
“Apakah kau baik-baik saja?”
Suara Yiyi membangunkan Nura yang terkurung di gudang, sudah dua hari sejak kejadian itu, Nala tidak juga berniat menyerahkan kunci untuk membuka pintu, hingga sore ini Tuan Prabu menyuruhnya membantu Nura bersiap pergi menemui Tuan Fatih
“Aku baik” Nura menyahut, mendekat ke arah pintu ketika suara kunci di putar, Yiyi masuk sambil membawa sepotong pakaian dan sepatu
“Kita harus bergegas, Tuan meminta tiga puluh menit untuk bersiap, kamu akan bertemu Tuan Fatih”
Nura menatap pakaian itu sebentar, lalu mengangguk
Mereka bersiap dengan cepat, Nura mengabaikan rasa lapar di perutnya
“Selesai!”
Yiyi yang menata rambutnya di belakangnya berseru riang, Nura menatap dirinya pada pantulan cermin yang retak, ketrampilan Yiyi sangat hebat, ia hampir tidak mengenali wajahnya sendiri
Yiyi tersenyum puas, menepuk-nepuk tangannya, pada dasarnya wajah Nura sudah cantik, hanya saja terlalu pucat, jadi Yiyi menambahkan riasan sehingga wajah itu merona, bibirnya yang tipis diolesi lipstik merah muda cerah, Nura memiliki kulit putih pucat dan mulus, mungkin jika nanti ia sudah menjadi istri Tuan Fatih dan melakukan banyak perawatan ia pasti menjadi seseorang yang sangat menawan
“Terima kasih, Yiyi” ucap Nura tulus, namun wajahnya masih datar
“Cobalah tersenyum, kamu akan terlihat lebih cantik!” Saran Yiyi, Nura mencoba melengkungkan bibirnya, susah payah, tetapi wajahnya menjadi aneh dan jelek
“Sepertinya tidak usah tersenyum saja” Yiyi berkomentar sambil menahan tawa, ia mengambil sepatu dan meletakannya di depan Nura
“Ayo”
“Ya”
Mereka berjalan keluar gudang beriringan menuju halaman utama rumah keluarga Daniar, disana sebuah mobil mewah berwarna hitam tengah menunggu
Sopir membukakan pintu belakang, Nura masuk perlahan, disana Tuan Prabu telah duduk menunggunya, mobil melaju membelah hiruk pikuk jalan raya kota Barat Daya, Nura tidak berniat membuka pembicaraan dengan Tuan Prabu, ia mati-matian memegangi perutnya yang kelaparan, takut perutnya berbunyi
“Jaga sikapmu di depan Tuan Fatih” laki-laki itu memberi peringatan
“Ya”
Mobil sampai di sebuah restoran bergaya jepang, ada nama Daniar di nama restoran itu, Nura mengikuti langkah kaki Tuan Prabu dengan patuh, mereka naik ke lantai tiga, ke sebuah ruangan luas, disana duduk seorang laki-laki paruh baya, Nura menebak pastilah orang ini adalah Tuan Fatih, disampingnya duduk seorang laki-laki muda bertubuh gagah, tersenyum lebar kearahnya
“Maafkan keterlambatan kami, Tuan Fatih!” Tuan Prabu menyapa dengan ramah, mereka saling berjabat tangan dan mempersilahkan duduk, Nura mengikuti apa yang Tuan Prabu lakukan
“Tidak apa-apa, kami baru saja sampai” laki-laki paruh baya yang di yakini Nura sebagai Tuan Fatih itu berkata dengan santai, tidak melirik Nura sama sekali, justru laki-laki muda di sampingnya masih menatapnya dengan senyum lebar
“Saya meminta maaf atas perbuatan putri saya di hari pertunangan kemarin” Tuan Prabu melirik Nura disampingnya “Anggap saja sebagai penebus kesalahan, saya mencoba memperkenalkan putri kedua saya”
Nura mengangkat wajahnya, lagi-lagi bertemu mata dengan laki-laki muda itu
“Perkenalkan nama saya Nura Daniar”
Suasana hening sejenak, Tuan Fatih tidak menanggapi Nura, ia meminum tehnya tenang, Tuan Prabu disampingnya berkeringat dingin
__ADS_1
“Aku tidak pernah tahu tentang putri keduamu”
“Dia adalah putri dari istri kedua saya, mereka tinggal di kota Tenggara, kota kelahiran ibunya”
pintar sekali orang ini membual
“Nura cukup pintar dibidang non akademik, ia pandai menjahit pakaian, dia sangat patuh dan sopan”
Tentu saja aku bekerja di pabrik Garmen!
