CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
2


__ADS_3

Bekerja di Pabrik Garmen tidaklah menyenangkan, duduk berjam-jam di depan mesin jahit membuat tubuh Nura kaku, terkadang ia tidak sengaja mengunting atau menjahit tangannya sendiri, seperti hari ini Nura memperhatikan kedua tangannya yang di tempeli plester dimana-mana, setelah pembagian upah harian yang hanya cukup untuk makan beberapa hari itu, Nura keluar pabrik tanpa banyak kata


Gadis itu baru berusia dua puluh tahun, tubuhnya kurus, rambut coklat sebahunya diikat asal-asalan, wajahnya pucat, tanpa ekspresi, beberapa kali ia berpapasan dengan rekan sesama buruh, Nura tidak tersenyum atau menyapa, hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku


Nura mengeratkan mantel tua miliknya ketika gerimis turun, suasana sore ini begitu sepi di tempat terpencil ini, sejauh mata memandang hanya ada pabrik dan para buruh, selebihnya adalah kebun kapas dan teh yang sangat luas


Langkahnya melambat, ia mengantuk dan lelah, dua hari dua malam ia lembur, ingin cepat-cepat tidur, tapi malas pulang, bertemu sang bibi adalah hal yang paling ia hindari, wanita yang tinggal bersamanya sejak ibunya meninggal itu kerap kali memarahinya, mencari-cari kesalahannya untuk di pukuli, lalu mengambil upah bekerja miliknya untuk bermain judi


Nura merogoh sebagian uang di sakunya lalu menyelipkan ke dalam sepatu


Setelah melintasi kebun teh yang luas, ia sampai di rumahnya, mengerutkan kening melihat sebuah mobil mewah terparkir rapi disana, Bibinya tengah berbincang dengan seorang pria berpakaian rapi, memakai sepatu hitam mengkilat, tak cocok dengan lantai tanah rumahnya


Nura tiba di hadapan mereka berdua, raut wajah bibinya tidak baik, ada gurat kemarahan dan keserakahan di wajahnya, sedangkan pria itu tersenyum lalu mendekat dan memeluknya


“Dia Tuan Prabu, ayahmu!”


Bibinya berkata dingin ketika pria itu melepas pelukannya, Nura tidak merasa senang atau sedih, dia hanya menyahut dengan datar “Oh”


Nura tahu cepat atau lambat hari ini pasti akan datang, ia tidak terkejut sama sekali, tidak tahu juga harus berekspresi seperti apa, selain memandangi pria itu dari atas sampai bawah, dan menemukan fakta bahwa dia tidak memiliki kemiripan sedikit pun dengan Nura, dan Nura bersyukur akan hal tersebut


Bibinya melempar tas butut miliknya ke tanah, entah kapan barangnya di kemas di tas itu.


“Tuan Prabu ingin kau tinggal bersamanya di kota” Bibinya berkata sinis tanpa beban “ Dan menikahkanmu dengan pria tua yang kaya disana”


Tuan Prabu baru sadar dari lamunannya, melihat sosok Nura yang sangat mirip dengan Ratna, mantan pembantunya, semakin ia melihat mata Nura yang kosong itu semakin hatinya terasa sakit, dia meraih tangan Nura dan menggenggamnya erat-erat, dengan cepat menimpali perkataan bibi Nura


“Nak, bukan seperti itu, Ayah ini sudah tua dan ingin berkumpul dengan anak-anak, ayah tidak ingin kamu berada di tempat ini terlalu lama dan hidup berkecukupan”


Nura menatap Tuan Prabu dan bibinya bergantian, ia tahu ia tidak punya pilihan, sejak awal hidupnya bukan miliknya, tetap bersikeras tinggal pun percuma, yang ada hanya siksaan sang bibi yang semakin menjadi, Nura juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia pergi dan menikah dengan pria tua kaya itu, ia benar-benar tidak ingin berpikir terlalu keras, tubuhnya lelah dan butuh tidur. Nura memungut tasnya yang tergeletak di tanah lalu menyandangnya


“Ya. Ayo”


