
Nura melihat wajah muram Fatih
ketika suaminya itu menginjakkan kaki di rumahnya, bibirnya mencebik, alisnya saling bertaut, terlihat jelas kalau ia sedang menahan sesuatu.
“Ada apa?” Nura bertanya sambil
mengambil tas kerja Fatih, suaminya itu duduk di sofa sambil bersedekap, menghembuskan napas kasar.
“Siapa yang kau temui di Mal tadi?” Fatih bertanya dengan wajah memelas, Nura datang membawakan secangkir air, duduk disebelah Fatih.
“Aku bertemu dengan laki-laki aneh, dia juga minta nomor ponselku,” jawab Nura dengan jujur, Fatih menyandarkan tubuhnya di sofa, tangannya menggulir layar ponselnya, ia memandangi Nura.
“Lihat, seseorang mengirimkan ini padaku.” Nura mengambil ponsel Fatih, ia melihat foto dirinya sendiri sedang dipegang oleh Angga, keningnya berkerut, padahal Angga memegangnya tidak lama, hanya beberapa detik, foto ini sengaja diambil untuk merusak rumah tangga mereka.
“Ada orang yang iri dengan kita,” lanjut Fatih sambil melepas dasinya, ia percaya Nura. Istrinya bukan tipe orang yang akan mudah dekat dengan orang yang baru ditemuinya. Terlebih lagi ia sudah memeriksa CCTV Mal untuk memperkuat kepercayaannya, ia memiliki banyak dugaan, mungkin saja ini adalah ulah Hana, atau mungkin ulah Nala dari keluarga Daniar.
“Aku bertemu Hana.”
“Uhuk … huk … uhukk ….” Fatih
yang sedang minum langsung terbatuk-batuk, ia memukul dadanya pelan, Nura buru-buru mengambil tisu dan menyeka mulut Fatih, laki-laki itu memandangnya dengan pandangan bertanya.
“Apa yang dia katakan? Dia hanya
mantanku, tidak lebih,” kata Fatih dengan panik, ia menggelengkan kepalanya dan
merapat ke arah Nura, wajahnya menjadi panik.
Nura terkekeh pelan. “Aku tahu.”
“Kau tahu? Ah dia yang bilang kan? Wanita itu memang sombong!” Fatih menggerutu, tidak menduga jika Hana benar-benar datang ke rumahnya dan menemui Nura, ia harus memberi pelajaran pada wanitai tu nanti.
“Kenapa tidak pernah cerita?” Nura memandangi wajah Fatih, ada sedikit rasa gusar di hatinya, ia sebagai istrinya tidak tahu banyak tentang masa lalu suaminya sendiri.
Fatih tersenyum kecil, ia memegang bahu Nura dan mengelusnya pelan. “Karena aku menyesal punya hubungan dengannya.”
Nura diam dengan alis berkerut, bingung. Fatih menyenderkan tubuhnya ke arah Nura. “Dia sangat manis, terlalu manis sampai terasa pahit. Kau paham maksudku?”
Nura menggeleng pelan. Fatih
mengusak rambut istrinya dengan gemas.
“Dia munafik, bersikap sangat manis di depanku, tapi ia menusukku di belakang. Aku marah dan memutuskan hubungan, dia pergi melarikan diri bersama kekasihnya yang lain.”
Nura menggenggam tangan Fatih, ia mengingat seperti apa penampilan Hana ketika datang ke rumah ini, wanita itu cantik, seorang model dan kaya, dari begitu banyak laki-laki yang kaya dan tampan di sekitarnya, kenapa harus mengejar Fatih yang sudah dicampakkannya?
__ADS_1
Nura kesal.
Fatih melihat Nura yang diam, sibuk dengan pikirannya sendiri, ia menyentuh rambut halus Nura. “Rambutmu lebih panjang?”
Nura menyentuh rambutnya, ia tersenyum kecil. “Aku ke salon bersama Dalisa, katanya aku terlihat bagus jika memanjangkan rambutku sedikit. Bagaimana menurutmu?”
Fatih memainkan rambut Nura di
tangannya, ia mengangguk-angguk membenarkan perkataan istrinya, Nura terlihat lebih segar dan muda, ia cantik.
“Aku suka, mau rambutmu pendek
atau panjang aku tetap suka.”
Ponsel Fatih berdering, laki-laki itu dengan malas mengambilnya, ia melirik Nura lalu mengangkat teleponnya.
