CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
12


__ADS_3

Setelah membuat banyak kehebohan di perusahaannya sendiri, kini Fatih tengah duduk santai di sebuah balkon Kafe di pinggiran kota, bersiul santai, menatap indahnya semburat senja di langit


“Man, kau berubah banyak dalam semalam”


Sesosok laki-laki datang dari dalam kafe membawa dua cangkir kopi di tangannya, duduk di dekat sahabatnya


Laki-laki itu adalah sahabat Fatih sejak kecil, Darsa namanya, laki-laki tinggi dengan kulit kecokelatan, memakai setelan kemeja bermerek dari butik ternama disertai jam tangan impor, penampilannya dipenuhi Kemewahan, wajar bagi seorang dokter di salah satu rumah sakit terkemuka di kota ini


“Aku tahu cepat atau lambat akan seperti ini”


Darsa melihat penampilan Fatih dari atas sampai bawah, sahabatnya itu mengenakan setelah jas hitam dengan dasi biru melingkari lehernya, rambutnya ditata rapi, dengan sepatu hitam mengkilat, mungkin jika ditambahkan kacamata maka penampilan Fatih akan menjadi lebih sempurna


Dua hari sebelumnya, Darsa masih sempat berkunjung ke rumah Fatih, di depan berkas dan dokumen yang menumpuk, Darsa masih melihat Fatih duduk di depan laptopnya, dengan baju kaos bola, celana pendek dan sandal kodok berwarna hijau


Tapi hari ini, tidak ada yang menyangka Fatih berubah dalam satu malam!


“Aku tidak bisa diam ketika mereka berperilaku seenaknya”


Darsa secara keseluruhan sudah mengetahui apa yang terjadi di Axa grup


“Hoo.. mereka memang”


Darsa dan Fatih menyesap kopinya dengan tenang, menikmati pemandangan langit senja


“Apa yang membuatmu jatuh cinta pada gadis itu?” Darsa bertanya tanpa menoleh, begitu pula dengan Fatih, laki-laki itu diam sejenak, mengingat dan berpikir keras apa yang menarik dari sosok Nura


Gadis itu selalu berekspresi datar, berpikiran lurus dan sangat polos, terkesan lemah tidak berdaya, tetapi karena semua itulah Fatih ingin Nura berada di dekatnya, merangkul gadis itu, memeluknya dan melindunginya


“Tidak ada” Sahut Fatih akhirnya


Darsa tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat


“Siapa gadis itu?”


“Dia?”


“Ya. Siapa gadis yang akan kau nikahi itu?”


Darsa kembali menyesap kopinya santai, sedangkan Fatih meletakan kembali cangkirnya, bersandar di kursi


“Anak haram..”


“UHUK!!”


“...keluarga Daniar, namanya Nura” Ucapnya tanpa beban, Darsa langsung tersedak kopinya, ia merasakan air kopi keluar dari hidungnya, mengambil tisu di meja, terbatuk-batuk menatap Fatih tidak percaya


“Anak haram? Mereka benar-benar kurang ajar!”

__ADS_1


Darsa ingin menyuarakan protesnya lebih jauh, tetapi ia yakin Fatih punya alasan tersendiri, walaupun benar-benar tidak tahu seperti apa jalan pikiran Fatih, sahabatnya ini pasti sudah gila


Bagaimana mungkin seorang putra konglomerat Alfandinata menikahi anak haram dari keluarga rendahan Daniar?


“Ya”


Fatih memamerkan fotonya dan Nura ketika mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli ponsel, di sana Fatih merangkul dengan senyum lebar, yang kalau menurut Darsa jelek sekali, lalu gadis di rangkulan Fatih hanya menatap datar kamera


“Kalian yakin saling mencintai? Gadis ini bahkan tidak menunjukkan senyum yang benar!”


Fatih menatap foto Nura sebentar, lalu tersenyum


“Dia belum tersenyum saja”


Dia tahu ada begitu banyak kesulitan dalam hidup Nura, menjadi anak haram, tinggal di lingkungan pengasingan yang keras bersama bibi yang selalu menyiksanya, ibunya meninggal karena sakit dan tanpa ada upaya pengobatan , Nura menyaksikan sendiri ibunya meregang nyawa tanpa berbuat apa-apa


Membayangkan itu saja sudah membuat hatinya berdenyut sakit, tidak dapat dibayangkan seberapa besar luka yang menganga di hati gadis itu


“Ha?!”