Tuan Prabu berbicara seolah-olah ia sedang mempromosikan barang dagangan, pembicaraan berlangsung alot, Tuan Fatih terlihat tidak tertarik pada Nura
Hidangan pembuka satu persatu mulai berdatangan, sebuah mangkok kecil berisi sup sayur-sayuran, Nura memperhatikan makanan itu, tidak ada satu pun yang pernah ia makan
Apa ini bisa dimakan? Dimana nasinya?
Nura bertanya-tanya pada dirinya sendiri, takut akan mempermalukan Tuan Prabu, ia melihat-lihat tidak ada sendok, yang ada hanya dua stik kayu di hadapannya
Laki-laki muda itu masih menatap Nura, ia berdehem pelan, membuat Tuan Prabu mengalihkan pandangan ke arahnya
“Oh, aku tidak menyadarinya, siapa laki-laki tampan ini?”
“Saya adalah keponakan Tuan Fatih” Ujarnya sambil meletakan sumpit “Saya pikir Tuan Fatih memiliki sesuatu yang harus dibicarakan secara pribadi, bagaimana kalau saya mengajak Nura keluar sebentar?”
Nura menatap dengan terkejut, Tuan Prabu dengan gugup mempersilahkan mereka keluar
“Hai, Nura” laki-laki muda itu ternyata berjalan disampingnya, Nura menatap laki-laki itu sebentar lalu kembali menatap makanan di atas meja
Aku ingin makan
“Mau ikut denganku? Di bawah pemandangan pantainya sangat bagus”
“Apa.. disana ada makanan?”
Nura bertanya tanpa basa-basi, perutnya sudah tak kuat lagi menahan lapar, aroma kaldu ayam tercium, membuat perutnya berbunyi
Laki-laki itu tertawa, tawa yang berbeda dari yang biasa Nura dengar, tidak ada kesan merendahkan, hanya suara tawa yang ringan
“Tentu saja ada, apa yang ingin kamu makan?”
“Aku ingin nasi.. nasi yang banyak “ Kata Nura tanpa malu, lebih mementingkan rasa laparnya
Laki-laki itu mengambil ponselnya dan mengetik pesan, lalu membawa Nura ke sebuah gazebo di pinggir pantai
“Dimana makanannya?” Nura bertanya ketika mereka baru saja duduk
“Sebentar lagi” ujarnya tersenyum
“Kenalkan aku Alfandinata”
__ADS_1
Fatih mengulurkan tangannya, sengaja memakai nama belakangnya pada Nura, gadis itu mengangguk saja, perutnya berbunyi lagi
Fatih tertawa, apa gadis ini benar-benar lapar?
Malik datang dengan langkah tergesa, tidak menyangka bosnya akan menelepon dan menyuruhnya membeli dua buah nasi goreng telur porsi jumbo, seingatnya Fatih tidak memiliki nafsu makan yang besar
Sesampai di gazebo, Malik lebih terkejut lagi, Fatih duduk disana bersama seorang gadis cantik bergaun biru
“Makanlah”
Fatih menyerahkan nasi goreng itu ke hadapan Nura, gadis itu tak berkata apa-apa dan menghabiskan dua porsi nasi goreng telur dengan cepat, membuat Fatih dan Malik saling pandang dan bertanya-tanya
“Kau sangat lapar ya?”
“Um.. iya” Nura menyelesaikan makannya dan mengambil tisu, raut wajahnya yang pucat itu berangsur merona
“Apa kau sengaja tidak makan di rumah?”
Fatih bertanya heran, biasanya gadis yang pernah ia kencani akan sengaja tidak makan untuk makan banyak di restoran mahal
“Aku.. tidak...” Nura menjelaskannya dengan
terbata-bata “Aku belum makan dua hari”
Fatih dan Malik saling pandang, tidak ada tanda kebohongan dari mata Nura
“Bagaimana mungkin seorang putri Daniar belum makan selama dua hari? Apa kamu sedang diet?”
Nura menatap Fatih, terlihat kebingungan, lalu menggeleng
“Aku bukan putri Daniar” bantah Nura pelan, ia menatap Malik dan Fatih bergantian
Mereka bukan Tuan Fatih
“Aku anak haram keluarga Daniar, ibuku seorang pembantu” katanya tanpa beban, merasa lega
“Alfandinata jangan bilang kepada Tuan Fatih, nanti kami tidak jadi menikah” Sambungnya cepat
Tapi aku Tuan Fatih itu!
Malik melirik Fatih yang muram, bosnya pasti sedang murka, berani sekali keluarga Daniar menjodohkan mereka dengan seorang anak haram, ini penghinaan
“Kenapa kau sangat ingin menikahi Tuan Fatih?”
Berusaha mengendalikan dirinya Fatih bertanya, gadis itu hanya memasang wajah datar sejak awal masuk ke restoran
“Aku tidak bisa menolak, juga tidak ingin berurusan dengan mereka”
Fatih menyadari jika hubungan Nura dan Keluarga Daniar tidaklah baik
__ADS_1