Nura hanya memandangi Fatih, ia
tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh sang penelepon itu, raut wajah Fatih
sangat tenang, ia hanya berdehem sebagai jawaban. Ketika teleponnya diletakkan
di atas meja, Nura lalu bertanya. “Siapa?”
Fatih memandangi Nura dengan sebelah alisnya terangkat. “Menurutmu?”
Fatih mendengus, ia tidak suka Nura menyebutkan laki-laki lain selain dirinya, ia mengangguk dengan malas, tadi siang Nura mengirim pesan jika orang yang bernama Angga akan meneleponnya.
***
Hana tengah menyisir rambutnya sambil
bersenandung, ia saat ini berada di kamar apartemennya, kamar dengan corak warna merah muda di mana-mana dan beberapa benda-benda girly menghiasi setiap sudut kamar, ia duduk dengan anggun, seperti seorang putri bangsawan, kaki-kaki panjangnya itu nampak dibalut dengan gaun pendek dan ketat, ia menatap wajahnya
cantiknya di depan cermin, kuku-kukunya yang berwarna merah menghiasi jari
lentiknya, ia mendesah dengan kasar.
Hana adalah seorang model, ia cantik, tubuhnya bagus. Ia kaya dan punya apartemen sendiri, ia wanita mandiri
dan modern. Kenapa bisa kalah dengan wanita semacam Nura?
Hana yakin jika wanita macam Nura
itu terlalu membosankan untuk Fatih jika dibandingkan dirinya.
__ADS_1
Ia nyaman di pandang, karirnya
bagus. Sedangkan Nura terlihat tidak bisa apa-apa, terlalu diam dan pasif, membuat Hana yang melihatnya saja sudah merasa bosan.
Tapi kenapa? Hana tidak mengerti dengan jalan pikiran Fatih, ia tidak tahu apa itu, tetapi
melihat Nura yang menatapnya dengan datar sewaktu ia berkunjung membuat kebenciannya semakin menjadi-jadi.
Kenapa Fatih memilih menikahi Nura? Terlebih lagi mereka langsung menikah, tidak ada pacaran atau tunangan, Hana merasa benar-benar curiga sekaligus penasaran.
Ia sudah menyusun rencana matang
untuk mendapatkan Fatih kembali, ia tidak bisa menerima Nura sebagai istri Fatih, sebelum semua rasa penasarannya terjawab, ia tidak akan membiarkan Nura hidup dengan tenang sebagai istri Fatih, karena posisi itu, hanya Hana yang berhak. Fatih adalah
milik Hana, sejak dulu hingga sekarang.
“Bagaimana?” Ia bertanya tanpa berbalik ketika seseorang masuk ke kamarnya, pintu di tutup dengan pelan, orang itu bersedekap dan balik menatap Hana dengan raut wajah tak bersahabat.
“Sesuai rencana, satu umpan telah dilepaskan. Apa rencana kita selanjutnya?”
“Melepaskan umpan kedua.”
Hana tersenyum, ia dengan gerakan
hati-hati memasang anting perak di telinganya, anting itu memiliki juntai yang
panjang dengan intan di ujungnya, ia menatap penampilannya dengan puas.
“Apa kau tahu, berapa harganya
ini?” Hana memamerkan sebuak kalung liontin berwarna putih, ia berbalik ke
belakang dengan senyum mengejek di wajahnya.
Orang itu mendecih, merasa di rendahkan oleh sang model. Ia duduk di atas ranjang dengan raut wajah yang masam.
“Ini seharga tubuhmu.” Hana
menyeringai, lalu memasang kalung itu ke lehernya, ia bangkit berdiri dan mendekat sambil membawa dompetnya.
Orang itu mendongak, merasakan
wajahnya di pegang tangan lembut Hana, ia menggeram kesal, buru-buru menepisnya.
“Apa? Kau marah? Aku hanya mengatakan kebenaran.” Hana memperbaiki gaunnya, lalu memegang rambutnya yang telah ia tata dengan rapi.
__ADS_1
“Walau kita bekerja sama, jangan harap kau dapat mengambil Fatih.” Hana mengulurkan tangannya dan memegang baju yang di pakai orang itu, ia memandang dari atas ke bawah, lalu mendengus.
“Jangan bermimpi, orang rendahan sepertimu bisa mengalahkan aku.” Hana melepas tangannya ia terkekeh pelan, matanya menatap dengan dingin. “Nala Daniar, kau benar-benar wanita rendahan.”