Setelah mendengar perkataan singkat Nura, sang bibi tersenyum puas, Nura yakin bibinya telah menerima sejumlah uang dari Tuan Prabu, tetapi ia tidak apa, ia tidak peduli


Tuan Prabu tertegun mendengar jawaban Nura, ia tidak menyangka akan semudah ini membawa Nura pergi dengannya, laki-laki itu awalnya telah mempersiapkan segala hal untuk membujuk anaknya itu, termasuk rencana paksa jika Nura memberontak seperti Nala


“Ah, ayo kita pergi Nak!” Katanya riang, bibirnya melengkung membentuk senyuman


Dengan hati yang ringan Tuan Prabu menuntun Nura naik ke dalam mobil, tanpa banyak basa basi mereka telah meninggalkan tempat itu. Tuan Prabu memperlihatkan ponselnya, terdapat foto wanita paruh baya dan seorang gadis memakai gaun satin yang indah, wajahnya sangat elok, rambutnya yang panjang itu ditata sedemikian rupa


“Ini adalah Ajeng, ibu tirimu dan Nala saudara tirimu, bersikap baiklah kepada mereka” Tuan Prabu berkata, memberi peringatan awal kepada Nura, bagaimanapun juga statusnya adalah anak haram keluarga Daniar


“Ya” Nura tidak merasakan perasaan apa pun, tidak juga sedih dan bahagia bertemu ayahnya, sahutannya yang singkat itu telah membuat Tuan Prabu puas, Nura yang tidak banyak protes sepertinya akan mudah di kendalikan.


“Kapan aku akan menikah?” Pertanyaan tak terduga Nura membuat Tuan Prabu terkejut, dengan cepat ia menguasai dirinya


“Secepatnya. Aku akan mengurusnya dengan Tuan Fatih”


Nura hanya tidak ingin berlama-lama tinggal bersama ayah dan ibu tirinya, jika ia menikah berarti ia bisa pergi di tempat yang berbeda bersama suaminya, tidak peduli jika calonnya tua bangka sekalipun asalkan ia tidak tinggal serumah dengan orang-orang ini, itu sudah cukup bagi Nura


Ia tahu kedatangan ayahnya tidak benar-benar ingin membawanya pergi bersamanya, tetapi ada maksud lain, perjodohan ini pasti salah satu hal untuk memperkaya diri mereka sendiri, seperti apa yang mereka lakukan pada ibunya, di pakai saat berguna kemudian dibuang seperti sampah ketika sudah tidak berguna

__ADS_1


Nura ingin marah dan memukul orang yang membuat ibunya menderita sampai akhir hayat, hidup dalam lingkup kemiskinan dan kelaparan, lalu datang dengan seenak jidat menjodohkan Nura dengan orang yang bahkan tidak pernah ia temui, namun apa daya, ia tak merasakan emosi apa pun, sejak ibunya meninggal lima tahun yang lalu, Nura kehilangan emosinya, ia bahkan tidak menangis saat pemakaman, tidak juga tertawa bahagia saat kelulusannya di sekolah menengah, semuanya ia lalui tanpa emosi, datar dan hampa


Tuan Prabu melirik pakaian Nura yang jauh dari kata layak, mantel berwarna hitam pudar termakan usia, celana kain yang kependekan di atas mata kaki dan kaos oblong lusuh


“Hm.. sepertinya kita harus mampir ke butik dan salon sebentar”


sang sopir yang sedari tadi diam mengangguk, Nura menatap dirinya sendiri di pantulan kaca, tak berkata apa pun, wajar bagi Tuan Prabu melakukan hal tersebut, ia pasti tidak ingin kehilangan muka terhadap penampilan Nura yang lebih mirip pengemis di pinggir jalan, terlebih lagi, Nura akan ia pertemukan lagi dengan Tuan Fatih, ia harus membangun tampilan yang baik bagi semua orang


