
Nura baru saja pulang dari fiting baju pengantin, ia sengaja berjalan memutar untuk menghindari bertemu Nala, tidak ingin mendengar kata-kata kasar dari mulut wanita itu.
Wanita itu hanya akan membuatnya merasa lelah.
Nura berjalan melintasi ruang tengah, ini masih pukul tiga siang, jadi ia tidak berpikir jika di sana ada orang, terlebih lagi Nala, wanita itu biasanya sedang tidur atau duduk di balkon kamarnya.
Tapi Nala ada di sini, tengah berbicara sambil memegang telepon. Nura berniat melewatinya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti.
“Aku akan membuat pesta pernikahannya menjadi pesta paling buruk,” ucap Nala sambil berdiri membelakangi Nura, tangannya memegang segelas jus.
“Aha, kau tahu? Aku menyabotase pernikahannya, ku tukar dengan paket paling murah, dia pasti akan membuat Tuan Fatih malu.”
Nura mendengarnya, Nala sedang membahas rencana pernikahan ia dengan Fatih, ia harus mendengarkan.
“Hahaha, percuma saja memakai gaun mewah, kalau acara pernikahan mereka sangat sederhana. Aku membuatnya kelihatan miskin, biar Tuan Fatih menjadi merasa jijik menikah dengannya!"
“Oh, kau tahu? Dia sangat suka makan,” Nala masih saja mengoceh di teleponnya, tidak sadar keberadaan Nura. “Di pestanya nanti tidak akan ada makanan, aku sudah mengaturnya, bayangkan betapa malunya Tuan Fatih.”
Suara kasak-kusuk dari telepon terdengar, Nura tidak dapat mendengarnya dengan jelas, dilihatnya Nala hanya terkekeh-kekeh.
“Dia hanya gadis rendahan, tidak akan mengerti,” sambung Nala santai, kali ini telah menghabiskan segelas jusnya.
“Itu tidak akan jadi salahku, aku tinggal menyalahkan pihak penyelenggara. Ibuku juga tidak tahu.”
Wajah Nura semakin muram mendengar semua rencana jahat Nala, tanpa suara ia berjalan menuju kamarnya. Tangannya dengan cepat membongkar isi tas kumal miliknya.
“Nura? Kapan kau kembali?”
Yiyi masuk tanpa mengetuk pintu, niatnya ingin mendengar cerita Nura sambil minum es jeruk tetapi gadis itu tampak sibuk membongkar tasnya.
“Baru saja,” sahut Nura singkat.
“Apa kau kehilangan sesuatu? Biar aku bantu mencarinya.” Yiyi meletakkan nampan di atas meja dan mendekat. Nura melambaikan tangannya, gadis itu memegang sebuah botol kecil berisi serbuk.
“Nura apa yang ingin kau lakukan? Itu bukan obat pencuci perut ‘kan?”
“Bukan,” ucap Nura. “Ini serbuk gatal.”
Dulu di pengasingan serbuk ini begitu populer untuk melakukan kejahilan pada atasan mereka, serbuk ini terbuat dari bunga mawar yang dikeringkan.
Yiyi tidak mengerti dari mana Nura mendapatkan pemikiran sepeti itu, biasanya orang akan langsung melabrak atau menjambak rambut ketika mereka merasa kesal pada orang lain secara langsung.
“Apa yang ingin kau lakukan? Mengerjai Nyonya besar?” Yiyi ingat terakhir kali Nura memasukkan obat pencuci perut di makanan Nyonya Ajeng.
__ADS_1
Nura tidak menjawab, ia keluar dari kamar dan Yiyi mengekori Nura dengan gugup.
“Jangan biarkan Nala masuk ke kamar,” ucap Nura ia menunjuk ruang tengah, Yiyi mengangguk dan segera berjalan ke sana, urung bertanya saat melihat wajah Nura yang gelap.
Nura masuk ke kamar Nala yang tidak terkunci, ia hafal kebiasaan wanita itu, Nala sedikit ceroboh, sekali dua kali ia melihat wanita itu tidak mengunci pintu kamarnya ketika keluar.
Ia melihat kamar Nala yang lebih luas dari kamarnya, deretan lemari pakaian dan sepatu berjejer tersusun rapi. Nura membuka lemari sepatu, menaburkan bubuk itu hampir ke semua sepatu Nala, tidak puas sampai di situ, ia menaburkannya pada bedak dan krim milik Nala sampai botol kecil itu kosong.
