CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
25


__ADS_3

Acara pernikahan berlangsung hingga makan malam dua keluarga, meja makan di atur sedemikian rupa oleh para pelayan keluargs Daniar, di sana telah duduk pasangan pengantin baru Nura dan Fatih, di sisi kanan mereka, ada Tuan Prabu, Nyonya Daniar dan Nala yang datang dengan wajah masam.


Di sisi kanan, terdapat Paula, Paman Zoe, Tuan Rangga dan Nyonya Lasmi datang sebagai perwakilan keluarga Alfandinata.


“Saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Fatih dan Nura, semoga langgeng sampai akhir hayat,” ucap Tuan Prabu sambil mengangkat gelas diikuti Nyonya Ajeng.


“Terima kasih, saya akan menjaga Nura dengan baik,” balas Fatih tertawa langsung membalas mengangkat gelas, begitu pula semua orang.


“Kalian harus saling mengasihi satu sama lain,” tambah Nyonya Ajeng sok bijak, Fatih hanya mengangguk, Tuan Prabu berusaha membangun citra yang baik di depan keluarga Alfandinata.


“Ah, tunggu apa lagi? Mari makan!”


Bunyi denting piring dan sendok ramai terdengar, semua orang makan dengan khidmat, begitu pula dengan Nura, matanya tidak lepas menatap satu persatu hidangan. Fatih melihatnya dan dia mengambil makanan itu dan menumpuknya di piring Nura.


Nura tidak tahu etika makan, ia makan dengan berantakan, makan apa pun yang di ambilkan oleh Fatih. Sedangkan Fatih di sampingnya hanya tersenyum, tidak terganggu sama sekali.


Semua yang dilakukan Nura tak luput dari penglihatan Nyonya Ajeng, ia mendengus. Ingin menegur tapi tak punya keberanian.


Bunyi gesekan pisau di piring rupanya mengganggu Nyonya Lasmi, wanita itu menggigit pipi dalamnya, merasa ngilu, ia mengerutkan keningnya.


“Aku tidak tahu jika Nura punya etika makan yang buruk,” komentar Nyonya Lasmi pada akhirnya, wanita itu hanya makan sepotong kecil daging dan sayur, merasa jengkel melihat Nura yang makan lahap.


Tuan Prabu dan Nyonya Ajeng menghentikan gerakan mereka seketika, suasana makan malam mendadak menjadi canggung.


“Ahahaha, Nura tidak memiliki waktu yang banyak untuk belajar etika makan,” sahut Nyonya Ajeng sambil tertawa hambar, merasa bertanggung jawab atas Nura dan keluarga Daniar.


“Saya pikir bukan tidak punya waktu, tetapi kalian terlalu malas mengajarinya, ini pelajaran dasar.” Nyonya Lasmi menatap Nyonya Ajeng dengan remeh.


Fatih melihat kedua wanita itu berdebat, ia tidak peduli sebenarnya, tapi ketika melihat Nura yang berhenti makan, ia tidak bisa tidak peduli.


“Walau bagaimana pun, Nura adalah keluarga Daniar, dia menikah dengan Fatih, sudah seharusnya ia belajar sopan santun.”


Nyonya Ajeng mengepalkan tangannya, melirik Nura dari sudut matanya, mereka memang tidak pernah memperhatikan Nura, mereka makan bersama hanya sekali dua kali, setelah itu Nura lebih memilih makan di kamarnya.


Nala meminum jusnya, dalam hati ia bersorak, ternyata keluarga Alfandinata tidak benar-benar menyukai Nura.

__ADS_1


“Oh, aku lupa ia anak haram ‘kan? Pantas saja tidak tahu apa-apa.” Nyonya Lasmi merasa di atas angin, setelah melihat Nyonya Ajeng tak bisa membalas kata-katanya.


Tuan Prabu menelan ludah, status Nura selalu dibawa-bawa, seperti aib keluarga Daniar.


"Kami memperlakukan Nura sama dengan Nala, tidak ada perbedaan, Nura sudah saya anggap putri saya sendiri." Nyonya Ajeng berusaha memperbaiki citra dirinya, wajahnya tersenyum paksa.


“Apa yang saya makan kenapa harus diurusi oleh anda?” Nura tiba-tiba buka suara, suaranya tetap datar seperti biasa, Fatih awalnya ingin bersuara menjadi bungkam.