“Tenang saja, setelah kami menikah dia pasti tersenyum” Fatih berkata dengan santai menyesap kopinya diikuti dengan Darsa


Ia akan melakukan apa pun untuk membuat gadis itu tersenyum


“Sebaiknya kau jangan bermain-main” Peringat Darsa, ia tahu betul sikap kekanakan sahabatnya ini, jika ia sudah bosan dengan sesuatu, maka sesuatu itu bisa di buangnya dengan mudah


Sebagai orang yang lebih dewasa daripada Fatih, ia menasihati


Fatih terkekeh pelan “Aku tahu”


*


Yiyi datang ke gudang menjelang makan siang, ia baru saja bertemu dengan Malik di taman kompleks Latusa, kedua tangannya menenteng plastik penuh makanan


“Nura!” Ia berseru, tetapi ia tak mendapati siapa pun di dalam gudang


Mungkin sedang ke toilet, batinnya ia menata makanan dari Tuan Fatih ke atas meja


Tak lama Nura datang dengan napas tersengal seperti habis berlari, Yiyi menyapanya dengan semangat


“Nura, ayo kita makan!” Yiyi berseru riang, Nura datang mendekat dan duduk di kursi


Matanya memandang makanan yang ada di atas meja, sangat banyak, dari olahan ikan hingga daging, dan tidak ketinggalan nasi putih yang mengepul dua kotak penuh


Sejak hari di mana mereka bertemu di kompleks Latusa, ia tidak pernah kelaparan lagi, laki-laki itu secara rutin mengiriminya makanan dalam jumlah besar


Dia sangat baik

__ADS_1


Nura mungkin akan bersedia menjadi istrinya jika dia belum dijodohkan dengan Tuan Fatih


Nura membiarkan Yiyi mengambilkan makanan untuknya, gadis itu sangat bersemangat hingga menumpuk semua makanan di piring Nura hingga penuh seperti gunung


“Dia sangat baik, orang itu sangat baik dan perhatian padamu” Yiyi berkomentar sambil menyerahkan piring kepada Nura, menekankan kata baik berulang kali


“Wajahnya juga tampan, tinggi dan kakinya panjang sekali”


“Ya. Dia baik” Nura menyahut seadanya, makan dengan lahap


“Seandainya saja dia Tuan Fatih, ah tidak, Seandainya saja Tuan Fatih baik dan perhatian seperti ini, pasti akan lebih baik”


“Tidak apa-apa, ini sudah cukup untukku”


Nura tidak peduli seperti apa nanti dia akan diperlakukan, yang penting bisa tidur nyaman dan makan enak, itu sudah cukup


“Tapi Nura, jika seandainya saja orang itu adalah Tuan Fatih apa kamu mau menikahinya?” Yiyi terus berkomentar, entah sudah makan atau belum, piringnya masih penuh


Nura mengambil daging yang diiris tipis-tipis, memasukkannya ke mulut dan mengunyahnya


“Tentu saja” Katanya sambil memasukkan daging ke mulutnya lagi


“Mengapa? Apa karena dia baik dan tampan?”


“Salah satunya itu” Nura menjejali mulut Yiyi dengan daging, pelayan itu makan dengan wajah penasaran


“Karena dia memberi ponsel dan sweter, mengajakmu jalan-jalan?”


“Bukan. Karena ini” Nura menunjuk ayam tepung yang digoreng kecil-kecil dicelup ke saus tomat, lalu mulai makan lagi dengan khidmat


Yiyi tidak tahu harus menangis atau tertawa, cinta nonanya hanya sebatas makanan!


Mereka makan dengan nyaman hingga mata Yiyi tidak sengaja melihat botol obat di dekat Nura


Obat pencuci perut


“Apa kau kesulitan buang air?” Yiyi bertanya dengan khawatir, Nura melirik botol obat itu


“Tidak”


“Lalu itu?”


“Aku memasukkannya ke sup jamur milik Nyonya Ajeng tadi”


“Eh?” Yiyi berseru kaget, di saat bersamaan ia mendengar keributan pelayan di rumah keluarga Daniar, ia kemudian tertawa terbahak


Nyonya itu pantas mendapatkannya

__ADS_1


__ADS_2