternyata.”


“Sudah kubilang ....” Nura menatap tajam mereka bertiga, “Jangan menyentuhku.”


Mereka bertiga terkekeh, Paula yang sedari tadi menontonnya tersenyum puas, ia sengaja menyuruh teman-temannya menggoda Nura, ingin tahu seperti apa reaksi Nura.


Dan ternyata di luar dugaannya.


Gadis ini tidak ketakutan atau gemetar, hanya duduk dengan tenang. Ia terlihat tidak mudah terpengaruh, gadis ini punya pendirian yang kuat.


“Stop, Boys!”


Paula datang sambil menenteng sekantung plastik minuman, ia membagi-bagikannya kepada teman-temannya termasuk kepada Nura.


“Jangan takut Nura, mereka ini adalah teman-temanku,” sambung Paula santai.


"Dia Ray," ucap Paula, tangannya menunjuk ke arah laki-laki dengan tubuh penuh tato.


"Dia Yudi dan Doru," laki-laki bertubuh gempal dan yang berpakaian berantakan melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.


“Terima kasih dan ... salam kenal.”

__ADS_1


Nura mengambil botol minuman dan membukanya, Paula tersenyum simpul, ia mulai menyukai Nura. Gadis ini akan menjadi rekan yang sempurna dalam melawan keluarga Alfandinata.


Gadis ini benar-benar menarik.


__ADS_2