Mobil Berhenti di sebuah butik di pinggiran kota, Tuan Prabu mengajak Nura masuk dan meminta pegawai butik memberi mereka beberapa potong pakaian yang cocok. Seorang wanita berambut panjang bergelombang datang mendekat, memakai rok pendek berwarna hitam yang ketat memperlihatkan bentuk pinggulnya, memakai kemeja merah muda, ia tersenyum ramah, sepertinya ia adalah pemilik butik ini. Tanpa ragu wanita itu menarik Nura berkeliling butik dan memilihkan beberapa pakaian


“Namaku adalah Erya”


Wanita itu memperkenalkan diri, entah mencoba berkenalan atau hanya sekedar ingin akrab dengan pelanggan


"Aku pikir ini cocok untukmu”


Erya memperlihatkan satu gaun pendek tanpa lengan berwarna jingga, Nura menatap gaun itu sebentar lalu melihat tangannya yang penuh luka


“Aku pikir itu terlalu pendek”


Nura berkomentar singkat, Erya terkikik mengiyakan lalu membawa Nura ke arah pakaian kasual, sebelum Erya mengambil pakaian yang pendek lagi, Nura berinisiatif mengambil kemeja berwarna putih tulang dan rok berwarna coklat muda, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek


“Seleramu bagus, cobalah di ruang ganti aku akan memilihkan beberapa yang seperti ini”


Nura tak berkata apa pun, ia masuk dan mengganti pakaiannya dengan cepat, begitu keluar ia melihat Erya yang semangat memperlihatkan pakaian pilihannya, Tuan Prabu mengangguk puas, lalu menyuruh para pegawai toko membungkusnya


Setelah selesai berurusan di butik, mereka menuju salon kecantikan, mereka merapikan rambutnya, menghias wajahnya dan kuku di tangannya, plester itu di ganti dengan plester yang sewarna dengan warna kulit sehingga tidak kentara terlihat


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, mereka akhirnya tiba di rumah mewah Tuan Prabu, di depan pintu Nyonya Ajeng dan Nala menunggu dengan penasaran


“Nura, sapalah ibu dan kakakmu” Titah Tuan Prabu begitu mereka mendekat, Nura tahu maksud perkataan Tuan Prabu


“Selamat malam, Ibu dan kakak”


Nyonya Ajeng tersenyum meremehkan melihat penampilan Nura yang tampak serba baru, pasti suaminya yang membelikan semua itu, sedangkan Nala menatap penampilan Nura dari atas hingga bawah, penampilan mereka bagai bumi dan langit, Nura dengan pakaian kasual sederhananya dan Nala dengan gaun satin mewah dan perhiasan di tubuhnya


Sekali udik tetaplah udik!


“Antarkan Nona kedua ke kamarnya”


Pelayan mengambil tas butut dari tangan Nura, mengajaknya ke lantai tiga, ketika tiba di kamar barunya Nura hanya diam memperhatikan setiap sudut ruangan, jika di bandingkan dengan kamarnya di tempat pengasingan kamar ini jauh lebih luas, di meja rias terdapat banyak peralatan make up dan skin care yang Nura tidak pernah sekalipun melihatnya, ada lemari besar yang penuh pakaian, dan ranjangnya besar berwarna hijau lumut, ketika ia mendudukinya terasa empuk dan nyaman


“Nona kedua” suara pelayan dari luar kamar terdengar “Anda di tunggu di ruang makan”


Nura membuka pintu kamarnya, melihat pelayan itu mempersilahkan dirinya untuk mengikuti ke ruang makan, disana Nyonya Ajeng, Tuan Prabu dan Nala telah menunggu, di atas meja tersedia berbagai hidangan makanan barat


“Kemari duduk Nura” Tuan Prabu menyuruh Nura duduk berhadapan dengan Nala, wanita itu hanya melirik Nura dengan sinis


“Mulai sekarang, Nura akan menjadi bagian dari keluarga Daniar, aku harap kalian semua dapat akur”


Nura mengangguk kaku, suasana makan malam terasa sangat canggung, Nala menggulung spageti di garpunya, tidak berminat memakannya

__ADS_1


“Kapan aku menikah?”