“Saya tahu anda memperhatikan saya,” ucap Nura, mengarahkan garpunya ke potongan daging bakar yang terlihat menggiurkan.


“Ketika saya mengambil ini mata anda tidak berkedip, kenapa tidak mengambilnya saja daripada mengurusi saya? Atau anda tidak bisa makan seperti saya?”


Ucapan Nura membuat hening semua orang, hanya suara tawa Fatih dan Paula yang bergema mereka bahkan menepuk-nepuk meja.


“Kau benar Nura, bibi tua itu tidak bisa makan banyak, dia takut gendut!” Paula menyahut di sela-sela tawanya.


“Fatih, apa kau sendiri terganggu dengan Nura?” Paman Zoe bertanya dengan santai.


“Aku bahkan tidak terganggu sama sekali,” timpal Fatih dengan santai, mengelus punggung Nura, ia benar-benar tidak menduga Nura akan berbicara seperti itu.


“Aku tidak tahu apa salahnya tetapi bibi mungkin sangat ingin makan seperti istriku.”


“Fatih!” Nyonya Lasmi menegur Fatih, tetapi yang ditegur acuh saja, malah semakin bersemangat mengambil makanan untuk Nura.


“Astaga kenapa harus membahas etika makan? Cukup nikmati saja makanannya.” Paman Zoe terkekeh, mencairkan suasana, Tuan Prabu hanya tertawa canggung.


Nura kembali makan, begitu pula dengan Fatih, hanya Nala yang masih menatap pasangan baru itu.


Dilihat dari segi mana pun, Fatihlah yang benar-benar jatuh cinta pada Nura, ia tidak mengharapkan ini, akan sulit baginya mengganggu rumah tangga mereka.


“Saya akan membawa Nura pulang ke rumah.” Fatih berkata ketika semua orang sudah menghabiskan makanannya.


“Apa itu tidak terlalu buru-buru?” Tuan Prabu bertanya dengan ramah, Nyonya Ajeng menatap mereka dengan pandangan pura-pura tidak rela.


“Benar. Tinggallah disini selama satu atau dua malam.” Nyonya Ajeng menimpali, Nala hanya mendengus, dalam kepalanya sudah tersusun rencana mengacaukan Nura.

__ADS_1


“Saya pikir tidak, lebih cepat Nura ikut dengan saya itu lebih baik,” sahut Fatih sopan, ia tidak mau lebih lama tinggal bersama keluarga Daniar.


“Sayang sekali kalau begitu,” balas Nyonya Ajeng, melambaikan tangannya kepada pelayan. “Kami akan menyuruh pelayan untuk mengemas barang-barang.”


“Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri.” Nura bangkit berdiri, lagipula ia tidak punya banyak barang, jangan sampai Nyonya Ajeng memasukkan hal-hal yang tidak perlu.


Fatih bangkit mengikuti, tidak ada yang sempat mencegah pasangan itu.


“Kau tahu, itu tadi keren.” Fatih merangkul Nura, “Saat kau membalas bibi tua itu.”


“Dia melihatku terus menerus,” ucap Nura pelan mereka sampai di kamar Nura, Fatih bersiul ingin masuk tetapi Nura menutup pintu tepat di depan hidung Fatih.


“Nura apa yang kau lakukan kita ini suami istri!” protes Fatih sambil memegangi hidungnya, sedikit nyeri.


“Aku tahu.”


“Izinkan aku masuk, aku mau lihat seperti apa kamarmu!” Fatih mengetuk pintu tidak sabaran, melengkungkan bibirnya cemberut.


“Aku takut kita tidak jadi pindah, malah tidur di sini,” sahut Nura lagi, terdengar beberapa benda dimasukkan ke dalam tas.


Fatih tertawa, lalu bersandar di dinding.


“Aku tidak berpikir sejauh itu.”


Tidak sampai lima belas menit Nura keluar dari kamarnya, menemukan Fatih yang masih bersandar.


"Sudah siap?"


"Ya," sahut Nura, Fatih mengambil alih tas dari tangan Nura. Hanya tas kumal yang tidak seberapa besar.


"Baiklah, ayo kita pulang."


Nura tersenyum untuk kedua kalinya, ia akhirnya meninggalkan rumah Daniar.


"Fatih, aku benar-benar menyukaimu!"

__ADS_1


__ADS_2