CINTA DI PELUKAN SENJA

CINTA DI PELUKAN SENJA
23


__ADS_3

Nura telah siap menunggu Fatih di taman kompleks Latusa, Fatih tidak menyebutkan mereka akan ke mana, jadi ia hanya memakai baju kasual berwarna putih sederhana. Tidak lama berselang Fatih datang dengan vespa putihnya. Laki-laki itu seperti biasa, selalu tersenyum lebar.


“Apa aku terlalu lama?” Tanya Fatih sambil memasangkan helm ke kepala Nura, gadis itu menggeleng pelan.


“Tidak lama,” sahut Nura, Fatih tertawa, ia selalu tertawa walau tidak ada hal lucu, walaupun begitu Nura selalu menyukainya, tawa Fatih membuat hatinya menghangat.


“Ayo, aku akan membawamu ke suatu tempat.”


Fatih naik ke vespanya dan mengulurkan tangannya ke Nura, wajahnya berseri-seri penuh keantusiasan. Nura tidak pernah menolak perlakuan Fatih, sebaliknya di saat-saat seperti ini ia suka dengan hal-hal kecil dari Fatih.


“Suatu tempat itu ... ke mana?” Tanya Nura tepat di belakang telinga Fatih, laki-laki itu tidak menjawab, hanya melirik Nura dari kaca spionnya, vespa putih itu melaju menembus keramaian di sore hari.


Fatih mengemudikan vespanya dengan santai, tidak terburu-buru seperti terakhir kali saat mereka pergi ke pantai, mereka melintasi bukit kecil, melalui banyak kebun teh dan pohon pinus di kiri kanan jalan, suasana sore yang tadinya panas, kini menjadi lebih dingin dan segar.


Vespa berhenti di depan sebuah pagar kayu yang luas, tidak terlalu tinggi tapi tidak terlalu pendek, mereka masuk dan memarkirkan vespa ke dalam.


“Ini adalah taman milik ibuku,” tutur Fatih ketika melihat Nura tidak berhenti melihat ke sekeliling, di sekitar mereka terdapat banyak tanaman bunga matahari dan aster aneka warna.


Ibu Fatih sangat suka bunga, sampai-sampai membuat taman bunga pribadi penuh bunga matahari dan aster, maka dari itu Fatih merawat taman ini dengan sungguh-sungguh, sebagai kenangan masa-masa indah ayah dan ibunya.


“Sepertinya dia sangat menyukai warna kuning.” Nura berkomentar, Fatih tertawa pelan, mengambil tangan gadis itu, membawanya menyusuri jalan setapak.


“Ya, ibu sangat suka bunga matahari, karena itu adalah bunga pertama yang diberikan ayah.” Fatih ingin memetik bunga yang ada di dekatnya, tapi ditahan Nura.


“Apa? Kenapa? Aku ingin memberikannya untukmu.”


“Lebih baik biarkan saja bunganya mekar, jika kamu memetiknya, bunganya akan menjadi sia-sia. Bunga itu tidak akan memiliki biji untuk tumbuh lagi di masa akan datang,” jelas Nura, Fatih merangkulnya dengan gemas, menghirup aroma sampo gadisnya.


“Tapi itu tidak akan sia-sia kalau untuk kamu,” goda Fatih sambil membawa Nura terus melangkah, “Hei Nura ... Di depan orang lain jangan berbicara sebanyak itu, cukup di depanku saja.”


“kenapa? Apa kau tidak suka?”


“Ya aku tidak suka, hanya aku yang boleh mendengar suaramu lebih banyak, bukan orang lain. Oke?”

__ADS_1


“Oke.”


Mereka melangkah sambil bergandengan tangan, hingga sampai di depan dua gundukan tanah yang ditumbuhi rumput, ada dua nisan bertuliskan Herry dan Sarah Alfandinata.


“Ayah, ibu, anakmu datang lagi berkunjung.” Fatih duduk di dekat makam dan membelai penuh kasih nisan ibunya. Nura ikut duduk di dekat Fatih.


“Aku datang bersama Nura, dia calon istriku.”


Fatih menarik Nura mendekat, seolah di hadapan mereka ada ayah dan ibunya, laki-laki itu tidak menunjukkan wajah sedih, sebaliknya ia terlihat bahagia.


“Ayah, ibu kalian merestui kami bukan? Lusa adalah hari pernikahan kami.”


Fatih diam cukup lama, tangannya tak berhenti membelai nisan kedua orang tuanya. Fatih sangat menyayangi kedua orang tuanya, Nura mengelus pundaknya dengan pelan, memberi ketenangan.


“Fatih.”