Nura bertanya hal yang sama untuk kedua kalinya, Nyonya Ajeng mengerutkan kening, bingung, namun detik berikutnya ia menjadi senang, sedangkan Nala memandangnya dengan jijik


“Besok aku akan menghubungi Tuan Fatih”


“Bagus. Lebih cepat lebih baik!”


Nala menertawakan sikap pasif Nura, di kepalanya sudah terbayang betapa serasinya Nura dengan pria tua bangka itu


“Kalian akan menjadi pasangan paling cocok ha ha!”


Nura tahu bahwa ia sedang diolok-olok namun ia tidak memberi respons apa pun sehingga membuat Nala kesal sekali, Nyonya Ajeng puas melihat Nura cukup tahu diri dengan statusnya di keluarga ini


“Ya”


Lagi-lagi Nura menyahut singkat dengan datar, ia meletakan sendok dan garpu di atas piringnya, makanan itu masih tersisa setengah “Terima kasih makanannya, saya permisi”


Ia beranjak tanpa mendengarkan sahutan Tuan Prabu atau Nyonya Ajeng menuju kamarnya, ia sangat ingin tidur


“Hei dasar tidak sopan!” Nala mendesis, mengentak meja, ia menginginkan ekspresi kesal atau sedih dari gadis itu namun ia tidak mendapatkan apa-apa selain ekspresi datarnya seolah perjodohan dia dengan Tuan Fatih bukanlah hal besar


“Dia harus di beri pelajaran!” bergumam pada dirinya sendiri, dengan mata berkilat, Nala beranjak menyusul Nura ke kamarnya, dengan langkah lebar-lebar, ia menemukan Nura yang berjalan pelan


“HEH! Gadis udik!”


Nala berseru nyaring dengan nada meremehkan dia mendorong Nura ke samping hingga gadis itu tertabrak ke dinding, cukup keras hingga meninggalkan suara berdebam, tapi Nura tak bereaksi apa pun selain ekspresi datarnya


Apa ia tidak merasakan rasa sakit?


Nala keheranan, ia yakin mendorong cukup keras, seharusnya gadis ini berteriak kesakitan atau menangis, tapi ini.. kenapa dia...


“Ada apa?” Nura berkata sambil memegang bahunya, sebenarnya ia merasakan sakit tapi ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, bingung


“A..A..Kamu apa-apaan!”


Nala jengkel setengah mati, apa dia sedang di permainkan? Ia menarik rambut Nura yang pendek itu mendekatkan wajahnya lalu berbisik penuh ancaman


“Jangan berpikir kamu dapat hidup nyaman disini, ingatlah statusmu, kamu hanya anak haram keluarga Daniar!”


Nura merasakan rambutnya di lepas kasar, ia menatap Nala beberapa saat mencerna kata-kata tersebut lalu menyahut singkat “Ya”


Nala semakin jengkel, pipinya merah, merasa di rendahkan, Ia tidak menyangka Nura meresponsnya seperti itu, seharusnya sekarang ia sedih atau ketakutan, atau paling tidak matanya bercucuran air mata tapi mata Nura tidak mengeluarkan air mata, hanya pandangan yang sama ia dapat sejak pertama kali Nala melihatnya, tatapan datar tanpa ekspresi


“Kamu.. apa kamu manusia?” Dengan bergidik Nala mengeluarkan pertanyaan bodoh, apakah Nura benar-benar tidak normal? Atau ia hanya dipermainkan oleh gadis udik ini? Ini salah satu muslihatnya?


Benar-benar licik!


ia menjauh dengan rasa kesal dengan kaki dientak-entakkan keras, pertanda marah besar


Nura menyentuh hidungnya, merasakan napasnya yang hangat, tak jauh dari mereka beberapa pelayan berdiri dengan kaku, raut wajah mereka terlihat takjub, baru kali ini ada yang berani membuat Nona Muda marah besar, mereka menunggu jika sewaktu-waktu Nura memerlukan bantuan, namun gadis itu tak berkata apa pun masuk ke kamarnya dan menutup pintu lalu beranjak tidur.

__ADS_1


*


__ADS_2