Nura bersedekap, merasa puas.
Matanya tidak sengaja melirik gaun berwarna biru pucat yang tergantung di sudut lemari, menyentuhnya.
“Nura! Cepat keluar, Nona Muda akan kemari sebentar lagi.” Yiyi masuk dan menjulurkan kepalanya, Nura dengan cepat menarik tangannya dan tanpa sengaja mencopot salah satu talinya.
Oh?
Nura diam sebentar, ia tidak sengaja merusak gaun itu, tapi ia tidak memedulikannya, bergegas keluar dan kembali ke kamar bersama Yiyi.
“Nura kenapa kau melakukan itu? Apa Nona Muda membuatmu kesal?” Yiyi tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya. Nura duduk, dan meminum es jeruk yang mencair.
“Dia ingin menghancurkan pesta pernikahanku dengan Fatih.”
“Apa dia menghancurkan gaun pernikahanmu? Apa kamu dipermalukan di butik tadi?”
“Lalu apa?”
“Dia membuat pihak penyelenggara pernikahan tidak menyediakan makanan sama sekali.”
“He?” Yiyi mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Dia menukar paket pernikahan menjadi paket sederhana, tidak ada makanan, hanya dekorasi resepsi saja,” jelas Nura, Yiyi baru sedikit paham dan mengangguk. Nura memang punya caranya tersendiri.
Yiyi senang-senang saja, kalau perlu Nala dikerjai setiap hari pun, ia siap sedia membantu, tingkah laku wanita itu kadang keterlaluan.
Nura mengambil ponsel kesayangannya, mencari kontak Fatih, Yiyi merasa tidak ada yang dia lakukan kembali ke dapur.
“Fatih, apakah kamu sibuk?” Nura tanpa basa-basi bertanya, terdengar suara ceria Fatih disana.
“Tidak, sebentar lagi jam kantor berakhir, aku sedang bersiap pulang.”
“Baguslah. Aku ingin bercerita,” kata Nura, Fatih di seberang telepon tertawa.
“Oke, apa itu?”
__ADS_1
“Aku mengerjai Nala, menaburkan serbuk gatal di sepatu dan bedak miliknya,” adu Nura tanpa rasa bersalah, Fatih tertawa lagi.
“Oh, putri tidak sopan itu? Kenapa? Apa dia menghalangi pelayan memberikan makanan untukmu lagi?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang terjadi?”
Nura diam sebentar, “Dia ingin merusak pesta pernikahan kita dengan pihak penyelenggara.”
“Benarkah?” suara Fatih terdengar tidak senang, mereka diam sebentar hingga Nura mendengar suara ketikan keyboard komputer kemudian suara benda pecah.
“Fatih, kau baik-baik saja?” Nura bertanya, rasanya ia tidak sekali dua kali mendengar benda pecah ketika menelepon Fatih.
“Ah, iya aku baik. Tanganku tidak sengaja menyenggol cangkir kopi,” kata Fatih kembali dengan suara riang.
“Oh, syukurlah.”
“Nura, sebelumnya aku sudah berjanji mengajakmu ke suatu tempat, ayo pergi sore ini.”
“ke mana?”
“Suatu tempat, tunggu aku satu jam lagi, oke?”
“Oke, aku akan bersiap,” ujar Nura, mematikan telepon dan buru-buru ke kamar mandi untuk bersiap.
Sementara itu Fatih tengah menggigiti es batu dengan gemas, Malik datang ke hadapannya dengan pandangan heran.
“Ada apa, bos?”
“Batalkan kontrak penyelenggara pernikahan dengan keluarga Daniar, cari pihak lain yang menyediakan paket lebih mewah dan mahal.”
Malik tanpa banyak kata, keluar ruangan, tak berselang lama, Paman Zoe masuk ingin mengambil berkas, keningnya berkerut melihat Fatih menggigiti es batu.
“Oh, sedang kesal?”
“Sangat kesal, sampai-sampai ingin menggigit dua potong es.”
Paman Zoe tertawa, ia tahu kebiasaan Fatih saat sedang kesal, demi menghindari mengumpat laki-laki itu akan menggigiti es batu sampai mulutnya kebas.
“Keluarga Daniar itu, akan ku buat mereka menderita.”
Paman Zoe hanya menggeleng pelan, Fatih masih muda tapi sudah berambisi begitu jauh hanya demi seorang gadis. Ia berharap semoga mereka berdua tidak saling mengecewakan satu sama lain.
__ADS_1