“Hm?”


“Ibumu, orang seperti apa dia?”


“Dia adalah wanita hebat, tidak pernah goyah pada pendiriannya,” kata Fatih, tangannya menyentuh rumput-rumput basah yang baru saja disirami air.


“Aku adalah anak yang nakal, usiaku saat itu baru empat belas tahun.” Fatih terkekeh, matanya mulai berkaca-kaca.


“Aku hanya tahu main game di kamar, bisa tidak keluar berhari-hari, mengabaikan ibu yang menyuruh makan,” Fatih menunduk, Nura diam mendengarkan Fatih.


“Malam itu, mereka pergi ke pertemuan keluarga, aku juga diajak, tapi hari itu aku sedang ingin memecahkan poin tertinggi di game itu.”


“Tidak apa-apa Fatih, tidak usah diteruskan.” Nura melihat wajah Fatih yang muram, bibir laki-laki itu melengkung ke bawah, Nura tidak suka melihatnya.


“Kau harus tahu,” ucap Fatih menggenggam tangan Nura dan membawanya ke wajahnya sendiri.


“Mereka meninggal malam itu karena kecelakaan, aku ... aku saat itu justru sibuk bermain game dan baru tahu keesokan harinya, hatiku sangat hancur dan menyesal, seharusnya aku ikut bersama mereka," ucap Fatih dengna sedih.

__ADS_1


"Seharusnya aku tidak mengabaikan mereka, mungkin ... mungkin saat ini mereka masih hidup ... dan bisa bertemu denganmu." Fatih meracau, tangannya bergetar, Nura langsung membawa laki-laki itu ke pelukannya, mengusap punggungnya pelan.


Untuk pertama kalinya Nura melihat Fatih serapuh ini, Fatih yang selalu terlihat tersenyum dan tertawa, wajahnya selalu tanpa beban, tetapi dibalik itu, Fatih mati-matian memakai topeng untuk menutupi kerapuhannya, memasangnya kuat-kuat. Beban keluarga, beban perusahaan belum lagi orang-orang licik di sekitarnya, Fatih sudah melalui berbagai hal-hal sulit.


Nura tidak mengucapkan apa-apa, ia tidak tahu. Dulu saat ia sedih yang ia lakukan hanya memeluk ibunya dengan erat, membuat Nura merasa nyaman, namun setelah ibunya meninggal Nura tidak menemukan siapa yang bisa ia peluk.


Sekarang ia memilki Fatih.


Ia memeluk Fatih mencoba membuatnya merasa nyaman. Fatih balas memeluk Nura, perasaannya menjadi sedikit lebih baik.


“Nura ... saat kita menikah nanti, kamu akan berurusan dan bertemu dengan orang-orang seperti ibu tirimu.”


“Aku tahu.”


“Kau akan terjebak bersamaku selamanya.”


“Aku tahu.”


“Mungkin suatu saat nanti aku akan jatuh miskin karena kecerobohan ku,” lanjut Fatih, enggan melepas pelukan mereka. Nura menyandarkan kepalanya di bahu Fatih, berbisik ke telinga laki-laki itu.


“Aku tahu Fatih, kita akan menghadapinya bersama,” ucap Nura, Fatih melepas pelukan Nura, tertawa kecil.


“Iya, kita akan menghadapinya bersama.” Fatih menggenggam tangan Nura, tidak berniat melepaskannya sama sekali, membawanya ke wajahnya.


“Terima kasih, Nura.” Nura hanya diam, bingung harus menjawab apa, membiarkan Fatih berlaku sesukanya.


“Karena kamu, aku sudah menetapkan tujuan hidupku.” Fatih menyentuh wajah Nura, ia teringat pertemuan pertama mereka, di restoran Jepang, matanya tidak bisa lepas memandangi Nura yang tidak berkedip menatap makanan.


Mereka berdua sama, sama-sama ingin dijadikan batu loncatan, mereka tidak benar-benar diinginkan, melihat segala penderitaan Nura, Fatih merasakan hatinya terketuk dan ingin melindunginya, ingin membuat Nura berada dalam jangkauannya.


“Sudah hampir senja.” Fatih melepas genggaman tangannya pada Nura, menepuk kepala gadisnya dengan pelan.


“Ayo kita pulang.”

__ADS_1


Nura berdiri, tanpa menunggu Fatih, ia menggenggam kembali tangan laki-laki itu, Fatih hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa, ia hanya merasa, potongan-potongan hatinya perlahan-lahan mulai menyatu, membentuk sebuah sebuah hati yang selalu berdebar pada Nura.


Ia tidak akan melepaskan Nura.


__ADS_2